Utami Khoirunnisa

Utami Khoirunnisa
33. Usaha tidak menghianati hasil


__ADS_3

Tubuh menjadi lemas setelah dilanda rasa gugup sebelum tes tadi, Pak Teguh masih membimbing Daniel di sana, sedangkan Utami memutuskan untuk kembali ke barak mengistirahatkan dirinya.


Ruangan luas dipenuhi tumpukan barang barang, karna bukan hanya dirinya yang mengikuti perlombaan, tapi para murid terpilih lainnya juga, seperti lomba pidato, kaligrafi, MTQ, dan keagaamaan lainnya. Ada sekitar 20 orang yang ikut serta.


"Udah?" tanya seorang siswa menyambut kedatangan Utami dengan sebungkus makanan.


"Alhamdulillah A" senyumnya agak dipaksakan.


Utami berjalan menuju sudut ruangan, menghempaskan dirinya di lantai, bersandar di dinding dan memejamkan mata sejenak, tak peduli dengan sekumpulan orang yang asyik berbagi cerita dan pengalam baru selama di perlombaan.


Lagipula mereka itu anak anak kelas sebelas, Utami tidak mengenal mereka semua, hanya dirinya dan Daniel, anak kelas sepuluh yang di ikut sertakan.


TUK!


Gulungan kertas berbentuk bola kecil melayang mengenai Utami, membuat gadis itu kembali terjaga dan melihat siapa orang yang melemparinya.


"Sini gabung Dek, jangan sendiri aja!" ajak seorang kakak kelas cantik seraya tersenyum ramah padanya.


Utami pun beranjak, dan mulai berbaur, dia tidak boleh selalu memisahkan diri dari banyak orang, kebiasaan itu harus diubahnya. Karna bagaimanapun dia bukan hanya butuh dukungan dari keluarga, tapi juga dari teman teman dan lingkungan pergaulannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore ini, semua peserta dikumpulkan di lapangan Utama sekolah yang memfasilitasi adanya perlombaan, sambil menunggu para juri memutuskan pemenang dari masing-masing perlonbaan, para panitia bernyanyi untuk menghibur peserta.


Semua orang asyik berjoget sopan dan ikut bernyanyi. Sementara Utami hanya menikmati alunan lagu sambil duduk dan dan bertepuk tangan ria.


Tiba tiba saja Daniel datang memberi sebotol air mineral padanya.


"Buat aku?"

__ADS_1


"Biar kamu siap denger pengumuman kejuaraan kamu" senyumnya ramah.


Utami terkekeh pelan, namun tetap menerima pemberian Daniel. "Makasih!"


Daniel berdiam diri cukup lama, memerhatikan wajah Utami dari samping, wajah yang tidak cantik namun juga tidak jelek, terlihat pas dimatanya. Namun hatinya yang tak bisa dikendalikan.


"Aku..." dia bersuara kembali, namun tampaknya Utami tak acuh, pandangannya tetap lurus ke depan.


"Utami!" panggil Daniel memberanikan diri.


"Iya? Kamu mau ngomong sesuatu?" Utami cepat merespon kali ini.


"Sebenernya aku gak tega liat kamu diganggu terus sama Selly"


"Kalo gitu kamu bisa bantu aku?"


Utami menghela nafas berat. "Selly udah putus sama Rendy, dan katanya dia mulai suka sama kamu, sekarang kita udah lepas dari hafalan bareng kan? Kita gak perlu sering ngobrol lagi, kamu ngerti maksud aku?"


"Kok gitu? kenapa kita gak bisa hafalan bareng lagi? Kita gak boleh berhenti muroja'ah biar hafalannya makin kuat" Daniel bersikeras mencari celah untuk tetap bisa bersamanya.


"Ya sama temen pondok kamu lah, biasanya juga kamu kan hafalan sendiri"


"Tapi sejak hafalan bareng kamu aku lebih semangat"


"Maaf ya Niel, Aku gak bisa!" tolaknya frustasi.


"Tapi-"


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat sore anak anak, masih semangat gak niih?" seru Panitia pembimbing mengalihkan perhatian semua orang, termasuk Utami yang langsung mengabaikan Daniel karna dirinya tak sabar menunggu pengumuman pemenang.

__ADS_1


Waktu semakin bergulir, suasana hiruk pikuk dilapangan semakin bersemangat saat para juri mulai mengumumkan kejuaraan, memanggil sang juara maju ke depan untuk mengambil Piagam mereka.


Hingga akhirnya yang ditunggu tunggu Utami tiba, dimana juri saat ini tengah menyebutkan pemenang perlombaan tahsin Qur'an, mulai dari urutan tiga, namanya tidak di sebut. Utami sudah kecewa, karna ia berfikir kalau dirinya hanya berharap pada juara 3.


Pemenang ke dua masih belum disebut namanya, Utami benar benar sudah hopelast, dia akan pulang membawa kekalahan dan membenarkan jika ucapan ibu itu benar. Kalau dia tidak perlu mengikuti lomba.lomba antar sekolah.


"Juara pertama, dengan poin dua ribu dua puluh tiga, di raih oleh...."


Utami sudah tak mau mendengarkan, ia melamun sejenak hingga akhirnya kembali dikejutkan dengan panggilan namanya di Mikrofon.


"UTAMI KHOIRUNNISA!!"


"Umi nama kamu dipanggil!" teriak Pak Teguh entah datang dari mana, ia begitu heboh dan mengguncang guncang bahu Utami penuh semangat.


Utami masih belum konek, ia mengerjapkan matanya berkali kali, tidak percaya, mustahil, tidak mungkin ini bisa terjadi.


Namun tangannya segera ditarik Pak Teguh, menuntunnya untuk mengambil piagamnya.


Utami dikalungkan medali oleh juri yang menilai bacaannya tadi, ia masih terlihat terharu dan kembali memberi Utami dekapan hangat. "Tetap jadi anak yang soleha, nak" bisiknya begitu lembut.


Utami tersenyum bangga, ia biksa buktikan kalau usaha tidak mengkhianati hasil. Baginya cobaan dari Allah itu cukup berat, tapi sedikitnya, Utami berhasil melaluinya. Ia akan memperlihatkan piagam itu pada Ibu dan ayah saat pulang nanti.


......................


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2