
"Pernikahan yang indah bukanlah
pertemuan antara dua orang sempurna
dengan cinta yang sempurna,
tetapi ikatan dua orang dengan
kekurangan dan kelebihannya yang
berusaha untuk terus memperbaiki diri
dan menutupi kekurangan pasangan."
(Hanny Dewanti)
Suasana pagi begitu sejuk. Matahari mulai nampak dari timur dengan cahaya khas paginya. Burung-burung berkicau seakan menyambut pagi dengan gembira dan rasa syukur kepada pemilik alam semesta.
"Kita lari pagi yuk Ra, keliling sekitaran sini aja."
ajak Ustadz Faroq, kebetulan hari Jum'at libur.
"Oke, sudah lama juga Rara gak olahraga," segera
Rara berganti baju kaos panjang, tak lupa
menggunakan kerudung bergo biar simpel.
"Aku udah siap, yuk berangkat." ucap Rara.
"Balapan yuk siapa yang duluan sampai, finishnya di taman kota sana,berani gak?" tantang Rara.
"Kalau kalah jangan mewek ya," canda Ustadz Faroq.
"Gini deh, yang kalah harus kabulin satu permintaan apapun itu. Jangan bilang takut ya," ledek Rara dengan menjulurkan lidahnya.
"Oke. Siapa takut, jangan nyesal ya nanti." ucap Ustadz Faroq.
"Kita hitung sampai tiga.. 1.. 2.. Go," Rara pun langsung berlari pada hitungan kedua.
"Ah curang.. " kejar Ustadz Faroq berlari dengan
senyuman. Moment kebersamaan bersama istri
tercinta inilah yang sudah lama dinantikan Ustadz Faroq.
"Kok melambat Ra," ejek Ustadz Faroq ketika
mendahului Rara.
"Aduh sakit," ucap Rara sedikit nyaring.
Ustadz Faroq yang mendengarpun segera berbalik dan menghampiri Rara. Segera Rara menarik tangan Ustadz Faroq agar terjatuh.
"Ahaha.. masuk jebakan Rara. Kasian deh." ejek Rara seraya lanjut berlari meninggalkan Ustadz Faroq.
"Ah curang lagi. Hati-hati Ra. Pelan-pelan saja
larinya," teriak Ustadz Faroq yang melihat Rara
berlari cukup cepat.
Tiba dipersimpangan jalan, terlihat dari kejauhan ada kendaraan yang ingin berbelok, sedangkan Rara cepat-cepat ingin menyebrang jalan ke taman kota.
Ustadz Faroq yang memperhatikan sedari tadi pun
segera berlari sekuat tenaga untuk menolong Rara.
"Ra.. ada motor," teriak Ustadz Faroq. Namun Rara yang asyik berlari tidak mendengar teriakan suaminya.
__ADS_1
Ketika sesaat Rara berlari menyebrang jalan dan
kendaraan yang hampir menabrak Rara, dengan sekuat tenaga akhirnya Ustadz Faroq mampu menarik tangan Rara sehingga mereka berdua pun jatuh keaspal.
Posisi Rara yang terjatuh diatas Ustadz Faroq dan saling berhadapan. Wajah keduanya yang sangat dekat saling bertatapan, mata keduanya pun bertemu.
Deg! Deg!
Jantung mereka berdua pun berpacu lebih cepat.
Apalagi Ustadz Faroq, peluh yang jatuh diwajahnya bukan hanya karena keringat berolahraga tapi karena rasa gugupnya yang sangat dekat dengan istrinya, sehingga rasa sakit karena jatuh pun seakan tak terasa.
Rara yang terdiam sesaat diatas tubuh suaminya pun, segera cepat berdiri setelah menyadari jantungnya bermasalah.
"Maaf.. kamu tidak apa-apa?" tanya Rara menyodorkan tangan ingin membantu Ustadz Faroq berdiri.
"Aku gak papa Ra," ucap Ustadz Faroq yang mencoba berdiri terpongoh-pongoh. Mereka pun dibantu pengguna jalan yang lewat untuk menyebrang menuju taman.
"Gak papa apanya berjalan aja susahkan kalau gak ada yang bantu, coba aku lihat kakimu." Rara pun menggulung celana Ustadz Faroq dan benar saja, kulit yang berubah membiru dan lecet berdarah.
"Kenapa harus nolongin Rara sih!" omel Rara yang
merasa bersalah.
"Sama-sama Ra," jawab Ustadz Faroq santai.
"Rara serius nih," manyun Rara kembali.
"Siapa yang bercanda. Seharusnya bilang makasih
bukan malah diomelin dong," goda Ustadz Faroq.
"Kamu aku bilangin hati-hati dan dipanggil-panggil
malah gak dengar karena asyik lari tanpa menoleh
kanan kiri," ucap Ustadz Faroq.
selamatin kamu." lanjut Ustadz Faroq.
"Iya kamu yang menang." jawab Rara yang sudah
tidak peduli lagi dengan kemenangannya.
"Aku cariin taksi yah, sepertinya kamu ga akan kuat berjalan dulu apalagi jaraknya lumayan jauh," Rara pun berjalan disekeliling mencari tumpangan.
Di jalan sewaktu mencari taksi, mata Rara teralihkan melihat anak kucing berwarna hitam putih yang terjatuhdi got. Badannya yang basah bahkan berlumpur tanah pun tidak mengurungkan niat Rara untuk membantu.
Meong! Meong!
Suara anak kucing yang berhasil Rara selamatkan.
"Kasian kamu cing, mamah kamu dimana? kenapa
sendirian saja?" guman Rara bicara sendiri seakan
sedang berdialog dengan sianak kucing.
Dipeluk diasuhan kedua tangan Rara, anak kucing pun ikut dibawa Rara. Sampai akhirnya Rara berhasil menemukan sebuah taksi yang membawa mereka pulang ke rumah.
"Ternyata kamu masih suka menolong kucing ya Ra," ucap Ustadz Faroq sewaktu didalam taksi.
"Kayak tau ajah kalau aku sebelumnya pernah
menolong kucing," jawab Rara bingung akan ucapan Ustadz Faroq. Ustadz Faroq pun hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Makasih ya mas," ucap Ustadz Faroq membayar taksi.Rara pun membantu Ustadz Faroq turun.
Sesampai di kamar dengan sigap Rara segera
__ADS_1
mengambil betadin untuk mengobati luka Ustadz Faroq, baru setelahnya dikasih penutup luka.
"Aku mandi sebentar baru beliin kamu obat ya," ucap Rara.
"Gak usah beli obat Ra, cukup minum paracetamol
sama ampicilin saja ada kok didalam kotak P3K." jawab Ustadz Faroq. Rara pun kembali sigap
langsung mengambilkan obat dan air putih.
"Terima kasih ya Ra," ucap Ustadz Faroq dengan
tatapan manis.
"Seharusnya aku yang minta maaf sudah membuatmu seperti ini," jawab Rara.
"Aku rela kok Ra terjatuh setiap hari asalkan kamu
selalu perhatian seperti ini," goda Ustadz Faroq sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Mulai deh gombalnya," ucap Rara yang
spontan memukul pelan Ustadz Faroq dibagian kakinya.
"Auu.. sakit Ra," seringai Ustadz Faroq berekspresi
seperti orang kesakitan.
"Oh.. maaf.. maaf gak sengaja," ucap Rara menunduk sambil mengelus kaki suaminya.
"Ra," panggil Ustadz Faroq.
"Hemm.. apa?" Rara pun kembali menegakkan badan dan kepalanya.
Cup! Cup!
Sebuah ciuman manis mendarat dipipi Rara.
Rara yang terdiam tidak tau berkata apa, dibuat
bingung setelah Ustadz Faroq menciumnya.
"Kamu bau Ra, cepat mandi gih." ledek Ustadz
Faroq mengubah pembicaraan.
"Hee.. bau comberan ya badan Rara, abis dari got tadi." ucap Rara sambil mencium bajunya yang bau.
"Rara mandi dulu ya, tapi Rara mau mandiin anak
kucing dulu." ucap Rara.
"Gak papa kan kita rawat kucing tinggal di rumah?"
tanya Rara.
"Gak papa Ra, kucingkan kekasih dan kesayangan
Nabi," jawab Ustadz Faroq.
"Apapun yang kamu butuhkan untuk keperluan anak kucing itu, aku siap penuhi semuanya Ra." tambah Ustadz Faroq yang membuat Rara tersenyum bahagia.
"Oke.. Makasih. Rara dan Sapi mau mandi dulu ya," ucap Rara.
"Sapi siapa Ra?" tanya Ustadz Faroq bingung.
"Itu sianak kucing namanya sapi, kan warnanya hitam putih kayak sapi," jawab Rara.
"Ada-ada saja kamu Ra, kucing kok dinamain Sapi," ucap Ustadz Faroq sambil menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Kami mau mandi dulu ya. By.." Rara pun langsung
menutup pintu kamar mandi.