Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 12


__ADS_3

“Hoaam”Meli terbangun saat adzan subuh berkumandang dengan menggeliat. Ia tersentak kaget saat melihat Ray tidur dibawah sofa tempat Meli tidur. Meli menatap wajah Ray kemudian tangan nya bergerak ingin memegang pipinya, namun belum sempat tercapai, Ray sudah lebih dulu membuka matanya membuat Meli kembali berbaring dan berpura-pura masih terlelap.


“Udah adzan toh, aduh ya Allah”ucap Ray seraya bangun dari tidurnya, merenggangkan badan nya sebentar


kemudian bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.


“Huuuuh, untung aja”gumam Meli membuka matanya setelah melihat Ray berlalu menuju kamar mandi. Meli yang juga ingin melaksanakan sholat pun akhirnya pergi mengikuti Ray ke kamar mandi, ia menunggu giliran.


“Eh, udah bangun?”tanya Ray saat keluar kamar mandi dan melihat Meli yang berdiri menunggu Ray keluar.


Meli mengangguk, “Iya, aku juga mau sholat subuh”.


Ray tersenyum, “Oke, saya tunggu”.


Meli mengambil wudhu dengan tenang, setelah itu langsung menghampiri Ray yang sudah mempersiapkan sajadah dan mukena untuk Meli. Meli yang tidak mau Ray menunggu langsung mengenakan mukena nya dengan cepat.


Ray menunjuk dahi Meli seraya tersenyum. Meli memeriksa ada apa dengan dahinya dan ternyata ada beberapa rambutnya yang terlihat. Meli tersenyum menatap Ray kemudian menganggukan kepala nya tanda jika ia sudah siap untuk melaksanakan sholat subuh.


“Allahu Akbar...”.


*****


Matahari mulai menaiki tempatnya dengan sempurna, kini Ray tengah bersiap untuk kegiatan berkudanya. Sedangkan Meli masih sibuk berkutik dengan dapur membuatkan bekal makanan untuk Ray.


Sebenarnya Ray sudah menolak untuk dibawakan bekal namun Meli bersikeras untuk membuatkannya jadi Ray hanya menurut. Ray memakai sepatunya dengan cepat kemudian beralih dengan memakai baret berwarna hijau di kepala nya.


“Kurang pas”ucap Meli kemudian membenarkan baret yang menempel dikepalanya.


Ray tersenyum, “Ko kamu tau cara pasang baret?”.


Meli menatap Ray sebentar sebelum menjawab, “Iya, dulu eyang aku itu tentara”jawab Meli seraya memasukan bekal ke tas ransel Ray.


“Sebenernya ga usah bawa bekel Mel”ucap Ray yang masih ada rasa tidak ingin membawa bekal, karena mereka disana akan dibagiin makanan.


“Iya tau, ini kan makanan camilan gitu”jawab Meli tersenyum.


Ray yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum menatap Meli yang masih menata beberapa bekal di ranselnya.


Setelah semua persiapan selesai, Ray dan Meli pun berangkat menuju tempat tujuan bersama dengan banyak orang yang akan mengikuti pelatihan berkuda. Meli yang duduk di kursi depan truk bersama dengan Ray dan supir yang ternyata Rafli.


“Udah semua mas?”tanya Rafli saat melihat Ray membuka pintu truk.


Ray mengangguk, “Udah, tadi juga udah di periksa ulang sama Bagas”jawab Ray seraya menaiki truk.


“Oke, kita berangkat”


*****


“Ran,”panggil Sarah seraya mengupas kulit jeruk.


“Iya mba”Rani menoleh pada Sarah dengan tersenyum.


“Mba tau loh”


Rani yang mendengar perkataan Sarah langsung mengerutkan alisnya. “Tau apa mba?”.


“Kamu sakit kan?”


Rani terbelalak kaget mendengar jawaban Sarah yang tidak ia duga. “Mba,”


“Kenapa kamu ga cerita sama mba Ran?”Sarah menghampiri Rani yang sedang membersihkan tubuh Meli seperti biasa.


“Aku, aku ga mau ngerepotin dan bikin yang lain khawatir sama aku mba”jawab Rani lirih.


“Seharusnya kamu cerita, sakit yang kamu derita itu kanker loh, bukan sakit biasa yang bisa diobatin sendiri”Sarah menepuk pelan bahu Rani. “Mulai sekarang, mba bakal selalu nemenin kamu sama Meli di rumah sakit”.


Rani langsung menoleh menatap Sarah heran, “Mba, mba kan punya kerjaan”


Sarah tersenyum lebar, “Udah ngga sekarang”.


Jawaban yang Sarah berikan justru membuat Rani semakin bingung. “Maksudnya mba?”


“Iya, aku udah keluar dari kantor”


“Loh, ko bisa?”


“Bisa dong, dua bulan kurang lagi kan aku nikah”jawab Sarah dengan tersenyum, “Jadi aku mutusin buat keluar kantor dan mulai usaha sendiri”sambung Sarah seraya memakan jeruk yang tadi ia kupas.


“Ooh, emang mas Fad ga bolehin mba kerja?”


“Ngga, dia sih bebas, aku mau tetep kerja atau ngga tapi aku nya yang pengen keluar kantor dan buka usaha sendiri, biar nanti aku juga bisa selalu ada untuk suami dan anakku”Sarah tertawa pelan yang diikuti oleh Rani.


“Iya sih mba, pilihan mba udah bener”


*****


Sesampainya di Denkavkud, Ray dan rombongan turun dari truk kemudian berbaris untuk mendengar pengarahan dari ketua pelatihan. Meli duduk terdiam menyaksikan Ray dan yang lainnya sedang berbaris dan mempersiapkan diri untuk berlatih kuda.


“Woooo, kuda nya banyak juga ya”gumam Meli saat berjalan menyusuri sekitar tempat pelatihan.


Ray dan yang lainya sedang mencoba untuk mendekatkan dirinya dengan kuda-kuda yang nantinya akan mereka gunakan untuk berlatih. Ray memilih kuda bewarna putih yang bersih dan cantik.


“Waah, cantik kuda nya”pekik Meli saat melihat Ray memilih kudah bewarna putih untuk latihan nya.


“Iyalah”jawab Ray singkat seraya terus mengelus kepala kuda itu.


Setelah semua nya selesai, Ray dan para anggota pun langsung berlatih di dampingi oleh anggota Denkavkud. Mulai dari mas Fad, Rafli, sampai pada akhirnya Ray yang menunggang kuda putih.

__ADS_1


Meli yang sedang memegang pipinya dengan kedua telapak tangan nya pun terlepas seketika saat melihat Ray menunggang kuda dengan begitu berkharisma. “Waaah, Vicenzo


cassano?”gumam Meli masih terus menatap Ray.


“Mas Ray”Meli teriak memanggil seraya melambaikan tangan nya. Ray hanya tersenyum sekilas saat melintas di depan Meli. “Wahh, gila aura nya mirip Vicenzo di drakor”gumam Meli yang masih menatap Ray. Meli seperti melihat adegan di drama yang sedang populer, yaitu Vicenzo, drama asal Korea Selatan yang dibintangi aktor papan atas, Song Joong Ki.


Saat makan siang tiba, Ray tidak mengambil jatah makan siang yang telah disiapkan, Ray memilih memakan bekal yang dimasak oleh Meli dengan susah payah. “Kamu kenapa sih, daritadi senyam senyum sendiri?”tanya Ray berbisik pada Meli yang masiih menatap Ray dengan senyum yang mengembang.


“A..eh, apa?”Meli yang tersadar langsung gelagapan. Ray yang melihat tingkah Meli hanya tersenyum seraya melanjutkan makannya.


“Loh Ray, kamu ga ambil jatah?”tanya mas Fad dengan tangan penuh dengan makan siang serta beberapa buah dan jajanan lainnya.


Ray menggeleng, “Ga mas, aku bawa bekel”.


“Kaya anak tk aja Ray hahah”mas Fad meledek Ray yang memakan bekal nya.


Meli yang melihat itu pun tak tinggal diam, ia melempar mas Fad dengan kerikil kecil yang ada di sampingnya. “Emang yang bawa bekel cuma anak tk apa”ucap Meli seraya menaruh kerikil di kotak makan siang mas Fad.


“Aww, siapa itu”pekik mas Fad merasa seperti dilempari kerikil.


Ray tertawa pelan melihat mas Fad kebingungan dengan siapa yang melemparnya dengan kerikil. “Makanya mas, jangan sembarangan, ini yang masak Meli loh”ucap Ray seraya kembali menyuapkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


Mas Fad membuka matanya lebar, “Hah, Meli?, dia udah ada lagi?”.


Meli yang mendengar pertanyaan mas Fad langsung mencolek mas Fad dengan kayu kecil di kakinya, “Iya, ini aku disini”


“Eh”mas Fad kaget saat Meli menyentuh kaki nya dengan sebatang kayu yang tipis. “Waaah, maaf Mel saya cuma bercanda doang tadi mah”sambung mas Fad yang mulai kesal dan takut.


“Makanya jangan kaya gitu dong”Meli menyudahi sentuhan dengan kayu pada kaki mas Fad.


“Makanya mas, sampean itu loh, lebih enakan juga ini dari pada itu”ucap Ray menunjuk nasi kotak mas Fad.


“Ga lah enakan juga ini”ucap mas Fad tanpa sadar, “A..ah, ngga ini mah biasa aja rasanya”lanjut mas Fad seraya menunjuk nasi kotak nya.


Meli yang tadinya ingin menjaili mas Fad jadi mengurungkan niatnya dan kembali duduk si sebelah Ray dan menatap Ray yang memakan dengan lahap masakan nya. “Enak banget ya?”.


Ray menoleh pada Meli sebentar, “Yaa lumayan lah, layak makan”jawab Ray seraya tersenyum tipis.


“Apa?, layak makan?”


“Iya”


“Sembarangan, yang aku masak udah pasti semua nya layak makan”


“Iya iya, saya kalah”


“Kalah?”Meli bingung dengan perkataan Ray.


“Iya, masakan kamu emang juara”


“Gendeng”gumam mas Fad pelan melihat Ray yang bicara dan tertawa sendiri.


*****


Kusuma mempercepat jalan nya, “Kenapa ga ada satu pun orang yang bilang sama saya kalo Meli kecelakaan?”tanyanya pada semua staf dan bodyguard yang mengikutinya dari belakang.


“Maaf pak”jawab Guntur salah seorang asisten kepercayaan Kusuma.


“Guntur,”Kusuma menghentikan langkahnya saat tepat di depan pintu mobil yang telah terbuka, “Kamu tau dari kapan kalo Meli kecelakaan dan. Kenapa kamu ga ngomong sama saya?”


Guntur menundukan kepalanya merasa bersalah pada Kusuma yang tak lain adalah bos nya sendiri. “Maaf pak, saya ga ngomong karna,”ucapan nya terputus, Guntur bingung memberitahu alasannya ia tidak ngomong jika Meli kecelakaan.


“Apa?, ngomong Gun”desak Kusuma agar Guntur mau menjawab pertanyaannya dengan sejelas mungkin.


“Baik, saya ingin menjelaskan nya di perjalanan”Guntur mempersilahkan Kusuma memasuki mobil kemudian dia mengikutinya duduk si sebelah Kusuma yang sebenarnya cemas dengan keadaan Meli.


“Jawab sekarang”


“Baik, sebenarnya saya sudah tau sehari setelah kecelakaan”ucapnnya mendapat tatapan tajam dari Kusuma, “Istri saya yang ngasih tau saya kalo Meli kecelakaan, saya mau ngasih tau Bapak tapi...”lagi-lagi jawaban Guntur terhenti.


“Apa?”tanya Kusuma penasaran.


“Tapi. Bu Lani melarang saya untuk ngasih tau bapak”jawaban Guntur membuat Kusuma kaget dan terdiam memandang ke luar jendela.


“Kenapa Lani menyuruh kamu untuk ga bilang kalo anak saya kecelakaan, Meli itu anak kandung saya”


Guntur menatap Kusuma sebentar, “Mohon maaf pak, saya denger dari anak buah saya. Bu Lani sengaja nutupin supaya bapak ga tau”jawab Guntur, “Bu Lani juga menyuruh pihak tv untuk menyiarkan jika kecelakaan itu terjadi akibat kesalahaan Meli yang menyentir saat mabuk”.


Kusuma melirik Guntur,“Mabuk?”


Guntur mengangguk membenarkan apa yang di tegaskan oleh Kusuma. “Tapi pak, selama ini saya juga menugaskan seseorang untuk mengawasi dan menemani Meli juga Rani”


“Ohya, Rani, gimana keadaan nya?”tanya Kusuma yang mulai teringat anak bungsunya.


“Menurut informasi yang saya dapatkan, Ranii sering sekali bersama dengan empat orang laki-laki yang keliatan nya lebih tua dari Rani”


“Laki-laki lebih tua?”


“Iya pak, saya juga masih belum terima informasi lebih lanjut”


Kusuma memandang keluar kaca mobil seraya memikirkan kedua putri nya yang ia telantarkan sedari lama. Selama ini ia selalu fokus pada perusahaan tidak pernah punya sedikit waktu untuk putri-putrinya yang pasti sangat membutuhkan keberadaannya.


“Maafkan aku Indah, maaf”batin Kusuma sedih.


Selama ini ia menganggap bahwa Lani bisa menjaga kedua putrinya seperti menjaga anak nya sendiri, namun semakin bertambah hari, bulan dan tahun, kini ia sadar jika Lani selalu fokus pada dirinya dan anak tunggal nya. Lani tidak pernah memperhatikan Hendra, Meli dan Rani, Lani hanya akan berpura-pura peduli dan


menyayangi mereka ketika ada Kusuma.

__ADS_1


Kusuma merasa telah gagal mewujudkan cita-cita mendiang istrinya yang menginginkan dia menjadi sosok papah yang bisa menjadi panutan untuk anak-anak nya, papah yang selalu ada disaat anak-anak nya membutuhkan, berbahagia bersama dengan anak-anak nya ketika kesedihan melanda.


Namun itu semua hanyalah cita-cita tanpa adanya realita. Kusuma berselingkuh dari sang istri hingga mempunyai seorang anak yang bahkan umur nya lebih tua dari Meli yang merupakan anak kedua dari Kusuma dan Indah. Namun karena hatinya yang sangat baik, Indah pun menyuruh Kusuma untuk menikahi Lani dan menafkahi anak nya dengan selayaknya.


Indah pastinya berat mengambil keputusan itu, namun ia juga tidak ingin suaminya menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya Kusuma dijebak oleh Lani agar Lani bisa menikah dengan Kusuma dan mengambil semua wariasan yang disiapkan Kusuma untuk istri dan anak-anaknya kelak.


Sampai pada akhirnya Indah sering jatuh sakit dan Kusuma jarang menemani Indah karena sibuk dengan bisnis sehingga tidak bisa terus berada di sisi Indah yang semakin lama semakin lemah. Namun Hendra, Meli dan Rani yang waktu itu masih kecil, hanya Hendra yang sudah cukup besar, mereka selalu menemani Indah sampai ajal menjemputnya.


*****


“Ray ini bukti kejahatan yang dilakuin sama Lani”om Farid menyerahkan map bewarna hijau pada Ray.


Ray mengambil map tersebut kemudian membuka untuk mengetahui apa saja isi di dalam nya. “Ini...”


“Iya, itu belum semua tentang kejahatan nya”ucap om Farid yang memotong ucapan Ray.


“Astagfirullah, dia manusia?”tanya Ray saat melihat apa saja kejahatan yang telah dilakukan oleh Lani pada keluarga Kusuma. “Dia berusaha melenyapkan Meli, Rani, Hendra dan Kusuma?”


“Iya, dia licik Ray, dia mau semua kekayaan nya Kusuma jatuh ketangan dia dan anaknya”sahut om Farid seraya meletakan cangkir kopi di meja depannya. “Dia itu mantan om Ray”


Ray menatap om Farid kaget mendengar pengakuan yang tidak terduga dari om Farid. “Mantan om?”


Om Farid mengangguk, “Iya, makanya om tau sifatnya kaya gimana Ray”.


“Om, apa bukti ini udah bisa ngebuat dia dipenjara?”tanya Ray yang sudah mulai geram dengan apa yang dilakukan mama tiri Meli.


“Jangan sekarang Ray, mending kamu simpen itu dan kalo udah waktu nya baru kamu serahin berkas itu”


“Serahin ke siapa om?”tanya Ray bingung sekaligus penasaran.


“Kusuma”jawab om Farid tersenyum.


“Papahnya Meli?”


Om Farid mengangguk, “Iya, karna Cuma dia yang pasti bisa memenjarakan Lani”jawab om Farid kemudian


meminum kopinya kembali.


“Kenapa gitu?”


“Kamu lupa?, Lani itu punya koneksi banyak banget di kepolisian, jadi kalo kamu yang ngelapor malah kamu juga yang bahaya Ray”


“Tapi. Aku siap apapun konsekuensinya yang penting Meli dan saudara-saudarinya bisa tenang tanpa rasa takut dan tersiksa karna Lani om”


“Om tau itu maksud kamu, tapi apa kamu bisa jamin kalo kamu lapor kepolisi terus semua berkas ini bisa langsung di proses?”


Ray terdiam dan kemudian menggeleng. “Tapi om...kapan pa Kusuma dateng, dia kan lagi ada urusan bisnis di luar negeri?”


“Saat dia tau salah satu putrinya kecelakaan dia pasti bakal cepet pulang”jawab om Fardi seraya memainkan handphone nya.


“Saat dia tau?, jadi selama ini dia ga tau kalo anaknya kecelakaan?”Ray tebelalak kaget mendengan jawaban om Farid.


“Ya iyalah Ray”


“Ko bisa, dia kan ayah nya”


“Itu semua udah bagian rencana Lani”


‘Brakk’ Ray memukul meja dengan kesal sehingga banyak pengunjung caffe yang melihat aneh dan kaget ke arah dirinya. Namun hal itu tidak dihiraukan oleh Ray.


*****


“Rani”gumam Meli yang sedang menemani Rani tidur sehabis kemoterapi nya. “Maafin mba ya, kamu jadi terus jagain mba, kamu ga bisa bebas main kemana-mana”Meli mencoba untuk membelai kepala Rani namun hasilnya nihil ia malah menembus kepala Rani.


“Meli...”pekik Kusuma saat memasuki ruang rawat Meli. Meli yang kaget mendegar suara pintu dan orang masuk pun langsung berdiri.


Meli melihat kedatangan Kusuma dengan diam, dia tidak percaya jika Kusuma memeluk khawatir dirinya yang terbaring lemah di ranjang. “Papah”gumam Meli lirih, ia menghampiri Kusuma yang sedang memegang telapak tangannya dengan lembut.


“Maafin papah ya Mel, kamu cepet sadar, papah mau mewujudkan cita-cita papah dan janji papah sama mamah, papah akan menjadi papah panutan untuk kalian”ucap Kusuma yang tak ia sadari air mengalir deras dari kedua matanya.


Meli yang melihat Kusuma menangis melihat kondisinya pun tak percaya, “Pah, kenapa papah tiba-tiba kayak gini, bukan nya papah yang setuju kalo kecelakaan ini kesalahan aku?”tanya Meli seraya menangis tepat di samping Kusuma.


“Rani, sayang”kini Kusuma beralih ke Rani yang masih tertidur karena habis kemoterapi. “Maafin papah ya Ran, kamu selama ini selalu sendiri, papah ga pernah hadir saat kamu ngambil rapot, rapat orang tua, maafin papah nak”Kusuma mengecup singkat kening Rani yang masih tertidur.


“Permisi, Ran..”sapa Rafli yang terpotong ketika mengetahui ada Kusuma di dalam kamar rawat Meli.


“Iya?, Siapa ya?”tanya Kusuma saat melihat Rafli yang masuk kedalam kamar dengan membawa dua nasi padang yang dibungkus beserta air mineral nya.


“Maaf om, saya Rafli temen nya Rani”jawab Rafli tanpa ragu.


“Temen?”Kusuma terdiam, berpikir sejenak. “Oh, dia yang dibilang Guntur”batin Kusuma menatap Rafli intens.


“Saya mau ngasih ini om ke Rani, dia laper katanya om”Rafli menyerahkan kantong kresek berisi nasi padang dan air mineral yang ia beli untuk Rani dan dirinya namun melihat tatapan intens dari Kusuma membuatnya tidak nyaman dan memutuskan untuk pulang ke asrama saja.


Kusuma mengambil kantong keresek tersebut kemudian tersenyum singkat, “Makasih”ucapnya.


“Kalo gitu, saya pamit dulu ya om”ucap Rafli dengan ramah, “Ohya om, nanti kalo Rani udah bangun, obatyang ini sama ini jangan lupa diminum ya”pesan Rafli seraya mengambil dua obat yang haru diminum oleh Rani.


Kusuma mengerutkan kedua alisnya, “Obat?, sakit apa Rani?”tanya Kusuma.


“Ah,i..itu vitamin om, bukan obat apa-apa ko, cuma vitamin sama suplemen apa ya. Oh gingseng”jawab Rafli ngawur dengan cengirang nya.


Kusuma mengangguk paham dengan kebohongan yang dibuat Rafli. Rafli pun pergi pulang kembali ke asrama.


“Hahaha, dasar”gumam Meli seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rafli yang kocak menurut Meli.


*****

__ADS_1


__ADS_2