
"Menurut kamu,apa yang sedang mereka bicarakan?"
Nindira menatap Nisa yang sedari tadi memperhatikan Faiz yang sedang bersama perempuan yang saat ini sedang para santri di bicarakan di setiap waktu.
Bahkan di setiap Nindira berkegiatan pasti ada saja para yang sedang membicarakan perempuan yang saat ini sedang bersama suaminya.
Ya,perempuan yang saat ini sedang menjadi perbincangan para santri dia adalah Kholifah atau yang biasanya di panggil dengan kak IFA.
Nindira dan Nisa saat ini lagi menatap ke arah gazebo yang berada di sebelah masjid.
Di gazebo telah ada beberapa orang di sana,dan yang membuat arah pandangnya tak bisa untuk melihat ke arah lain di sana telah berdiri Sang suami dan perempuan yang sangat jauh sempurna menurut semua para santri.
Walau Nindira merasa dadanya sesak tapi ia tak akan pernah bisa untuk mengungkapkannya kepada Nisa.
Pikirnya ini juga karena permintaannya untuk merahasiakan hubungannya bersama Faiz.
Nisa menarik lengan Nindira saat gadis itu menyadari kalau IFA dan Faiz sedang bersama.
Walau sebenarnya mereka tidak hanya berdua saja di tempat itu,tapi berhubung gosib tentang Faiz yang di gadang gadang akan di jodohkan dengan IFA sudah menyebar,jadi semua santri selalu menunggu-nunggu interaksi antara dua sejoli itu.
Nindira memandang ke arah gazebo dengan pemikirannya sendiri.
Ia benar-benar tak habis fikir dengan Faiz.
Bagaimana bisa ia menyetujui pernikahan mereka sedang ia sendiri sudah memiliki perempuan lain yang akan di jadikan pendampingnya.
Nindira harus bertanya soal ini secepatnya kepada Faiz.
Jika Nindira masih ingin dengan rencana awalnya,seharusnya Nindira saat ini harusnya bahagia,karena dengan kedatangannya kak IFA di tambah dengan kabar perjodohan mereka berdua itu bisa di jadikan jembatan untuk Nindira meminta perpisahan kepada Faiz suaminya,tanpa harus menunggu lama dan mencari berbagai alasan.
Tapi apa yang Nindira rasakan saat ini ternyata jauh dari pemahamannya sendiri.
Bahkan ia merasa kan ada keanehan pada hatinya.
"Kamu kok diam aja sih?"Nisa memasang wajah cemberut saat Nindira hanya diam saja dan tidak menanggapi pertanyaan yang telah lontarkan sejak tadi.
"Lha terus aku harus jawab apa?"wong aku sendiri juga nggak tau mereka lagi ngomongin apa!.
"Udah yuk balik ke kamar aja?"Nindira berjalan mendahului Nisa.Ia bergegas pergi dari tempat itu dan berusaha tak lagi menatap Faiz sedikitpun.
Diam-diam tanpa Nindira ketahui,suaminya itu memperhatikan setiap detail langkahnya melalui sudut matanya.
__ADS_1
"Nindira,tolong kamu bawa buku-buku ini ke rumah ndalem."
Uztadzah Risa mencegat langkah Nindira yang akan berjalan ke arah kelas.
"Ini buku yang di minta Bu Nyai tadi tolong di antarkan kepada beliau ya,karena saya ada pekerjaan yang sangat penting dan tidak bisa untuk saya tinggalkan.
Nindira mengangguk mengerti.
Ia kemudian mengambil alih buku-buku tersebut dari tangan Uztadzah Risa dan langsung mendekapnya supaya tidak berjatuhan.
"Kalau begitu saya permisi Uztadzah,"pamit Nindira dan langsing melanjutkan langkahnya untuk pergi ke rumah ndalem.
"Assalammu'alaikum Ummi,"
sapa Nindira kepada ibu mertuanya yang sedang sibuk menyiram tanaman di teras depan rumah.
"Waalaikum salam." Senyum Ummi langsung berkembang saat melihat kedatangan menantu kesayangannya.Dengan takzim Nindira mencium punggung Ummi nya itu.
"Ini ada buku yang di titipkan dari Uztadzah Risa ke pada saya,mau di taruh di mana Ummi?
"Taruh saja di kamar Faiz."
Nindira terbengong dan mengernyitkan dahinya saat mendengarkan jawaban dari Ummi nya.
"Iya,memang Ummi yang meminta buku-buku itu kepada Uztadzah Risa tapi atas permintaan Faiz.Ummi juga tidak tahu untuk apa."
Nindira mengangguk tanda mengerti."Apa Gus Faiz berada di kamar umi?"
Ummi diam sejenak untuk mengingat apakah anaknya saat ini sedang berada di kamar apa tidak,kemudian Ummi menggeleng dengan pelan,kayaknya Ia sedang keluar sejak tadi."
Nindira langsung mengembangkan senyumnya dan merasakan lega pada hatinya.Itu artinya dia tidak akan bertemu dengan suaminya saat ini,entah kenapa akhir akhir ini dia malas untuk bertemu dengan suaminya,walaupun dia sebenarnya ada yang ingin di tanyakan tapi menurutnya saat ini Nindira masih belum siap untuk mendengarkan jawaban dari suaminya,Nindira takut jika jawabannya tidak sesuai dengan harapannya.
"Kalau begitu Nindira taruh buku-buku ini dulu di kamar Gus Faiz ya Ummi."
Dengan langkah terburu buru,Nindira memasuki rumah dan segera menuju ke dalam kamar suaminya itu.
Nindira meletakkan buku-buku yang telah ia bawa di rak besar yang berada di salah satu sisi kamar Faiz.
Rak buku itu sudah menjadi tujuan Nindira untuk meletakkan buku yang telah Ia bawa.
Karena memang sejak pertama kali Nindira masuk ke dalam kamar suaminya Nindira sebenarnya sangat tertarik untuk mendekat dan melihat lihat semua buku koleksi yang di punyai suaminya tersebut,jujur Nindira sangat gengsi jika ia harus jujur pada suaminya.
__ADS_1
Berhubung pemilik kamar tidak ada,sepertinya Nindira punya kesempatan untuk melihat semua koleksi yang Faiz punya saat ini.
Dari tata cara penyusunannya saja Nindira sangat mengaguminya,sungguh sangat rapi dan sangat menarik pikirnya.
Nindira ingin mengambil salah satu buku yang sudah lama sekali ingin dia baca dan ia pelajari,tapi sayangnya buku itu saat ini terletak di rak paling atas sendiri.Dia melihat sekelilingnya,dan menarik sebuah kursi yang berada di depan meja kerja Faiz.
Nindira menaiki kursi itu dan sedetik kemudian cemberut saat menyadari tinggi kursi dan badannya masih belum bisa menjangkau buku yang ia minati itu.
Tanpa di duga duga,tubuh Nindira seolah-olah melayang di udara,ia memekik kaget saat mendapati Faiz sedang memeluk pinggangnya dan mengangkat tubuh mungilnya yang seakan akan bagaikan permen kapas itu agar bisa menjangkau buku yang ia inginkan.
Nindira menyadari kalau tadi itu adalah kontak terintim yang mereka miliki selain yang waktu Faiz mengantar kan Nindira pulang ke asrama.
"Kamu apa-apaan sih?"protes Nindira menatap Faiz dengan pandangan tidak terima.
"Kamu yang apa-apaan,ngapain manjat kayak gitu,nggak takut jatuh apa?"
"Aku cuman pingin ngambil buku itu tapi nggak kejangkau."
Nindira menunjuk buku bersampul merah yang ia maksud tadi.
"Lagian kamu ngapain sih bikin rak setinggi ini,nyusahin banget tau nggak,cerocos Nindira lebih lanjut.
Faiz menghela nafasnya pelan kemudian menggantikan istrinya untuk naik ke atas kursi dan mengambil buku yang di tunjukkan kepadanya tadi.
"Ya udah,nanti raknya aku ganti."
Nindira tergagap."Y-ya nggak gitu juga.Tadi aku cuma kesel aja.Nggak perlu samapi kamu ganti juga.
"Nggak apa-apa.daripada kamu harus jatuh cuman mau ngambil buku nantinya."
Nindira terdiam sejenak,berusaha mencerna kata-kata Faiz.Suaiminya itu mengatakan seolah-olah jika ke depannya lagi Nindira akan mengalami kejadian seperti saat ini.
Apa ini Faiz berniat membuat hubungan pernikahan mereka bertahan lama?lalu bagaimana dengan nasib IFA?
Sebuah pemikiran yang tidak ingin Nindira pikirkan,terlintas saja seakan Nindira tidak mau.
Faiz tidak mungkin berniat menjadikan IFA sebagai istri keduanya,kan?
Assalammu'alaikum para readers semuanya,saya benar benar meminta maaf pada para readers semua jika beberapa hari ini saya tidak segera melanjutkan lagi cerita ini.Singguh saya sangat kacau sekali,setelah pengajuan kontrak saya belum bisa lolos,saya benar benar down.
Tapi saya masih berharap semoga saya bisa lolos.
__ADS_1
Dan dukungan dari para readers lah yang menjadikan motifasi dan semangat saya lagi.
Terus dukung saya kasih koment yang banyak like dan hadiahππππ