Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
8. Sindiran!


__ADS_3

Dengan lambaian tangan Abi di pintu angkot, cukup menarik perhatian teman teman Utami yang hendak memasuki gerbang sekolah. Entah itu tatapan iri, jijik, ataupun benci, tampak begitu beragam.


Sejauh perjalanannya menuju kelas, berjalan lancar, Semua baik baik saja, namun setibanya di kelas, sindiran mereka membuat Utami merasa tersinggung.


"Gays, Ada *** *** berkedok Ukhty!" Selly mulai memantik Api.


"Penampilan aja tertutup, kelakuannya ngga beda jauh dari wanita malam"


"Munafik!"


"So Alim!"


Cibiran mereka memang tidak di tujukan secara langsung pada Utami, tapi ia yakin cacian itu untuknya.


Asri dan Nisa yang mengerti keadaan hanya diam, mencoba menutup telinga mereka seolah tak ingin mendengar.


Tak lama setelah itu, Trixi datang dan segera mengambil kursinya, tepat disamping Utami.


"Nih!" tiba tiba ia menyodorkan sebungkus cokelat pada Utami. "Dari Daniel!"


Siapa lagi itu Daniel? Utami mengangkat alisnya penuh tanda tanya.


"Jangan bilang gak tau, dia sekelas sama kita, sohibnya si Ade"


Utami melirik sebentar ke bangku belakang, Sudah ada Ade dan pria berkacamata di sana yang terciduk sedang memperhatikannya.


"Oh yang pake kaca mata?"


"Iya"


"Kenapa kok tiba tiba ngasih cokelat?"


"Dia kan ulang tahun, cuman dia bagi bagi cokelatnya ga ke semua orang, ada tuh di catetannya"


Sekali lagi Utami melirik ke belakang, pandangannya kembali bertemu pada Daniel yang saat ini memberi senyum tipis.

__ADS_1


Setahunya, Daniel memang orang yang humoris, meski berkaca mata, dia tidaklah culun seperti lelaki pada umumnya, selalu berbagi, dan peduli pada orang lain. Selain itu dia juga murid dengan hafalan terbanyak. Namun sejauh Utami mengenalnya, mereka belum terlibat dalam sebuah obrolan, sama sekali tidak pernah mengobrol, karna itu dia heran, kenapa namanya bisa tercatat dalam list pembagian cokelat.


"Wih, Nyogok pake apa tuh di kasih cokelat?" Selly mulai beraksi lagi, tentu karna dia mendengar apa yang Trixi bicarakan.


"Paling pake sikap so alimnya itu" tambah Fitri, yang selalu memprovokasi.


Jika Asri dan Nisa hanya diam, lain hal dengan Trixi yang pemberani, Ia menoleh ke belakang dan menatap tajam mereka secara bergantian, matanya yang bulat dan besar, dengan bulu mata hitam lebat menambah sangar tatapannya.


"Kok nyindir? Gak Berani ya ngomong langsung?"


"Dih kok sewot? Suka suka dong!"


Trixi gampang terpancing emosi, dan pagi ini nyaris saja Emosinya memuncak demi membela Utami, namun semua terhenti saat bel tanda masuk sudah berbunyi, guru mata pelajaran masuk kelas dengan tepat dan memulai pelajaran, di awali dengan membaca do'a.


"Kemana Rendy sama Naufal?" Tanya Bu Sindi, si paling cepat menghafal nama murid muridnya.


Semua menoleh ke bangku Rendy dan Naufal yang kosong. Namun tak ada satupun yang bicara, anak laki laki seperti mengetahuinya namun tak ingin bicara.


Sampai datanglah guru BK yang mengabarkan kalau keduanya tengah bertengkar di Hujroh.


"Anak anak, kerjain dulu tugasnya, halaman satu sampai lima, nanti kita bahas bareng bareng, Ibu mau ke ruang guru dulu sebentar" Ujar Bu sindi bergegas.


...*********************...


"Umi!" Panggil Rendy di luar kelas saat Jam istirahat sudah tiba.


Utami yang masih mencatat cepat cepat keluar, menghampiri Rendy yang sepertinya baru keluar dari ruang BK sejak perkelahian pagi tadi.


"Apa?"


"Tadi nulis apa?"


"Ngerangkum!"


Wajah Rendy tampak lebam, dia semakin memasang wajah menyedihkan untuk mendapat perhatian Utami.

__ADS_1


"Tolong, punya aku tulisin, aku ga bisa nulis, tangan aku bengkak" ucapnya seraya menunjukan tangan kanannya yang bengkak di sertai dengan warna biru keunguan.


Refleks, Utami meraih tangan bengkak itu dan mengusapnya iba.


"Ngapain atuh? Berantem sampe gini ngerebutin apa?" tanyanya dengan nada marah tanda sayang.


"Heh!" Kedatangan Selly yang habis dari kantin itu mengagetkan Utami yang langdung saja melepas pegangannya dari tangan Rendy.


Tanpa bicara, Selly menarik tangan Rendy dan membawanya pergi, sebelum itu ia melempar tatapan mematikan pada Utami.


"Astagfirullah, aku ngapain si!" batinnya.


Tangannya itu, selalu refleks memyentuh orang lain, dia takut jika itu akan jadi kebiasaan yang buruk.


Utami kembali masuk ke kelas, berjalan menuju bangkunya Rendy, membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatannya untuk merangkum pelajaran tadi.


"ngapain?" Tanya Daniel yang duduknya di samping bangku Rendy, ia menghentikan sejenak hafalan alqur'an nya.


"Mau nulis, kasian itu Rendy tangannya sakit, ga bisa nulis"


"Eh jangan mau dimanfaatin anak itu!" ucapnya serius.


"Cuman sekali kali"


Daniel tak lagi bicara.


"Oh iya, makasih cokelatnya" Senyumnya melirik pada Daniel yang ternyata masih memperhatikannya.


"Sama sama, Cuman sepuluh orang yang aku kasih, cewenya cuman Trixi sama kamu doang"


"Kenapa?"


"Gak papa" Pria itu beranjak dan pergi dengan senyum simpul. Membuat Utami mengedikkan bahunya tak peduli.


...****************...

__ADS_1


...************...


__ADS_2