Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 12


__ADS_3

Kecewa,itulah yang di rasakan Nindira saat ini,melihat sikap suaminya yang sangat dingin dan tidak peduli lagi kepadanya membuat dia hatinya merasa nyeri,walaupun semua itu atas permintaan gadis itu sendiri,tapi nyatanya setelah mendapatkan perlakuan yang seperti itu membuat hati Nindira sakit.


Tangannya mengepal kuat,menahan emosi yang menghantam dirinya.Perkataan perkataan yang pernah di lontarkan Faiz masih terngiang di dalam fikirannya.Dan saat itulah Nindira sadar jika apa yang pernah di sampaikan oleh sang suami hanyalah bualan semata,dan dirinya sudah bertekad untuk tidak hanyut lagi dalam bualan manis yang di berikan oleh laki laki yang sudah menjadi suaminya tersebut.


Dengan langkah gontai Nindira pun mengikuti Uztadzah Aisyah untuk menuju ke ruangannya.


Karena kurangnya bukti untuk bisa meringankan hukuman Nindira,Uztadzah Aisyah langsung saja menghadiahi dengan menuliskan istighfar sebanyak 3000 kali.Nindira pun pasrah dengan apa yang menjadi keputusan Uztadzah Aisyah terhadapnya.Baru satu bulan Nindira berada di pesantren,tapi sudah sering kali ia mendapi teguran dan hukuman dari gurunya,entah itu hukuman dari guru di kelas dan juga hukuman dari Uztadzah Aisyah.


Sabar Ra,masih banyak hukuman yang lebih berat dari pada ini,kamu harus bersyukur dengan hukuman yang di berikan Uztadzah Aisyah kepadamu,seenggaknya kamu tidak mendapatkan hukuman yang berat,yang bisa membuat kamu malu atau kepanasan.Hibur Nisa supaya Nindira tidak merasa terbebani dan akan lebih sabar dan ikhlas untuk menjalankan hukuman yang telah di berikan Uztadzah Aisyah kepadanya.


Nindira hanya diam saja tak mengatakan sepatah katapun ke pada Nisa,ia hanya melirik dongkol ke pada ranjang yang di tempati Sasa dan juga bela di mana mereka saat ini sedang tidur dengan nyenyaknya,tanpa ada rasa bersalahnya sama sekali.


Gara gara mereka aku harus mengerjakan tugas ini,dan menanggung malu ke pada Faiz.


Tunggu pembalasanku!seru Nindira dalam hati.


Nisa yang sudah tau duduk permasalahannya Nindira kenapa sampai ia dapat hukuman seperti ini,dan Nisa pun paham dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Nindira saat ini,apa lagi dengan Nindira yang mendelik ke arah Sasa dan Bela terus dari tadi.


Sudah kamu jangan memelihara dendam,sebaiknya kamu jauhi saja Sasa dan Bela. Dan jangan sekali kali lagi kamu percaya dengan apa yang di ucapkan oleh mereka.


Dia memang seperti itu,suka bikin masalah,apalagi kalau kamu ladeni dia malah akan semakin mengganggu kamu.


Gak Nisa,orang seperti mereka harus sekali kali dapat pelajaran,biar dia tau bagaimana rasanya di posisi aku,dan kalau memang dia punya rasa kapok berarti dia tidak akan pernah mengganggu orang lain lagi,gadis seperti mereka harus di beri pelajaran biar tidak semena mena,apalagi ke pada santri baru,sok jadi senior.


Bukan lah maksud aku untuk memelihara dendam tapi aku harus menyalurkan dendamku,enak saja dia berbuat seenaknya sendiri,dia belum tau aja dan belum ketemu aja sama lawannya.


Gadis itu menggenggam erat bolpoin yang berada di tangannya untuk menyalurkan emosi yang sudah ada di ubun ubinnya saat ini.


Nisa sudah tidak tau lagi dengan cara apa lagi harus menasehati sahabatnya ini.Karena sungguh sahabatnya ini ternyata juga keras kepala juga.Tapi kamu juga harus hati hati kepada mereka Ra,karena di semua santri di sini juga sudah pada tau dengan bagaimana keusilan Sasa dan Bela selama ini,jadi kami pun memilih untuk tidak mempunyai urusan dengan nya.


Baiklah,trimakasih atas nasehatmu sobat,jawab Nindira dengan seringai yang terbit dari bibir nya.


Bagi Nindira Sasa dan Bela harus mendapatkan ganjaran yang lebih.


Apalagi Nindira sampai merasa kehilangan muka dan kepercayaan di depan Faiz suaminya,dia malah akan mencari ide bagaimana caranya untuk membalas perbuatan mereka.


Nindira bukanlah Gadis penakut atau gadis yang bisa seenaknya mendapat perlakuan yang tidak mengenak kan oleh orang sekitar,prinsipnya selama dia memegang teguh kebenaran dan berjalan di kebenaran dia tak akan pernah gentar untuk menghadapi lawannya,jika saja dia sangat berani berdebat dengan Faiz,apalagi kalau cuma menghadapi cecurut seperti Sasa dan Bela.Bukan hal yang sulit baginya.

__ADS_1


Selesai dhuhur nanti kalian semua ikut kakak ke rumah Bu nyai,akan ada tamu dari pesantren Jawa Timur yang akan berkunjung ke sini,Ucap Hana memberikan informasi ke pada adik adik binaannya.


Jadi kakak harap jangan Samapi ada yang kabur nanti,karena jika kalian yang membikin ulah maka kakaklah yang akan menerima konsekwensinya.Ancamnya karna sudah tau betul karakter adik adik binaannya.


Tenang saja kak,jika urusan untuk datang ke rumahnya Bu nyai siapa sih yang bakalan bisa nolak,tanpa ada ancaman pun kami siap untuk membantu,dan di angguki oleh semua sahabatnya kecuali Nindira,Celetuk Sasa kepada Hana selaku kakak pembina.


Bahakan dalam hati mereka seakan ada acara koor bersama untuk mengucapkan syukur.Karena kamar merekalah yang di pilih oleh Uztadzah Aisyah untuk membantu menyiapkan segala sesuatu di rumah ndalem.


Bagi para santri putri bisa pergi ke rumah ndalem,sama dengan bisa ketemu sama sang idola mereka sosok pria yang selama ini di puja puja dalam hatinya,sosok pria yang selalu di sebut dalam setiap sujudnya,untuk bisa menjadi pendampingnya.Ya,pria itu tak lain adalah Gus Faiz sosok pria yang sangat di digandrungi di pesantren ini,tapi nyatanya mereka semua pada tidak tau jika Gus yang selama ini di impi impikan sudah mempunyai pendamping.Kalau mereka tau pasti akan patah hati massal.


Hana terkekeh geli melihat antusia yang di berikan oleh adik adik binaannya. Ya sudah,awas saja kalau nanti masih ada yang berani gak datang ya.


Dan benar saja setelah sholat duhur dan makan siang mereka berbondong bondong berjalan menuju rumah ndalem.Dan persiapannya pun juga sangat luar biasa,Nindira sampai di buat cengo dengan tingkah mereka.Jangan pasang ekspresi seperti itu Ra,biasa lah karna ini adalah hal jarang bagi kita untuk datang ke rumah ndalem apalagi di rumah ndalem pasti ada sosok Gus Faiz nanti,jadi mereka bakalan mempersiapkan semaksimal mungkin,ujar Nisa memberi penjelasan Nindira pun hanya begidik ngeri dengan aksi semua sahabatnya.


Nindira pun ikut berjalan dengan rombongan itu,walaupun dia sangat malas sekali untuk ke rumah ndalem tapi dia sudah tidak mempunyai pilihan lagi,mengingat kalau dia sampai tidak datang kak Hana lah yang akan mendapat hukuman,dan Nindira tak mau itu terjadi,dia tidak akan membebani orang lain dengan kesalahan yang ia buat.


Sesampainya di rumah ndalem mereka pun di bagi menjadi beberapa kelompok.


Ada yang bagian memasak,bersih bersih mengatur kursi dll.


Dan kebetulan Nindira ke pilih di timnya Uztadzah Aisyah karena yang memilih dia adalah ibu mertuanya.


"Nindira sini nak kamu bantu umi saja bersama Uztadzah Aisyah."Dan tidak akan ada yang berani membantah jika Umi nya langsung yang memilihnya.Nindira pun mengangguk lalu mendekat.


Iya Umi mana yang bisa saya bantu?tanya Nindira dengan nada sopan dan kalem.


Sasa dan Bela pun hanya memutar bolanya malas mendengar tutur kata yang di ucapakan Nindira ke pada Bu nyai nya,sebenarnya Uztadzah Aisyah pun juga mulai bertanya tanya kenapa Nindira memanggil Bu nyai dengan sebutan Umi saja,tanpa ada embel embel Bu nyai seperti yang lainnya,tapi semua itu di tahan oleh Uztadzah Aisyah karena baginya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya tentang hal itu.


Karena Umi paham jika Nindira kurang paham dengan masak memasak jadi beliau memberikan tugas untuk memotong sayur dan mengupas bawang.


Sedangkan dari arah berlawanan,Sasa dan Bela memandang Nindira remeh,dan celetukan sindiran pun langsung mampir ke telinganya Nindira.


Ra,kamu ini perempuan bukan sih,masak urusan memasak saja tidak pecus sama sekali,Celetuk Sasa


Sasa dan Bela memanglah harus berbangga hati karena dirinya lah yang di tugaskan oleh Ustadzah Aisyah untuk meracik bumbu yang akan di pergunakan untuk memasak nanti.


Dan menyajikan hidangan yang sempurna ke pada para tamu yang akan datang ke pesantren ini.

__ADS_1


Bel,coba deh garamnya kurang apa enggak,atau gulanya yang kurang?Ucap Sasa ke pada bela,karena saat ini yang berada di dapur hanyalah para santri saja,untuk para Uztadzah dan Bu nyai sudah pindah ke ruang depan untuk menyambut para tamu yang akan datang.


Udah enak kok!ya udah matiin kompornya daripada nanti malah gosong.Nati kalau udah agak dingin baru di tuang di dalam mangkuk.


Kamu jaga di sini aja ya Ra,kami mau ke depan dulu mau lihat yang lain sudah siap apa belum.Jangan di tinggal ke mana mana awas saja kalau sampai makanannya di makan kucing,Bela memberi tatapan ancaman yang di tujukan ke pada Nindira.


Ia kemudian berlalu meninggalkan dapur dan berjalan bersama Sasa dan beberapa teman yang lainnya.


Nindira hanya bisa menahan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya.


Melihat tingkah laku Sasa dan para antek anteknya itu,sebuah ide muncul di dalam otak kecilnya.Ia akan membuat Sasa dan Bela membayar semua perbuatan yang dia lakukan kepada Nindira tempo hari yang lalu.


Dengan langkah pelan dan memandangi sekitarnya,Nindira mendekati panci besar yang berisikan SOP yang akan di sajikan nanti ke pada tamu. dan dengan sombongnya Sasa dan Bela yang sangat menunjukkan keahliannya.


Nindira mengambil sebuah toples yang bertuliskan garam di tutupnya,membukanya dan menaburkan nya ke dalam panci yang berisi sup yang di bangga banggakan Sasa tadi kepada dirinya.


Nindira begidik ngeri membayangkan,bagaimana rasanya nanti saat menyuapkan ke dalam mulut mereka.


Dan betapa murkanya Uztadzah Aisyah ketika mencicipi masakan dari santri kesayangannya itu.


Nindira cepat cepat menjauh dari tempat itu sebelum Sasa dan Bela mengetahui kelakuannya.


Tebakan Nindira benar,Sasa dan Bela mendapatkan amukan yang sangat mengerikan dari Ustadzah Aisyah,Sup yang mereka makan mendapatkan komentar buruk dari para tamu yang memakannya,Uztadzah Aisyah dan Bu nyai pun hanya bisa meminta Maaf atas kejadian yang tak mengenakan ini.


Sehabis acara,seperti dugaannya Nindira.


Semua di sidang langsung oleh Uztadzah Aisyah dan sudah dapat di pastikan Sasa dan belalah yang paling banyak dapat semprotan bertubuh tubi dari Uztadzah Aisyah,karena dia lah yang di beri tugas untuk meracik masakan yang akan di hidangkan ke pada para tamu.


Bukan hanya Uztadzah Aisyah saja yang murka terhadap mereka semua tapi Bu nyai pun juga angkat bicara,karena kesembronoan mereka Bu nyai pun harus mendapatkan malu yang sangat luar biasa.


Melihat mertuanya yang ngamuk Nindira hanya bisa menelan ludah dan begidik ngeri.


Ternyata marahnya orang yang sangat ramah dan penuh dengan kelembutan itu berbeda,memang Bu nyai tidak sampai meledak ledak seperti Uztadzah Aisyah tapi marahnya beliau membuat suasana menjadi mencekam yang membuat siapapun begidik melihatnya.


Dengan tatapan yang dingin dan suara yang berat dan penuh wibawa tapi sungguh auranya sangat menyeramkan.Bu nyai memerintahkan untuk di hukum untuk mengerjakan piket membersihkan toilet dan masjid setiap pagi dan sore di tambah lagi dengan bermurojaah(yaitu setoran Juz 30) ke pada Uztadzah Aisyah.Selama satu Minggu sekali dan berakhir pada semester ke dua.


Alhamdulilah hari ini bisa update dua bab,itung itung mengganti yang kemarin karena telat up.trimakasih semua yang sudah mampir di novelku,author sangat membutuhkan dukungan dari pembaca semua,salam sayang........

__ADS_1


__ADS_2