Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 10


__ADS_3

Faiz benar benar mengabulkan keinginan istri kecilnya,karena kemarin Nindira yang meminta supaya ia tak pernah menganggap dia ada.Jangankan sekedar untuk menyapa,melirik atau memandang pun Faiz tak boleh.Dan mulai saat itulah Nindira sadar bahwa Faiz sudah tak menganggap ia ada,Nindira bagaikan butiran debu yang seakan akan menghilang jika tertiup angin.


Dan saat ini Nindira sedang berjalan di salah satu lorong untuk menuju ke salah satu ruangan Uztadzah yang sedang meminta bantuannya ketika di dalam kelas tadi.


Bahkan Nindira melewati suaminya tersebut,tapi tak pernah di anggapnya juga,dan pada saat Nindira belok ke salah satu ruangan dia tidak sadar jika di depannya ada seorang Uztadzah Risa yang sedang berjalan,akhirnya ia bertabrakan dan jatuh,untung saja Uztadzah Risa masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya jadi beliau tak ikut jatuh,hanya Nindira saja yang jatuh,buku yang di bawanya pun ikut berhamburan.


Hati hati kalau jalan Nindira,apa kamu berjalan sambil melamun sehingga kamu tidak tau kalau ada orang di hadapanmu,tegur Uztadzah Risa.


Maaf kan saya Uztadzah saya tidak bisa begitu bisa melihat dengan jelas karena sedang membawa buku buku ini.Sambil menunduk Nindira meminta maaf dengan tulus ke pada Uztadzah Risa.


Ya sudah kalau begitu hati hati,pesan Uztadzah Risa.


Iya,trimakasih Uztadzah,jawab singkat Nindira.


Nindira mendesah dalam hati.


"Baiklah mungkin dengan begini jauh lebih baik,berpura pura tidak mengenal satu sama lain akan lebih memudahkan aku untuk segera pisah darinya,Karna dengan begitu aku pun tak akan jatuh ke dalam perasaan yang bersalah.Toh memang ini yang aku harapkan segera dapat berpisah dengan dirinya.Apa lagi memang rumah tangga kami cepat atau lambat juga bakalan pisah,jadi seperti ini lah yang seharusnya,jadi tidak akan pernah punya rasa terikatan antara satu dengan yang lain."


Nindira sedang menyusun buku bukunya ke dalam lemari karena dia baru saja selesai belajar,dari arah belakang Nisa berjalan mendekat ke arah nya dengan membawa sebuah salep dan langsung di sodorkannya ke pada Nindira.


Buat apa?tanya Nindira bingung.


Buat kaki kamu,Kata Uztadzah Rika kamu tadi sempat terjatuh,jadi beliau menitipkan ini untuk mu.


Nindira mengambil salep itu dan segera mengoleskannya di bagian kaki yang terluka,Terimakasih ya.Ucapanya lagi ke Nisa.


Mau aku bantu,tawar Nisa lagi,emm tidak usah terimakasih,kamu sudah mau bawakan obat ini saja itu sudah cukup bagi aku,kamu sahabat aku yang bener bener baik.sekali lagi terimakasih ya sudah perhatian sama aku.Ucap Nindira sendu.


Kamu ini bicara apa sih Ra,kita ini sahabat apa lagi di sini kita hanya bisa mengandalkan sahabat kita,jika suatu saat aku butuh pertolongan bukan Uztadzah atau orang lain apa lagi keluarga,pasti sahabat lah yang pertama kali yang akan membantu kita.Kita harus saling tolong menolong jangan pernah kamu merasa sungkan untuk minta tolong karna aku siap untuk selalu menolong kamu,Ultimatum sepuluh menit itu mampu membuat air mata Nindira mengalir dari matanya.Dia benar benar terharu dengan sahabatnya ini,kata kata yang di sampaikannya mampu membuat hati Nindira tenang dan damai,apa lagi setelah kejadian tadi yang Nindira telah di abaikan oleh Faiz,dan sekarang ada sahabatnya yang siap untuk selalu ada buat dia.Nindira langsung memeluk sahabatnya itu"Trimakasih ya Sa,walaupun aku jauh dari keluarga tapi seenggakny aku masih punya sahabat yang begitu baik dan tulus seperti kamu.Nisa hanya mengangguk dan berucap Iya sama sama.Kamu kayak anak TK jika kayak gini.malu!mereka pun tertawa berdua dan mencairkan suasana yang tadi sempat mendung itu.

__ADS_1


Mana yang sakit sini aku bantu,dan Nindira tak bisa menolaknya lagi,ia pun memperlihatkan telapak tangan,siku dan lututnya yang sedikit lecet dan merah itu kepada Nisa.


Nisa meringis melihat luka yang ada di tangan dan kaki nya Nindira,pasti sakit banget ya,tunggu sebentar ya,aku ambil handuk dan air hangat dulu untuk membersihkan luka kamu,Supaya tidak infeksi baru setelah itu di olesi salep.


Nisa bangkit dari duduknya untuk segera mengambil air hangat dan juga baskom,kemudian ia kembali duduk lagi untuk segera membersihkan luka Nindira.


Kenapa bisa sampai kayak gini sih?tanya Nisa sambil membersihkan luka yang ada di bagian lututnya.


Bertabrakan tadi sama Uztadzah Risa karena aku gak bisa lihat dengan jelas,karena buku yang aku bawa tadi banyak banget.


Kenapa nggak minta bantuan ke pada santri lain,jika kamu merasa kesulitan jangan sungkan untuk minta bantuan pada yang di sekitar kamu Ra.


Nindira hanya memandang Nisa secara intens.Memangnya ada yang mau membantu aku?sepertinya semua santri di sini benci deh sama aku,kecuali kamu.ucap Nindira sendu.


Kalau belum di coba mana bisa tau,kamu juga tidak boleh menilai orang langsung seperti itu.Mengnya kamu tau dari mana kalau semua santri di sini membencimu?


Sikap mereka yang mengatakannya.Ujar Nindira


Bukan alasan Nindira menarik kesimpulan kalau sebagian bahkan seluruh santri di sini membencinya,terutama teman teman kamarnya sendiri.Kecuali Nisa dan kak Hana.Sikap Nindira yang kelewat cuek dan tak mau tau tentang sekitar apa lagi di tambah tutur bahasa dan penyampaiannya yang agak sinin menjadikan mereka menilai Nindira sebagai orang yang sombong.Apalagi setelah Nindira dengan beraninya melabrak Sasa dan Bela tempo hari yang semakin membuat imej


galak dan judes.Sombong dan kasarpun langsung melekat pada dirinya.Setiap kali dia ingin membuka obrolan dengan temannya atau sekedar mau menyapa santri lainpun,mereka langsung memberikan tatapan waspada dan tidak nyaman seakan akan dia tidak mau mempunyai urusan dan mereka akan cepat cepat untuk segera menghindar dari Nindira.Tidakvjarang pula ia mendapati lirikan sinis dari beberapa santri yang sedang berpapasan atau di saat mereka berkelompok sama santri lainnya.Semua itu yang membuatnya jengah dan memilih untuk tidak lagi berusaha berteman dan bersikap ramah dengan mereka.Biarkanbsaja mereka dengan tetap dengan penilaiannya tentang dirinya.Toh tidak ada gunanya juga Nindira berusaha menjelaskan tentang siapa dirinya kepada orang yang telah seenaknya memutuskan kesimpulannya sendiri.


Ya sudah jangan di pikirkan lagi,aku selalu siap untuk jadi teman mu berbagi suka dan duka.jangan berkecil hati kamu semakin jelek kalau terus terusan memanyunkan bibirmu.ucap Nisa mengingatkan apa yang telah ia sampaikan tadi ke pada Nindira.


Sekali lagi terimakasih ya Nis,kamu udah mau berteman dengan aku dan mau menerima aku apa adanya,bukan karena ada apanya.


Nisa jelas tersenyum dan terkekeh pelan mendengarnya.Iya lagian siapa sih yang berani mengatai kamu itu sombong ,mereka terlalu cepat menyimpulkannya karna yang sebenarnya kamu itu adalah anak yang suka tidur dan susah untuk di banguninnya.Canda Nisa untuk melumerkan suasana yang lagi lagi berubah menjadi sendu.


Nindira hanya mengangguk sambil ikut terkekeh,karena apa yang sahabatnya sampaikan itu benar adanya,kalau dia sudah tidur susah banget untuk di banguninnya,Ya jelas saja Faiz aja yang bangunin Sampai harus berjuang dulu supaya Nindira bisa bangun.

__ADS_1


Hari Minggu adalah hari di mana semua santri Wati dan santri putra tunggu tunggu,karena hari itu mereka bisa sedikit longgar dengan agenda pembelajaran yang setiap hari mereka lalui.Dan di hari Minggu semuanya hanya beraktifitas sekedarnya saja di mana di pagi hari mereka melakukan senam pagi,setelah itu mereka bersih bersih kamar dan halaman tempat mereka menimba ilmu,dan selepas itu mereka bebas melakukan apa saja,ada yang memilih untuk berkumpul sama temannya,ada yang memilih tiduran dan bersantai di tempat ranjangnya,dan bahkan ada yang memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam oerpus.Akan tetapi khusus untuk Minggu ini ini para santri sudah ada jadwal untuk mengisi tambahan pembelajaran yang akan di pimpin langsung oleh salah satu Kyai besar Yang ada di wilayah rersebut.Dan saat ini para santri Wati dan santri putra wajib untuk mengikutinya karena kajian tersebut bisa mempererat rasa silaturahmi para santri.Apalagi juga bisa saling lirik melirik antara santri putri dan santri putra,jadi mereka memanfaatkan moments ini sebaik mungkin,karena momen seperti ini jarang sekali di laksanakan di pesantren.Dan di sini lah mereka sekarang berkumpul yaitu di salah satu aula yang memang khusus untuk acara acara besar pesantren.


Cepetan Ra,kita bisa telat nanti dan kita juga nggak kebagian tempat yang paling depan.


Nisa bener benar semangat untuk menghadiri acara ini,tapi beda sekali dengan apa yang di rasakan oleh Nindira,dia merasa malas sekali dengan acara acara seperti ini.Karena menurutnya lebih baik tidur dari pada mendengarkan ceramah panjang lebar dari Kyai,apa lagi tadi kata Nisa nilai plusnya adalah mereka bisa lirik sana lirik sini sama santri putra,dan itu yang membuat Nindira semakin enggan untuk melangkahkan kakinya ke sana.


Tapi berhubung Nisa ngeyel dan ngotot kalau dirinya juga harus ikut,jadi dengan sungguh berat hati Nindira mengiyakan dan menuruti ajakan temannya ini.


Nindira buru buru membetulkan kerudungnya karena Nisa sudah menarik tangannya untuk segera bangkit dan berlari menuju aula.


Ngapain buru buru sih?Acaranya kan baru akan di mulai satu jam lagi.Kita masih punya waktu untuk bersantai dulu Nisa.Cecar Nindira dengan nafas terengah engah karena berusaha menjadi Nisa yang sudah menarik tangannya sambil berlari.


Justru kita ini sudah telat tau!santri lain bahkan sudah ada di sana semenjak dua jam yang lalu.


Nindira melongo mendengarnya."ngapain mereka di sana?kurang kerjaan banget!.


Nisa memperlambat langkahnya dan menoleh ke arah Nindira,Aku beri tahu ya di sana itu bukan hanya ada kita,di sana nanti juga bakal ada santri putra.Jadi kamu sekarang paham kan dengan apa yang aku maksudkan?ya mereka akan mencari kesempatan untuk berinteraksi dengan lawan jenis,acara acara seperti ini akan menjadi kesempatan yang tak bisa terlewatkan.mereka akan memanfaatkannya sebagai ajang untuk curi curi perhatian.


Nindira geleng geleng kepala tidak menyangka kalau para santri di sini tidaklah sepolos dugaannya.


Jangan kaget gitu,kita ini juga masih manusia,tempatnya khilaf dan dosa,dan jangan anggap santri di sini itu polos dan suci bagaikan malaikat yang sudah tidak lagi punya fikiran yang negatif.


Ujar Nisa ketika melihat ekspresi tidak percaya di wajah temannya itu.


"Aku tahu kalau tidak semua santri di sini itu sikapnya seperti malaikat,ada juga yang sikapnya melebihi sikapnya setan semacam Sasa dan Bila itu.Tapi aku masih tidak percaya kalau kalian mau menghabiskan waktu kalian bahkan sampai Berjam jam hanya untuk duduk duduk sambil lirik sana lirik sini."


Kamu akan mengerti bagaimana rasanya kalau sudah tinggal di sini selama satu atau dua tahun lagi,balas Nisa kemudian mempercepat langkahnya kembali.


Haish tunggu aku Nisa" teriak Nindira kemudian berlari menyusul temannya itu.

__ADS_1


Hai hai para readers semuanya,sungguh aku sangat mengharapakan dukungan dari kalian semua,kunjungi aku dan jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak.Ok terimakasih.......


__ADS_2