
Sabtu malam atau yang biasa di sebut anak anak muda pada kalangan mulai dari kelas bawah hingga kelas atas adalah malam Minggu.
Malam yang biasanya anak muda mudi menghabiskan waktunya untuk sekedar nongkrong bareng teman atau keluarganya.
Tapi bagi Nindira setiap malam Minggu di pesantren adalah malam yang menentukan nasib dirinya.
Iya,setiap malam Minggu para santri wajib untuk menyetorkan hafalan surah ke pada Uztadzah Uztadzah yang bertugas.
Dan kebetulan malam ini yang bertugas untuk membimbing para santri untuk hafalan adalah Uztadzah Aisyah Singa yang siap menerkam musuhnya tanpa ampun.
Dan satu lagi Uztadzah Risa yang terkenal kalem,sabar tapi juga tegas.Beliau juga tidak bisa di remehkan dalam menghukum para santrinya.Uztadzah Risa aura kesadisannya memang tidak sesadis Uztadzah Aisyah tapi dalam memberi hukuman pada santrinya beliau juga tak segan segan.
Nindira saat ini sedang menunggu gilirannya untuk menyetorkan hasil jerih payahnya selama beberapa hari ini untuk menghafalkan 10 Surah.
Dan kebetulan pas giliran Nindira dia mendapatkan bimbingan dari Uztadzah Risa.
Nindira menarik nafas dan mengeluarkannya sedikit lega,paling tidak Nindira tidak akan menghadapi Uztadzah Aisyah yang sudah menjadi momok baginya.
Nindira menghadap Uztadzah Risa dengan mantap dan penuh keyakinan.Dia bertekad supaya ia tidak akan mendapatkan ejekan dari teman teman nya terutama dari Sasa yang sangat ingin sekali Nindira mendapatkan hukuman.
Seakan Sasa sangat bahagia sekali dengan melihat Nindira mendapatkan hukumannya.
Nindira tidak akan membiarkan dirinya lebih di permalukan lagi.Apa lagi mengingat hukuman yang di suruh keliling lapangan dengan bantal di atas kepalanya.Membayangkan saja Nindira sungguh tidak sanggup merasakan betapa malunya dirinya nanti.
Surah demi surah telah ia lafalkan di depan Uztadzah Risa.
Ia menghafal semuanya dengan tanpa lancar tanpa tersendat sendat dan dengan pelafalan yang sudah benar dan sudah di koreksi langsung sama Uztadzah Risa.
Hingga akhir hafalannya Nindira sudah menyelesaikan hafalannya.
Hingga ada dua santri yang ada di belakangnya datang di belakang Nindira untuk menunggu gilirannya.
Gus Faiz sudah pulang tadi sore,Nindira mendengar bisik bisik santri di belakangnya dengan samar samar.
Walaupun demikian Nindira sudah merasa lega karena sudah mendengar orang yang di tunggu beberapa hari ini sudah ada kabar.
Bersama seorang perempuan,Mungkin itu calonnya.
Nindira seketika langsung menoleh kan kepalanya ke pada ke dua santri itu tanpa memperdulikan Uztadzah Risa yang sedang memberikan tugas dan menjelaskan materi yang di berikan untuknya.
Uztadzah Risa langsung menegur Nindira karena kelakuannya.
Uztadzah Risa merasa jika Nindira tidak bisa menghargai keberadaannya.
Jadi beliau meminta Nindira langsung menghadap ke pada Uztadzah Aisyah untuk memberikan hukuman.
Kenapa kamu selalu membikin masalah sih Ra,kata Uztadzah Risa kepada Nindira.
Saya sampai kehabisan ide untuk memberi hukuman apa kepadamu.
Nindira hanya bisa menunduk dan meminta maaf kepada Uztadzah Risa.
Keesokan harinya pas menjelang sore sekitar pukul tiga,Nindira beserta teman temannya yang mendapatkan hukuman di kumpulkan di tengah lapangan.
Hukumannya adalah yang sama seperti Sasa katakan kepada dirinya tempo hari.
Tapi jika teman temannya ada bantal di atas kepalanya,sedangkan Nindira tidak ada bantalnya.
Lho kenapa kamu beda Ra,mana bantal kamu?tanya salah satu teman yang sama mendapatkan hukuman.
Nindira menghela nafasnya dengan lemah lalu menjawabnya.
Aku sebenarnya mendapatkan hukuman bukan karena tidak bisa menghafal kan surah surah yang aku setorkan ke pada Uztadzah Risa tapi---setelah menggantungkan ucapannya Nindira tersenyum kecut kenapa dirinya sampai mendapatkan hukuman lagi hari ini.
Biasalah aku membuat kesalahan.Lanjut Nindira menjawab pertanyaan temannya tadi dengan cengiran.
Pada akhirnya Nindira hanya bisa menerima hukuman yang di berikan Uztadzah Risa kepadanya.
Ayo berjalan keliling lapangan,bagi yang belum hafal surah kalian lanjutkan keliling sambil hafalan dan untuk kamu Nindira kamu juga keliling dengan mengucapkan istighfar.
Nindira dan teman yang senasibnya mulai melaksanakan hukuman yang telah di berikan Uztadzah Risa terhadap mereka.
__ADS_1
Eh,kok jalannya kayak siput gitu lari dong?!Sasa berteriak dari pinggir lapangan.
Nindira berusaha tidak menghiraukan keberadaannya.
Walaupun Nindira yakin Sasa tau penyebab dia mendapat kan hukuman ini bukan karena tidak bisa menghafal surah,tapi melihat Nindira yang mendapatkan hukuman pasti Sasa akan sangat puas karena melihat Nindira mendapatkan hukuman lagi dan lagi.
Udah yuk nggak usah ngurusin si Nindira,mending kita cari info siapa perempuan yang di ajak pulang kemarin sama Gus Faiz.
Samar samar Nindira mendengarkan perbincangan mereka.
Nindira kembali teringat,kenapa ia sampai bisa mendapatkan hukuman seperti ini itu gara gara si Faiz dan perempuan yang entah siapa yang bersamanya.
Nindira juga tidak faham pada dirinya sendiri,kenapa jika menyangkut Faiz dia mendapatkan pengaruh yang sangat luar biasa.Yang terkadang bisa membuat dia marah bahagia jengkel,dll.
Nindira lagi lagi menghela nafasnya.
Kenapa harus seperti ini,apa aku sudah ada rasa sama Faiz?tapi pertanyaan itu langsung di tepis nya.
Tidak tidak aku tidak boleh mempunyai perasaan sama dia.
Nindira sambil menggeleng kepalanya pelan berusaha sekuat hati jika ia memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap laki laki yang sudah menyandang status sebagai suaminya tersebut.
Setelah selesai menjalankan hukuman yang di berikan kepadanya.
Nindira berjalan kepada Uztadzah Risa untuk melaporkan jika ia sudah selesai,dan sekali lagi dia akan mengucapkan maaf atas perbuatan nya yang menurut Uztadzah Risa itu tidak sopan.
Assalam mu'alaikum Uztadzah,Nindira mengucapkan salam dengan sesantun mungkin kepada Uztadzah Risa.
Waalaikum salam,Uztadzah Risa mendongak menatap ke pada Nindira.
Ada apa Nindira?apa kamu sudah selesai dengan hukuman kamu?Tanya Uztadzah Risa.
Iya sudah Uztadzah,saya kesini mau meminta maaf kepada Uztadzah,Karana saya tidak sengaja jika perbuatan saya sangat menyinggung Uztadzah.
Assalam mu'alaikum,samar samar Nindira mendengar suara yang beberapa hari ini telah mengganggu pikirannya.
Ya,Nindira mendengar suara suaminya yang telah ke ruangan sebelah nya untuk menemui Uztadzah Aisyah.
Nindira semakin menunduk kan kepalanya di saat suaminya menyampaikan jika kedatangannya menemui Uztadzah Aisyah yaitu untuk mengenalkannya dengan perempuan yang ia bawa pulang kemarin.
Sampai sebuah nama terlontar dari mulut suaminya."Kholifah" yang biasa di sebut dengan IFA.
Setelah Uztadzah Risa menyelesaikan apa yang perlu ia sampaikan.
Nindira pamit keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan.
Di luar dia berpapasan dengan suaminya,Nindira memandangnya dengan tatapan sendu dan seakan banyak mengandung pertanyaan.
Tapi sayangnya Faiz tidak memperdulikan keberadaan Nindira di hadapannya.
Faiz meninggalkan Nindira di depan ruangan Uztadzah Risa.
Nindira berjalan gontai memasuki kamarnya.
Usai belajar malam di kelas sebagai seorang santri baru yang masih harus mempelajari banyak hal.
Kegiatan Nindira lebih padat jika di bandingkan dengan teman satu kamarnya karena mereka sudah menjadi santri senior di pesantren ini.
Nindira membuka pintu kamarnya dengan mengucapkan salam,dan ketika melihat teman temannya ternyata mereka sedang duduk melingkar.
Seketika Nindira langsung bertanya.
"Ani pada ngapain?"
Sasa membawa berita yang lagi viral di pesantren beberapa hari ini.
Berita apa yang sampai begitu hebohnya para teman temannya ini,batin Nindira.
Hanya Nindi yang menjawab pertanyaan dari Nindira sedangkan yang lain tak ada yang memperdulikannya dan hanya fokus kepada Sasa.
Dengan rasa penasaran nya juga Nindira akhirnya juga ikut bergabung di dalam lingkaran yang telah di buat teman temannya.
__ADS_1
Jadi aku sudah mendapatkan informasi sedetail detailnya tentang seorang wanita yang di bawa pulang oleh Gus Faiz kemarin.
Semua mata dan perhatian semakin menuju ke pada Sasa,apa lagi ini adalah berita yang baginya sangat mereka nanti nantikan.
Infonya valid nggak?tanya Nisa memastikan.
Jelas valid lah,lha wong Uztadzah Aisyah sendiri kok yang cerita.
Jadi siapa perempuan itu? Nindi mendesak Sasa untuk segera memberi tahu mereka.
Dengan sangat antusias Sasa memulai memberikan info yang di dapatnya.
Namanya Kholifa yang bisa di panggil dengan IFA.
Seluruh penghuni kamar manggut manggut mendengarkan informasi pertama yang mereka dengar.
Terus dia siapa nya Gus Faiz?Nindi terus mendesak Sasa untuk segera menyelesaikan infonya lagi
Dia adalah salah satu anak dari sahabatnya Abi nya Gus Faiz,Mbak IFA juga sudah menyandang Hafidza di usianya yang terbilang masih muda,Mbak IFA di sini bertujuan untuk melengkapi KKN nya sebagai tugas mahasiswa akhir.Apa lagi Mbak Ifa nanti setelah menyelesaikan kuliah S1 nya dia akan melanjutkan kuliahnya di Cairo itupun dengan mendapatkan beasiswa prestasi.
Dan katanya lagi orang tuanya nya Gus Faiz Dan orang tuanya mbak Ifa akan menjodohkan mereka.
Secara kan Gus Faiz juga sedang kuliah di Cairo jadi sekalian supaya Mbak IFA ada yang menjaganya.
Helaan nafas tanda kecewa terdengar di dalam kamar itu.
Mengetahui kalau Gus yang mereka idam idamkan selama ini akan segera menikah.
Nindira tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Bagaimana mungkin mereka akan menikah,jika Faiz saja sudah menjadi suaminya.
Apa Faiz mau poligami? pertanyaan itu langsung menyergap otak Nindira.
Nindi menggerang kesal.
Ya,kok gitu sih.Kenapa harus nikah cepet cepet sih,beneran aku masih belum ikhlas deh kalau kayak gini ceritanya.
Sasa kembali melanjutkan ceritanya.
Kalau aku sih nggak masalah,apa lagi calonnya mbak Ifa yang jelas sudah sangat sempurna menjadi calon istri nya Gus Faiz.
Ketimbang calonnya seperti Nindira?!
Udah Bolot,ngeselin emosian,ceroboh dan juga ngak cantik cantik amat.Baru aku nggak ridho dunia akhirat.
Nindira melotot memandang Sasa yang membawa bawa nama nya apalagi juga sampai membandingkannya.
Bela dan juga yang lain tertawa dan mengangguk setuju mendengar ucapan Sasa.
Iya juga sih,mbak Ifa sama Gus Faiz kalau di lihat lihat memang serasi banget.
Terus kalau serasi kenapa?tapi nggak usah bawa bawa nama ku segala.Bentak Nindira yang sudah terlanjur kesal dengan perkataan Sasa yang seakan menodongkan pistolnya kepada kepala Nindira.
Gak usah sensi deh,kita cuma ngasih contoh aja,dan kebetulan di kamar ini hanya kamu yang pantas dan cocok untuk menjadi bahan perbandingan.
Kenapa bukan kamu aja,sedangkan apa yang kamu katakan tadi itu juga menjurus kepadamu.
Ya tapi setidaknya aku punya dasar pengetahuan agama dan hafalan Al-Qur'an yang lebih banyak Tinimbang kamu.Sasa kembali membalas Nindira.
Bela ikut menimpali,Sasa Benar,di banding semua orang yang berada di kamar ini kamulah yang bakal cocok untuk bersanding dengan Gus Faiz yang begitu sempurna.
Semua perkataan yang mereka ucapkan bagaikan pisau yang menyayat nyayat hatinya.
Nindira bangkit dari duduknya langsung pergi meninggalkan lingkaran teman temannya.
Menyelamatkan harga dirinya sebelum semakin di injak injak oleh semua teman temannya.
Apa dirinya memang sebegitu buruknya di mata teman temannya.
Dan begitu buruknya kah dia jika bersanding dengan seorang dari anak pimpinan pondok yang memang begitu sempurna di mata santri putri yang berada di pesantren ini?
__ADS_1
Alhamdulilah sudah di Bab 20.Semoga para raedraes masih setia menunggu kelanjutan dari cerita ini.
Dan terus dukung,dengan koment like dan bolehlah di kasih bonus😁😁untuk menambah penyemangat.Trimakasih....