
Di teras masjid, bersama teman teman yang lain, Utami tidak tahu apa yang orang tua Abi bicarakan pada Si Abah, hingga akhirnya Abi sadarkan diri dan langsung di bawa pulang.
Tak mengatakan sepatah kata pun, Pria itu melihat Utami sekilas, kemudian pergi. Sementara ibunya yang menyusul tersenyum lebih dulu pada Utami.
"Utami Khairunnisa?!" tanyanya begitu lembut.
"Iya?"
"Oh, jadi benar" senyumnya makin merekah, tapi setelahnya ia tak mengatakan apapun lagi. Pergi meninggalkan sebuah rasa penasaran baik itu untuk teman temannya ataupun dirinya.
...****************...
Hingga hari esok, dan hari hari selanjutnya, rasa penasaran itu tidak pernah berubah. Abi tidak pergi mengaji beberapa hari kemudian, paginya pun Utami tak melihatnya berangkat bersama.
Kabarnya, Abi akan pindah sekolah dan masuk pesantren seperti adiknya.
Mendengar itu, harusnya Utami senang, mengapa dia harus bersedih dan merasa kehilangan? Abi pergi untuk menuntut ilmu dan itu hal yang sangat bagus.
Tasbih Hitam yang di pegangnya kini, semakin membuat Utami rindu dan ingin bertemu dengannya.
SRET!
Dengan sengaja Selly mengambil Tasbih yang di pegang Utami secara paksa. Sekejap mata saja dia berhasil memutus talinya sehingga membuat biji tasbih itu jatuh bertaburan.
"Gitu banget Dzikirnya, seneng ya bisa dzikir pake tasbih pemberian Rendy?" sengitnya.
Utami merotasikan matanya malas, ia merasa dongkol, melihat kelakuan satu manusia pengganggu ini.
__ADS_1
"Bukan dari Rendy!" Sambil memungut taburan biji Tasbih yang jatuh.
JLEB!
Tiba tiba Selly menginjak tangannya dengan kuat.
"Aww Sakit Sel" ringis Utami benar benar kesakitan.
Tak ada yang menghentikan karna kelas saat ini kosong, Jam istirahat kedua, dimana Utami sengaja meminta waktunya untuk menghafal dan Asri juga Trxi rela menggantikannya jaga kantin.
"Kamu gak seharusnya masuk sekolah ini, lebih baik kamu keluar kalau gak mau mental kamu berubah" Selly semakin menguatkan pijakan ditangannya.
"Sel Sakit" ringis Utami benar benar tak tahan, sepatu tebal yang dipakainya terasa seperti besi dengan berat satu ton.
"Kamu apa-apaan sih?" Rendy selalu datang melerai mereka. Menyingkirkan kaki Selly dan membantu Utami berdiri.
Tampaknya pria itu juga sudah bodo amat saat Selly pergi dengan sejuta amarah di hatinya. Rendy memilih meraih tangan Utami dan mengelusnya.
"Maaf" Akhirnya setelah lama bungkam, dia kembali berbicara padanya.
"Gara gara kamu Ren"
"Aku tau" kepalanya tertunduk
"Gara gara kamu aku jadi korban mereka"
"Aku tau"
__ADS_1
"Lepasin!" Ucapnya sambil menarik tangannya dari genggaman Rendy, namun tangan itu selalu memegangnya dengan kuat.
"LEPASIN!" Kali ini ia berucap dengan lebih keras.
"Tolong maafin aku Umi"
"Aku maafin, dan berhenti belain aku, fokus aja sama pacar kamu dulu" Masih berusaha melepas pegangan tangannya.
"Gak, aku mau putus!"
Utami terkekeh. "Apa sih yang buat kamu bisa pacaram sama dia?"
"Aku tertipu!"
Rasanya lucu, Utami sampai tidak sadar jika tangannya masih di pegang Rendy.
"Dia chat aku, gak ngakuin nama dia, bilangnya dia pengagum rahasia aku, aku ladenin, karna aku kira itu kamu, tapi pas aku tanya ke Trixi kamu gak punya hape, terus dia sering neror aku pake surat cinta ke tas aku, aku kira itu juga kamu karna kamu sering nulisin rangkuman di buku aku, makannya pas di chat aku tembak dia, aku bilang, kalau kita pacaran tunjukin diri dia, ternyata itu Selly, aku syook" Jelasnya begitu serius.
Utami tak bisa menahan tawanya, memang tidak lucu, tapi dia ingin tertawa melihat ekspresi Rendy yang menyebalkan itu.
"Terus?"
"Ya udah gitu, aku jadi terpaksa pacaran sama dia karna dia bucin banget, dikit dikit marah, dikit dikit nangis kalau aku bentak"
Lega sekali rasanya, jadi karna itu Selly bisa pacaran dengannya, sudah tidak di ragukan lagi, ternyata wanita itu memang murahan.
"Sekarang aku gak peduli dia mau nangis atau enggak, aku tetep mau putus"
__ADS_1
Kali ini Utami sadar, dia cepat menarik tangannya saat pria itu lengah, kemudian bangkit. Pergi begitu saja dengan kelegaan di hatinya.