Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 4


__ADS_3

    Minggu pagi yang cerah matahari naik ke


tempatnya dengan sempurna, menyinari seluruh isi bum dengan sinarnya yang cerah dan bermanfaat. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua siswa dan siswi yang mengikuti pembelajaran bahasa Jerman, karena hari ini mereka lulus dan akan diberikan seperti semacam rapot dan penghargaan untuk siswa dan sisiwi yang berprestasi.


“Selamat Ray”ucap mas Fad seraya menepuk


tegas pundak Ray. Ray mengangguk dan berterima kasih pada mas Fad tak lupa untuk memukul pundak mas Fad.


“Selamat Bang”pekik Sahat yang menghampiri Ray dan mas Fad seraya tersenyum senang.


“Kamu juga hat, selamat ya”Ray


mengepalkan tangan nya dan saling menempelkan pada kepalan tangan Sahat sebagai bentuk salam khas mereka.


“Iya, akhirnya Bang, saya bisa bahasa


Jerman hahaha”Sahat menepuk dahi nya saat melihat mas Fad yang melihat nya dan


Ray sedang asik berdua seraya melipat kedua tangan nya di depan dadanya. “Oh iya, lupa aku, selamat bang Fad”ucap sahat menjulurkan kepalan tangan nya untuk bersalaman dengan mas Fad.


“Aku segede ini loh, Hat”ujar mas Fad


sediit merajuk, tapi gak beneran merajauk hanya untuk bercanda, Sahat dan mas Fad bersalaman kemudian tertawa bersama termasuk Ray.


Selesai acara, Ray memutuskan untuk


segera kembali ke asrama, ia ingin segera tidur di kasur yang selama ini ia rindukan. Sama hal nya dengan Ray mas Fad pun memutuskan untuk kembali ke asrama.


“Selamat ya, ranking satu”ucap Meli yang


tiba-tiba muncul di samping Ray saat hendak memasukan barang yang tersisa untuk dibawa pulang.


“Kamu tuh bisa gak, gak ngagetin”tukas


Ray masih fokus dengan barang dan tasnya. Setelah selesai mengemas semua barang


ia bergegas keluar kamar diikuti oleh Meli yang berada dibelakang nya seraya terus tersenyum, entah kenapa ia merasa bahagia melihat Ray mendapatkan penghargaan karena mendapat ranking satu dari semua siswa dan siswi yang mengikuti pembelajaran, ada perasaan bangga dalam dirinya.


“Ray?”tegur Uki yang sedang membawa


beberapa berkas yang berada di dalam amplop berwarna-warni, Ray yang merasa


dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara. “Mau pergi sekarang?”tanya Uki


seraya menghampiri Ray.


“Iya Ki, biar cepet sampe rumah, kangen”Ray terkekeh pelan dan dibalas tawa singkat dari Uki.


“Yaudah, hati-hati Ray, nanti kalo ada


waktu kita ngopi bareng lah ya”ucap Uki dengan senyum lebarnya dan dibalas senyuman pula oleh Ray.


“Pasti ki, nanti kabar-kabaran aja ya”ujar Ray terhenti sebentar. “Pamit ya, makasih Ki”sambung Ray yang kemudian menyodorkan kepalan tangan nya untuk bersalaman dengan Uki yang langsung dibalas oleh Uki. Setelah bersalaman Ray melanjutkan langkah nya untuk pulang ke rumah dinas nya.


*****


Sesampainya di rumah dinas nya, Ray


langsung menaruh tas nya di sofa ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sisi lain sofa ruang tamu dengan perasaan bahagia nya. “Akhirnya pulang juga”gumam nya pelan.


“Oh, gini toh rumah dinas tuh”Meli masuk


ke dalam rumah Ray sesaat setelah melihat halaman depan dan rumah di sekitarnya.


“Ya kayak gini”sahut Ray yang kini sudah


berdiri dari rebahan nya dan melangkah masuk kedalam ruang tengah.


Meli mengikuti Ray dalam diam seraya


melihat furniture yang ada dirumah Ray. Rumah dinas Ray memang tidak terlalu


besar atau pun tingkat namun ia merasa nyaman berada di rumah dinas itu. Barang


dan perbotan rumah yang dimiliki oleh Ray juga terbatas.


“Cuma ini aja”pekik Meli saat melihat


dapur Ray yang terlihat kosong, hanya ada satu tungku kompor gas, dua rak susun


besar dan sedang untuk menaruh kebutuhan dapur, satu lemari piring kayu yang tertempel di dinding tepat di atas westafel.


Meli memasuki lebih dalam dapur dan


membuka satu persatu rak bagian bawah meja depan untuk menaruh kompor dan juga


rak kecil. Ia menghembuskan nafas nya melihat tidak ada apapun kecuali setengah karung beras dan menjikom kecil yang berada di rak paling pojok kanan.


“Ya ampun sepi banget ini dapur”gumam


Meli seraya melihat rak piring yang hanya berisi lima buah piring kaca, satu


set cangkir bergambar bunga mawar kuning, dua buah mangkok kaca. “Ini daripada


naro kebutuhan bulanan di rak ini mending ditaro di rak bawah lebih efisien”ujar Meli seraya memindahkan barang yang semua berada di rak besar di pojok meja keramik ke dalam rak bawah sejajar dengan rak dimana terdapat beras dan mejikom kecil yang ia lihat tadi.


“Kamu ngapain?”tanya Ray yang baru


selesai merapihkan baju-baju nya di kamar, Ray berjalan mengahampiri Meli yang


masih sibuk memindahkan barang.


“Mindahin barang biar lebih efisien, mas”jawab Meli terus memindahkan barang-barang di rak besar. Ray melipat kedua tangan nya di depan dada seraya berdeham.


“Ini kan rumah saya, kenapa kamu yang


ngatur”


“Ini kan rumah dinas, bukan rumah


mas”sahut Meli yang kini beralih merapihkan alat makan yang hanya berserak di rak paling atas rak. “Mas, ada itu gak... mmm apa tuh...gelas plastik atau tempat apa gitu buat naro ini”Meli bertanya seraya menggenggam beberapa peralatan makan dan masak seperti sotil, garpu, sendok dan centong nasi yang berjumlah tidak banyak.


“Udah taro lagi ditempat nya”Meli


menatap tajam ke arah Ray yang berdiri di depan meja kompor.


“Mas, saya Cuma mau bantuin ngerapihin


semua biar lebih gampang dan keliatan lebih rapih”jawab Meli dengan tenang lalu mencari tempat untuk meletakkan peralatan makan dan masak milik Ray.


Ray yang mendengar itu hanya bisa


menghembuskan nafasnya pasrah dan membantu Meli mencari tempat untuk peralatan nya. Ray merasa bahwa Meli bukanlah seperti anak remaja jaman sekarang, ia merasa setiap yang dilakukan Meli tulus, jadi ia memutuskan untuk mengikuti apa yang akan diperbuat Meli pada dapur minimalis nya itu.


“Kayak gini?”tanya Ray seraya mengangkat


sebuah tempat menaruh peralatan berbentuk bulat cukup besar.

__ADS_1


“Nah iya itu, ini doang?”Meli berbicara


seraya menaruh semua peralatan yang tadi ia pisahkan ke dalam tempat bulat itu.


“Sebenernya lebih gampang kalo alat masak nya digantung”ucap Meli yang sedang


merapihkan peralatan itu di tempatnya.


“Maksudnya?”tanya Ray bingung dengan


uacapan Meli.


Meli melirik Ray sekilas dengan


tersenyum singkat, “Jadi peralatan masak ini lebih gampang di gantung, pake kayak tempat gitu di tembok ”jelas Meli seraya mengeluarkan satu panci berukuran sedang dan penggorengan yang berukuran sedang pula dari rak besar.


“Mas, Cuma ini aja alat masak nya?”tanya


Meli seraya mengangkat panci dan penggorengan yang ia pegang, Ray hanya


mengangguk mengiyakan apa yang ditanyakan Meli.


Meli menghembuskan nafasnya, “Oke, ini


taruh dimana ya?”gumam nya seraya mencari tempat yang pas untuk menaruh wajan


dan panci milik Ray.


“Disitu aja, emang kenapa?”Ray menunjuk


rak besar yang semula memang tempat panci dan wajan miliknya, Meli menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan usulan Ray.


“Kalo disitu keliatan nya gak bagus mas”sahut Meli menunjuk ke a rah rak besar dengan kepalanya.


“Ya... terus gimana dong, mau taruh


dimana?”


“Mmm...mas bisa pasang paku gak


disini”ujar Meli menunjuk sisi kosong di bawah meja seraya berjongkok.


“Disitu?”tanya Ray memastikan seraya


menunjuk tempat yang dimaksud Meli dan Meli hanya mengangguk cepat.


“Sebentar”Ray pergi ke halaman belakang


rumah untuk mengambil alat yang ia perlukan untuk mamasang paku.


Meli membongkar susunan rak yang


kemudian ia tumpuk jadi satu lalu memasukan nya ke dalam rak di bawah meja


kompor yang masih kosong untuk meletakan barang yang tidak digunakan. Tak lama Ray masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa peralatan untuk memaku tempat


yang dimaksud Meli untuk menaruh panci dan wajan.


Setelah selesai memaku, Meli langsung meletakan wajan serta panci itu di dengan menggantungkan nya di paku yang telah dibuat oleh Ray. “Nah, ginikan lebih gampang dan tersusun”ucap Meli senang melihat apa


yang telah ia kerjakan.


“Kenapa gak taro di situ aja”Ray menunjuk ke lemari tempat Meli menaruh tak susun. Meli melangkah maju dan membuka rak yang dimaksud Ray.


“Ini buat tempat barang yang jarang atau


gak digunain”ujar Meli kemudian beralih membuka rak di sebelahnya, “Kalo ini


ia beralih membuka rak terakhir yang berisikan karung beras dan mejikom, “Mejikom ini taruh disini aja, ini buat tempat beras, tisu dan kebutuhan lainnya”ujar Meli seraya meletakan mejikom di dekat kompor.


“Colokan nya disini”ujar Ray menunjuk ke


arah samping kulkas yang terdapat tiga buah colokan listrik.


“Oh iya, yaudah ini di taruh disini aja


biar gampang”Meli memindahkan mejikom persis disamping westafel. “Kenapa mejikom nya kecil banget sih mas?”tanya Meli seraya memperhatikan mejikom mungil yang ada dihadapan nya.


“Ya..saya kan Cuma sendiri jadi buat apa


gede-gede”jawab Ray santai seraya berjalan ke arah kulkas kemudian membuka nya.


Meli yang melihat itu langsung ikut melihat isi kulkas. “Cuma itu”pekik Meli sedikit kencang membuat Ray kaget, isi bagian atas kulkas Ray hanya terdapat satu buah plastik es batu, tiga buah susu kaleng dan nuget yang masih tersisa beberapa lagi.


Meli mengambil bungkusan nuget tersebut,


“Astagfirullah, mas ini udah expayet, sebulan yang lalu”ucap Meli ketika melihat bagian belakang bungkusan naget, Ray yang penasaran pun ikut melihat bagian belakang bungkusan nya dan hanya terdiam menatap Meli.


Meli langsung membuang naget yang sudah


kadaluarsa tersebut ke bak sampah yang ada di sebelah rak beras pas. “Lain kali, harus sering di cek kadaluarsa nya”Meli kembali melihat minuman kaleng untuk mengecek kadaluarsa dari minuman itu, setelah dirasa aman Meli beralih ke bagian bawah kulkas dan lagi-lagi ia menghembuskan nafas nya. “Cuma ini aja?”tanya nya pada Ray yang duduk si meja kompor yang panjang, Ray hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Susu, roti tawar, telur”Meli


menyebutkan isi yang ada di kulkas bagian bawah dan Ray hanya menyimak dengan


tenang. Meli mengecek kadaluarsa pada susu dan roti tawar. “Wahh, ini juga udah


jamuran lagi roti nya”Meli membuang roti yang beberapa lembar nya sudah ditumbuhi jamur.


“Ehh, tunggu”Ray menghentikan Meli


sebelum membuang semua rotinya. “Masih ada yang bisa diselamatkan kali”Ray mengambil beberapa lembar roti yang tidak ditumbuhi jamur.


“Tapi...”ucapan Meli terpotong saat ia


melihat tatapan Ray dan memutuskan untuk mempersilahkan Ray mengambil roti yang


sebenarnya masih bisa dimakan.


“Banyak orang yang gak bisa makan, jadi


jangan buang-buang makanan kalo masih bisa dimakan”ucapan Ray membuat Meli tertegun menatap Ray yang sedang memakan selembar roti dengan lahap nya.


“Iya sih, dulu mama juga suka ngomong


gitu”batin Meli masih menatap Ray kali ini kedua sudut bibir nya terangkat membuah senyuman manis dengan menampilkan lesung pipi kecil di sudut bibir kiri nya.


*****


Meli berada di kantor polisi, untuk melaksanakan misi nya melihat data mengenai kecelakaan yang menimpa dirinya


beberapa minggu lalu. Meli berjalan dengan santai menuju ke dalam kantor polisi. “Enak ya kaga keliatan, bebas”gumam Meli seraya memperhatikan ke sekelilingnya.


“Tenang aja, kan kasus nya udah ditutup


jadi semua berkas mengenai kecelakaan nya di buang atau dibakar aja”ujar seorang polisi yang sedang menerima telepon di sudut lorong.

__ADS_1


Meli mendekat ke polisi tersebut dan ia


kaget melihat wajah polisi itu yang familiar. “Oh, dia kan yang nanganin kasus gua”Meli bermonolog seraya terus memperhatikan polisi tersebut.


“Iya, bagian lu udah di transfer


kan?”tannya pada seseorang di seberang sana. Meli terus memperhatikan seraya


melipat kedua tangan nya di depan dada. “Yaudah gue mau ngumpulin berkas nya dulu”setelah bicara polisi itu menutup telepon dan bergegas pergi, Meli pun mengikuti nya.


Polisi itu masuk ke dalam sebuah ruangan


yang menurut Meli sendiri itu adalah ruang dimana para polisi menyimpan berkas


bukti mengenai suatu kejadian. Meli ikut masuk ke dalam ruang itu dan melihat


di sekelilingnya yang nampak seperti perpustakaan semua berkas disusu secara


rapih di rak buku yang masing-masing rak tertulis nama kasus nya masing-masing.


Polisi itu berhenti di sebuah rak yang


beruliskan ‘kecelakaan putri konglomerat’. Meli yang membaca tulisan itu mengerutkan dahinya bingung. Polisi itu mengambil dua buah berkas yang kemudian ia bawa keluar ruangan.


Di tempat kerjanya ia menaruh map


tersebut di laci yang kemudian ia kunci. Setelah menaruh berkas itu ia pun pergi meninggalkan kantor entah akan kemana. Meli yang melihat ada kesempatan mencoba untuk mencari kunci tersebut, namun ia tidak bisa menggunakan nya dengan keadaan roh seperti itu karena bisa membuat para petugas lain yang sedang bekerja ketakutan dan bingung.


“Aha”pekik Meli ketika melihat seorang


petugas wanita yang sedang lemas mengetik sesuatu di layar komputer nya, Meli mendekat ke arah petugas wanita tersebut secara perlahan dan melihat apa yang ia kerjakan, ternyata ia sedang membuat sebuah laporan.


Meli melihat kesekeliling ruangan kemudian beralih ke arah jam dinding yang terpasang. “kayak nya tunggu makan siang aja lah”gumam Meli mengatur rencana nya.


Pada saat jam makan siang, ia


memperhatikan semua petugas keluar untuk makan siang kecuali si petugas wanita


yang tengah tertidur di meja. Tanpaberlama-lama, Meli merasuki tubuh petugas wanita itu. “Uhhh”Meli merenggangkan tubuh nya yang berada di dalam tubuh petugas wanita tersebut.


Setelah selesai merenggangkan badan nya


yang terasa pegal, kemudian ia mencari membuka laaci yang terkunci lalu


mengambil berkas yang di letakan oleh petugas tadi. Meli beranjak dari tempat


itu setelah mengunci kembali laci dan meletakan kuncinya ditempat semula.


“Dian, gak makan siang”tegur seorang


petugas lain yang hendak keluar kantor. Meli melihat petugas itu menatap ke arah nya kemudian ia menunjuk dirinya untuk memastikan. “Iya lah”sahut petugas itu yang melangkah menghampiri Meli yang buru-buru meletakan map berkas itu di meja petugas perempuan itu.


‘Ah, iya pak nanti saya makan siang”jawab Meli dengan sedikit gugup, si petugas itu tertawa kemudian menepuk bahu Meli sampai dia hampir terjatuh saking kuatnya nya tepukan nya.


“Sejak kapan lu manggil gua bapak, emang


gua bapak lu apa”ujar petugas itu masih dengan sisa tawana, Meli dengan tiba-tiba ikut tertawa dan mendorong bahu petugas itu dengan sekuat tenaga nya untuk membalas tepukan kuat yang tadi diberikan oleh nya.


“Bercanda gua”ucap Meli dengan percaya


diri berusaha tidak canggung dengan petugas yang mungkin saja itu teman dari


petugas wanita yang sedang ia rasuki ini. “Lu duluan aja nanti gua nyusul ada sedikit urusan”sambung Meli yang diangguki oleh petugas tersebut.


“Yaudah gua duluan ya”ucap petugas itu


berlalu pergi yang hanya diangguki oleh Meli dengan senyuman nya.


*****


“Selamat ya mas”ucap Karin, dokter muda


yang cantik, Ray yang berada disamping nya mengangguk dan berterima kasih atas


ucapan karin dengan senyum manis nya.


“Makasih karin”sahut Ray menatap Karin


dan kembali menatap sekitar taman di rooftop rumah sakit. Tatapan nya terhenti


ke sebuah wanita berpakaian polwan yang melangkah menghampiri dirinya dengan


nafas yang tersenggal-senggal.


“Ikut saya mas”pinta Meli, ya...wanita


yang memakai seragam polwan itu Dian yang dirasuki oleh Meli.


“Maaf, siapa ya?”tanya Ray sopan seraya


menatap Meli bingung. Meli yang mendengar itu langsung menepuk dahi nya teringat jika ia sedang ditubuh orang lain.


Tanpa pikir panjang Meli menarik lengan


Ray, lantas hal ini membuat Karin bingung namun hanya bisa memperhatikan saja. Meli menarik Ray ke bawah pohon besar yang ada di pojok taman.


“Ini, berkas tentang kecelakaan saya”Meli menyodorkan berkas yang ia ambil dengan susah payah tadi. Ray melihat isi dari berkas tersebut dan langsung memfoto semua bagian yang dirasa penting. “Udah?”tanya Meli saat melihat Ray memasukanhandphone nya kedalam saku.


Saat Meli hendak pergi tangan nya ditahan oleh Ray. “Eh tunggu, kamu ini siapa sebenernya dan kenapa tau saya butuh dokumen tentang kasus ini?”tanya Ray yang ternyata belum sadar jika polwan itu adalah Meli.


“Ini saya mas, Meli”jawab Meli dengan


menekan kata saat menyebutkan namanya.


“Kamu...ngerasukin orang?”tanya Ray


dengan sedikit keras sontak mulut Ray ditutup oleh Meli untuk meredam mulutnya.


“Jangan kenceng-kenceng dong”


“Iya maaf, kamu bisa ngerasukin


orang?”tanya Ray lagi dan hanya diangguki oleh Meli sebagai jawaban.


“Nanti saya jelasin, tapi sekarang saya


harus cepet sampe kantor polisi lagi, buat balikin badan mba nya”ujar Meli yang mendapat anggukan paham dari Ray lalu ia langsung bergegas kembali ke kantor


polis mengembalikan tubuh Dian yang sudah ia gunakan. Meli membelikan satu set


makan siang untuk Dian menggunakan uang yang ia minta dari Ray sebelum pergi.


Meli meletakan makanan tersebut di meja


kantor nya setelah ia meletakan kembali berkas yang ia ambil tadi, kebetulan masih banyak petugas yang belum kembali dari makan siang nya, hanya ada beberapa petugas itu juga beda divisi oleh Dian, jadi Meli masih bisa mengembalikan berkas dan Dian tanpa diketahui orang lain.


Setelah melakukan semua nya Meli duduk

__ADS_1


di bangku Dian dan berposisi seperti awal ia merasuki Dian, kemudian ia keluar dari tubuh Dian. “Makasih banyak ya mba polwan, nih makan siang nya dijamin enak”ucap Meli pada Dian yang masih tidur dan kemudian pergi.


*****


__ADS_2