Uztad Tampan Itu Suamiku

Uztad Tampan Itu Suamiku
Bab 9


__ADS_3

Nindira mengusap wajahnya kasar.,Ya,mana ku tahu tanya aja sama orangnya langsung jika kamu merasa penasaran.Nindira benar benar gemes sama sahabat satunya ini.


Is,mana berani aku berani tanya hal seperti itu pada beliau?


Ya sudah kalau gak berani simpan saja rasa penasaranmu itu sendiri jangan kau tanyakan sama aku,karena aku pun nggak tahu jawabannya.


Nisa berdecak sendiri,dasar kamu tu nggak seru banget sih di ajak ngegosip.


Nindira bikin benar benar di buat cengo sama sahabat satunya ini,yang bener aja dia di ajak ngegosip,apa lagi yang di buat bahan suaminya sendiri,ya mana mau Nindira,ternyata perempuan sama aja di kalangan bawah,atas,dan di lingkungan pesantren dan di luar pesantren ternyata ngegosip masih jadi kegemarannya,sungguh pusing kepala Nindira saat ini.


Diam diam Nisa masih memikirkan hal yang tadi,ia benar benar tidak percaya kalau Gus Faiz berada di sana karena sebuah kebetulan saja.Ia harus mencari tau hal ini,apa Gus Faiz dan Nindira sebenarnya saling kenal?seperti yang temannya tadi katakan,Ia baru saja di sini.Lalu bagaimana Gus Faiz tau nama Nindira kalau keduanya tidak saling mengenal sebelumnya.Tingkah Nindira juga sangat mencurigakan,Ia enggan membahas Gus Faiz dengannya,padahal topik Gusnya ini adalah topik yang paling santri putri sukai saat di bahas.Nisa benar benar nekat pingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.Karena filing Nisa mengatakan jika ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua.


Nisa sudah beberapa waktu lalu pamit meninggalkan Nindira di dalam Poskes untuk mengikuti jadwal pembelajaran berikutnya.Nindira sendiri setelah sepeninggalan sahabatnya ia lebih memilih untuk memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat dan terbangun beberapa jam setelah itu.Gadis tersebut kemudian memilih untuk meninggalkan Poskes dan kembali lagi ke kamar yang di tempatnya beberapa hari di sini.Tujuannya karena Nindira sudah merasa badannya lengket semua,jadi dia ingin segera mandi dan melakukan kegiatan selanjutnya.


Sesampainya di kamar dia berpapasan dengan dua teman sekamarnya,Nindira pun menyapa dengan senyuman tipis di bibirnya tapi anehnya sahabatnya malah membalas dengan tatapan gugup tanpa ada senyuman sedikitpun ke pada Nindira.Dan langsung meninggalkan Nindira dengan langkah terburu buru.


Nindira samar samar mencium aroma parfum yang menguar dari tubuh mereka berdua,aroma yang sama yang setiap hari dia pakai,Aroma parfum kesukaannya.Tentu saja Nindira hafal betul dengan aroma parfumnya,karna parfumnya bukanlah parfum yang di jual di toko maupun di pasar,melainkan parfum mahal dan hanya orang orang yang berkelas yang biasanya memakai parfum ini,selain harganya yang mehong,belinnya pun tidak di sembarangan tempat.


Pikirannya sudah tertuju ke arah situ,tapi dia mencoba untuk menepis segala praduganya.Nindira masih mencoba berpikir yang positif.


Tapi untuk memastikan dugaannya dia langsung melangkahkan kakinya ke depan lemari yang di gunakan nya untuk menyimpan semua barang barangnya.


Dan benar saja,baju,buku,alat alat tulis bedak dan parfumnya sudah berantakan sekali.Seemua sudah berpindah tempat dari asalnya,tentu saja itu membuat Nindira menjadi sangat kesel dan bikin dia emosi.Satu hal yang nggak bisa di telolir yaitu ada seseorang yang mengusik barangnya tanpa seizinnya.Dia bukan lah gadis yang pelit yang susah untuk berbagi sama temannya,tapi kalau temannya bicara dengan baik baik pasti Nindira akan berusaha memberikan apa yang mereka butuhkan selama Nindira masih mampu pasti dia akan membantunya,Tapi sekarang tanpa izin tanpa basa basi,temannya langsung mengacak acak semua isi lemarinya apalagi Nindira mendapati sesuatu yang menurutnya berharga yang sudah tidak lagi di tempat asalnya,dan itu yang bikin Nindira akan membikin perhitungan kepada kedua sahabatnya tadi.


Tapi sebelum dia bikin perhitungan kepada kedua sahabatnya tadi Nindira berusaha menekan semua emosi yang sudah di puncak kepala itu,dia lebih memilih untuk segera mandi,karena sungguh badannya sudah sangatlah lengket semua.Dan setelah itu dia harus bersiap siap dengan kegiatannya selanjutnya.


Nindira menyelesaikan mandinya 10 menit kemudian.Walaupun tidak antri tapi dia di tuntut untuk disiplin waktu,jadi semua kegiatannya tidak boleh lama lama atau semaunya sendiri.


Baru membuka pintu kamar mandi,Nindira langsung di todong dengan pertanyaan dari sahabat sahabat lainnya.Terutama dari Hana kakak pembinanya.


"Nindira kamu sudah balik dari Poskes,gimana keadaanmu sekarang,maaf tadi nggak sempat jenguk kamu di sana,"


Alhamdulilah,sudah kak nggak papa trimakasih sudah mengkhawatirkan saya.Jawab kalem Nindira.

__ADS_1


Ya sudah kalau gitu saya duluan ya kak,pamit Nindira kepada Hana.


Iya,hati hati,pesan dari Hana kepada Nindira yang hanya dapat anggukan saja.


Setelah sampai kamar Nindira bertujuan ingin merapikan dirinya yang tentu saja mengambil peralatannya di dalam lemari,dan seketika itulah dia teringat dengan kejadian tadi,di mana lemarinya sangat acak acakan dan Niat nya untuk memberi perhitungan pun sudah terpatri di dalam hati kecilnya,dan jangan harap Nindira takut akan hal apapun apalagi dia merasa di pihak yang benar.


Jam sudah menunjuk kan pukul 08.00 dan itu artinya Nindira harus berangkat ke kelas untuk menerima pembelajaran seperti siswa yang lainnya.Sesampai kelas tatapannya langsung tertuju ke pada kedua sahabatnya yang sudah mengacak acak lemarinya kemarin.Nindira pun langsung menghampiri mereka berdua tanpa basa basi lagi,apa lagi apa yang menjadi tujuannya sudah berada tepat di tangannya,ya kemarin Sasa dan bela nama kedua sahabatnya yang telah mengacak acak lemarinya itu sudah mengambil salah satu bulpoin kesayangan Nindira apa lagi bulpoinnya itu adalah pemberian dari cowok yang sangat ia harapkan untuk menjadi pendampingnya,dan itu juga yang menjadi salah satu alasan kenapa Nindira ingin segera mengakhiri hubungannya dengan faiz,jelas saja dia sengat emosi dengan kelancangannya Sasa dan bela.


Kembalikan pulpenku Nindira berucap dingin dan tegas.


Kedua gadis yang sedang berbincang itu mendongak menatap wajah Nindira.


Enak saja ini pulpen punya saya tau!Balas Sasa cuek.ia kemudian menyembunyikan pulpen itu kedalam buku catatannya.


Dengan gerakan kasar Nindira merebut buku catatan Sasa dan mengambil pulpen kesayangan nya tersebut.


Jelas jelas di sini tertulis Nama NINDIRA dia menekankan nama yang sudah tersematkan di pulpen tersebut.Dan sontak suasana menjadi sangat tegang,semua mata tertuju ke pada mereka bertiga.Dan Sasa pun mencoba untuk memastikan apa yang telah di sampaikan oleh Nindira itu benar apa salah,tapi ternyata apa yang di ucapkan nya benar adanya ,ada sebuah Nama di pulpen itu dengan nama Nindira.


Seketika semua jadi bisik bisik yang membuat Sasa dan bela galagapan.Mereka tidak bisa menuduh keduanya sebagai pencuri.


Dasar gadis sombong,kita hanya meminjam barang kamu,ini tuh hal yang lumrah buat para santri,di sini meminjam satu sama lain.Gak usah menuduh kami mencuri.Balas Sasa membentak Nindira.


Kita cuman ngetes kamu sebagai santri junior di sini,ternyata begini sikap kamu.Dasar gadis sombong.Timpal Bela tak terima.


Nindira menggebrak meja.


Kalian punya otak tidak sih?yang kalian lakukan itu bukan meminjam tapi mencuri.Mana ada meminjam tapi tak izin pada yang punya.


"Siapa yang mencuri?"


Nindira,Sasa dan Bela langsung menoleh ke pada asal suara yang ternyata mereka mendapati Ustadzah Risa yang sudah berdiri di dekat mereka.


"Jawab siapa yang mencuri?"

__ADS_1


Nindira menuduh kami mencuri Uztadzah.


Nindira mendelik kesal ke arah Sasa yang menjawab dengan tanpa rasa bersalah.


"Saya tidak menuduh Uztadzah.Mereka mengambil pulpen saya tanpa ijin dan mereka juga mengacak acak lemari saya dan juga memakai parfum saya kemarin.Dan apakah meminjam sudah berubah menjadi definisi seperti mengambil barang orang lain tanpa meminta terlebih dahulu.Saya kira Uztadzah lebih paham tentang ini.


Uztadzah Risa sejenak terdiam,pandangannya teralih kepada kedua gadis yang sedang menunduk tidak berani menatapnya itu.


Benar apa yang di katakan Nindira?kalian sudah mengambil barangnya tanpa ijin dari dia?


Pertanyaan dari Uztadzah Risa tak kunjung mendapatkan jawaban dari keduanya.


Lihat mereka tidak bisa menjawab,jangankan untuk menjawab,untuk mengangkat kepalanya saja dia bahkan tak berani.ejek Nindira.


Eh,itu hanya sebuah pulpen.Kamu terlalu membesar besarkan masalah.Ucap Sasa masih tak terima.


Nindira menatap Uztadzah Risa,apa mengambil tanpa izin sebuah barang barang kecil seperti ini tidak bisa di kategorikan sebagai tindakan mencuri Uztadzah?Tanya Nindira kemudian.


Sasa,Bela apa yang kalian lakukan ini adalah perbuatan yang tidak benar,sekecil apapun dan sepele apapun barang yang kalian ambil,kalau itu bukan lah hal kalian,itu tetap mencuri namanya.Apa kalian mau sebuah pulpen yang kamu ambil itu mengantarkan kalian ke neraka?


Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala dan menunduk dalam dalam.


Sekarang ikut Uztadzah ke ruangan Uztadzah Aisyah biar beliau yang memberikan hukuman kepada kalian.


Nindira memandang puas ke pada kedua gadis di depannya itu,apa lagi dia mendengar sendiri kalau Uztadzah Aisyah yang akan memberikan hukuman kepada mereka,Nindira begitu puas karena dia yakin kalau Uztadzah Aisyah akan memberikan hukuman yang pantas ke pada mereka karena notabennya adalah Uztadzah Aisyah adalah Uztadzah paling killer di pesantren Putri ini.


Keduanya kemudian di bawa oleh Uztadzah Risa menuju kantor pembina.Sasa dan Bela kini melihat Nindira yang kini bisa tertawa puas dengan penuh dendam.


Tunggu saja pembalasanku,batin keduanya sebelum berlalu pergi dari sana.


Jangan lupa selalu tinggalkan jejak ya....


trimakasih.........

__ADS_1


__ADS_2