Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
21. Pengacau


__ADS_3

Jika suasana Di Sekolah terasa begitu alay, setidaknya di pengajian sore ini penuh kebahagiaan. Penuh semangat karna Abi sudah mulai mengajar anak anak berlatih Rebana.


Abi sibuk mengatur barisan dan tempo permainan tepakan.


"Fokus Fokus, Liat tangan Aa!" titahnya pada beberapa anak yang lemot.


Sambil bicara, tangan Abi menunjuk sana sini, Penuh ketegasan sehingga anak anak tak berani bercanda. Begitu pun teman teman Abi, mereka diam saat pria itu sedang Fokus. Seperti sudah tahu apa dampak mengganggu kesibukannya.


Sementara Trixi sibuk berbisik membicarakan betapa keren dan cool nya sosok tampan Abi, Asri juga tak henti hentinya menggoda Utami tentang Abi.


"Yang di belakang diem!" Tegasnya begitu mendengar cekikikan para gadis.


Setelah merasa keadaan mulai stabil, Abi membiarkan anak anak berlatih jauh dari pengawasannya, ia beralih pada teman temannya.


"Capek Aa ustadz?" tanya Agus seraya memberi sebotol air mineral padanya.


"Kita mau hadroh aja?" tanyanya sebelum meneguk habis air mineral itu


"Gak ngerti sama sekali aku"


"Gampang, ada si Abah" sahutnya langsung di dengar Si Abah yang tengah membenarkan kipas angin yang dari tadi tak mau menyala.


"Bisa Jang!" teriak pria paruh baya itu penuh semangat. "Alat alatnya ambil di Kobong!" ucapnya lagi.


Dengan sigap, Para Ikhwan pun mengambilnya. Sementara Abi, memgambil sebuah Mikrofon dan di berikan pada Utami. "Buat Vokalisnya!"


Refleks, Utami menjauh dan menggelang cepat. "Masya allah, tabarakallah, aku gak bisa nyanyi Aa!"


"Bisa, nih ambil" Abi memaksa


"Tapi-"


"Ambiil!"


Dengan ragu, Utami menerima mikrofon itu.


"Kalian berdua beking vokal" Ucapnya sebelum berlalu meninggalkan para gadis yang langsung mengoceh tak terima.


Sayang sekali, Abi yang sedikit jahil itu hanya menyeringai, Ternyata menyenangkan juga bisa mengerjai para gadis, termasuk Utami, karna sejauh mengenalnya, Utami adalah anak yang begitu penurut. Selalu patuh pada Ketegasan siapapun.


TIID!

__ADS_1


Sebuah klakson motor yang berhenti di depan gerbang masjid menyita perhatian semua orang, bukan hanya satu motor, tapi beberapa motor di belakangnya turut berhenti dan memperhatikan mereka.


"Bi!" Para lelaki yang menyadari hal itu langsung melirik pada Abi yang tengah membawa Darbuka di pangkuannya.


"Ujang, Saha itu?" Tanya Si Abah


(Saha itu \= Siapa itu)


"Heh barudak, samperkeun!" Agus memerintah.


(Hey Gays, samperin)


Baru saja mereka hendak menghampiri, Abi mencegahnya. "Jangan, Biar aku aja"


Melihat Abi sudah menghampiri cowok cowok bermotor itu, para gadis memerhatikannya secara seksama, ada tanda tanya besar di hati Utami tentang Abi.


Apakah mereka bagian dari masa lalunya?


BUGH!


BUGH!


keadaan pun jadi kacau, seperti sedang tawuran di depan masjid.


"Astagfirullah, gelut di depan mesjid, hayu cegah mereka!" Ajak Trixi was was


(gelut \= berantem )


Utami dan Asri setuju, meski mereka tidak tahu apa yang bisa di lakukan untuk menghentikan perkelahian mereka.


Hanya membawa peralatan kebersihan mesjid, mereka berani masuk dalam pertempuran.


"Heeh, Berani beraninya bikin ribut di depan masjid? Orang lagi ngaji Juga!" teriak Trixi dengam suara cemprengnya.


BUGH


BUGH


BUGH


Ia memberi bogem dengan sebuah galon kosong, namun cukup membuat anak anak geng motor itu kewalahan.

__ADS_1


TUK!


TUK


TUK


Asri memukul dengan sapu, Sementara yang Utami lakukan adalah menyiram mereka dengan air bekas pelan. Di bantu Si Abah yang mengancam akan melaporkan hal ini pada Polisi.


"Anjir rese Banget kaum hawa!" dengus seorang pria yang terkena air pelan.


"Malesin anjir!" sahut yang lain kembali ke motornya dan pergi.


Sekian dan terima kasih, sangat tidak berguna.


"Saha wae eta teh Jang?" tanya si Abah masih penasaran.


Abi hanya diam dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya.


"Udah atuh, bubar aja sekarang mah, biar anak anak, Abah yang urus" ucap Abah merasa tidak akan benar jika para pemuda itu lanjut belajar dalam keadaan emosi.


"Abi..Abi..." Teriak mereka begitu melihat Abi tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan jatuh tak sadarkan diri. Untung saja, Agus dan yang lainnya cepat menangkap tubuhnya. Menggotong tubuh Abi dan membawanya masuk ke mesjid. Agus selaku teman dekatnya pun segera menghubungi orang tua Abi.


"Harusnya kita nggak ngebiarin dia nemuin Iqbal sendirian tadi" Agus memyesal.


"Lagian kita mikirnya masalah kita udah selesai sama mereka, buat apa si Iqbal masih nyerang kita?" sahut yang lain.


Oh jadi Iqbal, pemimpin dari keonaran tadi.


"Untung aja mereka berhasil di serbu pasukan emak emak, ngakak banget tadi yang mukul pake galon"


PLAK!


Wajah anak tak dikenal itu di lempar buku Oleh Trixi. "jangan bercanda Lu Samsul"


"Rizal, bukan Samsul"


"Pantesan gendut" Trixi mencibir.


"Gak nyadar diri" Rizal balas mengejek.


"Heh udah udah!" lerai Utami begitu khawatir pada kondisi Abi yang masih belum sadarkan diri. Sampai kemudian kedua orang tuanya datang menjemput.

__ADS_1


__ADS_2