Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 18


__ADS_3

Masih berada di gendongan Faiz,Nindira sedikit sadar,tapi sayangnya dia sudah tak punya tenaga lagi untuk memberontak apa yang sedang di lakukan suaminya terhadapnya.Dia hanya bisa diam dalam gendongan Faiz.


Sesampai di rumah Faiz ingin sekali langsung menuju kamarnya,tapi Nindira tiba tiba minta untuk di turunkan.


Faiz tolong turunkan aku,dia berkata sambil menutup mulutnya lagi,dan Faiz pun langsung menurunkan istrinya tepat di sofa ruang tamu,setelah di turunkan Nindira dengan sedikit sempoyongan berusaha sedikit berlari menuju wastafel untuk mengeluarkan sisa yang masih di dalam perutnya,Faiz pun mengikuti istrinya dari belakang dan segera memijit tengkuk istrinya.


Merasa sudah puas mengeluarkan isi yang ada di perutnya,Nindira hanya bisa menatap suaminya melalui pantulan kaca yang ada di wastafel.


Kamu tadi makan apa kok bisa sampai muntah muntah kayak gini,tanya Faiz lembut.


Pertanyaan mu salah,seharusnya kamu itu bertanya apakah aku sudah makan belum.


Dan sekarang maag aku kumat sampai seperti ini.


Nindira menjawab pertanyaan suaminya dengan perasaan kesal.


Gadis itu memang mempunyai maag yang bisa di bilang serius,sedikit saja dia telat makan pasti maag nya akan kambuh,apa lagi di dukung dengan faktor kelelahan sudah bisa di pastikan jika dia akan langsung mengalami mual,muntah dan bisa bisa sampai pingsan.


Ya contohnya seperti kejadian yang baru saja dia alami.


Seketika Faiz di diliputi rasa bersalah terhadap istri kecilnya,sebenarnya Nindira tadi sudah memberi tahu jika dia belum melaksanakan makan siang akibat dapat hukuman membersihkan masjid.


Belum selesai hukuman itu sudah di tambah lagi hukumannya,jadi wajar saja dia kalau sampai seperti ini.


Maaf,aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini.


Nindira hanya memutar bolanya saja,mendengarkan permintaan maaf dari suaminya itu yang menurutnya sudah tidak ada manfaatnya itu.


Dari pada kamu minta maaf yang sudah tidak ada lagi gunanya bagiku,mending kamu melakukan perbuatan yang bisa membuat hatiku bisa sedikit bisa menerima kejadian ini.


Seperti memberiku makan misalnya,Ujar Nindira lagi sembari menyadarkan Faiz hal yang lebih berguna baginya.


Ayo aku akan mengantarkan mu kembali ke sofa dulu,setelah itu aku akan mengambilkan makan.


Faiz meraih tubuh istrinya yang masih berpegangan di wastafel untuk di gendong untuk menuju ke sofa.


Gadis itu hanya menurut saja dengan apapun yang di lakukan kepadanya.


Seakan dia membagi rasa yang di rasakan pada tubuhnya yang saat ini sedang sangat tidak mengenakkan sekali.


Nindira sudah menunggu beberapa menit tapi Faiz ternyata belum kembali juga untuk mengambilkan makanan untuk istrinya padahal Faiz tadi hanya pergi ke dapur rumahnya sendiri bukan pergi ke dapur umum di pesantren.


Tapi dari tadi belum juga datang,Bahkan Nindira sampai bosen menunggunya


dan langsung meneruskan untuk menyusul suaminya ke dapur.


Dengan susah payah Nindira bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur untuk melihat suaminya.


Sesampainya Nindira dari dapur ia malah melihat suaminya sedang menuang mie instan ke dalam mangkuk.


Kok aku malah di kasih makan mie sih,itu kan nggak sehat buat aku.


Apa lagi dengan kondisi aku yang seperti saat ini.Nanti kalau aku tambah sakit gimana gara gara makan mie kayak gini?protes Nindira sembari berjalan mendekat ke arah suaminya.

__ADS_1


Faiz hanya melirik dari sudut matanya ke pada istri kecilnya itu lalu menambahkan bawang goreng dan daun sup ke dalam mangkuk yang berisi mie tersebut.


Gak ada makanan yang bisa kamu makan,jadi aku masakin mie instan ini biar cepat,aku juga baru ingat jika Abi dan Umi ada kegiatan di luar,sedangkan aku hari ini juga lagi puasa jadi Umi memang tidak meninggalkan makanan.


Iya,tapi aku nggak suka mie instan,lagian makanan itukan nggak sehat di tambah dengan kondisiku yang seperti ini.


Atau jangan jangan kamu pingin aku jadi tambah sakit ya?


Todong Nindira kemudian dengan menyipitkan matanya.


Faiz menghela nafasnya lelah menghadapi sifat Nindira yang sangat kekanak kanakan ini menurutnya.


Sepertinya memang Nindira tak pernah melihat Faiz dari sudut pandang yang positif,bahkan dia selalu saja berfikiran buruk terus kepadanya.


Jadi kamu mau apa sekarang?tanya Faiz setelan mungkin dan berusaha untuk menekan emosinya supaya tidak meledak saat ini.


Kok masih tanya lagi sih?!ya jelas mau makan lah.Jawab Nindira sewot.


Rasanya Faiz lebih memilih merawat anak balita dari pada merawat makhluk yang seperti ini tingkat absrud beserta kekonyolannya.


Jika anak balita nangis tinggal di gendong kasih jajan atau susu sudah diam,lha ini istrinya yang sedang Faiz rawat saat ini semua serba salah,bikin kepalanya pusing saja.


Maksud aku kamu pingin makan apa sekarang Hem?pertanyaan dengan suara pelan dan dengan nada selembut mungkin supaya istrinya bisa menjawabnya dengan manis.


Duh,masak hal kayak gitu aku juga sih yang mikirin,aku tu lagi sakit badan aku lemas otomatis otak ku juga nggak bisa buat mikir ke arah situ.


Alasan macam apa itu pikir Faiz?


Kamu mau kemana,ketika Nindira melihat Faiz malah melangkah kan kakinya untuk meninggalkan dapur dan menghilang di balik pintu tanpa mempedulikan pertanyaan yang di berikan oleh istrinya itu.


Faiz kembali tidak lama kemudian,di tangannya memegang sebuah kotak.


Faiz menghampiri istrinya dan menawarkan.


Mau di gendong atau di papah saja.


Di papah saja jawab Nindira sedikit gugup.


Faiz memapah Nindira menuju meja makan.


Ia menarik satu kursi untuk Nindira tempati setelah memastikan Nindira sudah duduk dengan baik Faiz kemudian menarik satu kursi lagi untuk dirinya.


Aku bakalan masakin kamu,tapi sebelum itu kamu harus minum obat ini dulu,supaya perutmu lekas enakan.


Faiz dengan begitu telaten mengambil obat yang berbentuk tablet dan meraih gelas yang sudah di isi air untuk ia berikan kepada istrinya supaya cepat meminumnya.


Kamu minum obat ini dulu.


Faiz langsung memotong kalimat yang baru saja mau keluar dari bibir sang istri.


"Tidak ada penolakan".


Kali ini Ia harus memastikan betul supaya istri kecilnya ini benar benar meminum obatnya tanpa banyak drama terlebih dahulu.

__ADS_1


Nindira diam sejenak untuk mengambil air dan obat yang masih berada di tangan suaminya tersebut,setelah mengambil minumnya terlebih dahulu ia langsung meneguk obatnya dalam satu tegukan saja.


Udah sekarang buatin makanan ku.


Kali ini Nindira sudah kembali lagi ke mode menyebalkan lagi seperti biasanya.


Faiz langsung berdiri dari tempatnya ia duduk dan langsung ke arah dapur lagi supaya istri kecilnya ini tidak melakukan drama lagi yang bisa membuat kepalanya pusing dan seakan mau pecah.Sesampainya dari dapur Faiz memutuskan untuk membuatkan sesuatu yang bisa istri kecilnya ini makan,dan biasanya jika ia sedang sakit Uminya akan membuat kan ia bubur jadi saat ini Faiz pun akan membuatkan bubur untuk istrinya.


Selama Faiz sibuk memasak kan dirinya.Nindira malah sibuk untu mengomentari masakan yang sedang di buat kan oleh Faiz,yang tidak boleh pakai bumbu ini lah yang itu lah.Seakan akan Nindira tidak bisa percaya jika suaminya ini benar benar bisa untuk memasak.


Faiz lebih memilih diam dari pada harus menimpali apa yang di sampaikan oleh istrinya,jika di jawab maka Faiz rasa dia tak akan pernah selesai untuk membuat makanannya.


Sekarang makan lah.


Celotehan gadis itu langsung berhenti saat bubur dalam mangkuk itu sudah tersaji di hadapannya.


Nindira menatap bubur itu dengan penuh rasa selidik.


Jika dari aromanya sangat menggugah selera baunya harum sekali.Tapi dia masih belum yakin dengan rasanya.


Apakah sebagus tampilannya atau malah berbanding terbalik dengan penampilannya.


Ayo di makan.Perintah Faiz lagi


Dengan perasaan tidak yakin.


Nindira memasukkan satu sendok kedalam mulutnya.


Nindira tidak bisa mengatakan kalau ini adalah bubur yang ternikmat yang pernah ia makan.Karena dari semua bubur yang pernah ia makan dia belum pernah merasakan bubur senikmat ini,dan Nindira tak bisa memungkiri itu.


Sebenarnya aku tidak mau menghabiskan bubur ini tapi aku masih sayang dengan lambungku,jadi mau nggak mau aku habisin.


Dengan gaya sok jual mahalnya Nindira mengucapkan kalimat itu kepada Faiz,dai berusaha menyelamatkan harga dirinya.


Faiz mendengus pelan mendengar kalimat yang Nindira ucapkan.


Dia tau kalau Nindira sebenarnya gengsi untuk mengakui jika masakan yang ia buat rasanya adalah enak.


Apakah sesulit itu mengucapkan terimakasih dan mengatakan jika masakannya cukup enak sehingga gadis itu tak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskannya.


Biasanya jika aku sakit seperti ini,mama pasti akan merawat aku dengan sangat baik dan telaten,karna mama selalu memasakkan aku makanan yang aku sukai,dan jika aku sakit seperti ini mama juga akan selalu membuatkan ku puding atau bubur kacang hijau,karena memang lambungku tidak bisa langsung bisa menerima makanan yang berat berat.


Andai saja aku sekarang ada di rumah dan mama sendiri yang merawatku pasti tidak seperti ini.Tak terasa Nindira menceritakan tentang dirinya ke pada Faiz,dia bercerita dengan sedikit matanya mengembun.


Faiz berusaha mencerna semua ucapan istri kecilnya.


Apa istrinya memiliki tujuan supaya Faiz mau membelikan puding atau bubur kacang hijau untuk dirinya,Faiz berusaha mencerna setiap kata yang telah istrinya ucapkan tadi.


Ya sudah aku belikan di kantin kalau kamu ingin makan itu,tunggu di sini sebantar.Ujar Faiz kemudian.


Tapi puding yang biasa aku makan bukan puding yang ada di kantin itu,karena biasanya mama akan membelikan aku puding di mall.


Kalau di sini mall kan jauh jadi lupakan saja.Lanjut Nindira dengan nada nelangsa.

__ADS_1


__ADS_2