
Ray bingung menatap meja makan yang penuh dengan makanan dan minuman buatan Meli saat sampai di rumah. “Apa ini?”tanya Ray bingung.
Meli tersenyum senang, “Ini makanan dong”jawab Meli seraya menyusun dua buah cup cake bewarna hijau dan oren di sebuah piring cantik.
“Semua ini kamu yang buat?”
“Yaiyalah siapa lagi, Tia? gak mungkin, dokter Karin? sibuk banyak pasien”ucap Meli membanggakan dirinya.
“ini banyak banget”
“Iya biar mas Ray kenyang dan sehat”ucap Meli menatap Ray dengan tulus.. “Ada cup cake wortel, brokoli, ada kopi lidbuy, ada bolu sayuran, ada spicy bandeng pastry, ada avocado croisant, terus ini pancake brokoli, ini pai sayur dan ini pai buah daging”Meli memperkenalkan semua masakannya seraya menunjuk satu persatu
masakan yang ada di meja makan.
Ray hanya menatap Meli dengan bingung, “Kenapa semua nya sayuran?, terus ada ikan juga lagi”ucap Ray kesal, Ray tidak menyukai brocoli dan buah alpukat.
“Ini semua makanan sehat mas, ini enak dan sehat, oya buat bandeng kamu sekarang udah jadi penyuka ikan mas”
“Hah?”
“Iya, buktinya semalem kamu yang ngabisin bandeng bumbu rujak nya”
Ray teringat semalam memang ia yang menghabiskan semua ikan bandengan bumbu rujak buatan Meli. Rasanya sangat enak dan memanjakan lidah, maka dari itu Ray tidak dapat menahan untuk menghabiskan semua nya.
“Sekarang coba kamu cobain satu-satu”suruh Meli dengan memberikan Ray sendok dan garpu makan. “Pliiis”Meli
memohon agar Ray mencicipi semua makanan yang sudah ia buat.
“Oke tapi cuma dikit aja ya”
Meli mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Ray. “Enak?”tanya Meli saat Ray mencoba bolu sayuran yang berisikan berbagai macam sayuran seperti bayam hijau dan lainnya.
Ray terdiam mencoba meresapi rasa pada saat memakan bolu sayur, kemudian Ray mengangguk, “Lumayan”ucap nya kemudian menghambiskan satu cup cake brokoli.
“Katanya lumayan, tapi abis juga”sindir Meli pada Ray yang bergantian mencoba semua makanan di mejamakan
“Katanya cuma mau nyobain dikit, tapi ko abis semua ya”gumam Meli saat melihat semua kue yang iamasak habis tak tersisa, bahkan spicy bandeng pastry nya habis dilahab oleh Ray.
“Lumayan semuanya, ini apa namanya?”Ray mengangkat gelas berisi minuman khusus yang dibuat Meli.
“Ah itu, itu namanya kopi lidbuy”jawab Meli dengan senyum bahagia nya.
“Hah?, lidbuy?”tanya Ray yang asing dan bingung dengan nama minuman yang debuat Meli.
“Iya, lidah buaya, di dalam minuman kopi itu ada potongan lidah buaya yang kaya akan manfaat”
Ray mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Meli. “Lumayan”
“Dari tadi lumayan mulu, lumayan tapi abis tanpa sisa”Meli yang kesal karena Ray hanya menyebut makanan nya lumayan padahal menurutnya makanannya itu layak untuk dikatakan enak.
“Iya iya, enak pake banget semua makanan nya”ucap Ray yang mellihat Meli memajukan bibir nya.
“Iya udah tau, emang enak sih makanan yang aku buat, semua nya”
Ray mengangguk seraya tersenyum menatap Meli yang membereskan bekas makanan Ray kemudian mencuci piring.
“Makasih ya”ucapan Ray membuat Meli tersentak kaget hampir menjatuhkan piring namun di tahan oleh tangan Ray yang memegang tangan Meli.
“Ngagetin aja sih”ucap Meli yang melanjutkan aktivitas nya menahan debaran kencang di hatinya saat tangan nya disentuh oleh Ray.
Ray juga merasakan hal yang sama namun bedanya Ray bisa mengontrol itu dengan baik, sehingga tidak ketahuan oleh Meli. Setelah selesai mencuci semua barang kotor, Meli melanjutan menulis diary nya kembali.
Ray yang penasaran dengan apa yang ditulis Meli pun mendekati Meli secara diam-diam untuk melihat apa yang ditulis Meli. Namun Ray sudah lebih dulu ketahuan oleh Meli, Meli pun berpindah tempat tapat dihadapan Ray.
“Nulis apa sih, serius banget kaya nya”
“Ada deh, secret”jawab Meli dengan tawa nya ringan.
“Assalamu’alaikum,”mas Fad memasuki rumah Ray dengan santai.
“Wa’alaikumsalam”jawab Ray dan Meli bersamaan seraya menatap mas Fad.
“Ray, ngapain?”tanya mas Fad seraya duduk di samping Ray.
“Ga ngapa-ngapain mas, cuma diem aja”
“Loh ko cuma diem-diem aja sih, ngopi apa”mas Fad tertawa pelan.
“Oya Ray, minggu depan itu kamu udah mau lamaran ya sama Karin?”
Ray yang mendengar pertanyaan mas Fad langsung mencubit paha mas Fad dengan kuat.
“Aww, sakit”pekik mas Fad kesakitan karena cubitan Ray.
“Oiya mas, itu keran belakang rumah ku ga bisa diputer tolong betulin ya, ayo”Ray menarik mas Fad ke belakang rumah.
Meli yang sedari tadi menulis diary hanya terdiam seperti tidak mendengar apa yang di bicarakan mas Fad dan Ray barusan.
__ADS_1
“Lamaran”gumam Meli, ada rasa sedih dalam hatinya saat mengetahui Ray sebentar lagi akan menjadi suami orang lain, padahal Meli merasa nyaman dan tentram saat bersama Ray. meli berusaha untuk melepaskan Ray untuk Karin. “Semoga kalian bahagia mas”
Dibelakang rumah mas Fad duduk di bangku dan menatap bingung Ray, “Iki piye toh, aku ko malah disuruh benerin keran, aku aja ga ngerti”ucap mas Fad seraya melihat keran yang berada di samping nya.
“Ngga mas, aku bawa sampean kesini karena aku ga mau kamu ngomongin masalah lamaranku di depan Meli”
“Oh, ada Meli toh tadi"
Ray mengangguk, “Iya, kaya nya dia ga denger sih”ucap Ray yang sebenarnya ragu jika Meli tidak mendengar suara lantang mas Fad namun saat melihat reaksi Meli yang tersenyum dan terlihat biasa saja membuat Ray menduga jika Meli tidak mendengarnya.
“Ray, sebenernya perasaan kamu sama Meli tuh gimana sih?, terus dia juga perasaan nya gimana sama kamu?”tanya mas Fad yang penasaran pada hati Ray dan Meli yang tidak pernah terekspos.
“Aku juga ga tau pasti mas perasaan dia sama aku gimana”jawab Ray tersenyum tipis.
“Kamu juga harus tanya lah sama dia, gimana perasaan dia sama kamu, suka ga sama kamu, nyaman juga ga,cin,”
“Iya mas, nanti pasti saya tanya kalo waktu nya udah tepat”Ray memotong ucapan mas Fad.
“Jangan nanti Ray, kalo telat gimana?”ucapan mas Fad membuat Ray terdiam memikirkan perkataan mas Fad.
“Emang sekolah mas pake telat segala”ujar Ray tertawa pelan, mencoba untuk bersikap seperti biasa.
“Ray, kali ini aku serius loh, kamu kan tau sendiri apa yang di bilang sama mbah Suwito”
Ray menatap mas Fad sebentar kemudian tersenyum, “Yaaa, kalo aku berjodoh sama dia, pasti bakal tetep bersatu mas”
“Iya sih, kalo emang jodoh pasti bersatu, mau sejauh apa pun pasti bakal ketemu”
Ray mengangguk menyetujui perkataan mas Fad. “Yaudah mas, aku mau masuk dulu lah”Ray masuk kedalam rumah nya sedangkan mas Fad memperhatikan Ray yang berlalu pergi.
“Semoga Ray bisa bersatu dengan jodoh nya dengan cepat”gumam mas Fad pelan.
*****
Di sebuah taman, Ray dan Meli duduk di pinggir danau menikmati indahnya pemandangan sekitar yang
menyejukan mata, udara yang bersih menambah keasrian taman itu. Berbagai macam bunga dan tanaman yang ada di taman itu.
“Wooo, bunga apa ini?”tanya Meli memegang bunga berukuran sedang bewarna pink yang nampak asing
bagi Meli.
“Bunga jepun”sahut Ray dari belakang Meli seraya memetik satu buah bunga jepun.
“jepun?, dari Jepang kah?”pertanyaan Meli membuat Ray tersenyum.
“Oh bunga kamboja?”
Ray mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Meli. “Bunga ini cantik tapi beracun”.
Meli menatap Ray, “Beracun?”.
Ray mengangguk, “Iya kalo kita gak sengaja ke makan ini getah nya bisa keracunan, bahkan bisa menyebabkan kematian”ujar Ray tersenyum melihat Meli yang mengangguk-anggukan kepala nya seperti anak kecil.
“Ko, mas Ray tau tentang bunga ini?”tanya Meli yang penasaran mengapa Ray seperti sangat tahu tentang bunga jepun yang sangat asing bagi Meli.
“Dulu saya hampir keracunan bunga ini”
Meli sontak menatap Ray tak percaya, “Bohong”pekik Meli seraya tersenyum.
“Serius,”Ray berjalan menuju bangku yang tadi ia dan Meli duduki kemudian kembali ia duduki. “Dulu, waktu kecil, dikampung, deket rumah budeh saya ada pohon bunga jepun itu,"
“Terus?”
“Jadi waktu mainan sama sepupu dan temen-temen itu, kita ngambilin bunga jepun untuk mainan, nah pas lagi mainin bunga nya ada getah di tangan saya, karna saya masih kecil jadi saya ga tau kalo itu getah,”
“Aih, pasti nih,”
Ray tersenyum, “Terus saya cobain getah nya, karna saya penasaran”sambung Ray tertawa mengingat betapa polos dirinya waktu itu.
“Tuh kan, terus gimana?”
“Ga lama setelah itu ya saya mual, pusing gitu, terus ibu saya langsung bawa saya ke puskesmas terdekat dan kata dokter yang periksa saya, saya keracunan”
“Hahahaha”Meli tertawa mendengar cerita konyol Ray semasa kecil nya.
“Tapi alhamdulillah itu cuma keracunan ringan”
“Lagian getah ko dicobain hahaha”
Ray melihat Melli tertawa pun ikut tertawa. “Kamu ga ada cerita kaya gitu?”
“Alhamdulillah, dulu kata mamah aku anak nya pinter, jadi ga makan getah hahaha”
Ray yang tadinya tertawa pun berhenti seketika saat mendengar perkataan Meli. “Oh berarti saya bodoh?”Ray merajuk dengan perkataan Meli yang sebenarnya hanya bercanda untuk menggoda Ray.
“Ngga, bercanda lo mas, aku juga dulu pernah hampir bakar rumah”Meli tertawa pelan seraya mengatur nafasnya.
__ADS_1
“Bakar rumah siapa?”tanya Ray yang mulai tertarik dengan cerita Meli.
“Rumah pakle di jawa, kan waktu itu aku nemu korek,”
Ray menganggukkan kepala nya tertarik dengan apa yang Meli ceritakan.
“Terus karna aku juga masih kecil, jadi penasaran mau coba nyalain korek api nya..”
“Korek nya gas apa kayu?”
“Kayu”jawab Meli, “Aku coba deh nyalain, sekali ga bisa, dua kali juga ga bisa nah pas ketiga kali nyala tapi aku kaget langsung aku lempar, terus apinya jatuh ke kelambu yang kain itu,”
“Hahaha, ini lebih parah kaya nya”
Meli ikut tertawa saat Ray menertawakan cerita masa kecilnya. “Yaa, akhirnya kebakar, tapi alhamdulillah nya ada yang dateng terus langsung nyiram pake air”
“Terus kamu?”
“Aku kabur lewat jendela pas tau ada api”
“Hahahah, dasar”Ray dengan refleks mengelus puncak kepala Meli yang membuat sang pemilik nya terdia lalu tersenyum. “Kamu kabur kemana?”
Meli mengangkat bahunya dan menggeleng, “Aku ga tau kemana nya, aku asal lari aja yang penting ga ketauan orang”.
“Ya ampun. Lagian hahaha”
“Udah dong ketawa nya”
“Ngga, itu bahaya si Mel, terus kamu dimarahin dong sama orang tua kamu?”
“Pastilah, aku disidang sama satu keluarga besar”ucap Meli tersenyum mengingat dirinya yang merasa ketakutan dan juga bersalah terlah hampir membakar kamar di rumah pakle nya.
“Hahah, sabar ya”Ray menepuk pelan punggung Meli masih dengan tertawa lepas.
“Aku ga pernah ngeliat mas Ray ketawa kaya gini”ucap Meli pelan seraya tersenyum menatap Ray yang kini terdiam mendengar ucapan Meli.
Ray menatap Meli, “Saya juga bingung kenapa saya bisa ketawa lepas kaya gitu”
“Itu karna mas udah lama ga pernah ketawa,jangankan ketawa, senyum aja jarang kan?”
Ray mengangguk kemudian tersenyum bersama dengan Meli. Ray pergi ke suatu tempat meninggalkan Meli yang sedang melihat sebuah kolam ikan koi di sekitar taman.
“Nih”Ray memberikan setangkai bunga daisy bewarna putih kepada Meli.
Meli menoleh dan mengambil setangkai bunga daisy yang diberikan oleh Ray dengan senang hati, “Wow bagus ya, kenapa tiba-tiba,”
“Oh itu tadi jatoh disana, jadi saya ambil aja”ujar Ray berbohong, sebenarnya Ray sengaja memetik bunga daisy itu untuk Meli, bunga daisy melambangkan kemurnian, kesetiaan, kesabaran dan juga kesederhanaan. Entah mengapa Ray hanya ingin memberikan bunga daisy pada Meli yang selama ini selalu bersama nya. Mungkin karena Meli, Ray merasa kembali ke dirinya yang dulu, dia bisa tersenyum, berekspresi dan karena Meli pula Ray menjadi lebih yakin jika cinta itu sederhana.
“Hah, jatoh?”pekik Meli kaget mengetahui jika bunga daisy itu bunga yang sudah jatoh, “Kirain romantis ternyata, ah bunga jaatoh masa, tapi masih bagus sih”baatin Meli memainkan bunga daisy di tangan nya.
“Yu pulang”ajak Ray dan diangguki oleh Meli.
*****
“Kamu dari tadi ga berhenti senyum sih?”tanya Rafli bingung menatap Rani yang sedari tadi tersenyum.
“Iya, aku seneng karna masih bisa ngerasain jadi anak SMA”jawab Rani masih dengan senyumannya.
“Oalah, kirain apa”
“Apa emang dikira ka Rafli?”
Rafli menggelengkan kepala, Rafli mengira jika Rani tersenyum karena memikirkan salah satu anak laki-laki di sekolahan nya. Entah kenapa ada rasa cemburu dalam dirinya pada Rani.
“Tau ga ka, tadi ada kaka kelas namanya ka Zicko, dia baiiiiiiiik banget, udah gitu ganteng lagi”ucapan Rani membuat Rafli berhenti memakan somay yang dan menatap Rani.
“Anak jaman sekarang mah, hati-hati Ran, ga semua orang yang awalnya baik akan selalu baik”sahut Rafli yang tidak suka dengan laki-laki bernama Zicko yang bahkan Rafli tidak tahu wajah dari Zicko.
“Iya ka, tapi beneran deh dia baik banget, oh ya dia ketua tim basket sekolah lagi”
“Ah basket, saya juga dulu kapten”
“Tim basket?”
“Sepak bola”
“Yeee kirain basket”
“Eh sepak bola lebih keren loh dari bola basket”
“Sama aja ah”
“Engga, serius lebih kerenan sepak bola”Rafli ngotot memuji sepak bola yang sebenarnya dia ingin memuji diri nya sendiri.
“Iya deh, sepak bola emang keren”Rani mengalah dan menyetujui argumen Rafli. Rafli yang mendengar itu langsung tersenyum senang.
Setelah mereka menghabiskan makanan, mereka langsung bergegas pulang ke rumah sakit untuk bergantian menjaga Meli karena Kusuma ada rapat umum sore hari.
__ADS_1
*****