
Beneran nih kamu mau membelikan aku puding di mall?tanya Nindira dengan mata berbinar.
Iya aku belikan,kamu tunggu di sini aja dulu jangan kembali ke asrama,istirahat di sini saja,ujar Faiz.
Baiklah kalau gitu aku tunggu di sini,tapi boleh nggak kalau aku juga nitip sesuatu,kan sekalian kamu jalan ke sana,sebenarnya sih aku milih mau ikut aja kalau kamu mau keluar ke mall,tapi nggak mungkin juga kan aku ikut,aku masih lemas.Ucap Nindira dengan sendunya.
Kamu memangnya mau nitip apa?tulis aja di sini barang yang kamu butuhkan biar aku nggak lupa.Faiz mengucapkan nya sambil menyodorkan ponsel keluaran terbaru yang harganya setara dengan harga motor CBR ke pada Nindira.
Gadis itu mengernyitkan keningnya tapi dia juga langsung mengambil ponsel yang telah di sodorkan oleh suaminya tadi.
Beneran semua barang yang aku butuhkan boleh aku catat nih?tanya Nindira memperjelas pertanyaannya lagi,seolah ia masih belum percaya kalau suaminya mau membelikan semua kebutuhannya.
Iya.Cepat catat,sebelum aku berubah pikiran.
Dengan cepat Nindira membuka ponsel yang ada di tangannya yang ternyata tidak memiliki password khusus itu dan semakin memudah kan jari jemarinya menari nari di atas keyboard ponsel pintar itu.
Nindira tidak menyia - nyiakan kesempatan yang telah di berikan oleh Faiz kepadanya.
Sampai sampai Nindira membutuhkan waktu sampai beberapa menit untuk bisa menyelesaikan barang apa saja yang ia butuhkan.
Setelah selesai menulis semua yang ia butuhkan Nindira langsung menyodorkan ponsel itu kembali kepada Faiz.
Hanya ini?Ucap Faiz saat memeriksa apa saja yang di inginkan istri kecilnya.Faiz mengucapkan dengan nada tak percaya kalau pesanan istrinya ini sangat jauh dari ekspetasi.Mungkin jika di salin di buku maka akan menghabiskan beberapa lembar karena sangking banyaknya.
Iya,Nindira mengangguk sumringah mengabaikan nada tak percaya yang di tunjukkan oleh suaminya kepadanya.
Cepetan ya,janan lama lama,nanti keburu sore.
Menuruti kata istrinya Faiz langsung mengambil kunci mobil dan berpamitan kepada Nindira.
Nindira mengikuti langkah Faiz dari belakang dan mengintip kepergian laki laki yang telah menjadi suaminya itu dari bilik jendela yang berada di ruang tamu.
Ketika mobil yang di bawa Faiz sudah menghilang dari pandangan,barulah Nindira meninggalkan ruang tamu untuk menuju ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang saat ini sedang kering.
Setelah minum Nindira sempat mau menuju masjid untuk melaksanakan kewajibannya ya itu sholat,tapi dia tiba tiba ingat jika hari ini dia lagi berhalangan jadi dia memutuskan untuk menunggu suaminya kembali yang kemungkinan kurang lebih satu jam man lagi,karena memang jarak antara pesantren dan mall agak sedikit jauh belum lagi pesanan Nindira yang sebegitu banyaknya pasti akan menghabiskan waktu juga untuk mencarinya.
Nindira memutuskan untuk beristirahat di kamar suaminya.
Nindira memang sengaja langsung menunggu suaminya di dalam kamarnya sendiri supaya ia langsung bisa mengetahui saat suaminya pulang nanti.
Dan memudah kan suaminya untuk segera menemukan keberadaannya,jika nanti Nindira menempati kamar ruang tamu maka Faiz mengira jika Nindira meninggalkan rumah dan mengabaikan pesan nya tadi.
Semoga dengan adanya semua barang yang kamu butuhkan ini,kamu bisa merasakan saat kamu di rumah.
Itu adalah tulisan yang di buat Faiz untuk Nindira,yang di masuk kan ya bersama semua makanan dan kebutuhan yang di inginkan istri kecilnya.
Menunggu terlalu lama dan juga keadaannya masih belum sehat betul mengakibatkan Nindira tertidur di atas kasur yang biasanya di pergunakan oleh Faiz setiap kali istirahat.
Saat menggeliatkan badannya ia langsung tersadar jika ia sedang menunggu kedatangan Faiz dari belanja.
Nindira langsung terduduk untuk mengamati sekitar,tapi dia tidak menemukan keberadaan suaminya di situ dia hanya menemukan dua kantong plastik yang ternyata di dalamnya terdapat semua pesanan pesanannya dan secarik kertas yang berisikan pesan tersebut.
Setelah sadar jika suaminya sudah pulang dari belanja Nindira langsung keluar dari kamar untuk mencari sosok yang dari tadi Nindira tunggu kedatangannya.
Tapi setelah mencari ke mana mana ternyata Nindira masih belum juga menemukan keberadaan di mana suaminya.
Nindira memutuskan untuk kembali ke kamar dan melihat apa saja yang ada di dalam kantong plastik itu.
Setelah melihat semua barang yang ada di dalamnya ia memutuskan untuk mengambil puding yan memang dari awal yang ia inginkan.
Setelah memakan puding Nindira melirik jam yang berada di atas dinding kamar itu.
Jam sudah menunjukkan waktu mau adzan Maghrib tapi suaminya belum juga kembali ke dalam rumah ndalem.
Umi dan Abi nya juga belum pulang dari siang tadi.
Nindira tidak mungkin menunggu kedatangan suaminya lebih lama lagi.
Ia harus kembali ke asrama atau teman temannya akan curiga kemana ia pergi dari siang tadi.
Nindira tak tau lagi harus menanyakan keberadaan suaminya ke pada siapa lagi.
Nindira akhirnya memutuskan untuk pulang ke asrama nya sore itu,ia berfikir akan mengucapkan terima kasih ke pada suaminya besok atau saat nanti ia bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Tapi hingga keesokan harinya Nindira masih belum bertemu dengan suaminya.
Nindira sampai pergi ke rumah ndalem untuk menanyakan ke pada Umi di mana keberadaan suaminya tersebut.
Tapi jawaban dari Umi tidak memberikan rasa puas di hati Nindira.
Umi hanya mengatakan jika suaminya ada urusan ke salah satu pondok teman Abi nya.
Katanya teman Abi nya tertimpa musibah.
Hanya itu penjelasan singkat dari Umi.
Nindira pun tak berani bertanya banyak tentang kapan suaminya akan pulang.
Sudah lebih dari lima hari suaminya belum pulang juga,membuat Nindira semakin gelisah karena tak kunjung mendapat kabar sama sekali darinya.Sampai dia merasa sudah lelah untuk menunggu kedatangannya.
Nindira mencoba melupakan apa yang menjadi beban di dalam hatinya,dia berusaha mengalihkan nya dengan menyibukkan diri dengan kegiatan kegiatan yang di jalaninya.
Tapi semakin hari semakin membuat Nindira menjadi uring uringan saja.
Karna dia sungguh sangat menginginkan kapan suaminya itu akan pulang.
Dan akibatnya saat ini,dia tak bisa menyelesaikan tugas untuk menyetor hafalan ke pada salah satu Uztadzah.
Seharusnya hari ini dia harus menyetorkan minimal 10 surah ke pada Uztadzah tapi yang dia alami saat ini adalah dia cuma bisa menghafal 6 surah saja.
Sedangkan targetnya adalah dia harus hafal dalam 10 hari sedangkan jika tidak bisa mencapai target maka hukuman sudah pasti menantinya.
Ia sudah lelah dengan berbagai hukuman yang sudah ia jalani selama ini.
Mungkin hanya dirinya lah santri yang sudah mencicipi semua jenis hukuman yang berlaku di dalam pesantren ini.
Dari yang ringan sampai yang terberat ia sudah mencicipi semua.
Membayangkan semua hukuman yang pernah ia jalankan saja ia sampai begidik ngeri.Bahkan semua tempat yang ada di dalam pesantren ini sudah pernah ia bersihkan kecuali satu yaitu rumah ndalem.
Siap siap deh kamu akan dapat hukuman lagi.
Setoran hafalan kamu masih numpuk banyak tuh!
Sangking lelahnya dia hafalan dia sampai membayangkan semua hukuman yang sudah ia terima.
Gadis itu menarik nafas panjang dan melanjutkan hafalannya dan mengabaikan ocehan Sasa.
Melihat Nindira yang tidak terganggu dengan ocehannya Sasa melanjutkan dengan.
Tahu tidak hukuman buat santri yang tidak memenuhi setoran hafalannya?
Nindira menutup telinganya berusaha tidak memperdulikan apa yang di ucapkan oleh Sasa kepadanya.
Hukumannya adalah mengelilingi lapangan dengan bantal di atas kepalanya sambil menghafal surah yang belum kamu hafal.
Kamu baru boleh berhenti di saat kamu sudah bisa untuk menghafalkannya.
Sasa sengaja mengeraskan suaranya supaya Nindira bisa mendengarnya walaupun Nindira sedang menutup telinganya.
Sasa berdecak kesal saat Nindira tidak meresponnya sama sekali.
Dan menganggap Sasa seolah olah tidak berada di sana.Dengan menghentak hentakkan kaki Sasa meninggalkan Nindira dari sebelahnya.
Sebenarnya Nindira mendengar semua yang telah di bicarakan Sasa kepadanya tadi,tapi Nindira memang sengaja mengabaikannya supaya Sasa cepat pergi dari sebelahnya.
Diam diam Nindira mengingat hukuman yang akan di berikan kepada santri yang tidak bisa setoran dengan ful.
Dan Nindira bertekad untuk lebih giat dan serius lagi untuk menghafalkannya supaya dia tidak dapat hukuman yang menurutnya sungguh sangat memalukan sekali itu.
Lamat Lamat Nisa yang sedang selesai mandi itu mendengarkan saat Nindira menghafalkan salah satu surah dan ternyata ada yang salah dalam pengucapannya,seketika itu Nisa membenarkan pengucapan yang salah menjadi benar.
Nisa pun dengan sangat telaten menemani Nindira untuk hafalan.
Nisa yang nyimak dan membenarkan jika ada bacaan Nindira yang salah.
Nindira sangat semangat dengan melanjutkan hafalan hafalannya dengan di bantu oleh Nisa.
__ADS_1
Tapi di tengah tengah dia mengucapkan ayat ayat selanjutnya,Sasa datang dan mengganggu Nindira lagi.
Biarin aja Ra,biar nanti Uztadzah aja yang menentukan kamu benar benar sudah biasa atau masih ada yang di betulkan lagi.
Dan untuk Sasa kita lihat saja nanti kamu atau dia yang lebih bisa menghafalkan dengan baik.
Biarin lah Nis kenapa kamu repot repot mau membantunya.Biar dia dapat hukuman lagi seperti biasa.Celetuk Sasa dengan gelak tawa membayangkan kalau Nindira lagi lagi akan kena hukum
Seketika itu Nisa langsung menegurnya.
Husst....Kamu itu kok ya jahat banget sih sama kalau ngomong mbok ya di pikir dulu,apa pantas seorang santri berkata sekadar itu apalagi terhadap temannya.
Ya maaf.aku kan cuma bercanda,balas Sasa yang mana permintaannya hanyalah bualan nya saja.
Tapi orang tua kamu memang benar sih,memasukin kamu ke pesantren ini masak udah gede baca surah surah pendek aja masih banyak yang salah.Ujar Sasa lagi
Padahal dia baru saja meminta maaf tapi sudah bikin ulah lagi,memang sepertinya Sasa tidak pernah tulusbuntuk meminta maaf terhadap Nindira.
Lebih baik terlambat dari pada nggak sama sekali.Timpal Nisa.
Nindira menatap Sasa yang masih memandanginya dengan tatapan mengejek.
Dari pada kamu sudah lebih dari tiga tahun hidup di pesantren tapi mulut masih seperti anak jalanan.Balas Nindira mengejek Sasa.
"Kamu!"
Sikap begini yang kamu dapat bertahun tahun di pesantren.
Sia-sia banget duit orang tua kamu kalau gitu,ejek Nindira lagi.
Sasa memelototi Nindira yang sudah dengan berani membalas ejekannya.
Selama dia berada di sini baru kali ini ada santri baru yang berani melawannya.
Sudah sudah jangan bertengkar,kalian ini sudah dewasa kenapa kalian semua seperti anak kecil gini.
Nisa menatap Sasa.
Sa,kamu itu santri senior di pesantren ini.
Seharusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada santri yang lainnya.
Benar kata Nindira tindakan kamu tidak mencerminkan sikap seorang santri di sini.
Nindira tersenyum kemenangan mendengar Nisa yang sudah membelanya.
Di antara teman satu kamarnya memang Nisa lah yang paling bijak sana.
Dia tidak akan pernah membela temannya jika temannya itu salah.
Dan kamu juga Nindira.
Kamu itu jangan mudah terpancing oleh perkataan perkataan yang tidak pantas untuk di ladeni.
Belajar lah untuk lebih sabar dan tidak mudah terpancing.Jaga emosimu.
Senyum kemenangan Nindira itu menghilang saat Nisa kemudian memberikan semprotan.
Iya maaf,aku janji tidak akan mudah untuk terpancing lagi.Cicit Nindira
sekarang lanjutkan kegiatan kalian masing masing.
nggak usah saling lirik lirik lagi.
Ultimatum dari Nisa itu langsung di laksanakan oleh mereka.
Nindira dengan hafalannya dan Sasa melanjutkan untuk melipat baju lagi.
MAAF YA AUTHOR TELAT UPNYA.
ADA TAMU DARI PAGI JADI BLM BISA MELANJUTKAN.🙏🙏
Tapi jangan lupa untuk selalu dukung author ya.jangan lupa kasih semangat.
__ADS_1
Like koment yang banyak 😅😅