
Setelah pencapaiannya kemarin, Utami masih tidak puas dengan dirinya, bagaimana dihadapannya saat ini, Khodijah dapat melantunkan tilawatil qur'an dengan sangat merdu. Semua orang dibuatnya terharu, kagum, dan terpukau pada suaranya. Dia begitu iri pada suara indah itu, ingin bisa sepertinya juga.
Abi yang melihatnya juga sampai ternganga!
"Ini!" kata khodijah sambil memberikan mikrofon yang dipakainya barusan pada Utami.
"Apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Umi aja yang ngaji, aku yang terjemahnya" senyumnya lembut.
"Eh, enggak, sok kamu aja, aku yang terjemah" tolak Utami halus.
"Yeh, malah lempar lempar gitu!" seru Abi ikut nimbrung.
"Soalnya kalo aku yang ngaji nanti jema'ahnya malah pada kabur" canda Utami dengan lawakan garing.
Sebetulnya Utami kurang percaya diri untuk memulai, dia takut suaranya malah akan tercekik saat di nada tinggi, memalukan bukan jika hal itu sampai terjadi? karna itulah ia memaksa dan bersikeras untuk menjadi pembaca terjemah saja. Biar khodijah, yang jelas memiliki suara merdu.
**************
Persiapan sudah selesai, semuanya beristirahat di teras masjid sambil meminum es kelapa dan makan makanan ringan, dibelikan oleh DKM tentunya.
Semua pun sibuk dengan ponsel mereka, kecuali Utami, yang hanya diam melamun saat semua orang sibuk dengan dunianya masing masing.
Dia jadi teringat pada perkataan ibunya Abi pagi tadi, terlihat dari tatapannya begitu sangat memohon, membuat Utami bertanya tanya, apakah dahulu Abi memang senakal itu? sampai orang tuanya pun tak bisa menghentikannya? Apa karna Ibunya hanya ingin bekerja sama dengannya karna anak lelaki yang masih labil seperti itu lebih percaya dan menurut kepada gadis yang dicintainya? mungkinkah?
Mungkinkah Abi menyukainya?
Sudah jelas bukan?
__ADS_1
Lama Utami merenung sambil memerhatikan Abi yang saat ini sedang tersenyum senyum melihat ponselnya. Bukan, bukan ponselnya, tapi potret Utami yang diambilnya secara diam diam.
"Ih kamu jail!" teriak Utami baru saja menyadari, dia bermaksud merebut ponsel Abi untuk menghapus fotonya, namun ia kalah cepat.
Abi menyeringai, dan langsung memasukan ponselnya ke saku celana.
"Jangan kaya gitu, hapus dulu fotonya" pinta Utami tak peduli pada teman temannya yang mulai merayunya.
"Foto apa? aku gak foto2!"
"Bohong, tadi suaranya kedengeran, hapus cepet!" pintanya memaksa.
Bukannya menurut, pria itu malah pergi bersama teman temannya, yang katanya mau membagikan surat undangan untuk acara malam ini.
"Umi, pacaran sama Abi?" tanya Khodijah setelah anak anak cowok itu hilang dari pandangan.
"Jangan ditanya!" tambah Asri sama menyebalkannya.
"Eh enggak kok, jangan percaya mereka" senyum Utami tak bisa menyembunyikan malu sekaligud kikuknya.
"Tapi, Umi suka kan sama Abi?" tanya Khodijah begitu terang terangan.
"E-enggak kok, kenapa emangnya nanya nanya gitu?" tanya Utami sedikit merasa tak nyaman.
"Gak papa, nanya aja" senyumnya kemudian beranjak, "Yaudah aku pulang duluan yah, kita kumpul lagi sebelum magrib kan?"
"Iya, sampai ketemu nanti" jawab Trixi ramah
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsallam"
Gosip kembali dimulai saat salah satu dari teman mereka pulang, parahnya, mereka langsung membicarakannya saat itu juga.
"Kayanya dia suka deh sama Abi" bisik Trixi mulai mengada ngada.
"Terus kenapa?"
"Ya hati hati aja kamu, jangan sampai dia di ambil"
Setan sedang merasuki temannya saat ini, tapi Utami tidak akan terpedaya, "Jangan suudzon, Khodijah kan anaknya Pak Ustadz Amir, di didik baik sama orang tuanya, aku juga yakin dia anaknya baik, soleha, menjaga diri, gak akan mungkin mgelakuin hal rendahan, lagian apa salahnya juga kalo dia suka sama Abi, jodoh gak ada yang tau" jelasnya bijaksana.
"Emang kamu gak cemburu?" tanya Asri sambil mencolek colek dagu Utami.
"Ih apaan, ya nggak lah"
"Ooh berarti kamu gak cinta, karna kan cemburu tanda cinta" Asri masih menggodanya.
"Marah tandanya sayang, kalau curiga itu karna ku takut kehilangan..."di sambut dengan nyanyian fals oleh Trixi.
"Udah ah berisik!"
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1