
Malam malam, Abi rela datang dan menanyakan alamat rumah Utami ke semua orang. Hingga akhirnya bertemu, dengan gadis itu, yang saat ini sedang menselonjorkan kakinya Di kursi panjang depan teras.
Bersandar lemah, terpejam kuat, dengan anak rambut yang berkibar tertiup angin. Namun justru yang Abi lihat, Utami lebih cantik tanpa hijabnya.
Astagfirullah, fikiran macam apa itu?
"Assalamualaikum!" salamnya sontak membuat Utami membuka mata dan terlonjak kaget saat melihat kedatangan Abi.
"Astagfirullah, jangan liat aku!" titahnya seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"maaf" ucap Abi cepat membalikan Badannya untuk tidak melihat Utami.
"Kamu ih, ngapain malem malem ke sini sendirian, ini udah jam sepuluh!"
"Justru kamu yang ngapain? katanya sakit, kok malem malem diem diluar?" Abi balik bertanya.
Yah memang benar, seharian tadi rasanya seperti tidak akan ada hari esok baginya, tapi malam ini, kondisinya cukup membaik. Utami hanya mencoba menenangkan diri saat semua orang sudah terlelap sekarang.
"Duduk aja!" Titahnya sudah tak peduli lagi dengan dirinya yang tak memakai hijab, bukankah tadi teman temannya juga melihatnya seperti itu?
Namun pria itu menolak, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk antara mereka berdua, bagaimanapun, Setan adalah Makhluk yang berjuang keras untuk menggoda setiap insan berbuat hal buruk.
"Aku gak lama, cuman mau ngasih air mineral sama kamu" Dengan kepala tertunduk, ia menyerahkan sebotol air mineral pada Utami.
Lama Utami mematung menatap air mineral itu, merasa heran, kenapa Abi memberinya air minum padahal dia punya banyak di rumah.
"Itu air yang udah di do'a in sama pak Ustadz" jelas Abi yang sedari tadi tak mendengar gadis itu berucap terima kasih.
__ADS_1
"Ooh, kirain apa tadi, makasih ya, maaf ngerepotin kamu" cengirnya tampak bodoh.
Abi segera pamit, meninggalkan Utami yang kondisinya cukup membaik, ia lebih segar setelah Abi datang menjenguknya. Apakah ini pengaruh cinta? Yang begitu cepat memberi kesembuhan dan juga luka dihati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mmm...Mmm...!" Jerit Asri tepat di pagi pagi buta, saat sekolahan masih sunyi karna sebagian murid masih muroja'ah di mushola.
Asri memang senantiasa tiba di sekolah selepas Shubuh, rumahnya paling jauh, tak ada kendaraan, setiap hari ia ikut bersama kakaknya yang bekerja di pabrik.
Dan hal itu memudahkan Selly dan teman temannya untuk memberi peringatan.
"Mau minta tolong sama siapa kamu? temen murahanmu nggak sekolah hari ini" Tanya Fitri menyebalkan, dia yang paling sadis pada Asri.
"Mau di apain Yul?" Selly menatap Yuli penuh arti. Memberi kesempatam padanya untuk berbuat hal keji pada Asri yang tak berdaya karna tangam dan kakinya di lakban dengan kuat.
"Gak tega sebenernya, tapi coba coba aja gak masalah kan? Biar kamu paham!"
Sret!
Dengan sekali tarikan Yuli berhasil melepas kerudung Asri, menarik ikat rambutnya hingga rambut Asri tergerai. Dan dengan teganya, Yuli memotong rambut Asri tak beraturan, benar benar berantakan, Yuli tidal berhenti sampai rambut panjang Asri tersisa sampai sebatas telinga saja.
"Buka perekatnya!" Titah Yuli pada Fitri yang menurut, menarik lakbam yang merekat kuat di bibir Asri sekali tarikan, hingga bibir tipis Asri memerah.
"Lepasin, Aku gak takut sama kamu!" tegasnya terdengar menantang.
"Diem!" Bentak Yuli sambil menyumpal mulut Asri dengan Lap kotor yang ada di sana. "Urusan kita bukan cuma Reza, Aku benci kamu karna udah rebut Utami dari aku, kamu tau? di bulan pertama saat sekolah, Aku sama dia udah deket banget kaya sahabat, dan tiba tiba kamu dateng, ngerebut dia gitu aja, dan disaat Aku suka sama Reza dan dia cinta peetama aku, kamu juga rebut dia, masalah kamu apa sih Sri?"
__ADS_1
Asri terkekeh, menghempaskan lap kotor dimulutnya dengan kasar, Sudut bibirnya terangkat memperlihatkan senyum yang meremehkan.
"Kamu bukan anak SD Yul, cepet dewasa!"
Plak!
Tamparan keras melayang dengan cepat di pipi Asri. Bukan Yuli yang melakukannya, tapi Fitri. "Kamu yang gak punya otak!"
"Udah woiy, lepasin, bentar lagi anak anak pada dateng" seru Selly sedari tadi khawatir.
Mereka pun melepas lilitan lakban dan membebaskan Asri, bukan karna masih memimliki hati nurani, tapi menjaga nama baik mereka agar tak ada yang curiga kalau mereka telah menyekap Asri di gudang.
Hingga setelah kepergian mereka, Asri masih belum keluar dari gudang, ia meremas rambutnya yang acak acakan, air mata pun jatuh begitu saja.
"Umi, Aku tau rasanya di Bully, tapi aku gak berani lapor ke guru, Janji, kita akan bertahan sampe lulus ya" ucapnya bermonolog sendiri.
Walau sebenarnya Asri tau, jika Selly dan teman temannya hanya senang mengganggu dan menindas orang orang lemah dan tak berdaya seperti mereka.
Berapa banyak urat Syaraf yang putus dan menyebabkan mental seseorang berubah? Hati pun akan mati rasa, dan lambat laun, Orang yang terbully bisa saja memberontak, berlaku kejam melebih orang yang melakukan perundungan.
Tidak percaya? Aku orangnya!😁
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...