
Pagi yang cerah, matahari mulai perlahan
naik dan mengeluarkan cahanya yang menyilaukan siapa pun yang melihatnya.
“Lohh, gua dimana nih”ucap Meli yang
terduduk dari tidurnya dan kemudian bangun untuk melihat siapa yang tertidur di sofa.
“Loh, Mas Hendara, Rani, Mas Evan?”Meli
bingung melihat saudara dan saudarinya tertidur di sofa ruangan yang serba putih itu.
“Kenapa mereka tidur disini?”Meli
mencoba menyuntuh tangan Mas Hendra tetapi hal yang aneh sekaligus mengejutkan
pun terjadi, Meli tidak dapat menyentuh tangan mas Hendra seperti biasanya, disaat ia mencoba menyentuh tangan nya justru tembus.
Meli merasakan ada yang tidak beres dengan dirinya, kemudian ia memutarkan pandangannya dan ia melihat dirinya sendiri yang terbaring lemah di atas ranjang putih dengan kepala yang di perban, tangan yang berbalut gips, infusan yang
terpasang di tangannya, dan alat bantu oksigen serta alat-alat untuk memprediksi jantung, semua itu membuat Meli heran dan bingung apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Kenapa gua...”Meli mendekati tubuhnya
dan kemudian melihat wajah cantik nan manis dirinya.
“Kenapa gua disini?”saking syok nya ia sampai terjatuh di lantai tubuhnya terasa lemas.
“Kalo ini tubuh gua, berarti gua...”Meli
kembali bangun dari duduk. “Roh, gua jadi roh sekarang”ucapnya sedikit teriak,
kemudian ia membekap mulutnya takut mas dan adiknya terbangun. Padahal tidak ada yang bisa mendengarkan suara Meli.
Meli berjalan keluar ruang rawat nya.
melangkahkan kaki tanpa tujuan yang pasti. Seraya berjalan ia menyentuh bagian tanaman dan dengan kaget nya ia tersadar bahwa ia dapat menyentuh tanaman yang
tersusun rapih di berbagai tempat sepanjang koridor rumah sakit. “Gua.. kok bisa sentuh tanaman ini, tadi kok gak bisa sentuh mereka”
Sebuah bola berukuran kecil
menggelinding ke arahnya, kemudian ia berjongkok untuk mengambil bola tersebut. “Bola siapa nih”gumam nya. Seorang anak kecil laki-laki berumur sekitar 6 tahun menghampirinya. “Kak, itu bola aku”ucap anak kecil tersebut dengan mengadahkan kedua tangan nya meminta bola yang dipegang oleh Meli di berikan kepadanya.
“Ah...ini bola kamu”Meli memberikan bola
tersebut kemudian sang anak tersenyum senang.
“Terima kasih kaka”wajah nya yang
mungil dan senyuman lucunya membuat Meli tersenyum tulus.
“Iya, sama-sama”seketika anak laki-laki itu pergi dengan riang.
“Et, tunggu... itu anak bisa liat
gua?”Meli kaget ketika sadar bahwa anak laki-laki tadi telah melihat dan berbicara dengan nya.
“Semua anak kecil pasti bisa melihat
arwah, karena mata batin mereka belum tertutup rapat”ujar seorang perempuan berseragam sekolah lengkap dengan rambut panjang yang memakai bando pita berwarna pink, tetapi wajahnya yang sedikit lesu dan pucat.
“Siapa lu?”tanya Meli, kemudian
perempuan tersebut mendekat ke arah Meli, Meli yang sedikit takut mundur perlahan sampai dirinya menabrak tembok putih rumah sakit.
“Gue?”si perempuan itu menunjuk ke arah
Meli dan berkata “Gue sama kayak lo”dengan cepat perempuan itu kembali ke posisi menghadap ke depan koridor rumah sakit.
Meli pun kembali ke posisi tepat di
sebalah kiri perempuan tersebut dan berkata dengan bingung. “Sama kayak gua?,
maksudnya?”.
“Arwah, kita berdua sama-sama
arwah”jawab si perempuan itu dengan cepat dan kemudian berjalan.
Meli pun mengikuti perempuan itu dan berkata “Heyy, Gua bukan arwah ya”Meli merasa kalau dirinya bukanlah arwah karena dirnya belum meninggal.
“Terus?”tanya perempuan itu datar.
Meli berpikir sejenak kemudian menjawab.
“Gua ini roh”
Si perempuan itu berhenti berjalan dan
menoleh ke arah Meli dengan tatapan yang tajam. Meli yang melihat tatapan si perempuan itu pun ikut berhenti secara mendadak dan terdiam.
“Itu sama aja roh atau arwah sama-sama
gak keliatan”ucap perempuan itu dan kembali berjalan menuju ke arah lift dan kemudian menembus lift tersebut. Meli pun ikut menembus lift tersebut.
“Hey, roh sama arwah itu beda, kalo
roh...”Meli terputus ucapan nya karena ia sendiri sebenarnya bingung apa bedannya roh dan arwah karena sebenarnya memang roh ataupun arwah memiliki makna yang sama.
“Kalo arwah itu untuk yang sudah
meninggal”jawab Meli setelah berpikir. Si perempuan itu kembali menoleh ke arah
Meli dengan tatapan yang tidak bersahabat.
“Gila nih cewe, auranya serem banget”batin Meli seraya melirik ke arah si perempuan yang sedangkan memandang ke arah pintu lift dengan diam dan tenang.
Tak lama pintu lift terbuka, Meli dan si
Perempuan itu keluar lift layaknya manusia biasa yang terlihat, bahkan Meli ikut mengantri untuk bisa keluar lift, padahal ia bisa menembus orang-orang tersebut. Sampai tiba di resepsionist, Meli memutuskan untuk duduk merenung di bangku tunngu yang berada tepat di depan meja resepsionist.
“Berita hari... kecelakaan yang menimpa
putri Kusuma Wibowo Sastrawirdjoyo...” siaran berita di televisi sedang ditayangkan. Meli langsung menoleh ke arah televisi yang cukup besar di samping meja resepsionist saat mendengar nama papahnya, ia terbelalak kaget melihat foto dirinya di televisi, ia bertambah kaget saat mengetahui bahwa dirinya terlibat kecelakaan dengan truk besar.
“Jadi itu yang ngebuat gua jadi
gini”gumam Meli sedih, ia duduk kembali dan tak sadar air mata nya terjatuh dari mata indahnya. Meli membekap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, ia menangis karena perasaan nya yang campur aduk mengetahui diri nya terlibat kecelakaan.
“Diduga Melisha, putri dari Kusuma
Sastrawirdjoyo di bawah kadar alkohol yang cukup tinggi sehingga menabrak truk yang membawa muatan kayu tersebut”mendengar siaran berita itu, Meli kembali kaget, ia sontak berdiri.
“Gua...mabok?, nyentuh tuh minuman aja gua gakpernah, mana mungkin gua sampe minum itu alkohol”Meli kembali terduduk dan
berusaha mengingat kejadian saat itu, tapi ia tidak dapat mengingat dengan pasti kejadian itu.
****
“Huh,huh,huh”Ray duduk di pinggir
lapangan dengan nafas yang terputus-putus setelah berlari cukup lama dan jarak yang tidak bisa dibilang dekat.
“Astagfirullahhh, ya Allah”pekik mas Fad
yang baru tiba tak lama setelah Ray duduk, mas Fad duduk di sebelah Ray dengan meluruskan kaki nya seraya mengatur nafas. “Tarik....huuft hembuskan huuuh, tarik.....huuft...hembuskan Huuuh”. Ray yang melihat tingkah mas-nya itu hanya
bisa tersenyum dan menepuk paha Mas Fad. “Aduhh, Ray kok di gaplok”pekik Mas
Fad kesakitan karena Ray menepuknya cukup keras ditambah memang bagian pahanya Mas Fad terekspos dengan bebas sebab memaki celana olah raga yang cukup pendek.
“Orang pelan doang ko mas”Ray tertawa
setelah melihat raut wajah Mas Fad yang kesakitan sekaligus kecapek-an, itu benar-benar lucu.
“Yok Ray”ajak Mas Fad tiba-tiba. Ray
yang bingung hanya menautkan alisnya tanda kebingungan nya, kemudian Mas Fad menepuk beberapa kali pundak Ray.
“Mau kemana Mas?”tanya Ray yang kemudian bangkit dari duduknya. Mas Fad pun menarik lengan Ray. “Mas, jangan gini loh gak enak diliatin”ucap Ray yang kemudian menatap tangan Mas Fad yang
menggandeng telapak tangan nya.
“Astagfirullah, kok jadi gini tadi
padahal niatnya gak gini loh, hehehe”ucap Mas Fad dengan cekikikan. Ray hanya
bisa tertawa melihat Mas Fad. Memang dari dulu ia dekat dengan Mas Fad yang kalo selalu ada-ada aja kelakuan nya.
****
Langkah kaki Mas Fad dan Ray terhenti di
sebuah warung nasi uduk yang berada tidak jauh dari tempat pendidikannya. Mas Fad langsung duduk dan memesan dua porsi nasi uduk komplit denganteh pahit hangat.
“Tak kira mau kemana mas”Ray duduk di
sebalah Mas Fad.
Mas Fad menatap Ray dan kemudian menepuk pundakRay. “Ini kan sudah jadi ritual, Ray”ucapan Mas Fad lagi-lagi membuat Ray mengeluarkan senyum manis nya.
“Manis ya mba”Mas Fad berbicara kepada
seorang wanita berhijab merah yang sedari tadi melihat mereka berdua, lebih tepatnya Ray. “Jomblo nih, saya mah udah punya”sambung Mas Fad dengan menunjuk
Ray kemudian dirinya seraya tersenyum.
“Emang sebelah nya”jawab wanita berhijab
merah tersebut yang membuat senyuman mas Fad mengendur dan kemudian menghilang. Ray masih diam saja melihat ibu-ibu penjual nasi uduk sedang membuatkan nasi uduk untuknya dan Mas Fad.
Si mba berhijab merah menghampiri Ray
yang masih fokus pada ibu penjual nasi uduk. “Mas saya boleh duduk disini kan?”tanyanya dengan senyuman yang tak berhenti ia tampilkan.
Ray hanya menoleh sebentar kemudian
menganggukan kepala nya.
“Mas, boleh tahu nama nya siapa?, saya
Eni”ucap Eni dengan menjulurkan tangan nya untuk berkenalan. Ray menjabat tangan tersebut. “Saya Rayan”jawab nya dengan senyum yang tipis.
“Ohh, A Rayan, salam kenal atuh”ucap Eni
dengan gaya bahasa sunda.
“Mba mau panggilnya A-a atau Mas sih?”celetuk Mas Fad.
“Apa aja lah yang penting asik”jawab Eni
yang masih terus melihat wajah manis dan tubuh gagah nya Ray.
“Ya deh, terserah, sakarep mu”jawab Mas Fad yang sedikit kesal karena dirinya seperti angin yang berhembus, tak terlihat.
Setelah nasi uduk yang dipesan tersaji,
Mas Fad dan Ray menyantap nasi uduk tersebut dengan lahap terutama Mas Fad yang sedari tadi sudah mengeluh lapar.
“Teh, ini nasi uduk nya, jadi lima belas
ribu”ujar ibu penjual sekaligus menyerahkan bungkusan nasi uduk dan gorengan yang di pesan oleh Eni. Eni pun memberikan satu lembar uang dari saku nya.
“Cepet banget jadinya”Eni kembali memandang Ray yang fokus melahap nasi uduk nya.
Setelah mendapat kembalian Eni pun
beranjak dari tempat duduk nya dan menatap ke arah Ray. “A...Eni duluan ya, semoga kita bisa ketemu lagi, permisi”. Ray hanya menatap dan menganggukkan kepalanya mendengar pamit dari Eni, hatinya lega ia bisa tenang sekarang.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, mas Fad dan Ray kembali dan membersihkan diri lalu bersiap untuk memulai kelas Bahasa Jerman kembali. Sudah hampir mencapai ujian akhir, maka dari itu Mas Fad dan Ray harus lebih ekstra fokus kepada materi yang disampaikan oleh guru.
****
Setelah mendengar berita yang membuatnya bingung, Meli memutuskan untuk berjalan keluar rumah sakit untuk mencari udah yang lebih segar. Setibanya di depan rumah sakit, Meli melihat si perempuan berseragam SMA yang tadi berada di sebuah taman yang berada tidak jauh dari Rumah sakit.
Meli memutuskan untuk menghampiri
perempuan tersebut. “Heyy, ngapaindisini?”tanya nya pada si perempuan yang sedang duduk dia ayunan.
Si perempuan itu menoleh dan menjawab “Gue
cuma mau disini, kenapa emang nya?”.
“Ett, santai dong”Meli duduk di ayunan
tepat di sebelah perempuan itu. “Oh iya, sebelumnya gua belum kenal sama lu
nih, gua Meli”Meli tersenyum saat memperkenalkan dirinya.
“Ana”ucap nya singkat.
“woow, adik nya elsa?”tanya Meli
sengaja untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu canggung ataupun seram.
Ana hanya menatap Meli dan kemudian kembali mengayunkan pelan ayunan yang dinaikinya.
“Lu...meninggal kenapa?”Meli bertanya
pada Ana yang masih memainkan ayunan dan mellihat ke sekitar taman. “Umur berapa?”.Meli ikut memainkan ayunan yang dinaikinya dengan pelan. “Dimana?”pertanyaan terakhir yang diucapkan Meli membuat Ana menoleh dengan tatapan khas nya tajam.
“Kk...kan Cuma nanya, mau jawab oke,
kalo gak juga ya gak papa”Melli sedikit bergidik saat melihat tatapan Ana.
Ana menyudahi ayunan nya dan menatap
Meli. “Lo sendiri?”Ana bertanya pada Meli dan itu sukses membuat Meli terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang akan diberi.
“Gua... gua juga gak ngerti kenapa bisa
__ADS_1
berakhir kayak gini”jawab Meli dengan tatapan yang lurus memangang kearah jalan
raya yang mulai padat kendaraan.
“Dibunuh?”pertanyaan Ana mendapat
gelengan kepala dari Meli. “Kecelakaan?”kini Meli mengangguk pelan dan menoleh
ke Ani dengan wajah datar nya.
“Eh, tapi gua belum mati ya, masih
koma”ucapan Meli mendapat senyuman miring dari Ana.
“Iya belum mati, tapi... diambang
kematian, sama aja”ujar ana yang kemudian berdiri dari tempat nya dan berjalan.
Meli yang melihat itu sontak berdiri dan
mengikuti Ana. “hey, lu belum jawab pertanyaan gua ya, gak adil nih”Meli
mencoba meraih pergelangan tangan Ana tetapi Ana sudah berbalik badan dan menghadang Meli.
“Gue gak tau mati gara-gara apa, tapi
yang pasti gue gak mungkin bunuh diri”Ana menjawab pertanyaan Meli dengan sedikit perasaan sedih, karena ia tidak ingat mengapa dirinya bisa Meninggal. “Oh ya dan umur gue 18 tahun”sambung Ana dan kemudian melanjutkan jalannya.
****
Jam menunjukkan pukul 13.20 siang,
“Iya bu, tenang aja, besok kan minggu
aku pasti temuin dia”Ujar Ray yang sedang berbicara dengan sang ibu melalui
telepon.
“........”
“Iya bu”
“........”
“Iya, yaudah sehat-sehat bu”
“........”
“Wa’alaikumsalam warohmatullah”Ray
menaruh hp nya kembali ke meja yang ada tepat di samping kasurnya.
“Buk le?”mas Fad masuk ke kamar dengan
membawa banyak buku sekitar 4 buku yang cukup tebal.
Ray menatap Mas Fad bingung dan mengangguk sebagai jawaban. “Mas, tumben baca buku, biasanya langsung minus
kalo baca buku”Ray menggoda mas Fad yang sedang membuka halaman salah satu buku
tersebut.
“Sembarangan, aku ini memang anak yang
rajin mambaca lohh”jawab Mas Fad, masih fokus pada buku nya.
Ray menggelengkan kepalanya “Baca apa?, komik?” Ray mendekat ke arah Mas Fad untuk mengetahui buku apa yang dibaca oleh nya.
“Sek, komik itu bukannya obat yo”ujar
Mas Fad menatap Ray.
Ray terdiam sebentar, “Itu komix mas, pake
eks, yang warna biru tua, muda sama hijau”Ray duduk di samping mas Fad.
“Eh kurang satu”sambung mas Fad dengan semangat.
“Opo meneh toh mas”Ray menggaruh tengkuk nya yang sebenarnya tidak gatal.
Mas Fad tersenyum kemudian “Warna kuning
nya lali”ucap mas Fad seraya memperlihatkan satu bungkus komix herbal milik dirinya.
“Mas, sampean kok bisa jadi tentara yo, ini
oren mas bukan kuning”Ray tertawa dan membenarkan warna yang disebutkan mas Fad dan mas Fad pun terkekeh saat menyadari bahwa bungkusan komix nya berwarna oren bukan kuning.
Mas Fad menepuk pelan pundak Ray yang
sedang membaca salah satu buku berbahasa Jerman yang dipinjam oleh Mas Fad.
“Kan kamu tau Ray, kenapa saya bisa jadi tentara”.
Ray berhenti sejenak, “Iyo mas tau, tapi
sekarang gimana perasaan nya jadi tentara?”pertanyaan Ray membuat mas Fad
tersenyum simpul.
“Kamu sendiri gimana setelah jadi kayak
sekarang ini?, kita kan gak jauh beda Ray”ucapan mas Fad membuat Ray tersenyum dan kemudian ia beranjak dari kasur mas Fad beralih ke jendela.
“Saya seneng sekaligus bangga mas, bisa
jadi kaya Ayah”ray membuka jendela dan menghirup udah yang segar dari luar jendela.
“Pa le udah pasti bangga sama kamu”mas
Fad menyusul Ray yang duduk di tepi jendela kemudian menepuk pundak Ray sedikit kencang.
“Pakde juga pasti bangga mas”Ray
menepuk pundak Mas Fad dengan cukup kencang.
“Aww, ini kenapa malah pukul-pukulan
pundak ya, hahaha”ringis mas Fad yang merasakan sakit pada pundaknya walaupun
tidak seberapa.
Mereka menghabiskan waktu untuk istirahat dengan sharing tentang bahasa Jerman dan bercanda sesekali.
Ray melirik ke arah jam dinding kemudian
mempercepat memakai sepatu hitam nya, hari ini Ray akan bertemu dengan Karin,
seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter di Great Hospital, salah satu rumah sakit terkenal dan mewah di Jakarta Timur.
“Wihh, udah ganteng aja masnya, mau
Ray tersenyum tipis pada mas Fad, “Mau
ke jakarta, mas”jawaban Ray sukses membuat teh yang di dalam mulut mas Fad
muncrat keluar untungnya tidak terkena Ray yang berada di depan nya.
“Kamu mau ke jakarta Ray?”pekik mas Fad
dengan sedikit keras dan hanya dibalas anggukan oleh Ray. Mas Fad berpindah
tempat duduk tepat di sebelah Ray. “Karin ya?”tanya mas Fad selagi mengamati Ray yang tengah merapihkan tali sepatunya.
“Iyo mas, siapa lagi”jawab Ray kemudian
berdiri dari duduknya, “Yaudah mas, pamit aku, mas juga dong, temuin mba Sarah
lah”Ray pamit pada mas Fad dengan meninju pelan pundak mas Fad.
Mas Fad terdiam sejenak kemudian
menjawab “Pingin sih, tapi Sarah lagi sibuk-sibuk nya karena dia banyak tugas
di kerjaan”mas Fad ikut berdiri dan mengantar Ray sampai depan pintu kamar.
“Justru itu, ajakin refreshing lah mas, biar
gak kusut”mendengar ucapan Ray, mas Fad hanya tertawa ringan.
“Apa kamu udah bisa deket cewe lain,
Ray?”pertanyaan mas Fad membuat Ray terdiam sejenak kemudian mengangguk pelan.
“Insyaallah mas, semoga aja, dicoba dulu”jawabnya, mas Fad hanya mengangguk paham.
Ray pergi ke jakarta menggunakan
kendaraan umum, yaitu kereta. Ray sebenarnya ingin menolak perjodohan yang
dirancang oleh sang Ibu, ia masih belum bisa melupakan kekasih nya yang meninggal empat tahun lalu, saat itu ia baru menjadi taruna di Akademi Militer. Ia masih fokus pada pelatihan nya tidak sempat untuk bertemu kecuali pada saat pesiar (waktu dimana taruna/i akmil jalan-jalan keluar di hari minggu dan libur nasional asalkan tidak ada tugas nonakademik). Pada saat pesiar Ray sering pergi ke suatu tempat dimana ia dan kekasih sering bertemu setiap libur.
Pada saat sang kekasih kecelakaan dan
meninggal, ia juga sudah sangat sibuk dengan tugas, baik akademik maupun non
akademik jadi ia tidak ada waktu untuk berkabar dengan kekasih, sesekali ia mengirim pesan dengan bantuan kaka tingkat atau wali asuh nya.
Pada saat wisuda, Ray baru mengetahui
bahwa sang kekasih yang selalu mensupportnya dari dia masih belum jadi apa-apa meninggal dunia ditambah sang ayah yang juga pergi meninggalkan nya tepat tiga hari sebelum wisuda.
****
November, 2020
Semua taruna dan taruni sedang menunggu saat-saat yang paling dinantikan selama ini, mereka akan melaksanakan wisuda.
Setelah semua rangkaian acara demi acara terlaksana, kini saat nya semua para taruna dan taruni menghampiri orang tua
masing-masing. Dalam sekejab semua nya terasa haru, bangga, dan bahagia bercampur menjadi satu.
Ray menghampiri sang Ibu dan bersujud di
kedua kaki ibuny dengan menangis. “Bu, makasih udah menjadi Ibu yang paling
baik di dunia, maafkan Ray selama ini selalu jadi anak yang nyusahin Ibu dan Ayah”sang Ibu yang sudah pasti banjir akan air mata itu kemudian mengangkat bahu Ray menyuruhnya berdiri kemudian memeluk erat sang anak seraya mengelus lembut punggung anak laki satu-satunya itu.
“Ibu juga minta maaf, Ray karena ibu
belum bisa menjadi ibu yang seperti kamu harapkan, le”ucap sang ibu dengan terus memeluk erat tubuh tinggi Ray.
Melepaskan pelukan nya “Bu, Ibu gak perlu minta maaf, karena selama ini Ray yang nakal dan gak nurut sama Ibu”jawab Ray memeluk
ibu nya kembali. Kemudian Ray melepaskan kembali pelukan nya pada sang ibu dan
beralih ke kakak perempuan nya, Riska.
Ray memeluk erat Riska dengan air mata
yang terus mengalir. “Mba... maafin aku ya, selama ini selalu bikin mba kesel,
capek, marah, maafin aku dan terima kasih atas dukungan dan kasih sayang terselubungnya”ray sesekali tertawa disela tangis nya mengingat kenakalan nya
pada Riska.
Riska yang mendengar itu dari Ray sontak
menangis dan membalas pelukan Ray dengan eraatnya, walaupun mereka sering
berantem dan kadang tidak menampilkan kasih sayang secara terbuka, namun dihati
kakak-beradik itu menyimpan rasa sayang dan cinta yang begitu dalam untuk satu
sama lain.
Di setiap doa yang Riska panjatkan
selalu terselip doa untuk sang adik, agar dapat meraih cita-cita nya menjadi seorang tentara. Sebelum akhirnya menjadi taruna, Ray sudah pernah mendaftar bintara lebih dulu pada usia 18 tahun namun ia belum diterima, jeda cukup panjang setelah mendaftar bintara akhirnya ia memutuskan untuk masuk akademi militer, yang tak disangka oleh dirinya di sanalah takdirnya berlabuh.
Ray melepas pelukan Riska dan bertanya,
“Mba, Bu, dimana Ayah?”pertanyaan
Ray membuat Ibu dan Riska mengalihkan perhatian nya ke arah lain tidak ingin
menatap Ray yang kebingungan karena ia tak melihat sang ayah yang sebenarnya sangat meng-inginkan Ray menjadi seorang perwira muda.
“Bu, mba Riska...mana Ayah?”tanya Ray lagi yang kali ini merasakan rasa aneh dan tidak enak di hatinya.
Ray mengedarkan pandangan nya ke seluruh tempat dan ia tidak menemukan sosok Ayah yang dikagumi nya selama ini.
“Bu... jawab”Ray memegang bahu Ibu
dengan sedikit mengguncangkan nya. Riska kemudian memeluk Ray dan berbisik “Ayah udah pergi”saat Riska mengucapkan nya hati Ray berasa sesak ia menjadi sulit bernapas. “Kemana ayah pergi,mba? Jakarta?”tanya Ray yang masih berharap jawaban Mba Riska akan melegakan hatinya.
Ibu mendekat ke arah Ray yang masih
berdiri tepat dihadapan Riska yang masih diam dan menangis. “Bapak sudah tenang
disisi Allah”saat itu juga sekujur tubuh Ray terasa lemas sampai ia terduduk di rerumputan yang cukup lebat. Riska memeluk Ray yang menangis seraya menutupi wajah nya.
Semua orang yang berada disana juga
mengalihkan pandangan nya ke arah Ray, bahkan beberapa kawan nya selama pendidikan menghampirinya dan memeluk menenangkan Ray tak terlewatkan Mas Fad
yang kala itu sudah lulus juga turut hadir di acara wisuda Ray ikut memeluk Ray dan air mata yang terus mengalir.
Rusdian Herdianto, ialah Bapak dari
Rayan dan Riska, beliau seorang tentara lulusan Bintara dengan pangkat terakhirnya Kolonel. Ia dikenal sebagai orang yang baik, ramah, bertanggung jawab, dermawan. Ia
__ADS_1
orang yang selalu memotivasi orang-orang di sekitar nya termasuk Rayan sebagai anak laki satu-satu nya. Sedari kecil ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk dekat dengan kedua anaknya. Ia sangat senang ketika mengetahui Rayan ingin menjadi seorang tentara sepertinya.
Tapi ia berharap supaya Rayan bisa
menjadi lebih dirinya. Ia ingin Rayan menjadi seorang perwira muda yang gagah dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Walaupun ia punya harapan seperti itu tapi ia tidak pernah sekalipun menekan atau memaksa Ray untuk harus mewujudkan kehendaknya, ia selalu membebaskan Rayan dan Riska ingin menjadi apa dan melewati jalan apa. Ia hanya berpikiran bahwa ia harus selalu mendukung kedua anaknya yang tercinta.
Hubungan Ray dan Ayahnya memang sangat dekat, mereka punya hobi dan kesukaan yang sama, sehingga hubungan mereka tidak sekedar ayah dan anak namun seperti kakak-beradik dan sahabat.
Ray sudah mulai bisa mengatur kesedihannya, kini ia duduk di tepi lapangan ditemani oleh Mas Fad dan kawan lainnya.
“Mas, vina kok gak dateng ya”ucap Ray
yang membuat Mas Fad memalingkan pandangan nya seraya menahan tangis karena telalu sedih melihat Ray dihari bahagia nya harus mendengar dua kabar duka
sekaligus.
Setelah mengatur nafasnya dan serasa
bisa, Mas Fad kembali memandang Ray dan menepuk bahunya. “Mungkin.... vina lagi
sibuk, Ray”jawab Mas Fad yang mencoba tenang.
Ray mengangguk pelan kemudian menatap
Mas Fad dengan bingung “Tapi dia gak mungkinsampai gak dateng di acara wisuda ku, Mas”Ray mulai aneh dengan apa yang terjadi.
Mas Fad menjawab. “Yaaa... kan bisa aja
lagi ada urusan mendadak jadi gak bisa dateng"Mas Fad berusaha agar terlihat normal saja. “Eh iya, kita makan dulu ya nanti, ada restoran enak banget pokoknya”ujar mas Fad mengalihkan pembicaraan. Ray tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
“Letda Kav. Rayan Dwi Hardianto”panggil
Letjen Agung Wiryoso, seorang Jenderal TNI bintang 3 sekaligus seorang KSAD
(Kepala Staff TNI Angkatan Darat).
“Siap”dengan sigap Ray dan Mas Fad
bangun dari duduknya kemudian memberi hormat pada Letjen Agung.
Letjen Agung menghampiri Ray dan memeluk
nya seraya menepuk lembut pundak Ray. “Ray, ayahmu pasti bangga”ucapan Letjen Agung membuat Ray kembali tegar, Ray menganggukkan kepala nya pelan dan
membalas pelukan dari Letjen Agung dengan erat menganggap bahwa itu tubuh sang
ayah. Ibu Ely, istri dari Letjen Agung ikut mengusap pundak Ray dengan lembut.
Letjen Agung adalah teman seperjuangan
Rusdian sedari masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah
atas, mereka tinggal di kampung yang sama, mereka sudah seperti kakak-beradik yang selalu membantu dalam kesulitan dan berbagi dalam kebahagiaan.
*****
Meli yang sejak tadi berkelana kini ia
memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, ia merasa lelah karena terus berjalan
mencari seseorang yang mungkin dapat melihat nya agar bisa dimintai bantuan,
namun hasilnya nihil ia tidak menemukan orang yang ia cari bahkan ia sudah mengunjungi rumah Reza, sepupu nya yang mempunyai mata batin namun sayang Reza
sedang kuliah di Australia dan Meli lupa akan hal itu.
“Awww”Meli meringis saat kaki nya di injak oleh sepatu hitam mengkilat.
Ray yang merasa bersalah langsung
meminta maaf pada Meli. “Maaf saya gak sengaja”.
Meli mengangkat kepala nya menatap wajah
Ray kemudian ia menggeleng pelan. “Iya, lainkali hati-hati om”.
Ray yang mendengar kata ‘om’ tersentak
kaget, namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja lalu pergi berlalu. Meli mengusap pelan kaki nya yang diinjak oleh Ray, tak lama ia menyadari sesuatu.”Tunggu... dia bisa liat gua?, dia juga bisa nyentuh gua?”pekik Meli
yang berdiri dari duduk nya saking tersentak nya dia mengetahui orang yang ia cari sudah ada.
Tanpa beralama-lama Meli mengikuti
sekelompok dokter yang sedang menunggu pintu lift terbuka. “Gua ikut ini ajalah, kemana aja yang penting gua berusaha”gumam Meli di tengah para dokter yang sedang membicarakan para pasien nya.
Setelah sampai pintu lift pun terbuka,
ia ikut dengan para dokter turun di lantai lima rumahsakit, setelah keluar darilift Meli langsung bergegas untuk mencari di setiap lorong dan ruangan yang ada berharap ia bertemu dengan Ray.
Setelah cukup lama ia menelusuri lantai
lima namun hasilnya nihil dan ia memutuskan untuk kembali ke kamar nya untuk
beristirahat. Meli berdiri di depan pintu lift menunggu terbuka. Saat pintu lift terbuka betapa kaget nya ia mendapati Ray berada di lift tersebut dengan seorang dokter muda yang cantik.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba”batin
Meli yang langsung masuk dengan aman tanpa dihiraukan oleh semua orang kecuali
Ray yang tersenyum tipis kepada Meli yang dibalas senyuman lebar dari Meli, ia
sangat senang bertemu dengan Ray setidaknya ia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah sampai di lantai dasar pintu
lift terbuka, semua orang keluar dari lift termasuk Meli, Meli memilih duduk di kursi resepsionist seraya melihat tanaman yang ada tepat di sampingnya, menunggu Ray dan dokter cantik berbincang.
Setelah selesai berbincang dengan dokter
cantik tersebut, Ray langsung pergi tanpa melihat Meli yang masih mencoba sibuk
dengan kegiatan absurd nya. Meli kemudian mengikuti Ray dari belakang dengan perlahan.
Setibanya di halte, Ray duduk dan
mengeluarkan Handphone dari saku celana nya. Meli yang sedari tadi berada di belakang Ray, kini ia duduk di sebelah Ray yang fokus pada layar Handphone nya.
“Om”panggil Meli dengan pelan
Ray merasa ada orang disampinnya
langsung melihat ke sampingnya dan ia terkejut saat mengetahui Meli sudah ada
di samping nya. “Sejak kapan kamu disini?”tanya Ray bingung dan hanya mendapat senyuman tipis dari Meli sebagai jawaban nya.
“Kenapa kamu ngikutin saya?”tanya Ray
yang kembali fokus pada layar Handphone nya. Meli yang mendengar pertanyaan Ray
bingung bagaimana memberi tahu Ray yang sebenarnya.
“Om, sebenernya saya itu bukan manusia
eh... maksudnya saya ini roh dan jasad saya lagi dirawat di rumah sakititu”Meli memberanikan diri mengungkapkan mengenai diri nya yang hanya roh tak
terlihat seraya menunjuk Rumah Sakit Great.
Ray yang mendengar jawaban Meli
tersenyum miring dan bertanya kepada Meli “Kamu penulis?”pertanyaan Ray membuat
Meli heran dan bingung kenapa Ray tiba-tiba bertanya demikian.
Meli menggelengkan kepalanya “Bukan,
saya bukan penulis”Ray kemudian kembali menatap Meli yang juga sedang menatap
Ray.
“Kalau drama? Suka nonton?”pertanyaan
Ray kali ini diangguki dengan cepat oleh Meli.
“Gak Cuma drama kok, film juga suka”jawab Meli dengan tersenyum.
Ray berdiri dari duduk nya. “Pantes”ucapnya pelan dan kemudian berjalan ke depan halte yang tak lama sepeda motor dengan logo dihelm dan jaket yang khas berhenti tepat di hadapan Ray. Meli yang menyadari bahwa Ray akan pergi dengan motor itu langsung bergegas naik ke depan motor selagi Ray memasang Helm nya.
*****
Setelah cukup lama perjalanan, mereka
sampai di stasiun, Ray turun dari motor dan heran melihat abang ojol yang sedang membuka helm, masker dan juga jaketnya. “Loh mas, kenapa dicopot semua?”tanya Ray heran seraya menaruh helm nya di spion motor abang ojol.
“Ini loh mas, dari tadi saya ngerasa sesek gak
bisa napas, kayak sempit banget tadi”jawab abang ojol yang masih mengatur napasnya.
“Perasaan di depan gak ada apa-apa ya
mas”Ray melihat sekilas ke bagian depan motor dan tidak ada satu barang pun di sana.
“Iya mas, makanya mungkin saya belum
makan kali ya”ujar abang ojol dengan cengiran nya yang membuat Ray tersenyum. Ray memberikan beberapa lembar uang ke abang ojol.
“Sebentar mas, kembalian
nya”abang ojol membuka tas nya.
“Gak usah mas, itu tip buat mas nya”jawab Ray cepat dengan ramah.
“Makasih ya mas”abang ojol pun tersenyum
dengan lebar.
Kemudian Ray langsung bergegas masuk ke dalam stasiun. Di dalam stasiun suasana nya ramai namun kondusif. Ray duduk di
bangku ruang tunggu, sambil menunggu kedatangan kereta yang akan ia naiki, ia
membeli camilan untuk ia makan di saat perjalanan nanti.
Saat keluar dari minimarket alangkah
terkejutnya Ray melihat Meli yang duduk di kursi depan minimarket. “Kamu?, kamu
kenapa sih ngikutin saya terus, apa mau kamu?”tanya Ray yang berdiri tepat di
samping Meli yang sedang duduk.
“Saya cuma mau om nolongin saya”jawab
Meli dengan santai. Ray yang mendengar jawaban itu heran.
“Saya harus bantu apa?”tanya Ray yang
sekarang duduk di kursi sebelah Meli.
Meli yang mendengar hal itu langsung
tersenyum dan menghadap ke arah Ray. “Bener om, om mau nolong saya?”tanya Meli dengan antusias.
“Bantu apa dulu”jawab Ray seraya mencoba
membuka tutup botol minuman yang ia belli tadi.
Meli kembali bingung kemudian ia menjelaskan bahwa dirinya kecelakaan. “Om, sama yang kayak saya bilang di halte, saya ini roh dan saya ingin tahu kenapa saya
bisa kecelakaan.”jawaban Meli kembali membuat ray kesal, karena Ray menganggap
Meli semua ucapan Meli hanya omong kosong.
“Saya gak bisa bantu”jawab Ray yang
kemudian berdiri dan melangkah pergi, Ray terhenti sejenak di sela langkahnya dan kembali menatap Meli yang masih duduk dengan pandangan ke tempat yang diduduki oleh Ray sebelum nya. “Satu lagi, berhenti omong kosong”ucap Ray yang berlalu pergi meninggal kan Meli yang melihat kepergian Ray.
“Aah, omong kosong?, gua ngerti sih ini
kayak yang gak bisa di mengerti tapi ini kan beneran”gumam Meli dan tak lama ia bangun dari duduk nya dengan semangat yang ia miliki dan bergumam seraya mengepalkan kedua tangan seperti orang yang memberikan semangat. “Gua harus berusaha lagi ngeyakinin dia kalo yang gua omongin itu nyata”Meli kembali mengikuti Ray yang ternyata hendak menaiki kereta.
*****
Di gerbong yang dinaiki oleh Ray tidak
memiliki banyak penumpang masih ada beberapa bangku yang kosong, Meli duduk di
bangku yang berjarak 3 bangku ke depan dengan tempat duduk Ray. Meli terus
beberapa menit sekali melihat bangku yang ada Ray untuk memastikan Ray tidak
hilang dari pendangannya.
Kereta berjalan dengan kecepatan yang
normal, Meli menatap ke kaca yang berada di sebelah kirinya lalu ia tersenyum mengingat saat ia dan keluarga nya menaiki kereta untuk ke rumah eyang kakung.Meli menepis lamunan nya dan kembali memandangi pemandangan indah yang tersaji
di setiap perjalanan.
Sekitar dua setengah jam perjalanan,
akhirnya kereta berhenti di stasiun Cimahi. Ray turun dari kereta tanpa menyadari bahwa Meli mengikutinya. Meli yang bertekad untuk fokus dan tidak tidur ternyata berbalik, ia tidur sudah satu jam dan ia tidak menyadari bahwa
kereta sudah berhenti. Tak lama Meli bangun dari tidur nya dan teringat Ray,ia langsung melihat ke bangku Ray dan ternyata Ray sudah tidak ada di tempat nya, Meli berdiri dan melihat sekelilingnya yang sudah kosong.
Meli kaget melihat Ray sudah berjalan
menuju ke luar stasiun, dengan buru-buru ia menuju pintu keluar yang ternyata sudah tertutup. “Aduh gimana ini”gumam Meli dengan panik, ia mencoba berteriak kepada petugas untuk membukakan pintunya. “Pak tolong buka pintunya, saya mau turun, tolong pak”namun teriakan Meli tidak ada balasan.
“Oh iya kan gua roh, bisa nembus ah dasar”ucapnya seraya menepuk pelan dahi nya, kemudian Meli menembus pintu gerbong tersebut.
*****
__ADS_1