
Akhirnya Dengan nafas yang agak ngos ngosan karena berusaha mengejar Nisa sahabatnya,Nindira di sampai di gedung Aula yang menjadi tempat acara tersebut.
Gedung itu terletak antara gedung putra dan gedung putri jadi gedung itu pas berada di tengah tengah Antara gedung gedung yang berjejer.Kenapa kok sampai bisa di tempatkan di tengah tengah Karena memang Aula itu di peruntukkan acara besar,selain untuk acara yang saat ini sedang di adakan,biasanya gedung itu di gunakan untuk acara pelepasan santri putra dan putri,dan juga acara lainnya.
Walaupun di tempatkan di tengah tengah Antara putra dan putri tetapi jarak antara gedung itu juga cukup jauh dari gedung para santri putra putri yang di tempatnya,walaupun cukup jauh dari tempat putri tapi area belakang Aula sebenarnya adalah ada pintu untuk area putra karna biasanya yang di tugaskan untuk mendekor atau mempersiapkan jika saat ada acara kebanyakan adalah putra,maka dari itu di area belakang Aula di buatkan pintu keluar masuk para santri putra.
Sesampainya mereka di sana,seperti kata Nisa,Aula yang cukup besar itu ternyata sudah di penuhi oleh para lautan manusia.
Tapi sejauh mata memandang Nindira masih belum bisa menemukan keberadaan makhluk yang di namakan santri putra itu.
"Mana katanya di sini itu kesempatan buat kalian melihat satu sama lain.Kenapa aku tidak melihat apa yang sempat kamu tadi bicarakan,tanya Nindira dengan nada ledekan ke Nisa."
Nisa menoleh cemberut ke arah sahabatnya yang saat ini sangat menyebalkan sekali menurutnya..Ini semua gara gara kamu,kamu lelet banget di ajak berangkat dari tadi kebanyakan wanwancara.Mereka pasti sudah berada di dalam gedung.Ini pokok nya salah kamu Ra,gerutu Nisa.
Memangnya di dalam nanti kamu gak bakalan bisa lihat mereka, sekecewanya gitu kamu?
Tidak akan bisa Ra,di dalam nanti kita akan terpisah,kita akan berada di sisi kiri gedung tempat kita berada.Sementara santri putra di sebelah kanan gedung ini.Jadi di dalam nanti kita sudah tidak bisa punya kesempatan lagi untuk melihat mereka.Kecuali setelah acara nanti.
Ya sudah tungguin aja sampai acara selesai nanti,balas Nindira seenaknya.
Nisa menghela nafas panjang,pasrah dengan keadaan,lalu melangkahkan kakinya sambil meraih tangan Nindira untuk melanjutkan masuk ke dalam Aula.Sesampainya di dalam,seperti yang Nisa duga,mereka tidak kebagian kursi di bagian depan dan harus berbesar hati mendapat kursi di bagian belakang apalagi di paling pojok,lengkap sudah kekecewaan yang di rasakan Nisa.
Berjalan menuju tempat yang di tuju ternyata ada suara yang di dengar oleh Nisa,ya salah satu teman Nisa sedang memanggilnya dan menawarkan tempat duduk yang sayangnya hanya tersisa satu,dan sontak saja Nisa menolak tawaran yang di berikan oleh temannya karena di juga tidak mungkin menerimanya,gimana dengan Nindira jika ia sampai menerimanya.Jadi dia tetap melanjutkan untuk menuju ke tempat yang ia tuju semula.Walaupun sebenarnya Nindira memintanya untuk menerima tawarannya tapi Nisa masih kekeh dengan memilih untuk menemani sahabatnya ini walaupun sering membuatnya sebel tapi Nisa tetep sayang sama Nindira.
Acara nya ternyata belum di mulai karena Tokoh yang di undang ternyata belum juga datang.Nindira sudah bosen dari tadi yang hanya diam dan ngobrol manis ngalor ngidul yang lama lama bisa membuat dia capek.Dan dia pun berniat untuk kabur dari tempat ini dan akan menuju kamarnya dan akan melanjutkan tidur manisnya yang tadi sempat tertunda karena Nisa ingin segera berangkat ke Aula.
Tak akan ada yang bakalan tau kalau aku akan kabur dari sini,pikir Nindira.
Nindira kemudian mengatai sekitar,melihat situasi sudah aman dan memungkinkan dia untuk kabur,merasa tidak ada yang mengamati gerak geriknya,dengan langkah pelan dan dengan keyakinan dia segera melangkah untuk menuju arah pintu keluar yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.
Ia berjalan keluar,namun naas sekali nasibnya,di dekat gerbang yang menjadi pembatas sekaligus penghubung kawasan putri ternyata di sana ada sosok yang di takuti oleh Nindira,Ya di sana Uztadzah Aisyah telah berdiri dan mengawasi santri putri,yang biasanya akan kembali lagi ke kamar atau hanya sekedar untuk alasan saja.
"Nindira kamu mau kemana?suara itu mengagetkan Nindira,ia segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati mungsuh bebuyutannya berdiri di belakangnya,Sasa ternyata diam-diam mengawasi pergerakan Nindira dari tadi,mulai dari Nindira mulai mengawasi lokasi sampai dia keluar ruangan.
Mau aku bantu?tawar Sasa
Nindira menyipitkan mata.Ia tak akan percaya dengan begitu mudahnya dia akan membatunya,apalagi setelah masalah yang sudah ia alami kemarin.
Kamu pasti masih marah ya sama aku gara gara masalah kemarin?aku minta maaf,aku tau aku salah,karena itu sebagai permintaan maaf ku aku akan membantu kamu untuk kabur dari tempat ini,gimana?tawar Sasa kepada Nindira.
Nindira berfikir sejenak,sebenarnya dia masih ragu dengan sikap baik yang di tunjukkan oleh Sasa kepadanya,tapi sepertinya saat ini Nindira memang sudah benar benar ingin meninggalkan Aula,walaupun dengan resiko yang akan di tanggung di depannya nanti.Nindira menepis semua pikirannya dia berusaha untuk mencoba mempercayai Sasa kali ini.
Oke baiklah,gimana caranya?tanya Nindira kepada Sasa?
Di ujung tembok sana ada gebang kecil untuk masuk ke kawasan pesantren Putri,kamu bisa menggunakannya.
Tapi itu bukankah sudah masuk ke dalam kawasan putra,dan bukankah itu adalah kawasan terlarang buat kita?
__ADS_1
Ya,benar apa katamu,tapi bukankah semua orang sedang berada di sini?,jadi tidak akan ada orang yang akan melihatmu masuk ke dalam untuk bisa melewatinya,
Ucapan Sasa terdengar masuk akal di telinga Nindira,Dan tak ada salahnya untuk di coba pikirnya,dan ia pun menuruti apa yang di sampaikan Sasa kepadanya,tanpa berfikir lagi,Nindira berjalan pelan dan mengawasi sekitar langkah demi langkah ia lewati untuk segera menempuh ke pintu yang Sasa katakan tadi,tapi apa yang terjadi bukanlah apa yang dia inginkan,bukan sosok pintu yang ia temui,melainkan 4-5 sosok santri putra sedang berdiri di samping tembok dekat pintu yang Nindira tuju.
Sepertinya mereka sama sama kaget,karena Nindira berjalan dengan arah mundur dan kebetulan para santri putra sedang asyik mengobrol sampai mereka tidak sadar kalau ada orang yang sedang menuju ke arahnya.
Saat Nindira sudah begitu dekat dengan keberadaan santri putra barulah ada salah satu yang langsung menegurnya dan memberikan isyarat ke pada teman yang lainnya.
"Wah ada bidadari kesasar nih."Wah berarti tak sia sia kita berada di sini sejak tadi,mungkin memang sudah jadi rezeki kita untuk bisa berkenalan dan kali saja bisa bermain main dengan bidadari surga yang di kirim Allah ke sini,celetuk salah satu temannya.
Nindira pun buru buru untuk segera berbalik dan ingin segera pergi dari tempat itu,apalagi dengan pernyataan yang di berikan para santri putra itu ke padanya.Tapi usahanya masih belum membuahkan hasil,salah satu santri putra ternyata sudah lebih dulu untuk menghadang Nindira supaya ia tidak bisa lari dari mereka.
"Ayo lah jangan buru buru,kenalan dulu sama kita,dan bersenang senang lah dulu walau hanya sebentar saja,paling nggak untuk menghilangkan kebosenan.Seru pria yang sudah menghadang jalannya tadi."
Maaf,saya buru buru,Ujar Nindira berusaha mencari jalan keluar dari beberapa santri yang ada di hadapannya ini,karna semua santri yang berdiri tadi telah mengelilinginya agar Nindira benar benar tidak akan bisa lolos.
"Bisa berikan saya jalan?"Pinta Nindira dengan geram.
"Paling tidak kasih tau dulu nama mu pada kami,baru setelah itu kami beri jalan kamu,kalau perlu kami bisa mengawal kamu sampai tempat tujuanmu."
"Sedang apa kalian di sini?"
Itu suara Uztadzah Aisyah.
Belum sampai Uztadzah Aisyah mendekat ke arah Nindira,terlihat dari arah berlawan Gus Fais sedang berjalan bersama laki laki sepantarannya,yang sepertinya ia juga Uztadz di tempat ini.
Nindira menelan ludahnya kasar,dia sangat gugup kali ini,perasaan tak enak tiba tiba menghampirinya.Ia benar benar berada dalam masalah sekarang.
"Ada apa ini,Gus Faiz yang melihat ada yang tidak beres kemudian berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ini Guz,saya sedang mendapati mereka sedang berada di sini dengan salah seorang santri putri.Ujar Uztadzah Aisyah
Tatapan Faiz langsung tertuju pada Nindira,Ia memandang istri kecilnya itu dengan tajam dan sangat mengintimidasi.Nindira sendiri tak berani menatap balik suaminya,Nindira hanya bisa menunduk kan pandangan dan kepalanya saja.
"K-kami tadi sedang asyik mengobrol ketika gadis ini datang dengan cara mengendap endap Gus,"jawab salah seorang santri putra dan kawan kawannya menganggukkan kepalanya sebagai respon tanda setuju dengan apa yang di sampaikan sahabatnya tadi.
Dan kalian semua sedang apa di sini,bukankah acaranya ada di dalam Aula?Bukan Gus Faiz ataupun Uztadzah Aisyah yang bertanya,melainkan teman Gus Faiz yang berjalan beriringan dengannya tadi.
Saya tersesat Uztadzah,saya berniat untuk mencari jalan untuk kembali ke kamar.Kata salah satu teman saya,ada gerbang kecil yang bisa saya lewati untuk menuju ke kawasan putri di area sini.
Tidak ada gerbang kecil di sini Nindira,siapa yang sudah memberikan informasi itu kepadamu.Dan kenapa kamu malah memilih untuk lewat gerbang kecil,bukannya lewat gerbang depan.
"Kalau kamu ingin mengarang kebohongan pintar pintar dikit lah untuk mengarangnya,jadi supaya tidak ada yang mencurigakan."Sindir Uztadzah Aisyah kepadanya.
Saya sudah hafal betul dengan tingkah santri sepertimu.Mereka selalu menggunakan kesempatan seperti ini untuk bisa berkenalan dengan lawan jenisnya.Di mana rasa malumu sebagai seorang muslimah Nindira.
__ADS_1
"Tapi saya tidak bohong Uztadzah.Saya memang berniat mencari jalan untuk kembali ke kamar.Silahkan bertanya kepada Sasa,dialah yang memberi tahu tentang keberadaan gerbang kecil ini.
Panggil Sasa kemari,bukan suara Uztadzah Aisyah melainkan suara perintah dari Gus Faiz.
Uztadzah Aisyah kemudian bergegas memanggil Sasa dan kembali tidak lama kemudian bersama dengan gadis itu.kali ini Sasa datang bersama Bela sang antek antek.
"Apa benar kamu sudah memberikan informasi palsu kepada Nindira?"Tanya Uztadzah Aisyah kepada Sasa to the poin.
Gadis itu menggelengkan kepalanya."Informasi apa ya Uztadzah?saya dan Bela tidak pernah bertemu dengan Nindira sama sekali.Jawab gadis itu dengan muka polos dan bingung,sungguh sangat pintar sekali aktingnya.
"Dasar pembohong"bentak Nindira ke kemudian."
"Nindira,jaga bicara kamu.Jangan meninggikan suaramu di depan gurumu."tegur Uztadzah Aisyah.
Tapi dia sudah bohong Uztadzah.Jelas jelas dia yang memberikan informasi ini ke pada saya kenapa kamu tidak berterus terang Sa,apa kamu memang sengaja untuk menjebak saya.Ucap Nindira membela diri.
"Saya tidak bohong,Bela menjadi saksinya.Karna saya sejak tadi tidak keluar gedung sama sekali.
Dia bong Gus Faiz.
Karena Nindira yakin jika Uztadzah Aisyah pasti tidak percaya dengan,maka Nindira langsung berupaya untuk meminta tolong pada suaminya,Gadis itu menoleh ke arah suaminya dan memberi tatapan pertolongan kepada nya,dan juga berharap kalau Faiz lebih percaya kepada dirinya.
Fais yang mendapatkan tatapan dari Nindira hanya diam.Dia malah tak memandang ke arah Nindira.karena Nindira tau kalau Faiz pun tak akan menolongnya dia pun menundukkan pandangannya,hatinya mencelos menyaksikan sikap dingin Faiz.
Ini sudah bukan wewenang saya.Ini adalah tanggung jawab Uztadzah Aisyah untuk menyelesaikan masalah ini.Maaf saya harus pergi.Masih ada hal yang penting yang harus saya kerjakan.
Gus Faiz pun pergi tanpa sekalipun melihat ke arah Nindira.Ia berjalan melewati istri kecilnya itu dengan tenang.Nindira hanya diam dan lebih menundukkan kepalanya dan mencoba menahan desakan perasaan yang sedang menyelimuti hatinya saat ini dan langsung mengantarkan genangan air di sudut matanya.
Gadis itu diam diam melirik kepergian suaminya dengan tatapan sendu dan susah untuk di artikan.
Hai para setia pembaca Novel,maaf beberapa hari tidak bisa update,karena ada acara di rumah.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir di karyaku,dan jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak.Trimakash......