
Melisha Putri ayu Sastrawirdjoyo (Meli)
seorang putri konglomerat yang kehidupan nya selalu bergerimang harta sejak ia duduk di bangku SD kelas 4. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Mahendra Arif Setya Sastrawirdjoyo (Hendra) dan ia juga mempunyai seorang adik perempuan bernama Maharani ayu sastrawirdjoyo (Rani).
Setelah sepeninggalan sang mama saat ia
duduk di bangku SD kelas 5. Saat itu ia masih kecil unuk mengetahui alasan mengapa sang mama pergi begitu cepat meninggalkan ia, kaka serta adik kecil nya yang ketika itu berusia 6 tahun atau duduk di bangku kelas 1 SD. Melisha sangat terpukul atas kepergian sang mama, namun berkat semangat dari kaka dan adiknya ia dapat melanjutkan hidup dengan baik sampai usianya menginjak 20 tahun.
Meli berwajah manis, rambutnya sebahu
lurus serta halus, mata nya yang cukup besar, hidung mungilnya yang menjadikan nya terlihat imut dan tak lupa pipi chubby yang ia miliki, sebenarnya pipinya tidak chubby banget hanya saja berisi, hal ini menambah kesan imut pada diri Meli.
Oktober, 2021
Jam menunjukan pukul 13.00, kelas
ekonomi bisnis telah selesai....
“Woyyy!!”ucap Doni seraya menepuk pundak
Meli, meli yang sudah hafal akan tingkah laku sahabatnya tersebut hanya bisa mendengus pelan.
“Bisa gak sih kalo mau nyapa itu baik-baik”ujar Meli seraya memasukkan sebuah buku kedalam tas nya.
“Heyy guysss, welcome back to me”sapa
Gia dengan gayanya yang seperti sedang nge-vlog. Gia salah satu teman setia
Meli sejak kelas satu SMA. Rambutnya yang pendek sebahu dan sedikit keriting
membuat nya mennjadi lebih menarik, Gia orang yang baik, dia mendapat beasiswa untuk kuliah diuniversitas yang sama dengan Meli, dia selalu mendukung Meli dalam keadaan apapun itu.
“Tuh kan, mending guwe mel daripada nih
makhluk satu”ujar Dony yang hanya mendapatkan anggukan dari Melisa.
“Heh, makan yukk laper gue”ajak Dony
seraya mengelus perutnya yang memang lapar karena jam Pak Tito yang telah
menyerap semua cadangan makannya dengan tugas yang diberikan.
“Okee, let’s gooow” mereka pun berjalan
bersama menuju kantin.
*****
“Eyyy, ada tuan putri”ucap selly saingan
Meli di kampus. Wajahnya cantik sih tapi menurut kebanyakan orang termasuk Meli
and friends pipi nya terlalu kurus (tirus) jadinya beberapa tulang wajah nya
terlihat, ah tapi itu gak penting sih, dia anak yang paling rese sama Meli di kampus. Dia suka sama Daniel, seorang anak konglomerat seperti Meli, ayahnya pimpinan sekaligus yang mempunyai OVE Group, perusahaan yang bergerak di bidang makanan.
Dia selalu merasa tersaingi oleh Meli, karena menurut kabar yang beredar di kampus Daniel dan Meli sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, yaa gak jauh-jauh sih tujuannya untuk memper-erat hubungan perusahaan keduanya. Tapi Meli sama sekali gak ada perasaan suka sama Daniel, karena Daniel mempunyai sifat sombong, salah satu sifat yang tidak disukai oleh Meli.
“Eh kutu, ngapain siih lu ganggu tau
gak” balas Dony dengan pandangan tak suka kepada Selly.
“Eh, gue tuh gak ngomong sama lo ya
gentong”
“Eh mending gua gentong keisi, lah elu
tengkorak yang berbalut kulit hahahaha”
“Eh lo tuh nora banget yaa, ini tuh
tubuh model, Lang-Sing “ ujar Sellly memberi penekanan saat mengatakan
‘langsing’, hal itu sontak membuat Gia dan Dony tertawa sedangkan Meli tersenyum tipis seraya mengetik tugas di laptopnya tanpa menghiraukan kehadiran Selly.
“Mana ada model kurang gizi chuuy” ucap
Gia masih dengan sisa-sisa tawanya.
“Iishhh, dasar norak” balas Selly dengan
hati panas, kemudian ia beralih ke Meli yang masih fokus dengan layar laptopnya. “Eh Meli, gue tau lo anak orang kaya tapi kenapa sih lu mau temenan sama mereka yang udah jelas gak sekelas sama lo, norak lagi” ujar Selly dengan sesekali melirik ke arah Gia dan Dony yang sedang fokus dengan Handphone nya masing-masing.
“Terus gua harus temenan sama siapa?,
elu?, mending gua sendirian dari pada temenan sama lu”jawab Meli dengan
tersenyum miring.
“Wahh, lo tau kan gue siapa ?” pertanyaan Selly mendapat gelengan dari Meli dan suara tawa dari Gia dan Dony. “Meli, gue ingetin sekali lagi sama lo ya, jangan pernah lo deketin Daniel, karena Daniel bakalan jadi tunangan gue”ucap Selly dengan nada marah.
“Gua deketin Daniel?, apa gak sial gua
deketin orang sombong kayak dia, medinglah kalo pinter, semester aja
diulang-ulang “jawab Meli sekilas melihat ke arah Selly dan kemudian kembali menatap layar laptop nya.
“Yang penting dia ganteng udah gitu jago
main basket, calon pewaris tahta OVE Group”
“Apa mungkin seseorang kerja tanpa
gaji?”ujar Meli membuat Selly bingung
“Apaan sih maksudnya”
“Itu... sama aja kayak lu kuliah tapi
gak dapet gelar, sia-sia”jawab Meli seraya merapihkan barang-barang nya yang ada di meja.
“Kita pindah tempat, yu”ajak Meli dan disetujui oleh kedua sahabatnya.
Gia menarik Selly untuk duduk di bangku
bekas dirinya dan kemudian Dony memegang pundak Selly. “Makan yang banyak, biar gak kasian gua liatnya hahahah”.
****
Setelah pergi dari kantin kampus, Meli
memutuskan untuk makan direstoran jepang yang ada di mall dekat dengan kampusnya. Mereka pun langsung memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Seperti biasa Meli hanya memesan udon dan lemon tea untuk makan siang nya, Gia memesan satu set sushi dan jus alpukat dan Dony memesan ramen, satu set sushi, satu porsi dimsum ayam, air mineral dan milkshake.
Porsi makan Dony memang banyak, tetapi
ia tidak segemuk yang dikira. Dony memiliki tinggi 185 cm dan berat badan 80 Kg, ini masih termasuk normal sebenarnya karena tubuh nya sangat tinggi, jauh berbeda jika dibandingkan dengan Gia dan Meli. Gia memilliki tinggi badan 165 cm dengan berat badan 57 kg dan Meli 163 cm dengan berat badan 52 kg. Cukup jauh memang namun itu bukanlah masalah.
Setelah makanan mereka diantar, mereka
langsung menyantap makanan tersebut dengan tenang dan sedikit berbincang ringan
mengenai kuliah yang mereka hadapi.
“Chuy, kalo gua jadi youtuber gimana
ya?”tanya Gia yang telah menghabiskan satu set sushi yang ia pesan.
“yaa gak gimana-gimana gi”jawab Meli
dengan tenang seraya merapihkan bagian meja nya yang terkena kuah udon.
“Jangan Gi”jawab Dony yang masih melahap
sushi nya dengan sangat lahap
“Lahh, kenapa emang, Gua kan shantikk,
berbakat, baik, pinter..”
“Stoopp, hentikan adinda aku sudah tidak
tahan lagi padamu”ujar Dony seraya mengelap mulutnya setelah selesai makan.
“Ada apa kakanda?”tanya Gia dengan waut
wajah seakan-akan mereka sedang bermain film.
“Hentikan semua ke-bullshitan mu, aku
muak”jawab Dony dengan gayanya yang kocak, meniru seorang raja ketika marah, Meli yang melihat hanya tertawa.
“Bullshitt” pekik Gia seraya mencubit
paha miliki Dony sehingga dony merasa kesakitan sekaligus geli.
“Hahaha, udah, Aww sakit gii, iya iya
sorry”Dony meminta ampun kepada Gia tapi tak dihiraukan.
Kebersamaan mereka bertiga tidak habis
sampai di restoran jepang saja,setelah rampung mereka berjalan-jalan di sekitar
mall untuk refreshing pikiran.
****
Di lain tempat, tepatnya di ssebuah
ruangan bagian dari Pusdikpengmilum (Pusat Pendidikan Pengtahuan Militer Umum)
Kodiklat TNI-AD sedang diadakan proses belajar mengajar bahasa Jerman yang memang dibuka oleh Pusdikpengmilum Kodiklat TNI-AD untuk para TNI yang ingin
belajar bahasa jerman agar menambah ilmu supaya dapat berbagi kepada lainnya. Tidak
hanya bahasa Jerman, ada juga bahasa Mandarin dan Arab.
“Ray, kamu sudah menghapal pelajaran
kemarin ?”Tanya seorang pria berbadan besar, berparas tampan dan tinggi kepada
teman yang ada di sebelah kanan nya dengan logat nya yang medok jawa.
“Insyaallah, sudah Mas”jawab Ray,
seorang lulusan Akademi Militer yang kini bertugas di Kaveleri 1/Badak Ceta
Cakti atau Yon Kav 1/Tank yang bertempat di Cijantung, Jakarta Timur.
Rayan Dwi Hardianto (Ray) adalah seorang
Tentara Nasional Indonesia berpangkat Letda Kav(Letnan Dua Kaveleri) berumur 25 Tahun. Ia telah menempuh pendidikan nya di Akademi Militer 1 tahun lalu. Rayan
dikenal memiliki karakter yang bagus ia bertanggung jawab, sopan, cerdas dan masih banyak lagi. Selain itu dia juga memiliki paras yang amat manis, kulitnya sawo matang, hidung nya mancung, badan atletis dan juga tinggi, tinggi badannya mencapai 188 cm dengan berat badan sekitar 73 kg.
Saat ini ia sedang menjalani pendidikan
__ADS_1
bahasa Jerman di Cimahi, Bandung, ia bersama dengan kaka tingkat sekaligus
sepupu nya, Fadli (Fad). Mereka berdua memang terkenal dekat bahkan saat Rayan
mesih menjalani pendidikan di Akmil, Fadli lah kaka tingkat nya dan sudah menjadi keluarga bagi Rayan, jarak usia mereka berdua terpaut hanya 2 tahun.
“Waduhhh, aku belum-e, piye iki”ucap mas
Fad dengan raut wajah yang bingung sekaligus takut karena ia belum hafal kosa
kata yang telah dipelajari minggu lalu.
“Piye toh mas, kan sudah saya ingetin
toh dari kemarin-kemarin, kata mas tenang-tenang, yaa saya pikir mas sudah
hapal”Ray menjawab seraya memegang pundak mas Fad.
“Susah bahasa nya Ray” mas Fad mencoba
untuk membuka buku catatannya dan menghapal kosa kata bahasa jerman tersebut
sedangkan Ray hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah mas Fad.
“Mas, mau tak bantu gak?”Rey menawarkan
bantuan nya dan langsung mendapat anggukan antusias dari mas Fad.
“Nih, aku tulisin cara baca nya biar
lebih gampang”Ray mengambil alih catatan mas Fad dan kemudian menuliskan cara membaca bahasa Jerman tersebut.
“Cepet Ray, nanti keburu mulai pelajaran
nya”desak mas Fad seraya mencoba mengingat kosa kata apa saja yang harus di
hapal.
“Iki mas, cepet hapalin”Ray menyerahkan
buku mas Fad dan langsung mas Fad menghapalkan nya dengan bantuan Ray tentunya.
Jam pelajaran pun dimulai, seorang guru
laki-laki dengan seragam TNI dengan membawa alat tulis dan buku.
“Assalamu’alaikum, selamat siang semua”ucap nya seraya meletakan semua barang yang ia bawa ke atas meja.
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi
wabarakatuh, selamat siang pak”jawab pelajar yang berada di dalam kelas kecuali
mas Fad.
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi
wabarakatuh, selamat pagi pak”jawab mas Fad telat dengan perasaan gugup.
“Siang mas”Ray menepuk paha mas Fad
seraya membenarkaan jawaban mas Fad sambil menahan senyum manis nya.
“Oh iya siang ndan”
“Pak mas jangan Ndan, kita lagi belajar
bukan tugas”
“Oh iya, siang pak”
“Kamu ini kenapa Fad, santai saja kayak
di pantai”ujar Pak Dedy, yang merupakan guru bahasa Jerman dan juga seorang Letkol Kav (Letnan Kolonel Kaveleri) atau DanYon (Komandan Batalyon) di Asrama yang sama dengan Ray dan mas Fad.
“I...iya Pak, saya sudah santai ini”jawab mas Fad yang jauh berbeda denga raut wajah dan keringat yang terus mengalir di pelipis dan dahinya, beberapa orang yang berada di kelas pun tertawa tipis melihat tingkah mas Fad.
“Oke, kita akan mulai pelajaran hari
ini”ucap Pak Dedy seraya mengeluarkan sebuah kertaas yang berisikan absensi dari siswa kelas tersebut.
“Hari ini kita akan hapalan bahasa Jerman yang minggu lalu saya suruh hafalkan ya, siap semua?”
“Siapp Pak”
“Belum” jawaban mas Fad lagi-lagi
membuat isi kelas menjadi tertawa ringan karna ulah mas Fad.
“Kamu.... belum siap Fadli?”tanya Pak
Dedy dengan berjalan menghampiri meja mas Fad yang berada di baris pertama
paling pojok kanan ruangan.
“Ti...Tidak Pak, saya sudah siap”mas Fad
sontak langsung berdiri tegap dan berusaha tidak gugup.
“Berapa persen tingkat kesiapan
nya?”tanya Pak Dedy sambil melihat dari atas hingga bawah tubuh mas Fad.
“Siap.... 70%”
“Kurang”
“Siiap 80%”
“Kurang”
“Baik, duduk”
Pak Dedy kembali ke depan kelas dan
memulai pelajaran nya.
“Nanti saya panggil satu-satu, yang
merasa di panggil langsung kedepan, kemudian saya akan memberikan kalimat dalam bahasa Indonesia dan kalian akan menjawabnya dengan bahasa Jerman”
“Kalian tau kan, konsekuensi nya jika
gagal dalam hapalan ini?”
“Siap, tau Pak”jawab semua siswa kecuali
mas Fad yang masih berusaha untuk menghapalkan kosa kata yang nantinya akan di tes oleh pak Dedy. Pak Dedy selalu ada hukuman dan hadiah dalam metode pembelajaran nya agar lebih disiplin dan membangun semangat para siswa. Apabila
tidak lolos di setiap tes, latihan dan hafalan yang di berikan oleh nya akan mendapatkan hukuman berlari mengitari lapangan yang berada di sekitar Kodiklat sebanyak 5 kali putaran untuk 1 jawaban yang salah, jika lima yang salah maka 5x5\=25 putaran. Sebaliknya apabila siswa berhasil lolos dengan nilai yang
terbaik maka akan mendapatkan hadiah bisa beruapa makanan atau minuman.
“Rangga”
“Dimas”
“Setya”
“Aryana”
“Bagas”
Setiap nama dipanggil secara bergirilan,
hati mas Fad semakin tidak tenang, karena pak Dedy memanggil nama siswa secara
acak tidak berurutan.
“Rayan”
“Siap”Ray maju dengan tegas dan tenang.
Ray memang sangat tertarik belajar bahasa Jerman, karena terinspirasi oleh salah satu film action dari Jerman.
“Kucing itu sangat cantik”
“Di katze ist zea syun”jawab Ray dengan lantang dan tepat.
“Ibu saya sangat pintar dan baik”
“Maine mutta ist zea klug undh nett”
“Laki-laki itu sangat tinggi”
“Dea man ist zea goos”
“Apakah pizza itu enak?”
“Ist das pizza lekha?””
Sampai sekitar 15 kalimat yang berhasil
dijawab oleh Ray, kemudian Pak Dady lanjut memenggil semua siswa dan tiba saat nya untuk mas Fad.
“Kopi, teh dan susu, tolong”
“Ka...Kafe, t..ti und mi..milch,
bitte”jawab mas Fad dengan sedikit tebata karena masih gugup, setelah ia melihat ke arah Ray yang berada tepat di depan meja guru seraya mengepalkan satu tangannya meng-isyaratkaan semangat kepada mas Fad, mas Fad merasa terbangun lagi keyakinan dan semagatnya.
“Tidak masalah, saya baik-baik saja”
“Kain pobem, es geihth”
Mas Fad berhasil menjawab 15 pertanyaan
kalimat yang di lontarkan oleh Pak Dedy dengan bahasa Jerman, begitu selesai
mas Fad langsung tersenyum lebar senang dengan kemampuan dan kepercayaan pada
diri nya sendiri.
****
Setelah menghabiskan waktu hingga jam 7
malam, Meli pun memutuskan untuk pulang, karena masih ada tugas yang harus dikerjakan dan ia teringat akan adiknya yang pasti sedang sendirian di rumah.
Setelah sampai di depan halaman rumahnya yang megah dan luas, ia langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Memang sudah menjadi kebiasan di keluarganya karena parkiran berada di bawah
tanah, maka yang akan memarkirkan ialah seorang satpam yang sudah ditugaskan.
“Meli”panggil Lani, ia adalah mama tiri
Meli. Meli tidak menyukai nya karena sifatnya yang angkuh sombong, menyebalkan dan masih banyak lagi alasan mengapa Meli tidak menyukai mama tirinya.
“Kenapa?”jawab Meli malas tapi tetap
__ADS_1
menghampiri mama tiri nya. Setelah melihat pemandangan yang ada di depan matanya semakin malas dan hancur mood Meli. “Ah, rame ternyata, tau gitu ga
usah pulang gua”batin Meli kesal.
Ia melihat Daniel dan keluarga nya
berada di meja makan bersama dengan keluarga besar Meli, bahkan ia melihat mas
Hendra dan Rani berada di meja makan juga walaupun raut wajah mereka sudah sama
dengan apa yang dirasakan oleh Meli, malas.
“Meli, duduklah ayo kita makan malam
bersama”ajak Kusuma, papa kandung Meli seraya tersenyum simpel.
“Ga pah, aku masih banyak tugas”jawab
Meli yang semakin muak saat melihat Daniel tersenyum dan melambaikan tangan nya ke arah Meli.
“Sayang, jangan berlaku tidak sopan
seperti itu dong, ayo kita makan”Lani berusaha meraih lengan Meli tetapi Meli
sudah menghindarkan nya terlebih dahulu dan berlalu pergi.
“Meli.... Meli”panggi Kusuma berharap anak nya berhenti dan menuruti perkataannya.
“Dasar anak kurang ajar, emang persis
kayak mama nya”batin Lani seraya kembali ke tempat duduk nya.
****
Di kamar nya yang cukup luas nan mewah,
Meli duduk dan menghembuskan nafas panjang dan kasar.
“Kenapa sih papah selalu berusaha keras
jodohin gua sama tuh anak, liat nya aja udah bikin badmood”gumam Meli yang kemudian bangun dari duduk nya dan bergegas mengambil keperluan untuk mandi nya, lalu ia mulai untuk membersihkan badannya.
Setelah selesai dengan kegiatan mandi
nya Meli langsung duduk di meja belajarnya dan kemudian membuka komputernya dan
mulai membuat tugas. Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk.
“Yaa, masuk”jawab Meli tetap fokus pada
kegiatannya di depan layar laptop.
“Meli”ucap Kusuma dengan nada yang
lembut, “Keluar dong, temui Daniel dan keluarganya, kamu jangan gak sopan kayak
gitu dong”Kusuma mendekati anaknya yang masih tetap fokus kepada kegiatan nya.
“Melii, kamu dengar papah, kan?”
“Denger pah”jawab Melli dengan malas.
“Ya sudah, tunggu apa lagi ayo pakaian
yang rapih lalu keluar temui mereka”perintah Kusuma dengan tegas.
“Pah, aku kan tadi udah nemuin mereka di
ruang makan, yaa berarti udah dong, lagian juga aku ada banyak tugas yang harus dikerjain”Meli berhenti mengetik dan menatap sang papa yang berdiri tepat
disamping kanan nya.
“Ya, itukan bisa kamu kerjakan nanti
setelah bertemu dan ngobrol sama calon suami dan keluarga, karena itu lebih penting”
“Pah, sekarang aku tanya, perjodohan ini
demi siapa? Papah,kan?”Meli yang sudah sangat muak dengan perjodohan papahnya
pun berdiri menghadap Kusuma.
“Itu juga demi kamu Meli, demi kita semua”jawab Kusuma yang mulai menaikkan nada bicara nya.
“Aku? ga pah, itu sama sekali gak baik
buat aku, karena aku merasa tertekan dengan perjodohan ini”.
“Aku gak pernah
punya perasaan apapun sama Daniel, walaupun aku pernah jalan bareng, makan
bareng, cerita, itu semua kayak percuma pah, karena sampai detik ini aku gak
ada perasaan sedikitpun"Meli merasa kesal karena Kusuma terus berupaya menjodohkannya dengan Daniel.
“Cukup, Meli, sampai kapan kamu mau
melawan papah?”
“Meli ngelawan papah? Pah sampai saat
ini Meli masih nurutin kemauan papah untuk kuliah di bidang bisnis dan manajemen, padahal meli kepengen banget belajar buat kue dan pastry, tapi karena papa yang minta makanya aku ngerelain mimpi aku jadi koki kue dan pastry pah”
“Meli, dari pada kamu jadi koki kue dan parstry, lebih baik kamu bisa mewarisi sebagian perusahaan papah, karena papah akanmemberikan kamu warisan yang cukup besar dari perusahaan”
“Pah, jujur meli gak tertarik sama warisan yang bakal papah kasih, Meli cuma mau hidup dengan bebas tanpa halangan dari papah ataupun lainnya”.
“Yaudah itu kita bahas nanti, sekarang
ayo kita samperin Daniel dan keluarga karena kita akan menentukan tanggal pernikahan kalian”
“Oke, papah keluar aja duluan”jawab Meli
dan Kusuma hanya mengangguk mengerti dan keluar dari kamar putri nya.
“Gua ga akan mau dijodohin sama tuh
makhluk sampai kapan pun, gua pengen cari pasangan hidup gua sendiri”gumam Meli
seraya memasukan barang-barang penting ke dalam tas ransel yang cukup besar.
Setelah semua barang dimasukkan Meli
keluar lewat jendela kamarnya dengan bantuan kain yang ia ikat kuat di pinggiran balkon kamarnya setelah dirasa kuat ia langsung terjun kebawah dengan hati-hati dan berhasil.
Ia keluar lewat gerbang belakang yang
kebetulan satpam nya sedang tidak berjaga entah kemana, hal ini langsung di
manfaatkan oleh Meli untuk segera keluar dari rumah yang sudah lama membuatnya
muak.
“Akhirnya gua keluar juga dari neraka
berkedok surga”gumam Meli sambil tersenyum sumringah dan memasuki mobilnya.
Sebelum Meli pergi ia memang telah mengirim pesan kepada satpam kepercayaan nya untuk mengeluarkan mobil ke halaman belakang rumah.
Setelah dirasa jalan cukup jauh Meli
memutuskan untuk mampir sejenak di salah satu Caffe yang dekat dengan komplek
nya, ia memesan chesee croisant dan coklat hangat untuk mengisi perutnya sebagai pengganti makan malam.
“Gua harus kemana ya?”tanya Meli dalam
hati. “Oh iya kerumah Gia aja lah”Meli beranjak dari duduk nya dan kembali mengemudi menuju rumah Gia.
****
Meli menyelusuri jalan sepi untuk menuju
rumah Gia, ia sebenarnya terbiasa lewat jalanan sepi tersebut saat ingin main kerumah Gia, tetapi yang berbeda entah perasaan nya malam ini kalut bukan hanya karena ulah Daniel tetapi ia merasa takut entah kenapa.
Meli memberhentikan mobil nya di pinggir
jalan kemudian membuka jendela mobilnya untuk mendapatkan suasana segar malam hari “Huufft... istirahat dulu kali ya”.
Saat Meli sedang asik memainkan Hp nya,
ia tersadar bahwa ada sebuah truk besar yang lampunya terlalu terang menyorot
ke arah mobil nya, semakin diperhatikan semakin mendekat truk tersebut, Meli
yang masih mencoba melihat kemana arah truk tersebut kemudian tersadar bahwa
truk tersebut mengarah kepada dirinya persis, dan tak kemudian,
Ciiiiiiit, Braakkk...
Truk tersebut menabrak mobil yang dikendarai oleh Meli, kemudian tubuh meli terbentur walaupun stir mobil, kepalanya mengalir darah segar, tangannya
terasa kaku dan tidak dapat digerakkan.
Setelah menunggu beberapa saat,
ambulance dan polisi pun datang ke TKP (Tempat Kejadian Perkara), tubuh Meli
dibawa ke rumah sakit yang terdekat agar segera di tangani, sedangkan polisi memeriksa truk yang sopirnya terluka walaupun tidak separah yang dialami Meli.
Di rumah sakit, keluarga Meli satu per
satu berdatangan menunggu hasil periksa dokter dengan cemas, kecuali Kusuma dan
Lani , karena sebenarnya waktu Meli pergi selang beberapa menit Kusuma dan Lani
juga pergi ke Singapura karena ada masalah mendadak serta untuk melihat proyek
bisnis baru yang akan dikembangkan, maka dari itu mereka berdua belum tahu jika Meli kecelakaan.
“Gimana dok, kondisi adik saya”Hendra
langsung menghampiri dokter dan bertanya dengan harapan dokter akan membertahukan jika adik nya baik-baik saja.
“Kondisi pasien cukup parah, pendarahan
di bagian kepala yang hebat, tetapi masih dapat diselamatkan hanya saja adik
anda akan koma untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan, hanya kuasa Tuhan lah yang dapat membuatnya hidup atau sebaliknya”jawab Dokter Agil.
“Baik dok terima kasih, tolong lakukan
apapun yang terbaik untuk adik saya”mohon Hendra dan mendapatkan anggukan dari
sang dokter.
“Kami pasti akan berusaha sebaik yang
__ADS_1
kami bisa”jaawab Dokter Agil yang kemudian pamit untuk memeriksa pasien lainnya. Hendra kembali memeluk Rani yang masih menangis khawatir dengan keadaan Meli. Begitu juga Evan yang mengusap wajahnya dengan gusar melihat adik tirinya berada di ambang kematian.
****