
“Ray...”panggil mas Fad membangunkan Ray yang tertidur di samping tubuh Meli yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Ray membuka matanya dan langsung melihat keadaan Meli yang masih menutup mata nya kemudian melihat kesekeliling nya namun tetap saja dia tidak menemukan roh Meli seperti yang biasanya.
“Ray, ayo pulang ke asrama, hari ini kan ada pelantikan anggota baru”
“Tapi mas,”
“Disini ada Rani sama Rafli yang bakal pantau dan jagain Meli” Ray menatap ke arah Rani yang masih tertidur kemudian ke arah Rafli yang menganggukan kepala nya seraya tersenyum untuk meyakinkan Ray. “Aku bisa ga ikut ga mas?”.
Mas Fad yang mendengar itu pun langsung menyentil dahi Ray, “Piye toh, kamu ini kan Danton, jadi harus ikut lah, tanggung jawab sebagai ksatria sejati dong Ray”.
“Iya iya mas, aku pulang, lima menit lagi ya”
Mas Fad menggeleng tegas kemudian menarik Ray pergi pulang ke asrama. “Titip Raf”ucap mas Fad sebelum pergi.
“Jangan ada kesalahan Raf, tolong”tambah Ray yang kemudian pergi dari kamar kembali ke asrama.
Rafli hanya mengangguk dan tersenyum serta memberikan jari jempol nya pada Ray dan mas Fad tanda bahwa semua nya akan baik-baik saja.
*****
Setibanya dirumah Ray langsung membersihkan dirinya. “Sepi ya”gumam nya sesaat setelah keluar kamar mandi menatap dapur yang biasanya Meli gunakan untuk memasak makanan Ray. Setelah siap berpakaian rapih dan lengkap Ray pun memilih duduk sebentar di kursi meja makan seraya menatap kursi kosong dihadapan nya.
Pikiran nya kembali ke saat Meli memakan makanan buatan nya, mengobrol santai dengan Ray seraya meminum secangkir teh. Ray merasa kesepian saat tak melihat Meli padahal ia baru beberapa jam saja tidak melihat Meli.
“Semoga dia bisa terus hidup untuk meraih mimpinya”gumam Ray pelan seraya mengambil selembar roti gandum kemudian menuangkan susu di gelas nya.
Sebenarnya Ray sudah lama sejak kematian kekasihnya, ia memillih untuk tidak mencari pengganti nya. Sampai Ibu nya menyusun perjodohan nya dengan Karin yang beberapa bulan lebih muda darinya. Ray tidak munafik dia memang mengakui bahwa Karin memiliki sifat baik dan penyayang serta kecantikan wajah nya yang menjadi nilai plus.
Namun entah mengapa Ray tidak ada rasa apa pun saat bersama Karin, dia hanya menganggap Karin sebagai adik sekaligus temannya tidak lebih. Pada awal nya, Ray tidak ingin menerima perjodohon yang di susun Ibunya namun karena dia juga menyayangi Ibunya, orang tua satu-satu nya yang masih ia milliki. Ibunya selalu sedih saat melihat Ray yang tidak bisa melupakan mantan kekasihnya yang telah tiada.
Ibunya sering kali menyemangati Ray dengan segala kekuatan dan dukungan yang bisa dilakukannya, sampai akhirnya Ray memutuskan untuk menyetujui untuk berkenalan lebih dekat dengan Karin, baru ke jenjang yang lebih serius.
Tapi saat bertemu dengan Meli, dia jadi kembali merasakan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, dia merasa seperti Meli mampu membuka hatinya yang telah lama tertutup dengan satu nama. Ray selalu merasa bahagia ketika melihat Meli bahagia, dia menjadi sedih saat melihat Meli merasakan sedih.
Pada awalnya Ray hanya menganggap bahwa perasaan itu hanyalah sebatas rasa simpati pada Meli yang tengah ditimpa musibah kecelakaan. Ray juga mulai merasa terbiasa dengan kehadiran serta gangguan yang sering Meli lakukan.
“Ray, ayo”mas Fad menepuk pundak Ray pelan, menyadarkan Ray dari lamunan nya di meja makan.
“E..eh iya mas tunggu”Ray langsung bergegas menghabiskan susu yang tersisa di gelas nya.
“Cepet, kamu tuh jangan lesu gitu toh, semangat”mas Fad memberikan semangat pada Ray yang terlihat lesu dan kurang bersemangat tidak seperti sebelum-sebelum nya. “Kamu. Jatuh cinta Ray?”pertanyaan mas Fad membuat Ray menghentikan aktivitas nya yang sedang mencuci gelas bekas susu nya.
Ray menatap mas Ray dengan mata yang sedikit terbuka lebar, “Apa iya ya mas?”.
“Dari sikapmu sih, aku yakin kamu jatuh cinta Ray”jawab mas Fad menatap Ray yang masih berdiri di depan westafel. “Ray, kamu tau nggak?,”
Belum selesai mas fad bicara Ray sudah lebih dulu menggelengkan kepala nya seraya menaruh gelas yang habis ia cuci di rak cuci piring.
“Yaa kan belum tak kasih tau”ucap mas Fad seraya duduk di kursi meja makan menghadap Ray. “Aku pernah denger ini dari mbah Suwito, katanya kalo roh orang yang koma kembali ke tubuhnya dan sadar,”ucapan mas Fad sengaja dijeda untuk melihat ekspresi Ray.
“Kenapa mas?”tanya Ray dengan raut wajah yang penasaran sekaligus takut, takut akan jawaban yang tidak mengenakan dari mas Fad.
Mas Fad tersenyum, “Penasaran banget yo?”mas Fad mendapat cipratan busa bekas mencuci gelas dari Ray. “Iyo iyo, semua kejadian pas jadi roh itu bakal ke apus, alias lupa ingatan nya”sambung mas Fad.
Ray yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangan nya ke lain tempat, “Berarti, pas Meli sadar nanti, dia gak inget aku mas?”ada perasaan sedih saat Ray bertanya pada mas Fad.
Mas Fad mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Ray, mas Fad beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri Ray seraya merangkul pundak nya. “Ray, kan kalo emang kamu sama Meli berjodoh. Sekalipun nanti dia ga inget sama kamu, kamu dan Meli pasti bakal bersatu”ucap mas Fad memberikan semangat pada Ray.
“Iya mas, karena jodoh setiap orang sudah di atur dan ditulis di lauh mahfudz. jika dia jodoh saya pasti akan mencari jalan untuk menemui dan bersatu dengan saya. Gak akan tertukar”Ray tersenyum menatap mas Fad, mas Fad pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Ray sambil tersenyum menatap Ray.
“Ngomong-ngomong, kita romantis juga ya”ucapan mas Fad membuat Ray melepaskan diri dari rakulan mas Fad dan berlalu pergi untuk memakai sepatu nya.
“Ray...mau orang itu sedeket dan secinta apapun sama pasangan nya tapi kalo bukan jodoh mah ga akan bersatu”
Ray yang masih berkutik dengan sepatunya hanya mengangguk setuju dengan ucapan mas Fad yang sedikit meredakan rasa sedih di hati nya.
“Begitu pun sebalik nya, makanya kita sebagai manusia harus selalu berharap kepada Allah agar kita tidak kecewa”
“Iya mas, bener, kalo kita berharap sama manusia yang bakal kita dapet yaa Cuma kekecewaan”
“Iya, makanya itu, mari kita ubah mineset kita”
“Mindset mas”Ray membenarkan pelesetan mas Fad kemudian tersenyum.
“Bang, belum berangkat rupanya, ayo”tegur Sahat yang sedang berjalan menuju lapangan untuk acara pembaretan bagi para anggota baru.
“Iya ayo bareng”
*****
Dirumah sakit, Meli masih belum sadarkan diri pasca operasi. Rani sedang membersihkan tubuh Meli dengan mengelap air hangat.
__ADS_1
“Ran, ini sarapan nya, maaf telat ya tadi agak ngantri soalnya”ujar Rafli yang memasuki kamar dengan membawa bungkusan berisi dua bungkus nasi uduk dan dua botol air mineral.
“Iya gapap ka, ka Rafli kalo laper makan duluan aja, aku masih bersihin mba ”jawab Rani dengan senyum cerah nya seraya mengelap bagian tangan Meli yang terpasang infus.
“Ngga, kita makan bareng aja”Rafli lebih memilih makan bersama Rani dan menunggu Rani sampai selesai membersihkan Meli.
“Aku masih lama loh, belum lagi nanti abis ini aku mau mandi dulu”
“Yaudah gapapa, saya tunggu”
Rani tersenyum mendengar jawaban kekeh Rafli. “Oke, yaudah sabar ya”.
Setelah rampung membersihkan Meli dan dirinya sendiri, akhirnya Rafli dan Rani memakan sarapannya bersama-sama seraya berbincang santai.
“Kamu mau lanjut SMA mana Ran?”tanya Rafli setelah menelan nasih yang baru ia kunyah.
Rani menggelengkan kepala nya pelan, “Di SMA Satu Nusantara ka”.
“Nanti siapa yang daftarin kamu?”
“Aku sendiri ka”
“Mau saya bantu?”tanya Rafli menawarkan bantuan untuk mendaftarkan Rani ke sekolah selanjutnya.
“Sebenernya sih aku emang butuh bantuan, untuk bikin surat-surat sama,”jawaban Rani terhenti, ia bingung mengatakannya.
“Apa?”tanya Rafli yang penasaran dengan kelanjutan ucapan Rani.
“Wali”jawab Rani lirih kemudian melanjutkan makannya.
Rafli yang mendengar itu sontak langsung menatap Rani dengan rasa iba. “Saya bisa ko jadi wali kamu”ucapan Rafli membuat Rani langsung menegakan kepala nya menatap Rafli yang tersenyum.
“Serius ka?”
Rafli mengangguk meyakinkan Rani, “Kalo aku boleh tau, orang tua kamu?”pertanyaan Rafli membuat Rani terdiam dan menundukkan kepalanya, terlihat raut wajah nya yang tadi ceria berubah menjadi murung. “Kalo ga mau jawab ya jangan dijawab Ran, santai”.
“Aku jawab,”Rani menjeda sebentar ucapan nya, “Papah, pasti sibuk dan ga bisa jadi wali, mas Hendra lagi di luar negeri untuk perjalanan dinas, mba Mel. Dia juga lagi terbaring disini entah kapan mba Meli bangun”jawab Rani dengan menahan air mata yang ingin turun dari kedua matanya.
“Mama?”
Rani menatap Rafli dengan mata yang masih berkaca, “Udah meninggal, kalo Mama tiri, dia ga peduli dan ga mau tau urusan anak tirinya”jawab Rani yang tidak berhasil menahan air yang keluar dari kedua matanya.
Rani mengambil saputangan yang diberikan Rafli, “Ngga, ini bukan karna kaka nanya-nanya tentang keluarga aku, bukan”ujar Rani seraya mengelap air mata nya dengan saputangan milik Rafli.
“Tetep aja”
“Aku yang terlalu sensitiv, gimana masih mau jadi wali aku?”tanya Rani dengan senyuman cerah nya yang mengembang.
Rafli tersenyum kemudian menganggukan kepalanya dengan antusias, Rani pun membalas nya dengan tertawa melihat Rafli mengangguk seperti anak kecil yang ingin dibelikan es krim.
*****
“Loh, Karin?”tegur Ray saat melihat Karin yang duduk di bangku taman kecil milik Ray.
“Iya Ray, maaf aku ga ngabarin kamu mau kesini”ucap Karin seraya berdiri dari duduk nya kemudian mengahampiri Ray. “Ini, aku buatin beberapa lauk untuk kamu”Karin menyodorkan bungkusan yang berisikan lauk pauk buatannya pada Ray.
“Oh, iya maksih rin, maaf jadi ngerepotin”ucap Ray yang merasa tidak enak karena merepotkan Karin sampai harus membuat lauk dan menghampiri dirinya di rumah. “Pasti Ibu”batin Ray menebak siapa yang menyuruh Karin membuat lauk pauk untuk dirinya.
“Iya, ga repot sama sekali ko, aku malah seneng bisa ngeliat asrama yang kamu tinggalin, bagus masih asri”ujar Karin dengan senyumnya seraya melihat kesekitar rumah Ray.
“Duduk dulu ya, biar saya buatin teh”Ray mempersilahkan Karin duduk dibangku taman, Karin pun mengangguk mengiyakan apa yang Ray suruh.
Ray memasuki rumahnya dan bergegas membuatkan Karin teh madu seraya meletakkan bungkusan yang diberikan Karin di atas meja makan. Saat membuat teh untuk Karin, Ray kembali teringat dengan Meli yang mungkin akan tidak menyukai Karin jika tau Karin adalah orang yang dijodohkan oleh ibunya.
“Ini teh nya Rin”Ray meletakkan teh madu itu di atas meja berbentuk bundar.
“Makasih Ray”jawab Karin dengan tersenyum ramah. “Ray...kalo aku boleh tanya, kenapa kamu setuju sama perjodohan ini?”lanjut Karin setelah menyeruput tehnya.
Ray terdiam sejenak, “Karna Ibu”Ray menjawab pertanyaan Karin dengan jujur. “Kamu sendiri?”.
Karin menatap ke arah depan nya dengan tersenyum, “Sebenernya. Aku terima perjodohan ini karna mantan aku yang mau tunangan sama pilihan ayahnya”Karin pun memberikan alasannya dengan jujur.
“Jadi, kita sama-sama ga ada ketertarikan satu sama lain ya?”Ray meminum teh miliknya kemudian menatap Karin yang juga menatap nya dengan tersenyum.
“Tapi, aku bakal coba untuk bisa membuka hati aku buat kamu Ray”ucapan Karin membuat Ray terdiam, ia merasa apa yang diucapkan Karin seperti sebuah ancaman. Sekarang Ray tau jika dirinya tertarik dan sudah mulai jatuh cinta pada Meli, ia tidak ingin menyakiti hati Karin namun ia juga bingung dengan kelanjutan cintanya pada
Meli.
“Ray...”
“Ah iya, kenapa?”tanya Ray yang kaget akan sentuhan telapak tangan Karin di pundaknya.
__ADS_1
“Kamu sendiri, gimana?”
“Apanya?”
“Kamu ngelamunin apa sih?, ada masalah?”
“Ng...ngga ko, kalo saya,”jawaban Ray terhenti karena ia bingung akan menjawab apa pada Karin. “Saya juga bakal berusaha buat kita kedepannya”lanjut Ray dengan senyum kikuk. "Ga jamin juga sih"batinnya.
Setelah mengobrol cukup lama, Karin pamit untuk pulang karena hari juga semakin sore. “Ray, aku pamit pulang ya, makasih loh teh nya”.
Ray tersenyum, “Saya yang seharusnya bilang makasih, kamu jauh-jauh Cuma nganter makanan aja”.
“Nggak ko Ray, lagian rumah aku kan gak jauh dari sekitar sini, paling perjalanan sekitar 30 menit”.
“Hati-hati ya”ucap Ray mengingatkan Karin untuk berhati-hati.
*****
Matahari hampir tenggelam di langit biru yang mulai gelap. Ray menghentikan motor nya tiba-tiba saat melihat seseorang yang tidak asing baginya. “Itu, kayak orang yang semalem mau ngebunuh Meli”gumam Ray kemudian bergegas mengambil handphone dari saku celana nya.
“Tuh kan bener, dia itu, wahh si brengsek bakal saya pastiin kamu bertanggung jawab atas semua perbuatan burukmu”gumam Ray dengan emosi serta tangan yang di kepal nya secara otomatis.
Ray turun dari motornya kemudian mendekat menuju tempat si pria yang ingin membunuh Meli masuk ke dalam
sebuah rumah yang sangat besar dan luas. Ia mendekati gerbang yang menjadi pelindung rumah seraya mencoba melihat kesela-sela gerbang. Namun ia tidak menemukan orang tersebut akhirnya Ray memutuskan untuk memfoto alamat rumah dan rumah besar nan megah itu kemudian melanjutkan perjalanan nya menuju rumah kakanya yang berada di sekitar rumah itu.
Sesampainya di depan rumah kaka nya, ia langsung memarkirkan motornya kemudian memasuki rumah kaka nya yang memang terbuka. “Assalamu’alaikum”ucap Ray seraya meletakan bingkisan di sofa ruang tamu.
“Wa’alaikumsalam, lama sih kamu Ray”jawab kaka perempuan Ray yang sedang hamil tua.
“Iya maaf, tadi ada urusan bentar”balas Ray seraya duduk di sofa ruang keluarga. “Mas Jery mana mba?”
“Ada, lagi mandi dia”
“Udah mba, nanti aku ambil minum sendiri aja”ucap Ray saat melihat Riska berdiri dari duduknya.
“Aku mau ambil cemilan, laper”
“Ohh, kirain”.
“Mba, tau ga ini rumah siapa?”tanya Ray seraya menunjukan foto rumah yang ia foto tadi.
“Oh, ini mah rumah nya Sastrawidjoyo”
“Sastrawirdjoyo?”Ray merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan Riska.
“Iya, itu loh yang anak kedua nya kecelakaan mobil karna mabok”
Ray langsung teringat Meli, “Oh, Meli”.
“Iya itu nama anaknya, anak jaman sekarang, udah tau mabok masih aja nyetir ga mikirin gimana nyawa dia sama orang lain, egois”ucap Riska yang kesal dengan apa yang sebenarnya tidak dilakukan Meli.
“Ngga mba, dia itu gak mabok”
“Kamu tau darimana kalo dia ga nyetir sambil mabok, kata polisi kan kayak gitu”
“Ngga mba, itu kecelakaan yang disengaja”Ray terus membela Meli, sikap Ray yang membela Meli membuat Riska bingung.
“Kamu kenal sama Meli?”tanya Riska dengan rasa penasaran.
Ray terdiam sejenak sebelum menjawab, “Mm, oh mas, apa kabar?”tanya Ray saat melihat Jery dengan rambut nya yang basah sehabis keramas. Ray bersyukur Jery muncul, sehingga Ray dapat mengalihkan pembicaraannya Riska.
Mas Jery langsung menyambut Ray dengan talapak tangan yang mengajak bersalaman, “Alhamdulillah baik Ray, kamu sendiri gimana?”.
“Aku juga alhamdulillah mas”Ray membalas jabatan tangan Jery seraya tersenyum.
“Aku mau siapin makan malam dulu ya, kalian ngobrol aja”Riska bangun dari duduk nya dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam, namun saat ingin menuju dapur langkah nya terhenti karena Ray memanggilnya.
“Mba,”panggil Ray, “Ini sekalian buat nambah makan malam”ucap Ray seraya memberikan bungkusan yang tadi diberikan oleh Karin untuknya.
“Apa ini?”
“Lauk”
“Loh, kamu buat lauk sendiri Ray?”
“Ngga mba, itu dari Karin”
“Oh, Karin, kamu udah semakin deket ya sama dia”setelah berucap Riska pun kembali menuju dapur menyiapkan makan malam.
*****
__ADS_1