Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 6


__ADS_3

"Kamu ada hubungan apa dengan Gus Faiz?"Pertanyaan dari Uztadzah Aisyah membuat Nindira susah untuk berfikir.


Ia memutar meremas bajunya seiring otaknya mencari jawaban apa yang akan ia berikan kepada kedua orang yang masih menunggunya untuk berbicara itu.


"Oh,jadi laki laki yang saya temui tadi itu adalah Gus Faiz?!Tanya Nindira berpura pura,seolah olah ia baru saja bertemu dengan Gus Faiz dan tidak tahu apapun tentang lelaki itu.


Nindira melanjutkan,apa dia yang membawa koper dan tas saya ke sini,jika memang benar saya harus mengucapkan terima kasih di saat bertemu nanti.


"Tidak usah,saya sudah khatam dengan maksud kamu,sikap kamu sama saja seperti para santri pengagum Gus Faiz di luar sana.Jangan harap kamu di sini bisa seenaknya saja bertemu dan berinteraksi dengan lawan jenismu,jangan pernah kamu samakan tempat ini dengan lingkungan kamu sebelumnya.sela Uztadzah Aisyah memperingati Nindira dengan ekspresi judesnya.


Hana sekarang tugas kamu untuk memberi tahukan tentang apa saja yang boleh di lakukan dan apa yang seharusnya tidak di lakukan selama ia menimba ilmu di sini.


Ucapnya lagi,kali ini dengan tatapan judesnya yang ia layangkan ke arah Hana.


Nindira mendacih dalam hati.


Tenyata sikap judesnya itu bukan ia layangkan kepada dirinya saja,tapi kepada semua yang ada di hadapannya ini.Seakan akan dirinya lah yang paling berkuasa di dalam pesantren dan yang paling bisa membuat keputusan.


Baik Uztadzah.Jawab Hana patuh.dia melakukan itu semua agar Uztadzah Aisyah tidak lagi berbicara yang pedas,Karana sekarang cabe agak naik.


Kalau begitu saya pergi dulu.


Kepergian Uztadzah Aisyah membuat Nindira bernafas lega.


Seolah dia baru saja bebas dari cengkraman harimau betina yang sudah di terkam tapi di lepaskan kembali.


Hana yang melihat tingkah dari teman barunya itu terkekeh geli,Sepertinya kamu takut sekali dengan Uztadzah Aisyah ya?Tebak Hana.


Nindira mengguk mantap dia tidak menutup nutupi jika dia dari mulai masuk di ruangan nya tadi sudah badannya sudah lemas tak bertenaga.


Emang kakak nggak takut sama dia? sahut Nindira balik bertanya.


Saya dulunya sama seperti kamu.Awalnya saya takut tapi lama kelamaan saya sudah terbiasa dengan sikapnya.Mungkinbkarena sudah terbiasa kali ya ke na semprot jadi nggak terlalu di masuk kan hati omongannya memang karekternya sangat keras.


Nindira memandang ngeri ke pada Hana yang menceritakan dirinya yang selalu kena semprot dari Uztadzah Aisyah dengan mimik yang begitu tenang.seakan tak ada beban dalam dirinya walau Uztadzah Aisyah sudah berbicara yang membuat telinga menjadi panas.


Bagaimana ia bisa setenang itu menghadapi macan betina yang seakan baru saja terlepas dari dalam kerangkeng.batin Nindira tak habis pikir.


Hanum menepuk sebelah pundaknya untuk menyadarkan Nindira dari lamunannya.yang seakan membayangkan betapa judes dan galaknya Uztadzah Aisyah selama ini.


Baiklah,jadi mulai sekarang,ini adalah kamarmu,ucap Hana sambil menunjukkan sekeliling kamar yang berukuran cukup luas jika hanya di tempati 5-6 sahabatnya.Ia membawa Nindira untuk berkeliling sambil menjelaskan peraturan peraturan tertulis dan tidak tertulis yang harus di ikuti oleh setiap santri yang sedang menimba ilmu di dalam pesantren ini.


sisa hari itu Nindira lewati dengan mendengar informasi informasi yang di sampaikan oleh Hana.sambil membereskan barang barangnya ke dalam lemari serta beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan di tinggali selama dia akan menimba ilmu di sini.


Kegiatan kegiatan yang Nindira jalani sebagai seorang santri baru membuatnya kaget setengah mati,Bagaimana tidak,ia sudah harus bangun ketika jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari untuk mengerjakan shalat malam dan setelah nya di sambung dengan tadarus sambil menunggu sholat subuh.


Nindira benar benar tidak tau jika hidupnya akan berubah sedratis ini.

__ADS_1


Dan berkat jadwal tidurnya yang berubah seratus delapan puluh persen,apa lagi di tambah kalau Nindira masih belum bisa menyesuaikan diri,alhasil Nindira tidur di saat jam pelajaran berlangsung.Dan hal itu yang membuatnya mendapatkan hukuman dari gurunya.Ia di hukum untu menyalin surah An-Naba beserta terjemahannya.Lengkap sudah batin Nindira.


Hukuman itu membuat Nindira mau tidak mau harus begadang sampai larut tengah malam sebelum terjatuh tertidur bersama lembaran kertas yang masih menunggu ia selesaikan,itu saja dia masih mendapatkan lembar yang ke 15 sebelum ia sudah tidak sanggup lagi menahan kelopak matanya untuk tetap terjaga.


Belum lagi aia harus bangun di sepertiga malam untuk melakukan kewajibannya,memikirkan semua yang dia harus jalani membuat Nindira menggeram frustasi dengan kehidupan yang di jalaninya sebagai santri di dalam ponpes.


'Gue bener bener udah nggak tahan lagi!"Nindira beberapa kali mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya,menyalurkan emosi yang terpendam yang dia alami di ponpes saat ini."dia benar benar frustasi.


Istighfar Ra,kamu ini kenapa?tanya teman satu kamarnya yang bertepatan di sebelah nya Nindira.Nisa yang sedang khusuk berdzikir seketika menoleh terkejut kepada temannya setelah mendengar teriakan Nindira yang sudah berhasil membuyarkan konsentrasinya.


"Gue bener bener nggak sanggup kalau terus terusan hidup kayak gini.Keluhnya masih dengan logat anak metropolitan nya,sembari mengusap wajahnya lagi.


sabar Ra,semua pasti ada prosesnya,tidak selamanya apa yang kita inginkan akan mudah untuk terwujud,semua butuh perjuangan,do'a,dan pengorbanan.Lama lama kamu nanti juga akan terbiasa dengan kehidupan baru yang kamu jalani sekarang ini.Nisa menepuk nepuk pundak Nindira berharap apa yang dia lakukan bisa membuatnya merasa lebih tenang dan nyaman.


"Iya lama lama gue bisa struk kalau hidup kayak gini terus"!.ujar Nindira lagi.


I"ni ada apa?kok ribut ribut?"


Suara yang Nindira kenali bagaikan suara malaikat yang sedang meniup kan sangkakalanya di akhir jaman,tiba tiba menyela pembicaraannya dengan Nisa.


Suara yang bagi Nindira dengan suara yang sama dengan pertanyaan yang akan di berikan oleh dua malaikat yang ada di dalam kubur itu kembali terdengar di telinga Nindira.Kamu kenapa Ra?


Nindira cepat cepat memperbaiki duduknya dan segera mendongak ke arah Uztadzah Aisyah yang saat ini sedang berdiri tegap di hadapan Nindira bagaikan seorang monster yang siap melahap habis musuhnya tanpa sisa.


Nindira menelan ludahnya kasar,tangannya meremas mukena bawahnya seolah olah hal itu bisa menetralkan rasa gugup yang ada pada dirinya.


Uztadzah Aisyah menaikan satu alisnya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Nindira sampaikan.Nindira segera memperjelas jawabannya lagi,


"Semenjak semalam kepala saya sakit dan perutku terasa sakit mual."


Kalau memang perutmu sakit kenapa kamu masih di sini,kenapa tidak segera untuk ke kamar mandi.


Dengan gerakan cepat,Nindira langsung berdiri dari duduknya,kalau begitu saya permisi dulu untuk ke kamar mandi dulu Uztadzah,ijin Nindira dengan mengayunkan langkah tercepatnya.


Dengan kekuatan penuh,Nindira bergegas keluar dari dalam masjid,bagi Nindira tidak akan pernah sulit untuk melintasi atau membelah untuk melewati puluhan santriwati di sana,karena yang lebih utama adalah dia sudah mengantongi izin dari Uztadzah macan betinanya.Apalgi posisinya yang dekat dengan pintu memudahkannya untuk segera keluar secepat kilat.Meninggalkan sumber ketakutannya di belakang.Siapa lagi kalau bukan Uztadzah Aisyah.


Nindira bergegas mencari tempat yang ia tuju yaitu kamar mandi.Tanpa di sadari ternyata ada sepasang mata yang diam diam mengawasinya dari arah belakangnya.


Siapa lagi kalau bukan suami nya yaitu Gus Faiz.Ternyata Gus Faiz melihatnya lari terburu buru untuk masuk ke dalam kamar mandi dan Faiz pun segera untuk mengikutinya.


Walaupun keyakinan Faiz sudah seratus persen bahwa yang masuk ke dalam kamar mandi perempuan itu adalah istri kecilnya,tapi Faiz tidak berani untuk datang dan langsung mengeceknya sendiri,walaupun dia tau saat ini yang berada di dalam hanya istri kecilnya saja tapi tetap saja Faiz tidak punya keberanian untuk masuk.


Nindira sebenarnya pergi ke mana sih?Katanya ke WC tapi kok gak pulang pulang dari tadi,ini sudah lebih dari setengah jam lho,ini anak bikin khawatir saja.Salah seorang santri bermonolog sembari lewat di dekat Gus Faiz dan menuju ke kamar mandi.


Dengan terburu buru Faiz pun mencegatnya,karna Faiz juga penasaran dengan apa yang sedang di lakukan istri kecilnya ini di dalam kamar mandi,kok sampai sedari tadi tidak muncul muncul.


Apa kamu temannya Nindira?

__ADS_1


Santri yang Faiz cegat itu lantas berhenti dan menoleh kaget ketika mendapati yang memanggilnya barusan adalah Gus Faiz.Calon imam bagi semua santri Wati yang ada di dalam pesantren ini,calon yang selama ini dia lantunkan namanya di setiap sepertiga malamnya yang sedang meminta jodoh.


I-Iya Gus,ada apa ya Gus? ujar Nisa dengan suara di buat halus dan sesantunbmungkin.


Saya lihat teman kamu itu masuk ke dalam toilet di sebalah sana,sudah setengah jam yang lalu,tapi sampai saat ini kok dia belum juga keluar dari sana,tolong kamu cek di dalam sana kenapa dia kok tidak keluar keluar dari tadi?pinta Faiz yang di balas dengan anggukan oleh Nisa.


Sebenarnya ada yang mengganjal di hati Nisa terkait dengan pernyataan Gus Faiznya barusan.tapu otaknya yang kadung ngeblank karena memikirkan sahabatnya Nindira jadi dia berusaha untuk mengabaikannya,dan Nisa langsung menuju ke tempat kamar mandi yang di tunjukkan Faiz tadi kepadanya.


Dan benar saja,ia menemukan Nindira di dalam sana tapi yang aneh,Nindira tidak sedang berada di dalam kamar mandi,tapi melainkan di balik salah satu bilik toilet dengan posisi duduk menggelepar di sudut toilet dengan menutup matanya,


"Nindira kamu kenapa?"


Nisa mengguncang tubuh Nindira agak keras tapi tidak ada balasan sama sekali darinya,Dia tetap memejamkan matanya rapat rapat.


Tanpa berpikir panjang,Nisa keluar dan langsung memanggil Faiz yang memang sejak tadi menunggu di luar toilet,walaupun posisinya agak jauh tapi Faiz masih bisa dengan jelas untuk melihatnya.


"Gus,teman saya Gus."Nisa melambaikan tangannya ke arah Faiz yang sedari tadi mengawasinya,Tanpa memikirkan apapun lagi ,Faiz menuju ke arah Nisa dengan setengah berlari.Jangan lupa Sarungnya di jaga Gus....


"Nindira kenapa"?


Nisa hanya bisa menunjuk ke arah Nindira yang sedang terkulai di dalam sana.


"S-saya juga nggak tau Gus." Kayaknya Nindira pingsan.Saya sedari tadi sudah berusaha untuk ngenyadarin dia tapi hasilny nihil Gus.Jawab Nisa.


Faiz ingin sekali mendekati istri kecilnya,ia ingin langsung mengecek keadaanya,tapi kemudian ia sadar akan perjanjian mereka untuk menyembunyikan hubungan mereka.Dengan terpaksa Faiz meminta Nisa untuk mengecek keadaan istrinya tersebut.


"Coba kamu cek sekali lagi"?


Pinta Faiz.


Nisa menurut dan kembali menggoyang goyangkan tubuh Nindira dan memanggilnya beberapa kali.


Nisa juga mengecek nafasnya,tapi nafasnya masih dengan ritme yang tenang dan teratur.


Dia masih bernafas Gus,tapi masih belum sadar sadar juga.Nisa berusaha menjelaskan kondisi temannya kepada Gus Faiz.


Ini gimana Guz,kita harus gimana sekarang?.


lanjutnya meminta Gus Faiz untuk segera mencari solusi.


Batin FaFaiz penuh dengan pertentangan,ia bisa saja menggendong istri kecilnya ini keluar dari tempat ini,karena ia tidak akan berdosa jika menyentuhnya karna dia sudah halal baginya.tapu di sisi lain ada janjinya yang harus ia tepati pada istri kecilnya tersebut


Ia harus bagaimana?


tolong kasih solusi ya.....


jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya....

__ADS_1


__ADS_2