
"Pokoknya aku gak mau jika semua orang tahu kalau kita sudah menikah,"Sesaat Setelah kedua mobil kedua orang tuanya sudah tak terlihat lagi karena sudah melewati gedung yang tepat berada di depan rumah Faiz.
Rumah Dua lantai milik kedua orang tua Faiz,walaupun tidak begitu besar tapi sangatlah tapi dan juga nyaman untuk di tempati.Dan rumahnya pun masih di lingkungan pondok pesantren yang memiliki luas lebih dari 10 hektar itu.Wah,bayangkan saja kurang lebih sepuluh hektar luas pesantrennya,berarti Faiz bukanlah orang sembarangan ya,kalau pondoknya saja bisa sampai seluas itu dan hampir di penuhi gedung gedung entah itu fungsinya untuk apa saja.
"Lebih baik kita masuk dulu,kita bicarakan hal ini di dalam saja,"Balas Faiz seraya berlalu pergi meninggalkan Nindira.
"Kamu mau ke mana?kita sudah berada di dalam rumah sekarang ini!Jangan sok untuk mengulur ngulur waktu lagi."Nindira menahan lengan Faiz yang hendak berlalu pergi meninggalkannya di ruang tamu saat ini.
"Kita bicarakan hal ini di tempat yang lebih privat."supaya lebih nyaman untuk kita mencari solusinya.
Apa maksudnya itu?Tidak bisakah kita bicara--------""""
Nindira belum selesai untuk meneruskan perkataannya,kerena Faiz sudah lebih dulu meninggalkannya untuk menuju ke salah satu kamar yang Nindira yakini adalah kamarnya Faiz,tempat yang di katakan"Lebih privat" tadi olehnya.
Oooshit!" umpat Nindira pelan.Ia menelan kasar lidahnya sendiri membayangkan apakah Faiz akan meminta haknya malam ini juga,oh,membayangkan saja aku sudah tidak mampu,terus terang saja bukannya aku menolaknya,tapi aku belum siap untuk melakukannya,apa dia fikir itu tidak akan menyakitkan ku.
Karena Nindira takut dengan apa yang ada di dalam otak kecilnya,dia langsung berlari ke tempat yang sempat ia singgahi siang tadi,yaitu kamar yang untuk dia mempersiapkan akad nikahnya dengan Faiz tadi siang,Nindira langsung menutup pintunya rapat rapat dan tidak lupa untuk menguncinya,karena dia tidak ingin Faiz mengambil keuntungan dari dirinya yang mengatas namakan sebuah PERNIKAHAN ini.
Masa mudanya tidak boleh terenggut hanya karna pernikahan yang menurutnya ini sangat konyol sekali.
Alangkah nasib baik sangat tidak berpihak padanya,pasalnya saat ini Nindira saat ini sudah berada di dalam kamarnya Faiz.
Ya,tadi waktu Nindira masuk ke dalam kamar yang di buat untuk mengganti baju saat akad siang,Umi tidak sengaja melihatnya karena beliau keluar untuk pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Abi,jadi Umi pun bertanya ke pada Nindira kenapa masuk lagi ke dalam kamar tamu,dan ternyata dengan rasa gugup Nindira menjawab,dengan beralasan untuk mengambil barang yang tertinggal di sana,dan sialnya lagi,Umi pun menunggu Nindira sampai selesai dan langsung mengantarkannya masuk ke kamar yang sempat Nindira hindari tadi.
Dan di sini lah sekarang Nindira berada,di kamar yang dua kali luas lebih luas dari kamar yang ada di rumahnya,dengan nuansa santai adem dan sangatlah tapi juga wangi,sangatlah jauh dengan kamar kamar cowok pada umumnya.Suasana canggung ketika mereka berdua tanpa ada yang mau mengeluarkan kata kata terlebih dahulu, karena Nindira saat ini sedang duduk manis di sofa,sedangkan sang pemilik kamar masih membersihkan diri di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar yang sama.
Suara gemericik air yang terdengar jelas di telinga gadi itu membuat pikirannya jadi melayang ke mana mana.Gadis itu teringat dengan kejadian di dalam salah satu Novel yang di bacanya,karena di saat ada waktu luang Nindira sering menghabiskannya untuk membaca novel.Adegan yang saat ini ia alami adalah permulaan petualangan romantis yang akan di lakukan pasangan di dalam cerita tersebut.
"Akh....aku bakalan bisa gila kalau terus terusan di dalam ruangan sini."Nindira menggeram dengan frustasi.Meski gadis itu di kenal sebagai pemberontak gadis yang susah sekali untuk di atur,tapi di balik sifatnya yang seperti itu Nindira adalah gadis yang polos jika menyangkut masalah seperti ini,dia bener bener cluelss.
"Kamu ngapain gigitin jari sambil mondar mandir kayak gitu?"Suara yang tiba tiba terdengar itu membuat Nindira menolehkan kepalanya ke arah belakangnya.
Ia membalikkan badan dan dia juga bertatapan langsung ke dua bola iris Faiz,walau tatapannya tajam seperti matanya burung Elang yang siap menerkam,tapi jelas terpancar rasa keteduhan yang di isyaratkan.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingin membahas permintaanmu tadi"?tanya Faiz lagi.
Di ingatkan seperti itu membuat Nindira kembali mengingat satu Maslah yang sejak tadi ingin segera ia selesaikan.
"Tentu saja.Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk segera menyelesaikannya kecuali saat ini,karna dari tadi kamu seakan akan mengulur dan menunda waktu.Setidaknya dia saat ini punya alasan kenapa dia berada di dalam kamar nya Faiz,walaupun memang ini juga akan jadi kamarnya.Karena sangat tidak mungkin jika mereka berdua akan tidur di kamar yang berbeda.Apalagi sampai Umi dan Abi sampai tau,bisa panjang urusannya.
"Jadi bagaimana kamu tidak keberatan kan untuk menyembunyikan fakta dan realitanya kalau kita sudah menikah?"Nindira bertanya bagaikan ambunce yang sedang membawa pasien gawat darurat.Dan Faiz menanggapinya sambil menghela nafas beratnya,karna baru hari pertama menikah dia sudah di hadapkan dengan tingkah sang istri yang mengada ada,keinginannya sangat di luar imajinasi.
Dan Faiz akhirnya mengeluarkan jawaban yang di tunggu tunggunya sejak tadi"
"Orang bisa tidak tau Nindira,,tapi Allah maha tahu.Dan pertanggung jawaban ku sesungguhnya kepadamu itu bukanlah pertanggung jawaban dihadapan manusia tapi di hadapan Allah,Dan aku harus mempertanggunkan jawabannya kelak di akhirat."
Jawaban Faiz membuat Nindira terdiam.pikirnya Faiz adalah salah satu makhluk yang sangat pintar jika dibajak untuk debat,dan lawannya pasti akan kalah karena dia adalah seorang pria yang pandai memutar balikkan perkataan seperti saat ini contohnya.
"Tapi untuk ukuran seorang anak pemimpin dari pesantren ini aku merasa masih belum mampu jika harus di umumkan atau di ketahui sudah menyandang sebagai istrimu,karena aku adalah gadis yang masih jauh dari lingkungan agamis dan masih buta dengan pendidikan dari agama dan tentu saja itu akan mencoreng namamu dan juga nama Abi dan bahkan nama besar pesantrenmu ini."
Ujar Nindira bersungut sungut dan berharap kalau Faiz akan mengiyakan apa yang di inginkannya.
"Aku menikahimu bukan karna itu Nindira."
Faiz mencicingkan mata sambil menaikan satu alisnya,menatap sang istri dengan mendengarkan perkataan yang terlontar dari mulut manisnya seakan takjub,dia kurang percaya kalau istrinya saat ini bisa berkata sebijak itu.
"Apakah ini sungguh benar hanyala alasanmu untuk menutupi atau menyembunyikan pernikahan kita dari public?Tanya Faiz lebih sambil memberi tatapan intimidasi terhadap istrinya.
Nindira mengangguk mantap berusaha meyakinkan Faiz."Ya,tentu saja.Sejak menyandang predikat sebagai status istrimu,otomatis aku juga mengemban tanggung jawab untuk menjaga nama baik pesantren ini bersamamu.Dan orang orang akan mempertanyakan kwalitas pesantren ini dalam mendidik para santrinya ketika tahu istri pimpinan dari pesantren ini saja tidak paham tentang ilmu agama sedikitpun.
"Nindira benar benar ngeri mendengarkan perkataanbyang dari tadi terus terlontar dari mulutnya itu.
Belum satu hari dia berada di lingkungan pesantren ini tapi dia sudah bisa mengeluarkan kalimat yang tidak pernah ia bayangkan akan ia utarakan.
"Baiklah kalau memang seperti itu tujuanmu"
Dan Nindira pun tidak bisa menahan bentuk lengkung yang ada di bibirnya saat ini.
__ADS_1
"Tapi dengan satu syarat,kamu harus tetap mengingat tugas dan tanggung jawabmu sebagai istriku."
Nindira mengerutkan alis tanda dia tak mengerti dengan kata kata "Tugas"yang di lontarkan suaminya padanya,apa kah ini tugas tentang berhubungan pikir Nindira.
"Tugas apa?"
Apa kamu benar benar tidak tahu tugas utama dari seorang istri,yaitu melayani suaminya.Gadis itu langsung membulatkan kedua bolanya kaget setelah mendengar jawaban dari Faiz.Dasar laki laki mesum pikirannya hanya tertuju ke ************ saja,apa bedanya coba dengan cowok cowok yang ada di luar sana.runtuk Nindira dalam hati.
Apa hal itu tidak bisa di tunda sampai aku benar benar siap melayanimu?karna aku------
Faiz langsung saja memotong kalimat yang akan di lontarkan oleh Nindira kepadanya lagi.
"Apa di otak kecilmu itu melayani suami hanya bisa di lakukan di atas ranjang saja?"
Ucap Faiz santai tapi penuh dengan penekanan.
Faiz menggeleng gelengkan kepalanya seolah tidak percaya,"Sepertinya memang keputusanku sudah tepat.Kamu benar benar harus belajar."
Nindira langsung tersinggung dengan jawaban Faiz yang di lontarkan kepadanya.
Seolah dia menilai Nindira hanya lah gadis mesum yang hanya tau tentang soal hubungan di atas ranjang sebagai satu satunya cara agar seorang istri bisa melayani suaminya.
"Memangnya apa yang bisa kamu harapkan dari gadi bodoh yang masih belum genap berumur 18 Tahun ini,sahut Nindira dengan penuh emosi.Kalau kau ingin istri yang sempurna seharusnya kamu menikah dengan seorang perempuan shalihah yang sederajat denganmu.Bukan gadis yang tak tau apa apa sepertiku.Sungut Nindira lagi.
"Kalau saja aku bisa." Ucapan itu terdengar lirih di telinga Nindira tapi masih terdengar sangat apik olehnya.
Apakah sama sepertinya,Faiz juga menolak untuk di jodohkan?Tapi kenapa akhirnya ia menyetujui pernikahan ini,kalau memang tidak ada alasan yang sangat kuat untuk menerima semua ini dia pasti akan menolak.Karena dari yang Nindira lihat suaminya bukanlah laki laki yang tidak punya ilmu,dia bisa di katakan sudah matang dalam segi pendidikan dan ekonomi walaupun usianya masih 25 tapi tadak di sangka dia sudah bisa menyelesaikan studinya dan usaha kecilnya yang ia kelola bersama keluarga.
"Baca ini!"Sebuah buku yang lumayan tebal dengan sampul berwarna putih dan bertuliskan Arab di sodorkan ke pada sang istri.
apa ini? pertanyaan yang sangat konyol yang di lontarkan Nindira terhadap Faiz yang di jawab dengan,"ini buku panduan untuk mu belajar bagaimana cara untuk melayani seorang suami"
Bacalah dan pelajari dengan baik.sambil menyedorkan buku Faiz mengambil duduk di samping Nindira.
__ADS_1
"Kamu benar benar berniat mengejek ku ya di sini tulisannya Arab tanpa ada tanda bacanya,gimana aku bisa membacanya?"
Mangkany Di buka dulu,di lihat dulu,di situ kan ada terjemahannya,apa kamu juga tidak bisa membaca terjemahannya juga?.tapi sebelum Faiz menyelesaikan kalimatnya Nindira langsung menyahut," Apa aku harus mempelajari buku ini,buku yang menjelaskan tentang Hak dan kewajiban seorang istri ke pada suami".