Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
23. Bersamamu seperti musim gugur


__ADS_3

Kali ini, Utami sengaja pulang lebih awal dan melewatkan setoran hafalan, dia malas mengingat apapun, hanya Abi yang ada di fikirannya.


Yah, mereka memang belum kenal dekat, walau masih di daerah yang sama, Utami belum tahu dimana rumah Abi, tidak tahu seperti apa pria itu aslinya dan bagaimana dia menjalani hari harinya.


Tapi sungguh, Utami merindukannya, berharap pria itu cepat datang ke mesjid karna hanya dirinya seorang diri sekarang.


"Assalamualaikum!"


Benar saja, Suara hati selalu mengarah pada kebenaran, Firasat Utami benar adanya, entah karna kebetulan atau apa, tapi Abi datang dengan peci putih dan baju koko serta sarung hitamnya, tampan seperti biasa.


"Waalaikumsallam" Mendengar adanya sahutan, Abi terkejut dan tidak percaya jika Utami sudah bersimpuh di pojokan memegangi butiran tasbih di tangannya.


"Umi?" Ia berjalan menghampiri dan duduk di depannya.


"Maaf, Tasbih kamu rusak" Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca kaca, Tasbih itu pemberian Abi, berharga untuknya, tapi itu sudah rusak sekarang, jumlah butirnya pun banyak yang hilang.


"Gak papa, Nih pake yang baru!" ia kembali melepas lilitan tasbih yang selalu tersemat di tangannya.


"Tapi-"


"Ambiil" dia mulai memasang mode maksa lagi.


"Terus yang ini?" Utami menunjukan tasbihnya yang rusak.


"Itu bisa di susun lagi, ada banyak butiran lainnya di rumah" Dengan hati hati Abi menerima tasbih itu agar tak terjadi kontak fisik dan tak membatalkan wudhunya.


"Kamu kangen aku?"


"Hah?" Tanya Utami refleks, berharap dia tidak salah dengar.


"Jam segini harusnya masih di sekolah kan?"


"Iya sih, sebenernya aku agak khawatir aja" Utami tertunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Sama aku?"


Gadis itu mengangguk samar.


"Si Agus kalo cerita suka bohong, pasti dia bilang aku mau pindah sekolah dan pesantren kan?" tebaknya tepat sekali.

__ADS_1


"Itu gak bener, aku tetep mau di sini, Lagipula niat aku udah cukup baik, aku mau istiqomah, aku punya guru, dan aku punya kamu" lanjutnya


Utami mengerjap beberapa kali, terpaku di kalimat terakhir.


Hening!


Lelaki itu tak bicara lagi, apa dia tak sadar sudah mengatakan hal itu? Apa wajahnya memerah juga? Utami ingin mendongak tapi tak berani.


"Ekhm" Abi berdehem salting, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ke magrib masih jauh, mau jalan jalan keliling komplek dulu gak?" ajaknya


"Berdua?"


"Iya, skuy" senyumnya kemudian beranjak, berjalan terlebih dahulu, di buntuti oleh Utami dengan jarak setengah meter dari belakangnya.


Bukan hal yang buruk juga, Rasanya sore ini teelihat seperti musim gugur, daun daun di pinggir jalan berterbangan tertiup angin, daun daun kering pun berserakan memenuhi jalan.


Mereka duduk di tunggul batang pohon yang baru di tebang. Sambil menikmati hembusan angin sore dan jingganya langit.


"Jadi, kamu kangen aku?" Tanya Abi bersuara kembali.


Utami hanya terkekeh "enggak"


Senyum lagi, Utami benar benar tak tahu harus mengatakan apa.


"Ada salam dari ibu"


Kali ini wajah itu berani menatap Abi dengan penuh rasa terkejut. "Ibu kamu?"


Abi tersenyum dan mengangguk "Dari ayah juga"


Senyumnya makin melebar, tidak tahu mengapa, jantungnya ingin meledak. Tak bisa lama lama menatap wajah tampan itu.


PLUK!


Sampai sebuah daun kering jatuh ke kerudungnya. "Ada ulet yang jatuh ke kerudung kamu" ucap Abi menakut nakuti.


"Yang bener?" Tanya Utami langsung membeku, geli sendiri.

__ADS_1


"Iya itu..."Sambil menunjuk geli ke arah kerudungnya.


"Abi jangan bercanda" refleks tangannya memegang tangan Abi ketakutan, langsung terasa dingin. Sukses membuat pria itu tertawa lucu melihat ekspresi Utami.


"Serius ih, tolong singkirin" dengusnya kesal.


Senyum Abi tak pudar, tangannya terangkat untuk mengambil daun kering itu, membuat Utami salah faham dan memejamkan matanya rapat rapat.


Andai saja Utami melihat, Senyum Abi begitu merekah saat menatap wajahnya cantiknya, jelas dalam ketidak sadaran. Semua selalu terjadi begitu saja.


"Udah!"


Perlahan Utami membuka matanya, dan langsung memalingkan wajahnya seraya berucap istigfar karna jarak wajah mereka terlalu dekat.


"Tuh kan, wudhu kita jadi batal" ucap Utami sadar bahwa barusan ia memegang pergelangan tangannya. "Kamu sih!"


"Maaf" cengirnya tak berdosa.


Sejenak, keadaan pun hening kembali, Larut dalam fikiran masing masing, namun suatu topik kembali terlintas di fikiran Abi saat melihat Utami mulai menggerakan tasbihnya.


"Maaf" ia mengulangi kalimatnya dengan serius, kemudian lebih menjaga jaraknya.


"Dari tadi aku udah keterlaluan sama kamu" ucapmya lagi.


Abi beranjak, kembali diikuti Utami, namun kali ini mereka berjalan beriringan dengan jarak satu meter.


"Aku selalu gak bisa nahan diri" Ia melirik ke arah Utami tanpa mau menatap matanya.


Gadis itu masih diam, hanya menunggu kalimat Abi seterusnya.


"Semua perempuan yang jadi pacar aku waktu itu, Aku renggut kehormatan mereka"


Hampir tidak percaya, mendengarnya bagai mimpi buruk, sebejat itu kelakuan Abi, mengapa rasa kagum Utami mulai sedikit berkurang hanya dalam sekejap saja? Ia meremas kerudung panjangnya sedikit kuat.


Melihat perubahan sikap Utami, Abi kembali menjelaskan. "Tapi itu dulu, dan kamu bisa menilai aku yang sekarang"


Netra yang senantiasa terpancar sendu sekarang berubah sinis. "Buat apa kamu nyeritain masa lalu kamu ke aku?"


"Biar kamu gak terlalu berekspektasi tentang aku"

__ADS_1


Benar, Utami terlalu memandang Abi dengan sempurna.


"Semua orang punya masa lalu" ucapnya sadar akan satu hal. Bayangan masa lalunya juga kembali berputar, seperti sebuah rekaman di kepalanya.


__ADS_2