Ustadz, I Hate You

Ustadz, I Hate You
Part 08 - Ustadz, I Hate You l Kemarahan Rara l Novel Islami Romantis


__ADS_3

"Jika pasanganmu marah, maka kamu harus tenang. Jika yang satu adalah api.. yang lainnya


haruslah air. Karena rumah tangga adalah ladang pahala bagi setiap orang yang mau bersabar


dengan pasangannya."


Ustadz Faroq pun yang dari tadi cemas dan khawatir karena tidak ada kabar sama sekali dari istrinya masih berkeliling mencari istrinya. Bahkan mall tempat istrinya minta turun siang tadi pun sudah ia cari namun tidak dapat menemukan istrinya.


Jalan dan tempat-tempat makan pun ia singgahi namun tetap tidak menemukan istrinya. Sahabat Rara pun, Ayu dan Dita sudah Ustadz Faroq hubungi namun mereka mengaku tidak mengetahui dimana keberadaan Rara.


Akhirnya Ustadz Faroq pun pulang ke rumah


berharap Rara sudah pulang. Namun setelah


sampai rumah dan jam pun sudah menunjukkan


pukul 02.00 WITA pagi, perasaan Ustadz Faroq


tambah khawatir. Ustadz Faroq tidak ingin menelpon Mamah dan Papah Rara takut mereka akan khawatir.


"Kamu kemana Ra? kenapa tidak ada kabar? ada apa Ra?" ucap Ustadz Faroq berbicara dalam hati


sambil sesekali berjalan ke arah pintu berharap


Rara pulang.


Karena merasa cukup lelah akhirnya Ustadz Faroq pun tertidur di sofa, Ustadz Faroq terbangun dan cuma tertidur kurang lebih 1 jam baru kemudian Ustadz Faroq sholat tahajud dan berdoa bermunajat memohon kepada Allah SWT agar istrinya selalu dijaga dibawah lindungan-Nya. lanjut baca Al-Qur'an sambil menunggu waktu sholat subuh tiba.


Selesai sholat Ustadz Faroq pun sarapan roti


dan minum susu karena dari kemarin habis makan


dari rumah Abi dan Umminya, Ustadz Faroq belum ada makan karena menunggu Rara.


Selesai sarapan Ustadz Faroq mencoba untuk tetap tenang, ia pun memasak nasi dan lauk untuk istrinya, ia takut kalau istrinya pulang merasa lapar jadi ia sudah mempersiapkan makanan untuk istrinya. Namun sudah pukul 08.30 pagi pun istrinya belum juga pulang, Ustadz Faroq pun bersiap-siap akan mencari istrinya lagi.


Ketika ingin pergi mencari dan membuka pintu


singgahlah sebuah taxi dan keluarlah Rara dengan


baju pendek dan rambut terurai yang cukup


acak-acakkan.


Rara pun langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri.


"Astagfirullah.. kamu habis dari mana Ra? kenapa baru pulang?" tanya Ustadz Faroq yang duduk disamping Rara.


"Kepala gue masih pusing ya, gak usah banyak


tanya!" jawab Rara.

__ADS_1


"Kamu habis minum ya? mulutmu bau sekali


dengan alkohol?" tanya Ustadz Faroq. Rara pun


merasa mual dan segera ke kamar mandi.


"Ini air putih minum yang banyak dan ini ada


pereda nyeri juga vitamin untukmu, kalau masih


pusing silahkan istirahat dahulu." ucap Ustadz


Faroq sambil meninggalkan kamar, karena tidak


mau terlalu banyak bertanya dahulu melihat


istrinya yang masih pusing dan mual. Bagi Ustadz


Faroq istrinya sudah pulang pun ia sudah tenang.


Rara pun tertidur setelah minum air putih dan


vitamin pemberian suaminya.


Bangun tidur Rara langsung mandi. Rara pun keluar kamar dengan hidangan makanan sudah siap diatas meja.


"Kamu pasti lapar, makan dulu ya!" ucap Ustadz Faroq.Rara yang memang merasa lapar pun makan masakan suaminya tanpa berkata sedikitpun. Oseng udang juga sayur capcay buatan suaminya sangat enak, Rara terkejut ternyata suaminya pandai masak. Air hangat lemon pun sudah disiapkan Ustadz Faroq agar Rara merasa lebih enakan. Selesai makan tanpa mencuci piringnya, cukup cuci tangan Rara langsung kembali


Ustadz Faroq pun datang menghampiri istrinya.


"Masih pusing Ra? mau aku pijitin kepalanya?" tanya Ustadz Faroq.


"Ini semua gara-gara loe? Belum puas bikin hidup gue hancur?" ucap Rara tanpa basa basi mengungkapkan kekesalannya, bahkan dengan kata-kata loe gue yang sebelumnya belum pernah Rara ucapkan ke suaminya.


"Memangnya salahku apa Ra sampai kamu sangat marah seperti ini?" tanya Ustadz Faroq yang cukup terkejut dengan kemarahan istrinya.


"Kesalahan loe itu banyak!! Mulai dari nikahin gue sampai sekarang kesenangan gue loe rampas, uang gue pun loeambil?" ucap Rara dengan mata melotot menatap Ustadz Faroq.


"Maksud mu Ra, ngambil.. uang gimana? aku gak ngerti," tanya Ustadz Faroq yang kebingungan.


"Loe kan yang nyuruh Papah gue agar membekukan semua ATM gue tanpa minta persetujuan gue dulu? emang loe mampu menuhin semua kebutuhan gue?"tanya Rara.


"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu karena tidak bilang, sebelum kita nikah kemarin aku sudah bicara sama Papah kamu agar setelah menikah semua kebutuhanmu aku yang tanggung karena aku adalah suamimu dan kamu istriku adalah tanggung jawabku Ra," ucap Ustadz Faroq mencoba menjelaskan.


"Memangnya loe mampu menuhin kebutuhan


shopping gue? Mau tau sebulan biasanya gue habis berapa?" tanya Rara yang sudah tau kalau


suaminya tidak akan mampu.


"Kalau kamu mau belanja yang menjadi kebutuhanmu tentu akan aku usahakan untuk memenuhinya Ra, namun kalau kamu belanja cuma demi kesenanganmu lebih baik uangnya kita tabung Ra," jawab Ustadz Faroq.

__ADS_1


"Jadi gue gak boleh belanja yang membuat hati gue senang?" tanya Rara.


"Bukan itu maksud aku Ra, kalau kamu mau


belanja aku bisa temenin, kamu mau belanja apa


Ra?" tanya Ustadz Faroq mencoba menenangkan Rara.


"Ternyata benar ya kata Reza, kalau loe itu sebenarnya cuma mau ngekang dan nguasain gue agar gue bisa bisa tunduk depan loe, itu kan yang loe mau? Lebih baik ceraikan gue!!" ucap Rara berteriak dengan mata berkaca-kaca sambil memukul-mukul dada suaminya.


"Sedikitpun gak ada fikiran untuk nguasain kamu


Ra, begitu piciknya kah aku difikiranmu?


"Kamu sekarang lagi dalam perasaan emosi saja,


istigfar sayang.. aku mohon jangan berkata cerai


lagi." ucap Ustadz Faroq sambil memohon dengan


air mata yang menetes dipipinya. Perasaan Ustadz Faroq sebenarnya sangat hancur namun ia selalu beristigfar dalam hati. Ingin sekali Ustadz Faroq memeluk istrinya namun ia tahu itu akan


menambah kemarahan Rara.


"Jadi kemarin kamu bersama Reza ya Ra?" tanya


Ustadz Faroq yang mencoba menenangkan diri.


"Iya.. memangnya kenapa? Reza masih tetap


menjadi pacar gue, kalau loe gak tahan kita bisa


bercerai sekarang juga!" lagi-lagi Rara berkata


kasar dan kata cerai selalu keluar dimulutnya yang


membuat hati Ustadz Faroq hancur berkeping-keping. Seolah tidak ada arti dan harga diri lagi didepan istri namun Ustadz Faroq hanya beristigfar dalam hati dan sesekali menarik nafas dalam. Ustadz Faroq sudah berjanji pada diri sendiri kalau ia akan selalu sabar menghadapi istrinya dan berdoa agar istrinya suatu saat dapat berubah.


"Sekarang ganti baju kamu, kita pergi kesuatu tempat, aku mau tunjukkin sesuatu," ucap Ustadz Faroq.


"Mau kemana? gue malas jalan!" ucap Rara.


"Agar kamu tau alasan aku kenapa bicara seperti tadi," jawab Ustadz Faroq.


"Oke gue ikut tapi gue malas ganti baju, gue malas


pakai kerudung," jawab Rara.


"Kita kan sudah buat perjanjian Ra, jadi harus ditepati," ucap Ustadz Faroq mengingatkan.


"Iya.. iya.. keluar sana gue mau ganti baju!" Rara pun terpaksa mengikuti karena sudah berjanji.

__ADS_1


__ADS_2