Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
28. Syukron!


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Utami kembali masuk sekolah dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya, namun ekspresi wajah bahagia itu tak berlangsung lama saat mengetahui kepulangan ayah yang tak sehat.


Dilihatnya, ayah sedang menggigil di atas ranjangnya pagi ini.


"Bu, kapan Bapak pulang?" Tanya Utami pada ibu yang tengah menyiapkan sarapan.


"Tadi subuh teh"


'Bapak sakit Bu?"


"Iya teh, Untung aja pekerjaannya udah selesai" lega ibu.


"Terus A Rahman sama A Ilham gimana Bu? Ada kabar?"


"Alhamdulillah, kemarin nelpon ke hapenya Faiz, mereka udah kerja di sana, tiga minggu sejak kedatangan mereka ke Bandung"


Utami menghembuskan nafasnya lega, setidaknya beban ibu dan ayah berkurang sekarang, tinggal dirinya dan Zidan yang full menjadi tanggungan ibu dan ayah. Utami tidak boleh mengecewakannya.


"Huwaaa, aku ga mau sekolah mah" tangis seorang bocah di kamar yang asalnya kamar Utami.


Keponakannya itu mulai menangis lagi, sangat berisik. Ditambah ibunya, hanya marah marah, sementara Diki sang kakak, asyik tidur saat anaknya merengek ingin diantarkan ke sekolah.


"Umi pergi Bu!" Utami cepat pamit sebelum gendang telinganya rusak, jujur saja ia tidak suka anak anak, apalagi mendengar tangisan mereka,


Sarapannya abisin dulu teh, jangan di sisa sia, pamali"

__ADS_1


"Tapi Umi udah kenyang, Umi pergi ya, Assalamualaikum" bagai orang yang telat satu jam, Utami begitu terburu buru. Bahkan dirinya tak sempat melihat kondisi ayah.


***********


Tiba di sekolah juga bukan hal yang menyenangkan baginya, terutama saat Asri berlari dan memeluknya di iringi dengan sebuah tangisan tanpa suara.


"Lama banget sakitnya, aku jadi gak ada temen" ucapnya lirih.


"Kenapa kamu nangis?" Tanya Utami khawatir, ia melepas pelukannya dan menatap wajah menyedihkan Asri.


"Janji jangan nyerah ya..." Asri menginterupsi perkataannya sendiri.


"Kamu kenapa Sri?"


'Janji kita bakal bertahan sampe lulus" lanjutnya kemudian memberi jari kelingkingnya untuk ditautkan. Tanda sebuah janji.


"Di apain sama mereka?"


Asri menggeleng lemah. "Memang sebenarnya aku juga salah"


"Kenapa?"


"Aku pacaran sama Reza"


Utami menepuk dahinya Frustasi, tidak mengerti dengan semua ini.

__ADS_1


"Kok bisa?"


Baru saja Asri hendak menjelaskan, Reza dan Rendy datang menghampiri keduanya.


"Aku udah tau semuanya dari Nissa" jelas Reza berbisik, karna saat ini mereka masih berada di koridor.


"Kita ngomong nanti aja di Mushola, jam istirahat kedua!" potong Utami merasa kalau dia akan membicarakan banyak hal pada mereka.


Utami berlalu meninggalkan keduanya sambil menggandeng tangan Asri, belum juga mengambil langkah jauh, Nissa yang tak sengaja berpapasan dengan mereka sudah membeku memberi tatapan Sendu terutama pada Asri.


"Buruan Nis, nanti kita kesalip antri sarapan!" Teriak Fitri cepat menarik tangan Nissa saat mengetahui kalau dia akan menghampiri Utami dan Asri.


Masih dipertanyakan, apa sebenarnya peran Fitri di sini? Dengan siapa dia punya masalah? Gadis itu hanya seorang provokator dan pemantik api saja.


"Nissa pasti bakal di pantau terus, kita gak akan di kasih celah buat ngobrol" ucap Asri.


"Tenang aja, aku tau gimana caranya ngobrol sama Nissa!" senyum Utami yakin.


Asri tersenyum haru, dia jadi lebih bawa perasaan sekarang, tidak biasanya ia mau menggandeng tangan seseorang, tapi sekarang dilakukannya demi menenangkan hatinya itu.


"Syukron!..."


......................


...****************...

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2