
Adzan magrib sudah berkumandang sejak lima belas menit yang lalu, Utami sangat terlambat untuk pergi ke masjid, pasti ia sudah tertinggal raka'at dan harus menjadi makmum masbuk.
Langkahnya yang tergopoh gopoh mendadak berhenti saat mendapati barisan shaf di depan penuh terisi, oleh jajaran para pemuda yang sebagian terlihat khusyu, namun tak sedikit juga yang malah bercanda, injak kaki, sikut pinggang, tepuk bokong, dan lain sebagainya.
Dasar pemuda zaman sekarang!
Untung saja Utami hanya tertinggal satu roka'at, dia bisa cepat bergabung bersama Ustadz Amir, yang kata Abi kemarin baru pulang umroh.
"Assalamualaikum!" salam kedua orang wanita, tak lain Asri dan Trixi yang sudah diajak Utami sore tadi sebelum pulang sekolah. Dia kira mereka tidak akan datang, namun dugaannya salah, Allah selalu memberinya kemudahan.
"Waalaikumsallam" jawab semua serentak.
"Pak Ustadz, kenalin Saya Utami, ini teman teman saya, Asri sama Trixi, yang insyaallah akan mulai ngaji sama Bapak" Sopan Utami dengan badan membungkuk tanda hormat.
"Alhamdulillah, di tinggal dua minggu sama Bapak, mesjid udah rame aja, seeur nu karasep oge" Senyum Pak Ustadz Amir tampak senang
(banyak yang ganteng juga)
Para lelaki pun turut memperkenalkan diri mereka satu persatu, mulai dari nada bicara mereka, gaya bahasa mereka, dan adab mereka terhadap guru masih tidaklah sopan. Mereka seperti anak anak jalanan yang tak terurus, entah dimana Abi menemukan orang orang seperti mereka.
Dan untuk orang awam seperti mereka, Pak Ustadz Amir memberi keterangan sederhana tentang keimanan dalam diri, tentang hak dan kewajiban seorang anak, Juga adab dan tata krama. Yang jelas dibutuhkan dan perlu diketahui oleh semua orang.
"Baik, sebelum diakhiri, ada yang mau ditanyakan?" tanya Pak Ustadz memberi waktu sebelum mengakhiri pembelajarannya.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya mau bertanya!" seru Utami menunggu momen ini. Dan dengan senang hati Pak Ustadz mempersilahkan.
"Apakah seorang anak tetap disalahkan jika menentang perkataan orang tua? Padahal si anak merasa tidak melakukan hal yang buruk, tapi orang tuanyalah yang terlalu Overprotektif, terlalu banyak mengekang dan mengatur, apakah salah jika anak ingin kebebasannya sendiri?" tanya Utami.
"Durhaka atau berani melawan orangtua adalah salah satu dosa besar. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT melaknat siapapun yang menyakiti hati orangtuanya" Sampai di kalimat itu, Utami langsung menahan nafasnya, berucap istigfar dalam hati.
"Tapi.." Pak Ustadz melanjutkan " Yang harus anak lakukan adalah berbicara dengan terbuka, bicaralah secara lembut, sebelum merasa kesal, coba anak fahami lagi, apa maksud orang tua, jangan pernah mengatakan jika orangtualah yang egois, turuti keinginan mereka selagi itu tidak keluar dari syariat islam" jelas Pak Ustadz.
Utami dapat bernafas lega setelah mendengar penjelasan Pak Ustadz, setidaknya itu yang coba dia lakukan saat ini, Memendam keinginan dan kebebasannya jauh lebih baik, walau hatinya sering merasa terpukul, tapi ia percaya, bahwa Ibu, dan keluarganya menginginkan yang terbaik untuknya.
...0000000000000000000...
Ada pagi dimana rutinitas pagi tidak begitu sibuk, ya, di hari libur ini, Waktu yang tepat untuk bangun siang.
Seperti biasa, setelah dapat ceramah dari ibu, dirinya baru bisa pergi, berbekal uang recehan yang terus memgentring di saku celananya saat Utami berlari lari kecil.
"Umiii!" teriak Trixi dan Asri yang sudah menunggunya di persimpangan jalan. Bukan hanya kedua sahabatnya, tapi Rendy juga Daniel ada bersama mereka. Entah sejak kapan mereka bisa seakrab itu.
"Lama banget, ditungguin dari tadi" komentar Asri lelah menunggu.
"Biasa, di sidang dulu" cengirnya langsung di mengerti mereka, yap, kedua sahabatnya tau betul seperti apa ibunya Utami.
"Yuk ah,Pak Teguh udah nunggu di Alun alun" ajak Daniel memulai larinya. Langsung diikuti oleh yang lainnya.
__ADS_1
Utami yang lari bersebelahan dengan Rendy merasa suatu keanehan, biasanya pria itu selalu mengganggunya setiap kali ada kesempatan, namun sejak tadi pria itu hanya diam, tak mengatakan apapun atau sekedar meliriknya.
JEDUK!
Tak sengaja Utami menabrak truk yang berhenti di tepi jalan, terlalu fokus memperhatikan pria itu sampai tak memperhatikan jalan.
"Allahuakbar!" seru Trixi dan Asri hampir bersamaan saat mendengar kerasnya hantaman tubuh Utami yang langsung jatuh saat itu juga.
"Kamu kenapa ih? Udah tau di situ ada truk malah dicium" Asri terkekeh, merasa lucu.
"Makannya kalo jalan tuh liatnya ke depan!" Tambah Trixi seraya membantu Utami berdiri.
"Ya allah, sakit banget serius" ringis Utami memegang dahinya yang terasa berdenyut. "Pusing Gays"
"Pulang aja atuh" saran Asri berniat menghentikan angkot.
"Gak mau ah, udah hayu, bisa kok" Ucapnya memaksakan diri.
"Mau di gendong sama aku?" tawar daniel si kacamata.
Utami gelagapan, tak bisa membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi "Ng nggak deh, makasih" Gugupnya.
Setelah kejadian itu Rendy tetap saja diam, sungguh, Utami bukan ingin caper, tapi ini bukanlah Rendy yang biasanya. Yang akan sangat khawatir bahkan saat seekor semut menggigitnya.
__ADS_1