Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
34. Ku tunggu Hadiahku!


__ADS_3

Tiba dirumah, rasa lelah yang teramat sangat sama sekali tidak Utami pedulikan, senyumnya mengembang apalagi ketika ia menunjukan keberhasilannya pada ibu.


"Assalamualaikum, Bu, Utami menang" senyumnya.


Ibu yang biasa menyambut kepulangan Utami dengan wajah ketusnya kini berubah walau sedikit saja, mungkin respon yang Utami bayangkan terhadap ibu sangat berlebihan, karna Ibu hanya tersenyum biasa tanpa melihat Piagam yang Utami tunjukan padanya.


"Juara satu Bu" Utami masih berusaha menyenangkan ibunya dengan penuh antusias.


"Alhamdulillah teh, semangat terus hafalannya" senyum ibu mengelus kepala Utami penuh sayang. "Habis itu jangan ikutan kegiatan yang gak penting lagi, kalo mau jadi hafizoh ibu dukung, tpi kalo ikut OSIS dan banyak ekskul lain gak usah"


Senyum Utami seketika memudar, dia pikir setelah usahanya kali ini ibu akan mengizinkan Utami berbagai hal. Ternyata keputusan ibu tetap tidak berubah. Utami sangat kecewa.


"Mau nurut nggak sama Ibu?" tanya ibu seolah memastikan.


"Iya, Utami mau keluar dari OSIS dan cuman ikut satu ekskul aja" senyumnya agak dipaksakan.


Utami segera membersihkan diri dan kembali mengistirahatkan dirinya setelah sepanjang hari ini begitu menguras energi,.kali ini, kamar milik ayah yang menjadi tempat istirahatnya.


"Umi boleh tidur sama bapak?" tanya Utami pada ayah yang tampaknya kondisinya mulai membaik.


"Boleh atuh!" senyum ayah hangat.


Utami mulai bergerak, tidak ada rasa canggung sama sekali, kenapa harus? Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Sedewasa apapun Utami, kasih sayang ayah tetaplah selembut seperti dirinya kecil dahulu.


"Pak, Umi juara lomba tahsin!" ucapnya kembali bersuara.


"Alhamdulillah, bangga bapak punya anak soleha kaya kamu"


"Umi juga bangga punya ayah yang baik kaya Bapak"


"Kamu mau hadiah apa dari Bapak?"


Utami tersenyum tipis, rasanya, ayah jauh lebih perhatian daripada ibu. "Umi nggak mau apa apa Pak, Umi cuman pengen ridhonya Bapak"


"Bapak selalu ngeridhoi setiap kehendak baik kamu nak" Ayah bangun dari tidurnya, menatap putri satu satunya dengan lembut dan penuh cinta.


"Ranjang di kamar kamu udah mau rubuh kayanya, sebagai hadiahnya, Bapak bikinin ranjang baru buat kamu nanti"


"Beneran Pak?" tanya Utami senang.


"Iya"


"Makasih Pak" senyumnya benar benar merasa senang, anggap saja itu hadiah yang akan selalu Utami nantikan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mungkin karna lelah, baru kali ini Utami bangun kesiangan sampai dirinya meninggalkan sholat shubuh, bahkan ibu tak membangunkannya karna mungkin ini hari libur.

__ADS_1


"Teh, itu ada yang nanyain diluar!" sahut Zidan begitu melihat Utami sudah terbangun.


"Siapa?"


"A Abi!"


Demi mendengar namanya, Utami begitu terkejut. "Tungguin gitu, tetehnya lagi berbenah"


"Oke" dengan enteng dia pergi kembali.


Sejurus kemudian, Utami cepat membersihkan diri, dengan gerakan gesit ia memakai gamis terbaiknya, padahal tidak tahu apa maksud kedatangam Abi, tapi dia berpikir untuk selalu berpenampilan rapi dihadapannya.


"Masuk dulu atuh, nungguin dari tadi?" tanya Utami basa basi.


"Nggak papa disini aja, aku cuman mau ngajakin kamu" senyumnya berusaha sebiasa mungkin melihat pesona Utami yang membuat jantungnya meletup letup.


"Kemana?"


"bersih bersih masjid hehe" cengirnya sambil menggaruk tengkuknya.


"Oh, peringatannya dimulai malam ini ya?" cengir Utami baru ingat, dia merasa bodoh, tidak seharusnya ia berpenampilan se-terbaik ini kalau sekedar bersih bersih di masjid. Dasar cinta, membuatnya gila saja.


"Iya, nunggu Si Agus mah gak tau abad ke berapa datangnya, ngaret banget pasti"


Utami terkekeh, apa itu hanya modus saja? Biasanya kan Abi memang selalu ke masjid seorang diri sambil menunggu yang lainnya datang..


"Izinin dulu sama ibu aku, berani gak?" bisi Utami bermaksud menantang keberanian Abi.


"Berani atuh, mana ibu kamunya?" balas Abis juga berbisik.


"Hayu!" Utami menuntun Abi hingga tiba didapur, Dimana ibu sedang memasak untuk sarapan.


"Assalamualaikum, Mah" salamnya suskses membuat Utami Syok.


Apa katanya tadi?


Mah?


Mamah?


Terdengar menggelikan sekali.


"Waalaikumsallam" sambut ibu hangat, aneh sekali.


"Kita mau izin buat bersih bersih masjid sama dekorasi buat peringatan Isra mi'raj nanti, boleh?" tanyanya sopan luar biasa.


"Oh boleh aja A, jangan pulang telat aja"

__ADS_1


"Siap Mah, Nanti Mamah juga datang ya ke acaranya"


Ibu tersenyum dan mengangguk, ekspresi aneh yang baru Utami dapati. Dia terus bergidik dan menggelang gelangkan kepala bahkan sampai di sepanjang jalan.


"Kunaon geulis? Dari tadi meni kaya jijik banget jalan sama aku" seru Abi dengan senyum jahilnya.


"Kamu manggil ibu aku apa tadi?"


"Mamah!"


Pipinya terasa panas dan memerah saat itu juga. Mengundang tawa Abi yang terdengar membahana.


"Kenapa gitu? Gak papa atuh sama calon mertua ini"


"Abiii" Refleks, Utami menarik kopeah pria itu dan menjambak rambutnya gemas, menyebalkan sekali pria itu, berani merayunya.


"Adu duh sakit, jangan sentuh, aku masih ada wudhu!" ringis pria iti random sekali.


"Gak jadi kagum sama kamu, nyebelin" cibirnya mendorong Abi hingga pria itu sempoyongan.


Pria itu terus saja tertawa meski tidak tahu bagian mananya yang lucu.


"Serius, aku mau serius..." ucapnya setelah puas tertawa, tatapan kesungguhan dari wajahnya tak bisa dipungkiri.


"Serius apanya?"


"Jadi imam kamu"


Huwek!


Utami tidak suka gombalan alay seperti itu, ia ngeri dan mual rasanya.


"Baru SMA, belum lulus, belum sukses, bahasannya udh ke sana aja"


"Ya bisa aja kita nikah dan lanjut sekolah, yang penting suami istri dulu" cengirnya.


Sinting!


Utami telah terjebak oleh cinta pria gila dan sinting itu


......................


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2