
Ke enam gadis itu berjalan beriringan menuju kelas, saling melempar tatapan tajam, dan tak henti hentinya menyindir.
Penyebab dari pertengkaran mereka hanyalah para pria, yang saat ini tidak tanggung jawab dan Asyik dengan kehidupan mereka sendiri. Untung saja bu Yuyun peka dan memanggil mereka semua yang terlibat.
"Assalamualaikum!" salam mereka langsung di sambut tatapan yang sulit di artikan dari teman teman yang ada di kelas, lebih menyorot pada Utami yang siang tadi membabi buta. Mengeluarkan sifat aslinya.
"Waalaikumsallam, silahkan kembali ke tempat duduk kalian!" titah wali kelas yang saat ini sedang mengajar. Tampaknya ia sudah tahu apa yang menimpa murid muridnya.
"Rendy, Reza, Daniel sama Ade, di suruh ke ruang BK sekarang, ditunggu Bu Yuyun" ucap Trixi.
Dengan wajah datar, ke empatnya beranjak dari kursi masing masing, melangkah gontai melewati para gadis.
"Jauhi kami para Ukhty!" bisik Utami saat ia berpapasan dengan Reza. Di dengar juga Rendy yang keduanya langsung pergi tanpa mengatakan apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meski sebentar lagi matahari akan kembali ke peraduannya, Utami tak ingin pulang, sama sekali tidak ingin bertemu ibunya saat ini. Namun ia juga khawatir pada kondisi ayah yang tengah sakit.
Gerbang sekolah sudah di tutup, penglihatan pun mulai remang remang, Utami masih terduduk di kursi kayu pinggir sekolah, dekat hutan disebelahnya. Pikirannya berkecamuk, ia melingkarkan tangan dilututnya, dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
"Umi!." Panggil Pak Teguh mengejutkannya.
"Iya pak?" tanya Utami mengubah posisinya, ia tersenyum tipis, walau dimatanya terlihat air mata yang terbendung.
Pak Teguh menghela nafas berat, kemudian duduk di sampingnya, merengkuh bahu Utami dan membiarkan gadis itu bersandar di pundaknya.
Hal yang aneh bukan? jika murid dan guru memiliki hubungan seperti ini? berdosakah itu?
Namun Pak Teguh tidak mengatakan apapun, ia hanya memberi elusan lembut di kerudungnya
"Kamu itu terlalu mikirin masalah temen temen kamu" ucapnya setelah beberapa saat suasana hening.
__ADS_1
"Tapi kan kasian Asri Pak, dia sampe diperlakuin kaya gitu, Bapak tau kan?" tanyanya merasa yakin kalau semua orang pasti mengetahui kejadian tadi siang.
"Bapak gak ngerti lagi harus ngomongin mereka kaya gimana, udah di kasih sangsi juga mereka tetep gak berubah" jelas Pak Teguh.
Utami tersenyum tipis, aliran darahnya meningkat, terasa panas di seluruh tubuhnya. apa itu yang disebut getaran cinta? pada gurunya sendiri, gurunya yang ternyata selama ini selalu membelanya, selalu ada untuknya, memberinya dukungan dan semangat.
Utami kembali ke posisi semula, bersandar di pundak Pak Teguh terlalu nyaman untuknya. "Kenapa Bapak belain Umi?"
Dengan cepat Pak Teguh menjawab "Karna kamu mirip adik Bapak"
"Kaya gimana adik Bapak?"
"Kaya kamu, cantik, soleha, pinter, dan nurut"
Utami tersipu malu, membuat Pak Teguh terkekeh. "Dia juga pernah di Buly temen temennya, waktu SMP dulu, sempat trauma,.tapi akhirnya dia bisa mulai lagi hidup barunya di Aliyah"
Tersirat dimatanya, jika rasa sayang Pak Teguh terhadap adiknya itu amat besar, membicarakannya hingga terbata bata, pasti mereka memiliki hubungan yang erat.
Ah membuat Utami iri saja.
"Tapi..." Utami ragu, takut akan ibunya.
"Semarah apapun ibu kamu, tetep gak bakal ngurangin rasa sayangnya sama kamu"
Akhirnya Utami menurut saja, setuju dengan apa yang dikatakan Pak Teguh.
Dengan motornya Pak Teguh mulai membelah jalan, Angin menerpa begitu sejuk, burung walet berseliweran kembali ke sarangnya. Lampu jalanan siap menyambut malam, menciptakan suasana hening di magrib ini.
Pemandangan indah yang hanya bisa dirasakan sejenak saja, karna mereka sudah tiba di pelataran rumah Utami. Dimana pintu dan jendela rumahnya sudah tertutup rapat, kain gorden terpasang rapi, seakan menolak kedatangan tamu.
"Makasih ya Pak, maaf ngerepotin!" ucapnya setelah menyalimi punggung tangan Pak Teguh.
__ADS_1
"Semangat buat besok, jangan galau terus, kalau ada masalah, curhat sama Bapak, jangan dipendem sendirian, okey?"
Utami tersenyum dan mengangguk, melambaikan tangannya begitu Pak.Teguh memarkirkan motornya dan pergi berlalu. Setelah itu menghela nafas kasar, mempersiapkan diri untuk menerima kemarahan ibu.
CEKREEK!
dibukanya pintu dengan begitu pelan. "Assalamualaikum" salamnya.
"Waalaikumsallam" jawab ibu Ketus. "Alus pisan didikan di sakola teh!" Ibu memulai ceramahnya.
(note: Bagus banget didikan di sekolah tuh!)
"Jadi itu kesibukan kamu di sekolah? rebutan lalaki? teu pantes teing kalakuan awawe jiga kitu, punya harga diri gak kamu? rendahan pisan jadi awewe teh"
(Note: Jadi itu kesibukan kamu di sekolah? rebutan cowok? gak pantes banget kelakuan cewek kaya gitu, rendahan banget jadi cewek!)
Utami tertunduk begitu dalam. "Maaf..."
"Gak kasian kamu sama ibu? sama Bapak kamu? Ibu rela gak makan asal kamu kenyang, Berapa banyak keringat Bapak yang jatuh demi usaha buat pendidikan kamu? Kamu gak malu udah ngeruntuhin derajat ibu di sekolah? hah? kamu mau jadi apa Utami? mikir atuh"
"Maaf bu, Umi gak akan sekali kali lagi" Suaranya sudah gemetar, menahan tangisnya.
"Udah gak usah ikut kegiatan apa apa di sekolah, keluar dari ekskul, gak usah ikut lomba lomba, keluar dari OSIS, gak penting!"
Tanpa menjawab, Utami melengos ke kamar mandi, mengambil handuknya dan mengunci pintu, air matanya berderai, sekuat mungkin menahan agar tak terdengar isakan, ia menyandarkan diri dibalik pintu kamar mandi, tak ada tempat, ataupun bilik kamar untuk merenung, sesak sekali rasanya.
Ibunya sendiri mengatakan dirinya wanita yang murahan, begitu rendah dan tak punya harga diri,.Lantas apa yang harus Utami pertahankan saat ini? Kehormatan seperti apa? jika dihadapan Ibunya saja ia sudah serendah ini...
......................
...****************...
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...