Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
24. Masa lalu datang mengingatkan


__ADS_3

~Flashback


Saat itu, di tahun keduanya saat SMP, Usia Utami baru saja menginjak empat belas tahun.


Ia memiliki banyak teman, Bergabung dalam pergaulan bebas. Tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Merokok, Mabuk mabukan, sampai berbuat mesum, semua terlihat jelas di sekitarnya.


"Udah jam setengah sembilan, aku pulang duluan ya Gays" pamitnya saat merasa kalau ibu akan mulai khawatir dan mencarinya.


"Baru juga gabung masa mau pulang lagi, ngerokok dulu lah" Meyda menyodorkan sebatang rokok padanya.


"Udah habis sebatang Mey, engap ah"


(engap \= Sesak)


"Tambah lagi, sama ini cium deh baunya" Gadis itu membujuk Utami untuk mencium bau alkohol di dalam botol kaca.


Menciumnya saja sudah membuat Kepala Utami pusing, apalagi meminumnya. Untuk hal itu, Utami tidak tertarik sama sekali untuk mencobanya, ingatan tentang barang haram di kepalanya melekat kuat.


"Gak ah, rokok aja cukup" tolak Utami sambil beranjak.


"Aku pulang yah, Sa, duluan!" Utami beralih melihat ke arah Salsa yang asik berciuman bersama pacarnya di sudut ruangan.


"Emm!" Salsa balas melambai dengan persatuan bibir yang tak mau lepas itu.

__ADS_1


Sudah biasa mereka dengan keadaan seperti itu, bagi Utami pun sudah bukan masalah besar, bahkan dia pernah melihat mereka lebih dari sekedar berciuman.


Baru saja Utami sampai di ambang pintu, di teras rumah Meyda dia melihat suatu perundungan.


Shinta!


Gadis yang baru bergabung itu tubuhnya di gotong beramai ramai masuk ke dalam kamar. Kemudian diperlakukan secara tidak senonoh, bahkan Meyda malah merekam kejadian itu sambil tertawa.


"Utami Loe ga mau main main?" Meyda menyerahkan sebuah remot control yang sama sekali Tidak tahu apa fungsinya.


"Tekan aja!"


Dengan wajah bingung Utami mengikuti arahan Meyda, namun setelahnya, Shinta mendesah tak karuan.


"Ahh, udah Please, gak kuat" desahnya benar benar memggelikan. Tubuhnya menggelinjang bagai cacing kepanasan, meski tangan dan kakinya di pegangi dengan kuat.


Utami menekan tombol dengan getaran lebih cepat, ia masih saja tidak mengerti mengapa Shinta makin menjadi. Mengundang tawa semua yang ada di sana.


"Kenapa sih?" Utami menyerahkan kembali alat itu dan melihat ke arah Shinta yang sedari tadi menangis.


"Ayolah, belum puas ketawa nih" seru yang lain.


Malam itu Utami benar benar terbawa suasana, Ia turut melakukan perundungan pada Shinta. Tak peduli jika gadis itu sudah memohon dan menangis untuk dilepaskan.


~Flashback end.

__ADS_1


Sampai di situ, Utami menghentikan putaran masa lalu di kepalanya, ia menggelang kuat kuat, tak mau mengingatnya lagi, walau bayangan wajah Shinta yang menderita tetap saja menghantuinya.


"Kamu marah?" Tanya Abi masih memerhatikannya.


Utami menoleh sebentar, kemudian kembali fokus ke jalanan. "Gak, itu masa lalu, jadiin pelajaran aja, jangan sampe terulang" ucapnya seraya mempercepat langkah karna jarak ke mesjid sudah dekat.


"Tentang malam itu, kamu nggak mau tau?" Abi sedikit berteriak karna dirinya berhenti melangkah.


Tanpa menghentikan langkahnya Utami berbalik dan berjalan mundur. "Simpen itu buat masa lalu kamu" senyumnya


Abi terpaku di tempat melihat senyum itu, terlihat begitu manis. Ada getaran dihatinya, yang ia yakini jika itu adalah perasaan cinta.


"Awas!" Teriaknya tepat saat Utami kembali berbalik dan tak sengaja menabrak tiang masjid.


JEDUK!


"Aduh!" ringisnya benar benar sakit.


Abi langsung berlari dan menghampirinya, menyingkirkan tangan Utami di dahinya dan mengusap dahi itu sambil memberinya tiupan.


"Cieeee!" Seru anak anak dan teman temannya yang entah sejak kapan mereka sudah ada di sana.


......................


...****************...

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2