
Masih bersama Utami, dengan kehidupan sederhananya, dengan perasaan cinta yang rumit, antara Pak Teguh, Rendy, dan Abi. Kini datang Daniel yang membuat hatinya semakin kacau.
Entah itu di sekolah, tempat bermain, ataupun di pengajian, bagi anak muda, selalu ada perasaan cinta yang ikut campur.
Beberapa minggu berlalu, Utami hampir tidak punya waktu untuk mengobrol bersama teman temannya.
Pergi pagi, Hafalan!
Jam istirahat, jaga kantin!
Jam pulang, Setor hafalan dan kembali menghafal untuk lomba tahsin
Waktu malam, Latihan hadroh, tak sempat banyak mengobrol karna waktu yang terbatas.
Hari libur, Ekskul
Kondisi fisiknya yang lelah, akhirnya ia jatuh sakit. Demam tinggi, Flu batuk dan Maag karna sering telat makan.
"Kata ibu juga apa teh, Jangan semua kegiatan sekolah di ikutin, jadinya gini, teteh sakit gara gara kecapean dan pola makan gak teratur" Ucap ibu sambil memberinya kompres panas.
Utami yang kepalanya pusing itu hanya diam, Tak ada tenaga untuk berbicara barang sekata saja.
Padahal hari sudah menjelang sore, namun dari semalam demamnya tidak kunjung turun juga.
"Assalamualaikum!" Salam orang orang terdengar begitu ramai di luar sana.
Ibu segera keluar dan membuka pintu, dimana di depan sana sudah ada teman sekelas Utami bersama Pak Teguh.
"Sehat Bu?" Tanya Pak Teguh menyalimi punggung tangan Ibu, di ikuti yang lainnya.
"Alhamdulillah Sehat Pak, silahkan masuk" Ibu mempersilahkan.
__ADS_1
hanya beberapa orang yang masuk ke kamar Utami karna ukuran kamarnya yang sempit. Sementara Pak Teguh mengobrol bersama ibu di ruang tengah.
"Cepet sembuh ya Say, jangan lupa di makan biar cepet pulih" Trixi meletakan sekantung keresek berisi Susu, Roti dan makanan bernutrisi lainnya.
Utami tersenyum Lemah, dia malu sebenarnya, bukan malu akan kondisinya yang kacau, tapi karna teman temannya ada di sini untuk menjenguknya, dia pikir tidak akan ada yang peduli padanya, dan pasti hanya Pak Teguh lah yang membimbing mereka untuk datang kemari
Satu persatu anak anak pun keluar setelah mengucapkan do'a baik akan kesembuhan Utami, Namun Selly dan teman temannya justru membisikan hal yang tak pantas.
"Aku do'a in, semoga sekarat kamu lancar ya" bisiknya langsung saja berlalu.
Berikutnya Fitri yang membisikan hal yang sama. "Aku aminin deh doanya Selly, biar kamu cepet tenang"
"Dan satu pelakor setidaknya berkurang" tambah Yuli
Utami memejamkan matanya, Istigfar terus terucap dalam hati, walau rasanya sakit, ia harus bisa sabar.
Tiba tiba, sentuhan tangan dingin terasa begitu nyaman di dahinya, tak ingin tangan itu lepas. Bahkan Utami tak mau membuka matanya.
"Cepet sembuh ya" dia berbisik lagi. Sungguh Utami tak tahan, namun untuk membuka mata rasanya berat sekali.
Tangan itu mengelus rambutnya sekarang, lalu turun ke pelipis dan memyusut sisa air mata Utami yang keluar karna demamnya yang tinggi.
Utami yakin, itu adalah orang terakhir yang berada di dalam kamarnya. Karna dia berbuat seberani itu.
...*************...
Sementara malam ini, Masjid ramai seperti biasanya, usai pelajaran berlalu, Mereka kembali berlatih.
Abi sudah berkeringat karna sibuk mengajar anak anak yang perkembangannya lumayan cepat. Namun, sebasah apapun keringat di dahinya, tak menandakan jika dia semangat.
Sesekali dirinya melirik ke para Akhwat yang semakin bertambah jumlahnya, Khodijah memang yang paling menonjol diantara yang lain, pesonanya menyejukan kalbu, namun ada sosok lain yang matanya cari.
__ADS_1
Utami Khoirunnisa!
BUKH!
Lemparan penghapus papan tulis melayang dengan indah di kepala Abi, membuat sang empu terkejut dan langsung menoleh menangkap si pelaku.
Tak jauh dari arahnya, si pelaku yang tak lain adalah Agus sudah menyeringai mengejek.
"Payah kitu maneh, eweh awewena!" cibir Agus
(Payah bnget kamu, gak ada cewenya)
"Naon maneh ?" Abi balas menyahut
(Apa kamu?)
Agus selalu tak pernah kalah "Maneh naon?"
(kamu apa?)
Abi tak lagi menyahut, Ia berjalan menghampiri mereka yang sedang berlatih hadroh.
"Kemana si Neng na A?" Tanyw Si Abah sebelum menyeruput kopinya.
"Si Abah mah gak taueun, Calon bidadarinya lagi sakit" lagi lagi Agus yang menjawab.
"Euleuh euleuh, di jenguk atuh, bawain buah tangan"
Abi terdiam kali ini, setuju dengan saran si Abah.
...*****************...
__ADS_1