
Eh kok jalan ke situ?" tanya dan tegur Utami saat melihat Abi malah belok ke arah yang berlawanan.
"Ke rumah aku dulu sebentar, Ibu pengen ketemu katanya"
Blush!
Pasti sekarang wajah Utami sudah semerah tomat, dia malu dan jantungnya mulai berdebar.
"Gak mau" tolaknya.
"Sebentar doang"
"Ya tapi ga mau!" Utami malah berhenti berjalan.
"Hayu buru, jangan malu malu" cengir Abi seraya menarik tangan Utami.
Tangan yang tertutup baju panjangnya, dan lagi lagi, tetap merasakan hangatnya genggaman tangan Abi.
Beragam pertanyaan mulai memenuhi hati Utami, Kenapa hatinya senang namun juga gelisah? kenapa hatinya merasa rendahan? kenapa ia tidak menolak karna tau jika hal itu dosa? dan kenapa ia harus ingat perkataan ibu? apakah benar? dia gadis yang murahan seperti yang di katakan ibunya?
"Dulu, ibu bilang kalau wanita harus menjaga harga dirinya, tapi hari itu ibu membuktikan kalau semuanya udah gak berguna buat aku, mungkin bener kata ibu, aku cewek yang murahan, munafik dan so alim, persis seperti yang dibilang Selly" batinnya dengan perasaan yang terombang ambing.
"Lepasin!" akhirnya Utami berhasil melepaskan pegangan tangan Abi, yang membuat pria itu langsung terkejut karna Utami begitu kasar.
"Maaf, lain kali aku bakal lebih berusaha buat ngubah kebiasaan buruk aku" ucapnya merasa begitu tidak sadar.
Utami tak lagi bicara, sampai akhirnya Abi berhenti di depan sebuah gerbang rumah bercat putih, rumah yang sederhana, namun sangat bersih dan licin, bahkan pelatarannya pun tidak dibiarkan tumbuh rumput liar seujung kuku saja.
"Assalamualaikum, mah!" panggil Abi saat ia membuka pintu dan mempersilahkan Utami duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Waalaikumsallam, eeh ada tamu spesial" senyum Wanita muslimah yang akan selalu Utami kagumi itu.
Dengan santun, Utami menyalimi punggung tangannya dan menyapa hangat. "Apa kabar Bu?"
"alhamdulillah bilkhoir" jawabnya terdengar sudah fasih berbahasa arab
(Note: Alhamdulillah Bilkhoir \=alhamdulillah baik)
"Duduk dulu yuk, Ibu mau buatin teh dulu"
"Ah jangan repot repot bu" tolak Utami begitu sungkan.
"Biar Abi aja mah" sahut Abi langsung pergi ke dapur.
Kini, tinggal mereka berdua, Utami seakan hendak di wawancara kerja, dimana ia duduk tegap, pandangan lurus ke depan, wajah tegas namun hatinya berdentum hebat.
"Banyak hal yang Abi ceritain ke ibu tentang kamu" ucapnya tak basa basi. "dan ibu juga seneng, kalau sekarang Abi punya banyak perubahan"
"Neng..." Suaranya mulai bergetar, Ia memegang bahu Utami dengan kuat.
"Ibu seneng Abi kenal sama kamu, apalagi kamu anaknya bu Halimah, ibu kamu yang pinter ngaji, sholawat, baca qur'an nya bagus, terkenal di setiap majlis taklim, ibu tau kamu soleha, dan ibu pengen kamu terus bareng Abi, jangan biarin dia main main sama perempuan lain lagi"
Utami masih tidak mengerti kemana arah pembicaraannya, dia hanya mengangguk saja kemudian bertanya, "Ibu kenal sama ibunya Umi?"
"Ibu sama ibu kamu satu pengajian di mesjid Al-muhajirin, mesjid besar dekat alun alun itu"
Utami kembali mengangguk, yang artinya, ibunya Abi memang sudah mengenal dirinya sejak dulu, dia saja yang tidak peka.
"Ngomongin apa sih serius banget?" tegur Abi sambil meletakan dua gelas teh yang baru saja dibuatnya. "Sok di minum dulu teh buatan calon imam kamu" lanjutnya lagi lagi membuat Utami tersipu.
__ADS_1
"Gak usah malu malu, lagian udah direstuin, bener kan Mah?" tanya Abi dengan senyum miring yang kemanisannya mengalahkan teh buatannya itu. Membuat ibunya tak bisa menolak dan hanya tersenyum seraya mengangguk.
*********************
Akhirnya keduanya jadi datang paling akhir karna lama berbincang bincang, dimana keadaan masjid saat ini sudah bersih, rapi, dan wangi juga indah, dengan dekorasi yang begitu kreatif dari para remaja penerus bangsa.
"maneh bobogohan wae, lain datang tatadi!" cibir Agus si paling komentator.
(note: kamu pacaran aja bukannya datang dari tadi)
"kumaha saha?" tanya Abi cuek
"Masia!" jawab Agus sarkas
(note: Masia \= kumaha sia /gimana kamu)
"Umiiiiii" teriak Trixi dan Asri saat keduanya keluar dari mesjid, mereka berlari dan menghambur kepelukannya penuh rasa bangga.
"Kenapa kenapa?" tanya Utami kaget dengan serangan mendadak mereka.
"Selamat yaa, kamu juara satu, bangga banget punya temen kaya kamu" teriak Trixi saking terharunya.
Abi yang mendengarpun tersenyum bangga, dia lebih bangga karna bisa menjadi pemilik hatinya.
......................
...****************...
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...