
Malam ini, Pak Ustadz memperkenalkan putrinya yang cantik jelita. Wajah Ayu, kulit putih bersih, bercahaya bagai kelip bintang di langit malam. Senyumnya manis, amat lugu dan tenang.
Itulah kesan pertama Utami saat melihatnya.
Andaikan gadis itu ada di sekolahnya, ia pasti jadi bahan iri semua wanita di kelas, untung saja Utami dan Asri juga Trixi yang melihat, mereka justru mengagumi sosoknya yang luar biasa cantik ini.
"Anak-anak, Ini Khodijah, anak Bapak, yang akan ikut bergabung dengan kalian" Senyum Pak Ustadz sambil mengelus pucuk kepala Khodijah.
Gadis itu hanya tersenyum dan menunduk, apalagi saat para Ikhwan berbisik bisik membicarakan kecantikannya.
"Berhubung Akhwatnya masih sedikit jadi Boleh ditambah lagi biar imbang, kalau sudah banyak murid, Insyaallah kita bisa buat pondok kecil kecilan" terang Pak Ustadz.
"Oh ya, Buat Isra Mi'raj nanti gimana? Udah ada persiapan?" tanya Pak Ustadz lagi.
"Udah Pak Ustadz, kita udah nyusun beberapa acara dan nentuin waktunya" jawab Abi tegas.
"Para pemudanya nampilin apa?"
"Hadroh Pak"
Pak Ustadz mengangguk setuju.
"Nanti Khodijah bisa gabung jadi vokalnya sama Umi"
Keduanya langsung saling melirik dan tersenyum canggung. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi pandangan Khodijah lebih dulu tertuju pada Utami.
__ADS_1
Apakah wajahnya memang cocok dengan nama itu? Sehingga saat mendengar namanya di sebut semua orang seakan tahu kalau itu dirinya.
"Kalau buat acara pembukaan gimana?" Tanya Pak Ustadz lagi.
"Oh itu juga udah di tentuin pak, Abi sama Agus jadi MC, pembacaan sholawat sama Trixi dan Asri, tilawatil Qur'an nya Umi, berarti sama Khodijah sekarang" tuturnya membuat para gadis syok setengah mati.
Khususnya Trixi yang refleks mencubit paha Abi.
"Astagfirullah, kenapa kamu teh?" tanya Abi kaget dan nyeri dipahanya
"Apa apaan deh, Itu keinginan kamu bukan hasil diskusi" ucap Trixi tak terima
"Ya Gak papa atuh, dapet pahala" sahut Agus.
"Tapi kan-"
"Ya tapi-"
"Iya, udah, jadi begitu Pak Ustadz" ucapnya lagi tak mempedulikan para Ukhty yang tidak setuju pada pendapatnya.
Pak Ustadz hanya tersenyum mendengar komentar mereka. "Alhamdulillah, Ayo semangat, berani tampil demi kebaikan" dukung Pak Ustadz..
...****************...
Pagi pagi buta, Ayah sudah siap dengan pakaian rapi, menggendong tas beratnya di pundak, memakai sepatu dan juga topi.
__ADS_1
"Bu, Bapak mau kemana?" tanya Utami begitu ia melihat ibu menyiapkan banyak makanan di dapur.
"Kerja Teh, di luar kota" jawab ibu sibuk dengan aktifitasnya.
Utami yang masih menyelempangkan handuk dipundaknya berjalan menghampiri Bapak di teras.
"Pak, kok Bapak kerjanya jauh jauh?" tanya Utami begitu ia tiba dan duduk disamping Ayah.
Sebelum menjawab, Ayah menyeruput kopinya terlebih dahulu. "Kenapa? Kan udah biasa"
Utami merengut "Sekarang kan Bapak udah tua, A Ilham sama A Rahman juga udah kerja kan sekarang? Bapak jangan capek capek"
Ayah mengulum senyumnya dengan lembut, tangan besarnya mengelus kepala Utami penuh sayang.
"Bapak masih punya tanggung jawab, Buat Ibu kamu, buat kamu, buat Zidan, Buat semua anak anak Bapak terutama yang belum nikah"
Utami tersenyum getir. "yang udah nikah juga masih nyusahin" batin Utami.
"Udah, kamu jangan mikirin apa apa, Sekolah yang bener, belajar yang rajin, jadi anak soleha" ucapnya lagi seakan bisa menebak fikiran Utami.
Tak lama kemudian, ibu datang memberi bekal pada Ayah, merapikan pakaiannya, menuntunnya hingga tiba di depan gang, kemudian mendoakan kesehatan Ayah, keselamatannya, dan kelancaran rezekinya.
Istri yang soleha!
Beruntung sekali Ayah memiliki istri seperti ibunya yang pintar, bijaksana, lembut, penyayang serta di segani semua orang. Walau ia bersikap overprotektif pada anak anaknya khususnya pada Utami, Tapi mereka tahu, Jika Cinta ibu lebih besar daripada cinta anak kepada ibunya.
__ADS_1
...*****************...