Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 8


__ADS_3

Keesokan harinya tepatnya pukul 10.20, Ray dan Meli bersiap untuk pergi ke rumah Anna, karena kakak nya sudah pulang dari Jogja. Setelah semua siap Ray pun langsung melangkah keluar rumah yang kemudian menguncu rumah tersebut sedangkan Meli sudah duduk di atas motor milik Ray dengan tenang seraya memperhatikan Ray yang tengah mengunci pintu rumah nya.


Drrt...drrtt..., getar handphone Ray menandakan ada telepon masuk yang langsung diangkat oleh Ray.


“Iya?”Ray menjawab panggilan telpon dari seseorang seraya memasukan kunci rumah


ke dalam saku celanan nya.


“Astagfirullah, iya saya lupa, yaudah saya ke kompi sekarang”Ray menepuk pelan dahi nya mengingat sesuatu yang terlupakan. Meli yang melihat itu hanya mengerutkan dahi nya tanda kebingungan.


“kenapa?”tanya Meli ketika Ray ingin menaiki motor nya.


“Saya lupa kalo hari ini ada rapat kompi”jawab Ray seraya menaiki motornya.


“Oh yaudah kalo gitu kita ke kompi sekarang”ucapan Meli hanya diangguki oleh Ray yang langusng menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi ke kompi yang berada tidak terlalu jauh dari rumah nya.


Setelah memarkirkan motornya, Ray langsung turun dan memasuki kompi yang telah dipenuhi oleh para anggota. “Maaf saya lupa kalo ada rapat”ucap Ray setelah membalas hormat dari para anggota.


“Rif, kita ada berapa peleton yang ikut dalam satu kompi?”tanya Ray seraya duduk di bangku yang


memang disiapkan untuk diri nya.


“Siap, masing-masing kompi


satu peleton Dan”jawab Arif yang merupakan pemimpin salah satu regu di peleton yang dipimpin oleh Ray.


“Oke, tapi regu yang


diambil dari masing-masing peleton kan?”


“Siap, benar”


Meli terus menatap Ray tidak berpaling sedetik pun, ia merasa Ray sangat berwibawa saat memimpin rapat tersebut, ia juga tersenyum setiap kali melihat Ray yang sesekali melirik ke arah Meli yang duduk di kursi kompi.


*****


Hari menjelang sore, Ray dan Meli akhirnya sampai di depan rumah Anna. “Mas, ini mobil yang di foto itu kan?”tanya Meli yang sudah berada di samping mobil milik kakak Anna.


Ray melihat sejenak dan kemudian mengangguk, “Iya ini mobil nya”. Ray kemudian menekan bel yang ada di


tembok samping pagar.


“Iya....maaf siapa ya?”tanya seorang perempuan paruh baya seraya tersenyum ramah pada Ray.


“Maaf mengganggu bu. Saya ingin tahu siapa pemilik mobil ini”jawab Ray seraya menunjuk mobil yang terparkir di sebelah nya dengan ekspresi yang ramah.


“Oh. Silahkan masuk”Ibu pemilik rumah pun mempersilahkan Ray masuk ke dalam rumah nya dan duduk di halaman depan rumah nya yang terdapat beberapa buah kursi dan meja kecil.


“Sebentar ya, saya bikinin minum dulu”


“Ngga usah, ga usah repot-repot”elak Ray yang tidak ingin merepotkan si Ibu pemilik rumah.


“Gapapa ga repot kok”sahut si Ibu dengan senyum nya, akhirnya Ray pun mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan.


“Siapa ma?”tanya seorang laki-laki yang berumur sekitar 25 tahun, sama seperti Ray.


“Itu ada yang nanyain mobil kamu, siapa tau orang yang mau beli mobil kamu”jawab si Ibu kemudian masuk ke dalam rumah nya untuk membuat minuman.


“Mas. Yang mau liat-liat mobil ya?”tanya laki-laki tersebut seraya berjabat tangan dengan Ray.


“Oh. Bukan mas, saya mau tanya di mobil mas nya ada kamera dashboard nya gak?”tanya Ray dengan sopan.


“Oh, ada sih kamera dashboard mah, ada apa ya?”si laki-laki tersebut mengerutkan dahi nya.


“Sebelum nya. Perkenalkan saya Ray”Ray mengulurkan tangan nya yang kemudian dibalas oleh laki-laki itu.


“Saya Bagas”


“Waktu itu sempet ada


kecelakaan yang terjadi di dekat persimpangan, nah saya kerabat yang mengalami kecelakaan dan saya butuh rekaman kamera dashboard mobil masnya yang kemungkinan merekam kejadian nya”tutur Ray dengan tersenyum ramah.


“Oh, yang kecelakaan itu ya”Bagas yang mendengar kata kecelakaan langsung teringat akan kecelakaan yang dialami oleh Meli waktu itu. “Saya sempet bantu evakuasi nya mas”sambung Bagas yang membuat Meli semakin yakin akan menemukan jawaban yang sesungguh


nya.


“Gimana saat evakuasi nya?”tanya Ray penasaran.


“Waktu itu. Ada kejanggalan sih,”ucapan Bagas terhenti sejenak dan menatap ke pepohonan seraya mencoba mengingat kejadian yang terjadi waktu itu.


Ray dan Meli mencondongkan badan nya untuk lebih dekat dengan Bagas denagan bersamaan. Bagas yang melihat Ray sangat dekat dengan dirinya langsung memberikan jarak.


“Ini bukan rahasia ko”ucap Bagas yang kemudian Ray langsung memundurkan badan nya tetapi tidak dengan Meli yang tetap menatap dekat Bagas.


“Waktu saya pertama


kali liat posisi truk nya ada di belakang mobil Jazz itu”pernyataan Bagas membuat Meli terduduk diam mengingat apa yang terjadi sebelum ia jatuh pingsan.


“Terus, pas saya buka pintu mobil nya, si perempuan itu emang udah banyak


darah dan lemas tapi masih bisa meminta tolong suara nya pelan sih”lanjut Bagas.


Meli memejamkan matanya yang terbesit ingatan akan kejadian kecelakaan nya, ia ingat jika ia ditabrak bukan menabrak. Seketika Meli membuka matanya ia menatap Ray, “Mas. Aku inget, aku gak nabrak tapi ditabrak”ujar Meli pada Ray yang menoleh ke arah Meli.


“Oh iya, di berita kan katanya si pengemudi abis minum alkohol ya, tapi pas waktu itu gak ada bau alkohol sama sekali”timpal Bagas yang teringat akan hal yang selama ini selalu disangkal oleh Meli.


“Tuh kan”pekik Meli yang membuat Ray kaget.


“Kenapa mas?”tanya Bagas saat melihat Ray terkaget karena Meli yang tiba-tiba bicara dengan nada yang cukup tinggi.


Ray menggeleng seraya


tersenyum, “Oh, gapapa Cuma tadi dibawah ada kucing”elak Ray seraya menunjuk

__ADS_1


bagian bawah meja yang sebenarnya tidak ada apa-apa kecual rerumputan yang


hijau dan juga tidak ada kucing lewat sedari tadi.


“Ini minuman nya”Ibu


pemilik rumah datang dengan membawakan dua cangkit teh dan pisang goreng yang masih berasap karena panas.


“Terima kasih bu”jawab Ray dengan senyum nya.


“Tadi ibu denger kalian lagi ngomong soal kecelakaan waktu itu ya?”tanya si Ibu seraya duduk di bangku sebelah Bagas. Ray mengangguk pelan sebagai jawaban yang diikuti oleh Bagas.


“Ibu juga merasa ada yang janggal, seperti yang sudah di ceritakan Bagas, yaa kita gak punya bukti dan kewenangan makanya kita hanya diam”


Ray mengangguk mengerti dengan apa yang Ibu itu katakan. “Oh ya. Sampai lupa. Kamera dashboard nya”


“Oh iya, tunggu sebentar ya, saya juga belum sempet liat rekaman nya”Bagas langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil laptop dan kamera dashboard nya untuk sama-sama melihat apa yang terekam oleh kamera nya.


“Ini”Bagas keluar dengan sebuah laptop di tangan kanann nya dan kamera dashboard nya di tangan kanan nya.


Setelah Bagas memasang semua


di layar laptop, mereka melihat rekaman kamera tersebut, karena lama mereka


memutuskan untuk menskip beberapa bagian agar lebih cepat.


“Oh...op op”Ray meminta agar Bagas menghentikan rekaman tersebut saat melihat sebuah truk yang memang


datang dari arah belakang mobil Jazz bewarna silver milik Meli. “Wah, bener


ternyata mas, ini si Jazz nya yang ditabrak bukan yang nabrak....tapi gambarnya emang kurang jelas gitu ya”sambung Ray yang kembali memutarkan rekaman


tersebut namun tak lama rekaman itu berakhir karena pada saat itu ada kesalahan


di kamera nya.


“Yahh”Meli merasa kecewa karena belum puas menyaksikan apa yang ia lihat. “Tapi ini cukup ya mas”lanjut Meli dengan senyum senang karena ia akhirnya mengetahui bahwa kecelakaan itu bukanlah kesalahan nya. Ray hanya menganggukan kepala nya.


“Mas saya mau minta salinan nya ya”Ray memberikan flashdisk yang memang sudah ia siapkan dari sebelumnya. Meli yang melihat Ray menyodorkan sebuah flashdisk tersenyum tak menyangka jika Ray mempersiapkan apa yang tidak Meli pikirkan.


“Makin ter-ray ray deh”batin Meli seraya tersenyum menatap Ray yang masih fokus pada rekaman yang akan dipindahkan ke flashdisk yang di bawanya.


Setelah semua urusan selesai, Ray pamit pada Bagas dan Ibu untuk pulang karena hari semakin lama semakin gelap, matahari yang perlahan tenggelam. “Bu, mas. Saya berterima kasih banyak sudah dibantu”ucap Ray tulus seraya menyalami kedua orang yang ada di hadapan nya.


“Iya sama-sama mas, kita juga senang bisa bantu”balas Bagas sesekali menoleh ke ibu nya yang berada di sebelah nya.


Meli menghampiri Anna yang berada di kursi tepat didepan rumah nya, “Makasih ya Anna, berkat lu gua jadi tau apa yang terjadi”Meli tersenyum tulus pada Anna.


Anna membalas senyuman


Meli, “Iya, gue juga seneng bisa bantu”.


“Ekhmmm...”Ray sengaja berdeham untuk menyadarkan Meli yang tengah berpamitan dengan Anna.


*****


Sesampainya di halaman depan rumah, Ray memarkirkan motornya dan langsung turun untuk menghampiri Tia yang tengah duduk di bangku taman kecil depan rumah Ray.


“Loh, Tia, ada apa?”tanya Ray begitu sampai di hadapan Ray. Meli yang melihat itu merasakan kesal dalam hati nya namun tetap turun dari motor mengikuti Ray.


“I..iya ka, ini aku baru aja buat kue bolu pandan”Tia menyodorkan wadah dengan bentuk bulat pada Ray dengan tersenyum seperti biasa.


“Oh...makasih ya, seharusnya kamu tinggalin aja di sini ga usah ditunggu”Ray mengambil wadah yang diberikan oleh Tia dengan tersenyum.


“Ish, bolu. Woww warnanya cantik”ucap Meli ketika Ray membuka setengah tutup wadah bolu tersebut. Ray yang melirik Meli dan senyumnya mengembang.


“Kenapa kak?”tanya Tia menatap aneh ketika Ray melirik samping nya dan tersenyum.


“Nggak, ini kayak nya enak sih”jawab Ray seraya tersenyum kikuk pada Tia. Tia hanya mengangguk sekali dan tersenyum.


“Belum tentu”timpal Meli saat Ray terlalu optimis dengan rasa dari kue bolu buatan Tia dengan memalingkan pandangan nya ke arah taman kecil depan rumah Ray yang hanya berisikan rerumputan hijau dan satu tanaman pucuk merah.


‘Yaudah aku pamit ya ka”Tia pamit dan kemudian pergi pulang kerumah nya yang hanya berjarak tiga rumah dari kanan rumah Ray. Ray menganggukan kepala nya sebagai balasan.


Saat memasuki rumah Meli langsung menuju dapur untuk memasak makan malam, karena bebrapa menit lagi


adzan maghrib akan berkumandang. Sedangkan Ray langung duduk di sofa depan tv dan membuka wadah bulat yang berisikan kue bolu dari Tia.


“Mas. Tia itu deket sama kamu ya?”tanya Meli seraya mengupas bawang merah sesekali melirik Ray yang tengah mencicipi kue bolu.


Ray menganggukan kepalanya beberapa kali, “Iya, saya kenal sama bapak nya”jawab Ray yang masih sibuk dengan kue bolu.


Meli yang melihat Ray begitu menikmati kue bolu pun tersenyum kecut, “Enak bolunya?”.


Ray lagi-lagi menganggukan kepala seraya melayangkan sebuah jempol pada Meli yang seketika langsung berhenti memotong bawang. “Aku juga bisa bikin bolu kayak gitu”entah mengapa ada rasa cemburu dan tidak ingin kalas dari apa yang Tia buat.


Ray yang mendengar itu pun langsung tertawa ringan, “Buktiin dong”jawab Ray yang lanjut tertawa seraya memakan bolu pandan nya.


Meli menarik nafas panjang yang kemudian ia hembuskan dengan perlahan untuk mengatur rasa kesal yang memenuhi sebagian ruang dihatinya. Meli melanjutkan memasak makan malam untuk Ray dan dirinya, tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang.


“Enak ya bolu nya sampe


lupa maghrib, mana belum mandi”ucap Meli yang berdiri tepat di belakang Ray yang masih menghabiskan satu bolu yang ada di tangan nya.


Ray memutar badan dan


menatap Meli dengan cengiran nya kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meli yang melihat Ray pergi ke kamar mandi kemudian duduk di sofa yang diduduki Ray tadi seraya mencoba kue bolu yang diberikan Tia tadi.


“Enak sih”gumam Meli yang kemudian mengembangkan senyumnya, karena ia merasa senang jika sedang marah atau kesal lalu memakan makanan yang manis.


“Enakkan bolu nya”timpal Ray yang keluar dari kamarnya untuk mengambil pakaian.


Meli yang mendengar itu langsung memasukkan semua bolu yang tersisa di tangan nya lalu dengan kecepatan super ia mengunyah semua bolu tersebut. Setelah selesai mencicipi bolu, Meli kembali ke dapur dan menyiapkan makan malam di meja makan.

__ADS_1


Setelah selesai mandi Ray pun langsung melaksanakan sholat maghrib di kamar nya. “Mau ikut?”tanya Ray seraya mengenakan sarung bermotif loreng pada Meli yang berdiri menatap nya dalam diam.


“Ah. mau”jawab Meli


seraya menganggukan kepala nya dengan cepat.


Ray membuka lemari baju nya dan mengambil sebuah mekena bewarna biru laut lalu memberikan nya pada Meli. Meli menerima mukena itu dengan senyum yang merekah di wajah nya. “Makasih. Tunggu


kok ada mukena?”tanya Meli menatap tajam ke arah Ray.


“Itu mukena punya mba saya yang kadang sering kesini”jawab Ray dengan tenang. “Kita sholat nya di kamar belakang aja biar lebih luas”usul Ray yang kemudian berjalan ke kamar belakang dan menggelar sajadah yang ia bawa.


“Kita jamaah?”tanya Meli dengan senyum senang nya. Ray hanya mengangguk sebagai jawaban. “Ya ampun, imamable banget”batin Meli dengan ke kaguman yang kian bertambah.


Setelah melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah kemudian mereka menyantap makan malam yang telah di siapkan oleh Meli sebelum nya. Ray memakan semua masakan Meli dengan


lahap tanpa komen apa pun.


“Enak?”tanya Meli yang


penasaran dengan masakan yang ia masak. Ray hanya mengangguk berkali-kali tanpa


menjawab. Meli langsung tersenyum senang melihat respon yang diberikan Ray.


“Mas. Sekarang kamu udah bisa lebih ekspresif ya”Meli menyendokan nasi dan lauknya setelah berbicara.


Ray menatap Meli dengan


senyum tipis. “Iya, karna kamu”jawaban Ray membuat Meli tersedak oleh makanan


nya.


“Uhuk...uhuk...”Meli memukul pelan dada nya untuk meredakan batuk yang diakibatkan oleh sedakan makanan nya. Ray yang melihat itu langsung memberikan minum nya dan memukul pelan pundak Meli dan perlahan Meli kembali dari tersedak nya. “Maksud mas?”tanya


Meli yang penasaran apa maksud ucapan Ray barusan.


Ray kembali ke posisi nya diam hanya mengangkat bahu lebar nya dan lanjut memakan makanan yang tersisa sedikit lagi di piring nya. Meli yang melihat itu menatap Ray kesal. “Mas jawab dong, aku kan penasaran”Meli terus mendesak Ray agar menjawab namun Ray hanya memberikan telapak tangan nya untuk mencoba menghentikan desakan Meli.


“Ish”Meli yang kesal pun langsung menyudahi makanan nya yang masih banyak di piring dan duduk di sofa kemudian menyalakan tv, menggonta-ganti saluran tv tanpa tujuan.


“Mel. Abisin gak makanan nya”perintah Ray yang menghampiri Meli di sofa. Meli melirik sekilas dan kembali menggonta-ganti salauran tv. “Mel...banyak orang diluar sana yang makan harus berkeringet dulu, ada juga yang harus bekerja dengan taruhan nyawa demi sesuap nasi, tapi kamu malah buang-buang rezeki yang Allah berikan”.


Meli yang mendengar itu pun langsung merasa bersalah, ada benarnya apa yang diucapkan oleh Ray. Diluaran sana banyak orang berjuang demi sesuap nasi gak seharusnya diamenyia-nyiakan apa yang di berikan Allah. Meli bangkit dari duduk nya dan kembali ke meja makan melewati Ray begitu saja tanpa menoleh ataupun berbicara. Ray hanya bisa menggelengkan kepala nya seraya tersenyum melihat tingkah Meli.


*****


November, 2021


“Mas, beli bahan buat kue yu”ajak Meli seraya menguncir rambut nya di depan cermin.


Ray menoleh pada Meli menatap nya bingung namun berapa menit kemudian ia teringat kejadian kemarin saat Meli berkata jika dirinya bisa membuat kue yang lebih enak dari kue bolu pandan buatan Tia.


Ray menganggukan kepala nya dan kemudian berdiri dari duduknya langsung mengambil kunci motor pada tempatnya. “Ayo”


Meli yang mendengar ajakan Ray pun langsung bergegas dengan perasaan senang. “Yeayy”ucap Meli karena senang akan membuat kue kesukaan Rani untuk ulang tahun nya.


Sesampainya di supermarket, Meli dan Ray berjalan menyusuri setiap sisi supermarket seraya memilih barang dan bahan untuk membuat kue. “Mas, yang itu dua”Meli menunjuk ke sebuah pack almond slice berukuran sedang. “Itu juga, mmm. Dua juga”Meli


menunjuk coklat yang berada tepat di depan Ray, Ray pun hanya mengambil sesuai intruksi Meli.


*****


Ray memarkirkan motor nya di depan rumah nya kemudian membawa masuk semua belanjaan sedangkan Meli sudah masuk lebih dulu dan merebahkan dirinya di sofa. Ray yang melihat Meli hanya melirik sekilas dan mulai menyusun semua bahan yang baru dibeli ke dalam kulkas.


“Kamu mau buat kue apa sih?”tanya Ray yang penasaran dengan apa yang akan dibuat Meli denan begitu banyak bahan yang ia beli.


Meli menatap Ray yang juga tengah duduk bersandar di sofa, “Kue ulang tahun”jawab Meli dengan senyum manis nya.


“Ulang tahun saya kan udah lewat”jawab Ray dengan percaya diri.


Meli tertawa mendengar apa yang dikatakan Ray. “Buat ulang tahun Rani, lusa”ujar Meli di sela-sela tawa nya. Ray yang mendengar itu hanya menatap Meli sebentar kemudian bangun dari duduk nya.


Meli yang melihat Ray terbangun tiba-tiba dari duduk nya pun ikut bangung seraya menatap Ray dengan rasa bersalah karena telah menertawi dan membuat Ray malu dengan kepedean yang dimiliki nya. “Mau kemana?, maaf ya”ucap Meli dengan menahan pergelangan tangan Ray yang akan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


“Saya harus ngontrol persiapan untuk latihan”jawab Ray yang bergegas mengganti pakaian nya dengan


pakaian dinas loreng.


“Oooh”gumam Meli yang kembali duduk menunggu Ray mengganti pakaian nya.


Ray keluar kamar dengan pakaian dan perlengkapan lengkap kemudian memakai kaus kaki nya seraya duduk di sofa dekat dengan posisi Meli yang terus memperhatikan setiap gerakan Ray. Sesaat


kemudian Meli bangun dari duduk nya untuk mengambilkan sepatu yang akan


digunakan oleh Ray.


“Ini”Meli menaruh sepatu hitam besar tepat di hadapan Ray, Ray yang melihat itu tersenyum lalu bergegas memasukan kaki nya ke dalam sepatu. Setelah selesai bersiap, Ray pun beranjak pergi untuk urusan tugas nya. Sedangkan Meli memutuskan untuk kembali ke dalam rumah menunggu Ray pulang nanti.


“Berasa punya suami”gumam Meli seraya tersenyum malu.


Jeda kurang dari dua menit, Ray kembali memasuki rumah, Meli yang mengetahui ada seseorang yang membuka pintu pun langsung terbangun dari rebahan nya dan melihat ke pintu depan untuk memastikan siapa yang datang.


“Loh mas. Ga,”ucapan Meli terpotong saat Ray pergi ke kamarnya tanpa menghiraukan Meli. Meli memperhatikan Ray yang sedang mencari sesuatu di kamarnya. “Cari apa?”.


“Nih”Ray memberikan plastik bewarna biru muda pada Meli.


Meli menerima bungkusan yang diberikan oleh Ray dengan bingung. “Apa ini?”Meli yang penasaran langsung membuka bungkusan tersebut. “Oooh. Ini kan...”Meli tersenyum senang saat melihat buku diary bergambar hewan alpacca beserta pulpen.


Ray hanya menatap Meli yang senang dengan tersenyum kemudian kembali berjalan ke luar rumah, namun langkah nya terhenti tepat di depan pintu saat Meli menahan lengan nya.


Meli tersenyum, “Makasih ya”ucap Meli seraya melepaskan tangan nya yang menahan lengan Ray yang masih tersenyum seraya menganggukan kepala nya sebagai respon dari ucapan Meli.


*****

__ADS_1


__ADS_2