
Entah sudah berapa lama Utami tak merasakan hiruk pikuk suasana kota di malam hari, saat angin berhembus dan bau asap sate menyeruak di indra penciumannya, juga suara bising kendaraan yang memekakan telinga. Di tambah lampu lampu yang berkerlap kerlip menghiasi gelapnya malam. Sehingga menyebabkan pandangannya jadi silau.
"Umi jadi mondok nggak?" tanya Pak Teguh terdengar samar samar.
"Nggak Pak, belum siap!" Utami mencondongkan kepalanya agar bisa mendengar lebih jelas apa yang Pak teguh katakan.
"Siapnya kapan?"
"Gak tau" cengirnya meragukan.
Sedikit berbincang tak terasa membuat perjalanan jadi singkat, mereka sudah tiba di sekolah.
"Masuk aja duluan, Bapak mau beli minum dulu!" titahnya.
"Malu atuh Pak ih, hayu sama Bapak anterin dulu!" tolaknya sudah tidak ragu lagi.
Tentu saja, Pak Teguh adalah guru pertama yang Utami kenal di masa MPLS, sejak perkenalannya Pak Teguh sudah begitu dekat dengan murid muridnya. Bahkan Utami yang baru sekolah tiga bulan di kelas 10 nya ini sudah seakrab itu. Di tambah Pak Teguh baru saja lulus kuliah, meski guru honorer, dia tetap disayangi banyak muridnya. Sebagai guru, dan seorang operator sekolah.
"Gak usah malu malu, masuk duluan nanti Bapak nyusul!"
Terpaksa, Utami pun menurut, dengan langkah gontai ia berjalan ke lantai atas, dimana terdengar seruan orang membaca do'a bersama.
"Utami, ngapain kamu ke sini?" tanya Selly cukup mengejutkan, dia datang dari arah belakang bersama tiga temannya.
"Enggak, aku cuman mau ikutan ngaji malem aja" jawabnya gugup, dengan kepala yang tertunduk dalam.
__ADS_1
"Oh!" ucapnya tak acuh, dan kembali masuk ke ruangan.
Utami diam mematung, pasti Selly sangat membencinya sejak kejadian siang tadi, hal sekecil itu saja sudah membuatnya marah, bagaimana kalau dia tahu kalau Rendy pernah berpegangan tangan dengannya.
"Eh, Hey, Si sayang ke sini juga akhirnya!" Sapa orang yang baru saja ada di benaknya.
Ya tuhan, kenapa harus Rendy?, Utami lebih suka pada Abi yang ramah dan sopan serta santun, ah dia jadi lupa, kalau seharusnya ia pergi ke masjid ditempatnya saat ini.
"Jangan di dengerin, Dia mah otaknya gesrek" seru Ade.
"Kudu di bogem" timpal Reza.
Utami tersenyum simpul.
"Udah bawa barang barangnya?" tanyanya.
"Mulai mondok kan?"
"Enggak!"
"Sotoy Lu!" Kepala Rendy di getok Reza, si paling hobi ngegetok.
"Eh aku udah seneng" ucapnya tampak kecewa.
"Dih" Cibir Utami merasa jijik.
__ADS_1
Tak lama, datanglah Pak Teguh. "Heh, malah ngeganggu Utami, Sana masuk!" titahnya garang.
"Eh Bapak!" cengir mereka watados dan menyalimi punggung tangan Pak Teguh. Kemudian masuk.
"Umi!" Panggil pak Teguh serius.
"Apa Pak?"
"Jangan mau sama Si Rendy, cunihin"
(Note: Cunihin\= cowok yang iseng, usil, suka ngerayu2 cewek)
Hal itu membuat Utami terkekeh. "Di kasih sangsi Pak biar jera!"
"Udah, tapi ternyata dia masih belum jera, harus ditegasin lagi" tegasnya seketika membuat Utami ngeri melihat wajahnya yang serius. "Udah yuk masuk!"
Kedatangan Utami jadi perhatian khususnya para ikhwan yang ada dalam jarak lima meter, mereka jadi pada Caper dan so cool karna ingin dilirik Utami. Berbeda dengan para akhwat yang justru malah mendiamkannya, mendeliknya tak suka, dan seperti tak ingin ada keberadaannya di sini. Jujur saja, Utami merasa tak nyaman.
Apa kehadirannya selalu tak diinginkan semua orang?...
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...