Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 1


__ADS_3

Hancur sudah harapan Nindira untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang Pramugari,Cita-cita itu kini hanyalah sebatas khayalan dan angan-angansaja.


Kemarin Nindira masih sibuk dengan impiannya,demi cita-citanya menjadi seorang pramugari,dia sampai rela untu selalu menjaga berat badannya supaya mudah untuk lolos seleksi di salah satu pendidikan yang akan dia tempuh.


Tapi hari ini,seakan dunianya runtuh,hilang sudah,impian yang dia inginkan selama ini pupus sudah dengan Ultimatum dari ke dua orang tuanya yang akan memasukkannya di pesantren.


"Apa mama dan papa benar-benar akan mengirimkan ke sana?Bagaimana dengan cita-citaku selama ini yang selalu aku impikan?Papa dan mama tau kan kalau selama ini aku ingin sekali menjadi Pramugari,bahkan juga tau betul demi untuk masuk di akademi Pramugari aku rela untuk selalu menjaga berat badanku,bukan malah banting setir ke uztazah."Protes Nindira dengan penuh penekanan terhadap orang tuanya agar mereka bisa merubah keputusan yang di anggap Nindira saat ini tidak pas dengan pemikirannya sendiri.


Nindira sudah dari sejak kecil ingin sekali menjadi Pramugari,karena dia selalu membayangkan betapa nikmatnya bisa ke jalan-jalan gratis,naik pesawat gratis,keliling dunia gratis,Dan bonusnya bisa banyak bahasa dari suku negara yang ada di dalam pesawat.Tapi sekarang impiannya akan segera terpatahkan.


"Bukan nya mama dan papa ini tega sama kamu,tapi pergaulanmu sudah tidak bisa kami tolelir Ra?!"Mau jadi apa kamu kalau tiap hari kerjaan kamu kelayapan nggak jelas,pulang subuh,mabuk-mabukan,jangankan jadi Pramugari kamu daftar jadi Satpam pun tidak akan pernah keterima karna,masalah kesehatanmu.Mana ada jadi Pramugari tapi ada diaknosa kalau organmu sudah terdeteksi oleh minuman.Bahkan mata-mata papa bilang kamu sudah semakin liar dengan ikutan trek-trekan di jalanan yang gak jelas,dari pada kamu di eksekusi polisi,mending papa mama eksekusi dulu kamu ke pesantren,apa sih yang kamu cari di luaran sana,apa papa sama Mama kurang ngasih uang buat kamu sampai-sampai kamu ikutan balapan liar kayak gitu?


Nindira benar-benar ingin sekali menguliti mata-mata yang di kirimkan papanya itu,Nindira itu gak pernah ikutan balapan atau Trek-Trek kan itu kok pa....ma....Nindira hanya ikut ikutan teman aja ke sana karna penasaran.Elaknya berusaha meyakinkan papa dan mamanya.


"Tapi kamu juga gak bakalan menjamin kalau kamu suatu saat nanti juga ikut balapan juga?'pokoknya papa dan mama gak mau tau,papa akan tetap mengirimmu ke pesantren.Dan kamu gak punya hak untuk nolak keinginan papa dan mama,kecuali kamu bisa untuk membiayai kehidupan kamu sendiri.Dan tidak bergantung lagi sama uang papa dan mama.Dan untuk impian kamu yang ingin jadi Pramugari kamu bisa melanjutkan lagi setelah kamu selesai pendidikanmu di pesantren,,dan itung-itung agar organ dalammu juga sudah bersih dari alkohol.Dan buktikan kalau memang keinginanmu untuk menjadi seorang Pramugari itu sungguh-sungguh,bukan cuma mimpi saja.Dan yang paling utama adalah prilakamu bisa berubah.


"Senyum licik tiba tiba terbit di bibir Nindira,kalau memang masalah kelakuanku yang harus berubah itu mah hal gampang"


"Tapi sebelum pergi kamu harus melakukan satu hal lagi."Kali ini mamanya Nindira yangikut angkat suara.


Senyum misterius yang di tampilkan sang mama membuat Nindira mempunyai filing yang gak enak.Sepertinya ini bukan sekedar ingin memasukannya ke pesantren.

__ADS_1


"Kamu harus menikah terlebih dahulu."


OOOOMMMGGGGG kiamat sudah,Nindira langsung di buat menganga dengan kalimat yang di sampaikan sang mama terhadapnya.


*******


Menimba ilmu di pesantren bukanlah penghalang besar untuk Nindira melanjutkan mimpinya,Tapi seandainya itu cuma ultimatum untuk menimba ilmu di pesantren,Tapi tidak,Nindira bukan hanya sekedar jadi santri di sana,Tapi Nindira akan juga menikah dengan salah satu santri di sana,yang lebih tepatnya lagi adalah seorang laki-laki dari pimpinan di dalam pesantren tersebut,ya...Nindira akan menikah dengan anak pemilik pesantren tempat Nindira menimba ilmu.Dan bagi Nindira pernikahan itu akan menjadi senjata untuk memutuskan semua mimpi-mimpi yang sudah dia inginkan semenjak ia kecil.


Nindira bukannya tidak mau menolak keinginan ke dua orang tuannya,tapi dia tau tidak ada jalan lain selain untuk menerimanya.percuma dia kabur dan hidup dengan segala kemampuan yang dia miliki,karena dia sadar kalau dia tidak akan pernah mampu untuk melakukannya,karena sejak kecil dia sudah berkecukupan,ingin ini ingin itu semuanya ada,karena itulah dia tumbuh menjadi gadis yang semaunya sendiri,bisa di bilang pembangkang.


Dan untuk merubah semua sifatnya itu kedua orang tuanya bersikeras untuk memasukannya di pesantren dan menikah dengan orang yang bisa membimbing di jalan yang benar bukan hal duniawinya saja tapi pendidikan akhiratlah yang lebih di utamakan orang tuanya itu.


Beberapa jam yang lalu Nindira sudah sampai di tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya yang tak pernah dia bayangkan seberapa lama dia akan tinggal di sini,dan Nindira pun harus menyusun rencan supaya dia bisa mempersingkat waktu supaya tak berlama lama dia hidup di dalam pesantren yang seperti penjara bagi Nindira.


Semenjak datang dari tadi sepanjang dia melihat,semua yang nampak di depan matanya sungguh sangat membosankan,hanya ada gedubg-gedung kelas,asrama,kantin,bangunan bangunan yang entah apa itu fungsinya dan sebuah area olah raga,ada basket,tenis dan futsal.Tidak ada tempat yang bisa mengusir rasa bosan.


Apa selama di tempat ini dia akan menghabiskan waktunya hanya untuk belajar saja,membayangkan saja sudah membikin hati dan tubuhnya lemas tanpa otot,sanggupkah dia menjalani hidup seperti ini?batin dan pikirannya Nindira sedang berperang melawan kenyataan.


"Pokoknya aku harus bisa cepat keluar dari tempat ini"Tekadnya bulat.


"Keluar dari tempat ini tidak semudah kamu memasukinya."Suara seseorang mengagetkannya.Perempuan itu berbalik dan menemukan seseorang yang telah berdiri di belakangnya sosok pria yang sedang mengenakan peci di kepalanya,baju Koko berwarna putih dengan sarung bermotif garis garis.Di lihat dari sorban yang di sampaikan di bahunya serta titik titik air yang menetes dari kedua alisnya,Ia sepertinya habis mengambil wudhu untuk melakukan sholat dhuhur di mana panggilannya saat ini sedang berkumandang.

__ADS_1


Nindira bertanya tanya dalam hati,apakah setiap santri di sini berpenampilan menentramkan setiap hati?seperti sosok laki laki yang ada di hadapannya saat ini,kalau iya mungkin aku akan mempertimbangkannya untuk tinggal lebih lama lagi di tempat ini,untuk menikmati dan mengagumi makhluk ciptaan tuhan yang seperti ini.Kekeh Nindira di dalam hati.


"Apa tidak ada yang mengajarimu tentang peraturan di sini?"karena di sini setiap perempuan wajib untuk menutup auratnya.Dari ujung kepala sampai ujung rambut."Nada dingin yang di lontarkan pria di depannya itu seketika langsung membuyarkan lamunan Nindira.


Belum sempat Nindira menjawab,ia terkesiap kaget dengan tindakan spontan yang tidak Nindira sangka.Pria itu mengambil sorban yang ada di bahunya dan yang langsung memakaikan sorbannya untuk menjadi penutup mahkota yang berkibar seperti bendera,dan langsung di ikatkan ke belakang telinga perempuan itu sebelum kembali memperbaiki letak sorban yang sudah beralih fungsi menjadi kerudung penutup mahkota yang seharusnya tidak boleh di lihat lawan jenisnya.


"Islam memposisikan seorang wanita sangatlah mulia.Seluruh yang ada di diri wanita adalah sesuatu yang suci dan tidak boleh sembarang orang dapat melihat dan bisa menikmatinya."Jelas pria itu seraya mundur beberapa langkah untuk membuat jarak dirinya dan Nindira supaya tidak sedekat tadi.


"Lain kali aku akan menghukummu jika mendapatimu masih menggunakan gaya atau berpenampilan seperti ini lagi,"ucap pria itu lagi.


"Apa hakmu untuk menghukummu?"protes Nindira tidak terima.


Alih alih menjawab pertanyaan Nindira,pria itu hanya menyunggingkan senyum aneh dan melangkah pergi meninggalkan Nindira yang masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.Nindira tidak bisa mengartikan apa maksud dari senyuman itu,tapi Nindira yakin kalau itu bukanlah pertanda baik.Caranya tersenyum mengingatkan Nindira dengan senyum misterius ibunya sesaat sebelum ia menyampaikan berita yang membuat Nindira berakhir di tempat ini.


******


"Papa dan mama benar benar tega meninggalkan aku di tempat ini?"rengekan Nindira yang membuat kedua orang tuanya menghela kan nafas dengan lelah."


"Saat ini kamu sudah menjadi santri dan istri dari pemimpin pondok pesantren ini sikap kekanakanmu ini tidak pantas kamu tunjukin di sini.Sekarang waktunya kamu bersikap dewasa.Ingat tujuan papa dan mama menitipkan kamu di sini itu untuk demi masa depan mu yang lebih baik lagi.Jangan bikin Mama dan papa malu dengan perlakuan kamu yang tidak dewasa ini.Ucapan mama dan papa nya membuat lidah Nindira jadi kelu.Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menentang kedua orang tuanya.


Sekarang cuci muka,dan bereskan penampilan kamu itu,dan setelah selesai kita akan keluar dan bertemu suami kamu,sahut sang mama menambahkan.

__ADS_1


__ADS_2