
Sudah 3 hari berlalu, sekarang hari keempat Meli berada di Papua, ia telah melakukan banyak selama berada di sana. Meli dan relawan lain nya sering memberikan penyuluhan kepada warga yang berada di pengungsian baik untuk mengurangi banyak nya nyamuk yang menyebabkan malaria, harus melakukan apa dan bagaimana.
Selain penyuluhan dan kegiatan yang biasanya relawan lakukan, Meli juga bergaul dengan warga sekitar terutama
anak-anak yang masih bersekolah. Meli sudah cukup dekat dengan anak-anak disana, Meli sering kali mengajarkan anak-anak itu untuk bercocok tanam, membuat kerajinan tangan dan kegiatan bermanfaat serta menyenangkan lainnya.
Ray juga telah banyak melewati hari nya dengan berbaur dengan warga setempat selama melakukan pengasawan di daerah sekitar pengungsian. Ray juga dekat dengan anak-anak yang berada di pengungsian.
Terkadang Ray dan rekan-rekan nya bermain bersama dengan anak-anak yang ada disana, bermain tapi juga mengedukasi. Ray selalu menebarkan senyuman nya yang terlihat tulus dan bahagia saat bersama dengan warga sekitar.
Senyuman Ray yang dapat membuat Meli selalu terpaku menikmati senyuman indah Ray, senyuman yang jarang sekali Ray tampakan pada siapa pun termasuk Meli. Meli selalu merasa seperti mengenal Ray.
Beberapa minggu akhir ini, Meli sering sekali bermimpi aneh, di dalam mimpinya dia selalu bahagia dan tenang berada di samping seseorang yang memiliki postur tubuh sama persis dengan Ray. dalam mimpinya bahkan Meli selalu memasak makanan untuk pria yang mirip dengan Ray.
Apa yang dimimpikan Meli seperti sama persis dengan kebersamaa nya dan Ray saat Meli koma. Meli bermimpi tanpa melihat jelas wajah si pria itu, bahkan sampai sekarang pun Meli masih dimimpikan hal yang sama setiap malam nya.
Setiap kali ia melihat Ray, ia akan selalu teringat akan pria yang ada di dalam mimpinya, namun Meli tidak ingin
menebak-nebak jika Ray lah orang yang berada di dalam mimpi nya. Meli tidak dapat membohongi hati nya ia merasa jika telah jatuh hati pada Ray orang yang baru ia kenal beberapa hari lalu.
“Sekarang Liben, coba membuat bangau yang sudah sa buat tadi”ucap Ray menyerahkan satu lembar kertas origami bewarna biru muda pada anak laki-laki bernama Liben yang waktu itu menabrak Meli tidak sengaja.
“Sa tidak tau bagaimana buat ini”Liben mengembalikan kertas origami yang diberiakan oleh Ray.
Ray mengambil kembali kertas origami itu dan kembali menyerahkan kertas itu pada Liben.
Liben yang bingung pun menerima kembali pemberian Ray seraya menggaruk kepala nya.
“Sekarang, Liben ikuti sa buat bangau nya”Ray memberikan tutorial pada Liben dengan perlahan kemudian Liben pun mengikuti tahap demi tahap yang diajarkan Ray.
Setelah bangau buatan nya jadi, Liben tersenyum senang ia bahkan berdiri dan melompat pelan untuk mengekspresikan rasa bahagia nya karna berhasil membuat bangau dari kertas origami. “Yeaaay, terima kasih e kaka Ray”Liben kemudian memeluk Ray.
Meli tersenyum saat menyaksikan itu, tak lama Meli bangkit dari duduk nya dan langsung mengambil beberapa bahan masakan yang ia butuhkan. Meli berpikir untuk membuatkan camilan untuk anak-anak yang sedang membuat karya seni dengan kertas origami.
“Kaka, mo sa bantu kah?”Maruna menawarkan bantuan nya pada Meli yang sibuk membersihkan sayuran.
“Oh, boleh Maruna, tolong cuci semua bahan ini ya”Meli menunjuk bahan yang ada di samping nya.
“Baik kaka”Maruna langsung bergegas mencuci semua sayuran dan beberapa buah-buahan yang ada di samping nya, sedangkan Meli membuat adonan untuk membuat kue.
“Kaka, lidah buaya ini sa buat apa?”tanya Maruna mengangkat baskom berukuran sedang berisi lidah buaya.
“Itu, bawa sini tolong Maruna”
Maruna membawa baskom berisi lidah buaya ke hadapan Meli. “Ini kaka”ucap nya serya duduk di sebelah Meli.
“Ini dipisahkan kulit dan daging nya”Meli membelah lidah buaya menjadi dua kemudian memisahkan kulit lidah buaya dengan daging nya yang bewarna putih berlendir.
“Oh seperti itu, sa mo coba”
Meli menyerahkan pisau dan lidah buaya kepada Maruna, Maruna menerima itu dengan senang. Maruna dikenal senang memasak dan sepertinya ia mempunyai ketertarikan dalam dunia memasak. Maruna perlahan mulai memisahkan kulit lidah buaya dengan dagingnya dengan rapih.
*****
“Ini camilan nya”ucap Meli menghampiri Ray dan anak-anak yang masih membuat karya seni baik dengan kertas origami ataupun menggambar.
Meli menaruh nampan yang berisi kue bolu kukus, tak lama Maruna datang membawa nampan berisi donat. Meli dan Maruna meletakan piring bolu dan nampan di samping Ray yang memang kosong dan aman. Semua mata anak-anak dan Ray menatap ke arah makanan yang dibawa oleh Meli dan Maruna dengan tersenyum senang.
“Apa itu kaka?”tanya Liben dengan senyum senang nya yang cerah.
“Ini bolu bayam, ini donat wortel dan ini donat bayam”Meli memperkenalkan semua nama makanan yang baru ia buat bersama Maruna seraya menunjuk ke makanan yang di sebutkan.
“Kaka sa ambil minuman dulu e”Maruna pergi mengambil minuman yang masih ada di dapur.
“Kaya dejavu ya”batin Ray yang teringat saat Meli memperkenalkan bermacam kue dan bolu sayuran nya pada nya. Meli menatap Ray yang terdiam menatap Meli tanpa ekspresi. “Ka, ka Ray”Meli mencoba menyadarkan Ray yang terlihat melamun menatap dirinya. “Ka Ray”Meli menepuk pelan pundak Ray.
“E..eh iya kenapa?”tanya nya kaget dengan tepukan di pundak nya.
“Ngga, ka Ray yang kenapa, ko bengong gitu”
“Gapapa Mel, saya baik ko”jawab Ray tersenyum kepada Meli dengan lebar.
“Ka. Kaka harus lebih banyak tersenyum”tukas Meli dengan menaikan kedua ujung bibirnya membuat senyuman.
“Kenapa?”
“Kalo ka Ray banyak senyum dan lebih ekspresif lagi, ka Ray ganteng, keren gitu”jawab Meli yang tidak sadar dengan ia ucapkan, dirinya hanya fokus pada Ray yang terlihat senang. “Eh, mak, maksud
saya,”
“Iya saya bakal lebih ekspresif lagi kayak waktu itu”Ray kembali teringat saat Meli menyuruh nya untuk lebih ekspresif dan banyak tersenyum. Ray menatap Meli masih dengan senyuman, sedangkan Meli membuang muka nya menghadap anak-anak yang sedang memakan kue buatan dirinya dan Maruna.
“Gimana?, enak to?”Meli bertanya seraya tersenyum melihat anak-anak memakan nya dengan lahap.
Semua anak-anak mengacungkan jempol nya pada Meli seraya tersenyum bahagia. Meli merasakan rasa bahagia yang sama dengan anak-anak itu, ia merasa senang membuat mereka tersenyum tanpa beban dan tanpa rasa takut padahal di sana masih banyak teror yang dilakukan oleh para pemberontak.
“Alhamdulillah kalo kalian suka"
“Kaka ini minuman nya”Maruna datang membawa nampan dengan berisi beberapa gelas dan teko besar yang berisi minuman es segar.
“Apa itu?”tanya salah seorang anak.
“Ini minuman segar sekali”jawab Meli dengan tersenyum ramah, “Ini jus apel dan jeruk yang dicampur dengan daging lidah buaya”sambung Meli seraya menuangkan minuman ke dalam gelas yang ada.
Maruna juga membantu Meli untuk memberikan gelas kepada masing-masing anak. “Kaka, yang ini punya ka Ray
to?”Maruni mengangkat sebuah cangkir dan dibalas anggukan oleh Meli. “Ini minuman kaka Ray”
Ray memperhatikan isi di dalam cangkir tersebut dengan seksama. “Oooh, kopi lidbuy”ucap Ray tersenyum teringat dengan hal yang pernah di buat oleh Meli.
“Ka Ray, tau kopi ini nama nya lidbuy dari mana?”tanya Meli yang bingung, karena setau nya yang menamakan seperti itu hanya dirinya dan yang tahu hanyalah orang terdekatnya yang pernah ia buatkan.
“Oh, mmm. Ini saya tau dari,”Ray bingung ingin menjawab apa.
Meli tersenyum, “Udah gapapa minum aja, mungkin kebetulan aja kaka nebak terus jawaban nya sama”Meli mengambil sepotong bolu bayam, satu donat bayam dan wortel lalu memberikan nya pada Ray.
Senyuman Meli memudar saat melihat cincin yang terpasang di jari manis tangan kirinya. “Ka Ray, udah tunangan?”tanya Meli dalam hati. Meli merasakan hal aneh dalam dirinya, hatinya merasa sesak.
“Meli, kamu ga papa?”tanya Ray yang khawatir melihat Meli terdiam seraya memegang dada nya seperti orang yang sesak nafas.
Meli menggeleng pelan kemudian pergi menuju salah satu bukit yang ada di dekat tempat pengungsian. Sebenarnya sudah ada beberapa orang relawan yang sudah pulang pagi hari tadi sehabis subuh, karena memang relawan dari perusahaan Kusuma mempunyai batas waktu tertentu.
Meli duduk di sebuah batu besar yang ada di bukit tersebut. Ia masih mengusap pelan dada nya yang masih terasa sesak. Tak sadar Meli meneteskan air mata dari kedua matanya, “Gua ini kenapa sih, apa hubungan nya gua sama ka Ray sampe gua segini ya coba”ucap Meli monolog seraya memandang pemandangan yang asri dan hijau.
“Apa gua beneran jatuh cinta sama ka Ray?”. “Gua baru aja kenal sama ka Ray, masa iya udah jatuh cinta aja, ga jelas banget”kali ini Meli memukul pelan dada nya yang masih terasa sesak.
“Astagfirullah ya Allah, tolong tenangkan hati hamba mu ini”Meli memohon kepada sang pencipta untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dada nya.
Setelah rasa sesak nya menghilang, kemudian Meli kembali memandang pemandangan di bawah bukit yang nampak sangat hijau. Meli mengagumi apa yang ada di Papua, di Papua banyak sekali keindahan yang layak untuk di jaga dan dirawat dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Meli teringat akan mimpi nya saat ia bahagia bersama seorang pria yang mempunyai postru mirip dengan Ray. Meli memilih untuk memejamkan matanya sebentar tak lama ia membuka kedua matanya kaget. “Ka Ray!”pekik Meli kaget saat melihat dirinya yang sedang tertawa bersama dengan Ray di sebuah taman.
Meli bangun dari duduk nya dan mencoba untuk berusaha menepis apa yang sudah ia lihat saat memejamkan kedua mata nya. Ia mencoba mengatur nafas nya untuk lebih melegakan hatinya. Setelah dirasa dirinya tenang, Meli pun memutuskan untuk kembali ke pengungsian.
Namun langkah nya terhenti saat melihat Ray yang tiba-tiba sudah berada di belakang nya tepat. “Ka, ka Ray!”pekik Meli keget dan bingung.
“Kamu ga papa?”tanya Ray yang khawatir, kekhawatiran itu terlihat dari raut wajah nya.
Meli tersenyum kemudian mengangguk, “Iya, aku gapapa, cuma mau cari udara seger aja”jawab Meli berbohong pada Ray.
“Disini emang sejuk dan pemandangan nya juga bagus, saya kadang suka healing disini”Ray melangkah maju ke depan ujung bukit melihat pemandangan yang tersaji.
Meli memperhatikan Ray, “Healing?”
“Iya, kan kalo kata anak jaman sekarang gitu, pas cape kerja atau sekolah harus healing”jawab Ray tersenyum menatap Meli.
“Iya sih”
“Tentara juga butuh healing setelah seharian bertugas”
Meli menatap Ray yang masih tersenyum. “Iyalah, tentara juga kan manusia ka, butuh yang nama nyya refreshing biar seger lagi”Meli pun membalas senyuman Ray.
“Kemarin,”Ray berhenti sejenak, “Yang ngobrol sama kamu, waktu dipesta pernikahan nya mas Fad siapa?”tanya Ray yang memang penasaran dengan Dion teman lama Meli sekaligus orang yang pertama kali menyatakan cinta nya pada Meli.
“Siapa?”Meli mencoba mengingat dengan siapa saja ia mengobrol saat di pesta pernikahan mas Fad. “Oh, Dion?”tebak Meli dan langsung diangguki oleh Ray.
“Itu temen aku namanya Dion, dia orang pertama yang nyatain cinta nya sama aku”Meli mengingat waktu Dion menyatakan cinta nya di depan banyak orang.
“Oh, dia pacar kamu?”
Meli menggeleng, “Bukan, dia ga pernah jadi pacar aku”jawab Meli tersenyum.
“Loh, dia kan udah nembak kamu toh?”
“Iya, tapi aku ga ada perasaan apa pun sama dia, aku juga ngerasa belum nyaman dan terbiasa sama Dion waktu itu”jelas Meli.
Ray menganggukan kepalanya paham dengan penjelasan Meli. “Oh ya, saya penasaran, ada berapa sih mantan kamu?”pertanyaan Ray membuat Meli tertawa pelan seraya berjalan menuju samping kiri Ray.
“Saya ga pernah punya mantan, saya takut menjalin hubungan dengan laki-laki”jawab Meli menatap lurus.
“Kenapa takut?”
“Karna mamah saya dulu dihianati sama papah, sampai mamah jadi jatuh sakit dan meninggal”Meli mencoba menahan air mata yang ingin keluar lagi setelah berhenti beberapa menit.
Ray yang melihat itu pun langsung mengusap lembut pundak Meli seraya tersenyum manis. “Tapi ga semua laki-laki itu sama kaya papah kamu Mel”. “Walaupun ga banyak laki-laki yang setia sama pasangan nya, tapi saya yakin pasti adalah satu dua mah”Ray mencoba memberikan pencerahan pada Meli.
Meli tersenyum mendengar ucapan Ray, Meli meraskan ketenangan dan lega saat Ray berbicara dan mengusap pelan pundak nya. “Makasih ya ka”
Ray tersenyum dan mengangguk sebagai respon. Ray dan Meli melihat keindahan dari atas bukit bersama-sama, terkadang mereka bercerita tentang kehidupan satu sama lain.
*****
"Ngopi bang"Sahat memberikan kopi pada mas Fas dan juga Rafli yang sedang duduk berbincang dan bercanda bersama.
Mas Fad tersenyum senang, "Wiiih, makasih Hat"ucap mas Fad menyesap sedikit kopi nya yang masih panas.
"Makasih bang Sahat kopinya"ucap Rafli menaruh cangkir kopi di meja panjang yang ada dihadapan nya.
"Kamu kenapa toh Hat, dari tadi kayak nya kusuuut banget muka nya?"mas Fad heran melihat wajah Sahat yang biasa nya ceria kini hanya terdiam.
Sahat menggelengkan kepala nya,, "Mas, saya mau kasih kalian ini"Sahat mengeluarkan beberapa gantungan kunci yang terukir sebuah tulisan. "Ini untuk mas Fad, ini untuk Rafli, ini untuk bang Ray, ini untuk Meli, ini untuk Rani,"Sahat menyebutkan nama orang yang ingin diberikan gantungan yang terukir nama masing-masing orang tersebut.
Sahat tersenyum, "Yaa, saya kan suka ngukir mas, jadi saya kepikiran untuk mengukir nama di gantungan kunci sebagai kenang-kenangan"jawab yang diberikan Sahat membuat mas Fad menoleh ke arah Sahat menatap bingung sedangkan Rafli tidak jadi menengguk kopinya.
"Maksud nya gimana toh?"
"Yaa. iseng aja mas. kita kan tidak ada yang tahu kapan kita mati"
"Bang, jangan ngomong kaya gitulah"Rafli menyanggah ucapan Sahat.
"Iya jangan ngomong gitu Hat, kita pasti selamat ko"
"Kalo-kalo misalnya aku gugur mas, Fli, itu kan bisa jadi kenang-kenangan "Sahat tersenym seraya menunjuk ke arah gantungan kunci yang di pegang mas Fad dan Rafli.
"Iya, tapi saya yakin kita akan pulang bersama-sama dengan selamat dan sehat, kamu harus yakin itu"mas Fad menepuk pundak Sahat dan hanya di balas anggukan serta senyum lebar dari Sahat.
*****
Hari ke-6 Meli menjadi relawan di Papua. “Woii, diem-diem bae”Meli menyentuh pundak Gia yang sedang duduk menatap kearah depan nya yang merupakan pepohonan. “Kenapa sih?”.
Gia menatap Meli dan tersenyum tipis, “Ga seru ya kaga ada si Dony”jawab Gia yang sdih karena Dony sudah pulang dari kemarin.
Meli tersenyum, “Cieee, Gia kangen sama Dony, cie cie”Meli meledek Gia yang terlihat sedih dan merindukan kehadiran Dony. “Gi, jangan-jangan lu ama Dony pacaran lagi”
“Apaan sih Mel, ya ngga lah”
“Eyyy, iya juga gapapa ko Gi, gua ngedukung sumpah”ujar Meli tersenyum menyenggol pundak Gia yang hanya tersipu karena godaan Meli.
“Eh Mel, itu bukan nya dokter Karin ya”Gia menunjuk ke arah Karin yang sedang berjalan ke pengungsian.
“Iya itu dokter Karin”Meli menganggukan kepala nya menatap Dokter Meli.
“Dia mau nyamperin siapa?”tanya Gia yang penasaran.
“Ka Ray”gumam Meli saat melihat Ray keluar dari salah satu tenda yang ada di pengungsian dan membawakan tas bawaan Karin.
Meli menahan sesak yang lagi dan lagi datang, Meli merasa tidak senang melihat Ray bersikap seperti itu pada Karin. “Apa tunangan nya ka Ray itu, dokter Karin?”gumam Meli masih mengelus pelan dadanya.
“Lu kanapa Mel?”tanya Gia yang mulai panik saat melihat Meli megelus dadanya.
Meli menggeleng, “Ngga, gua ga papa Gi”Meli mengelak seraya tersenyum.
“Meli?”Karin berdiri tepat di depan Meli dengan tersenyum ramah.
“Iya dok”jawab Meli yang menatap Karin dan Ray yang berada di samping Karin dengan senyum yang ramah pula.
“Kamu ko disini?”tanya Karin yang kini duduk di sebelah Gia.
“Iya dok, saya jadi relawan dari kantor papah”jawab Meli masih dengan senyum nya.
“Ohya, ini ada undangan untuk kamu, mumpung kita ketemu disini jadi aku kasih langsung sama kamu”Karin menyodorkan satu buah undangan pada Meli.
Meli mengambil undangan yang diberikan Karin dengan tersenyum hambar, ia menggenggam udangan itu seraya menahan sesak yang kembali muncul di dadanya saat membaca nama kedua mempelai yang akan menikah.
“Ohya, aku udah liat berita, ternyata ibu tiri kamu jahat ya sampe tega mau ngebunuh kamu dan memalsukan kecelakaan kamu”ucapan Karin membuat Meli kaget kerena ia tidak mengetahui jika kecelakaan itu adalah ulah Lani, mama tiri nya.
“Jadi. Itu ulah mama Lani”batin Meli yang kemudian bangun darii duduk nya dan berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.
*****
__ADS_1
Meli sudah berjalan lebih dari dua puluh menit lama nya, ia berjalan tanpa arah yang jelas, ia hanya mengikuti kaki nya ingin melangkah kemana. Meli merasa kaget dan syok saat mendengar dua hal yang sangat tidak ia harapkan.
Pertama, Karin adalah tunangan Ray yang akan segera menikah.
Kedua, Lani lah yang sudah menyabotase kecelakaan nya dan mencoba membunuh dirinya. Meli sempat membuka handphone nya untuk membaca berita ia berusaha mendapatkan sinyal yang susah di sana. Namun pada suatu tempat ia berhasil mendapatkan sinyal dan benar saja apa yang dikatakan Karin, Lani ditangkap saat setibanya di bandara.
Ia sangat tidak menyangka jika Lani akan bertindak sangat jauh seperti itu. Meli memang tidak menyukai Lani sejak dulu namun ia selalu ingat perkataan mamah nya untuk tidak memiliki prasangka buru kepada oang lain.
Dunia berputar sama seperti nasib dan hati yang bisa berputar sesuai apa yang Allah ingin kan, itulah pesan yang selalu mamah nya kasih untuk Meli. Ada hal yang lebih membuat sesak dada nya, ketika mengetahui Ray sudah bertunangan dengan Karin dan akan segera menikah dengan Karin.
Meli membuka undangan tersebut dan melihat foto saat Ray dan Karin melakukan prosesi tunangan. Meli teruduk di rerumputan tebal dengan undangan yang ia remas dengan kuat. Air mata nya tidak dapat ia tahan lagi.
“Ka Ray, aku suka sama ka Ray, aku cinta sama ka Ray dan aku nyaman sama ka Ray”ucap Meli sedikit berteriak di tempat yang memang sepi. “Hah”Meli kaget saat melihat 3 orang yang muncul dari semak belukar dekat dengan tempat Meli duduk dengan masing-masing membawa senjata.
“Ikut kita orang”suruh pria yang berbadan besar membawa senjata.
Meli yang ketakutan hanya menurut apa yang diperintahkan ketiga orang tersebut dengan terus memohon perlindungan yang kuasa. Meli di bawa kesuatu tempat yang tidak ia ketahui. “Liben!”pekik Meli kaget melihat Liben yang disekap di ruangan kecil dan gelap.
Liben menangis namun tak bisa bersuara karena mulutnya ditutupi oleh lakban. Meli disuruh duduk dan kemudian diikat bagian tangan dan kaki nya lalu mulutnya juga di lakban sama dengan Liben.
*****
“Pak, pa”seorang pria paruh baya berlari menuju pos jaga TNI-Polri dengan keringat yang bercucuran dan wajah yang panik.
“Ada apa?”tanya seorang tentara yang memang sedang berjaga.
“Tadi sa liat ada sorang wanita masuk ke daerah rawan”ucap pria paruh baya itu.
“Wanita siapa?”
“Sa tidak tau, tapi dia cantik, dia wanita yang suka memasak”jawab pria pruh baya.
Si penjaga pun langsung melapor keatasan nya jika ada seorang wanita yang memasuki daerah rawan pemberontak. Kebetulan mas Fad yang menerima pesan itu langsung berkoordinasi dengan yang lainnya.
“Kenapa mas?”tanya Ray yang baru tiba.
“Ada perempuan yang masuk ke daerah rawan Ray”jawab mas Fad panik.
Ray yang mendengarr itu langsung terbayang Meli di benaknya. Ray langsung mencari Meli di seluruh tempat
pengungsian, Ray tidak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Karin berkali-kali, ia hanya fokus mencari Meli dengan panik dan cemas.
“Meli ga ada mas”Ray melapor pada mas Fad, mas Fad yang mendengar itu pun langusk kaget dan membentuk tim sebanyak 4 orang termasuk Ray untuk mencari Meli dengan hati-hati.
Ray, Sahat, Bima dan Kuncoro langsung berangkat mencari Meli setelah semua peralatan yang dibutuhkan nya tercukupi. Ray memimpin jalan nya operasi, Ray dan rekannya selalu waspada saat melangkah kan kaki nya.
*****
meli berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di ditangan nya dengan segala cara. Meli menatap Liben yang masih menangis ketakutan. Meli mencoba membuka ikatan di tangan Liber dengan kedua tangan nya yang masih diikat.
Meli merasa kesulitan karena ikatan yang dibuat para pemberontak itu sangatlah rumit. “Ya Allah tolong hamba mu ini”Meli berdoa dalam hati. Tak lama setelah Meli berdoa, akhirnya ia dapat melepaskan ikatan tali di tangan Liben.
Kini, Liben yang mencoba membuka tali Meli dengan benda yang berada di sekitar nya. Setelah cukup lama Liben berusaha sekuat tenaga nya akhirnya ikatan tali di tangan Meli pun terlepas namun belum sempat melepaskan ikatan tali di kaki, dua orang pemberontak memasuki ruangan.
“Kalian sedang apa?”tanya seorang pemberontak dengan marah.
Meli dan Liben pun menggelengkan kepala nya dan berpura-pura tangan nya masih terikat. Para pemberontak itu tidak menyadari bahwa ikatan tali di tangan Meli dan Liben sudah terbuka. Meli terus berdoa agar dirinya dan Liben selamat.
*****
Ray dan rekan nya masih berjalan dengan pelan dan mengendap-endap, senyap tidak ada yang di keluarkan oleh Ray dan rekan nya. Mereka selalu siaga dan waspada terhadap sekitar nya.
Ray menemukan beberapa orang yang sedang berdiri di sekitar rumah panggung yang ada di belakang nya. Ray menyuruh rekan nya untuk tiarap dan memperhatikan setiap pergerakan dengan penuh waspada.
“Bang, seperti nya Meli ada di dalam rumah itu”ucap Sahat yang merasa bahwa Meli disekap di dalam rumah yang dikelilingi oleh banyak para pemberontak bersenjata.
Ray mencoba mengamati beberapa saat kemudian mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Sahat. “Saya rasa juga gitu Hat, sekarang kamu coba cek ke belakang bangunan itu ya”Ray memperintahkan
Sahat untuk berpindah tempat.
Sahat pun menerima apa yang diperintahkan oleh Ray dengan penuh tanggung jawab. Sahat mulai berjalan dengan posisi tiarap dan terus waspada pada sekitar nya. Sahat melihat ada dua orang di belakang rumah itu, ia berpikir bagaimana cara nya untuk mengalihkan perhatian dua orang itu.
“Bang, dari pintu belakang saya melihat ada Meli dan Liben di dalam rumah itu sedang disekap”ucap Sahat dari talkie-walkie nya, “Saya akan mengalihkan perhatian mereka, abang dan lainnya langsung ambil posisi”sambung Sahat.
Ray yang mendengar ucapan Sahat langsung merspons, “Jangan sendiri Hat, bahaya mereka semua megang senjata”Ray melarang apa yang ingin dilakukan oleh Sahat.
Namun sahat tidak tahan ketika melihat Meli dan Liben yang disiksa dengan cara ditampar, bahkan rambut Meli dijambak oleh salah satu pemberontak, Liben yang masih berumur 6 tahun di pukul dengan rotan. Hanya Sahat yang melihat itu dan ia tidak tega untuk membiarkan Meli dan Liben terus kesakitan.
Sahat memutuskan untuk memancing mereka untuk folus pada diri nya. Sahat tiarap berjalan menuju tempat yang dapat mengalihkan semua fokus para pemberontak itu.
“Kun, coba kamu samperin Sahat, saya takut dia nekat”Ray menyuruh Kuncoro untuk menyusul Sahat ke halaman belakang rumah.
Meli dan Liben yang semakin lemah karena mendapat penyiksaan dari para pemberontak hanya bisa terdiam, kemudian Meli kembali semangat ketika mengetahui para penjaga yang berada di sekitar rumah pergi, hanya ada satu orang yang berjaga itu pun berada di halaman depan rumah.
Meli kembali berusaha melepaskan ikatan tali di kaki nya dan juga Liben yang sudah lemah. Setelah semua tali dan lakban terlepas, Meli langsung menggendong Liben yang semakin lemah berjalan pelan ke luar rumah melewati pintu belakang.
“Hhah”Meli sontak terjatuh saat melihat Kuncoro yang tiba-tiba keluar dari semak belukan di belakang rumah.
“Meli, Liben”pekik Kuncoro menghampiri Meli dan juga Liben yang masih terduduk lemas di pinggir rumah.
“Duarr”pelatuk yang di lepas oleh kuncoro dan mengenai seorang pemberontak yang mengetahuinya.
Ray dan Bima pun langsung menyergap pemberontak itu, mereka mengikat nya dengan kencang. “Meli!”pekik Ray saat melihat Meli yang sudah sangat lemah terdapat luka di beberapa tubuhnya akibat penyiksaan yang dialami nya.
“Bang Ray, cepet pergi mereka semua sedang menuju rumah itu”ucap Sahat dengan nada yang pelan dan lemah.
“Kun, gendong Liben ayo kita naik sekarang”Ray menunjuk ke atas bukit.
Kuncoro mengangguk dan langsung menggendong Liben. Bima berada di belakang Kuncoro terus mengawasi semua sekitar nya. Ray memapah Meli dengan perlahan berjalan kembali ke pengungsian, pikiran Ray yang cemas dengan keadaan Meli dan juga Sahat yang entah ada di mana.
“Duarrr”, Duarr”, “Duaaar”tiga tembakan berturut-turut menghampiri Meli dan Ray yang sedang berjalan. Dengan sigap Ray dan Meli tiarap sambil terus berusaha menjauh dari tempat itu.
Setelah dirasa cukup aman, Meli dan Ray kembali bangun dan berjalan pelan pergi lebih jah dari tempat itu, namun
“Duaaar”satu tembakan yang di lepas para pemberontak dengan Meli yang menjadi sasaran.
Namun aksi itu di gagal kan oleh Ray yang langsung memeluk Meli dengan erat. Meli menangis ketakutan dalam pelukan Ray. Ray mengelus lembut rambut Meli yang wangi nya membuat Ray nyaman.
Tak lama kemudian beberapa orang dari kesatuan lainnya datang untuk membantu Ray dan Meli, mereka saling menembak. Setelah cukup lama akhirnya para pemberontak itu pun pergi menjauh. Ray mengangkat tubuh Meli membawa nya kembali ke pengungsian agar Meli cepat diobati.
“Mas, mas ken,”ucapan Rafli terpotong saat Ray mengisyaratkan untuk Rafli diam tidak membuka suara.
*****
“Mak, Sahat sayang kali sama mamak dan bapak, sama Bonar juga sayang mak”ucap Sahat yang sudah lemas karena luka tembak dan beberapa busur panah yang manancap pada tubuhnya.
Sahat masih memiliki tenaga untuk mengambil handphone yang sengaja ia bawa. “Mak sampaikan sama Bonar, supaya dia sekolah yang benar tidak main-main agar dia bisa jadi seorang perwira seperti yang diinginkan nya, Sahat akan selalu mendoakan nya mak”
Sahat menahan rasa sakit nya tembakan peluru dan juga panah yang dilakukan oleh para pemberontak ketia ia mencoba mengalihkan perhatian nya untuk membebaskan Meli dan Liben. “Mak, pa, maafkan Sahat selama ini tidak menurut perkatan mamak dan bapak, maaf mak, maaf pak”Sahat menyudahai pesan suara itu, setelah mengirim nya ia merasa sudah sangar lemah, matanya terasa berat ingin tertutup. Sahat menutup mata nya dengan posisi duduk bersandar di bebatuan besar dalam hutan yang rimba.
__ADS_1
*****