
Meli menemani Ray yang ketiduran di ruang tv setelah sholat isya, Meli mengelus pelan dahi Ray yang membiru akibat terbentur meja cukup keras. “Mas mas, ada-ada aja”gumam Meli tersenyum menatap wajah polos Ray saat tertidur.
“Kenapa aku jadi sedih gini ya”Meli mengusap air mata nya yang tiba-tiba keluar dari kedua matanya. Meli bingung dengan perasaan nya seharian dia merasakan hal yang campur aduk, senang, sedih, takut. Meli bingung seakan ingin pergi jauh dari Ray.
“Hmmm”Ray membuka sedikit kedua matanya dan tersenyum tipis melihat Meli yang sedang mengelus dahinya lembut seraya mata yang mengantuk.
“Tidur gih”Ray tebangun sepenuhnya dari tidur dan mengambil bantal untuk tidur Meli.
Meli yang kaget langsung membuka matanya lebar-lebar, “Udah bangun?”.
“Udah, tidur cepet”Ray mebaringkan tubuh Meli di sofa kemudian menyelimuti tubuh Meli dengan selimut yang diambil dari tempat tidurnya.
“Selamat malam mas”ucap Meli sebelum akhirnya menutup kedua matanya yang terasa cukup berat.
Ray tersenyum, “Selamat malam, jangan lupa doa”Ray mengingatkan Meli yang sudah menutup matanya.
Meli membuka kembali kedua matanya dan kemudian berdoa sebelum akhirnya tertidur. Ray mengambil remot tv dan menonton siaran basket yang sedang bertanding seraya menemani Meli yang tertidur pulas di atas sofa.
*****
“Pah, tangan mba Meli gerak”pekik Rani kaget saat melihat jari tangan Meli yang bergerak beberapa kali.
Kusuma yang sedang memakan buah melon langsung menghampiri Rani dan ikut melihat jari tangan Meli yang bergerak. “Panggil dokter Ran”suruh Kusuma.
“Iya pah”Rani mengangguk kemudian memencet tombol di atas ranjang rawat Meli. Tak butuh waktu lama seorang dokter dan suster pun memasuki kamar rawat.
“Dok, tadi tangan anak saya bergerak beberapa kali”ucap Kusuma saat dokter mengecek kondisi Meli.
Dokter mengangguk pelan, “Keadaan saudari Meli sudah jauh lebih membaik dan juga sudah mulai responsif”.
Mendengar perkataan dokter Rani dan Kusuma tersenyum senang, apa yang disampaikan dokter adalah berita yang sangat baik. Keadaan Meli yang kian membaik akan mempercepat kemungkinan untuk sadar dari koma nya.
“Terima kasih dok, berarti anak saya akan segera sadar ya dok?”
“Semoga saja pak, kita harus tetap berdoa dan berusahaa, karena yang bisa menentukan hanyalah tuhan semata”
Kusuma dan Rani mengangguk paham. “Baik dok, kita pasti akan selalu berdoa dan terus melakukan yang terbaik”
Dokter Agil mengangguk,”Baik, kalo begitu saya permisi”dokter beserta suster pun
meninggalkan kamar rawat.
“Pah, alhamdulillah ini kabar yang bener-bener baik pah”Rani memegang lengan Kusuma seraya tersenyum bahagia.
“Iya Ran, ini kabar yang bener-bener baik dan papah udah lama nunggu kabar baik ini”balas Kusuma yang mengelus pelan pundak Rani.
*****
Mentari pagi sudah hampir naik ke permukaan langit, Rani yang sudah bangun langsung bersiap untuk sekolah. Sedangkan Kusuma kembali terlelap setelah sholat subuh. Rani mengambil baskom kecil berisi air hangat untuk membasuh ssebagian tubuh Meli seperti biasa. Rani mulai mengusap dari tangan kanan Meli dengan lembut, mengelap kulit Meli dengan hati-hati dengan senyuman nya yang cerah.
“Pah!!, mba,”teriak Rani dengan keras saat melihat Meli membuka kedua mata nya dan mengerjap kan mata secara perlahan.
Kusuma yang mendengar teriakan Rani pun langsung terbangun dengan kantuk yang masih terasa. “Kenapa Ran, teriak-teriak?”tanya Kusuma yang memakai sandal nya dan menghampiri Rani yang masih terpaku tak percaya menatap Meli yang juga menatap nya dengan tatapan lemah.
“Meli!!”pekik Kusuma saat melihat Meli tersadar dari koma panjang nya.
“Panggil dokter Ran”suruh Kusuma, ia berjalan mendekati Meli yang sudah mulai menggerakan kedua matanya dengan normal.
“Papah”ucap Meli ketika melihat Kusuma yang menitikan air mata bahagia nya dengan terus tersenyum menatap Meli. “Rani,”Meli beralih menatap Rani yang juga menangis bahagia dan lega melihat Meli kembali sadar.
“Mba. Alhamdulillah mba udah sadar”Rani memeluk Meli dengan perasaan senang dan lega.
“Alhamdulillah Mel, kamu udah sadar”timpal Kusuma seraya mengelus telapak tangan Meli.
Meli berusaha melepaskan alat bantu pernafasan nya di bantu oleh Rani yang juga mencoba melepaskan alat bantu itu dari wajah Meli. Setelah alat bantu itu lepas Meli pun tersenyum lebar menatap Kusuma dan Rani secara bergantian.
“Papah ko ada disini?”tanya Meli pelan.
“Iya, anak papah sakit masa papah ga nemenin sih”jawab Kusuma dengan tersenyum menatap Meli.
__ADS_1
Meli tersenyum mendengar ucapan yang menurut nya sangatlah jarang di dengar. “Rani, kamu mau sekolah?”Meli menatap Rani yang sudah rapih menggunakan pakaian sekolah.
Rani mengangguk dan tersenyum pada Meli, “Aku sekarang anak SMA loh mba”Rani tersenyum senang saat
membanggakan dirinya yang kini sudah tumbuh menjadi dewasa.
“Ya ampun, cepet banget SMA nya, selamat ya Ran, mba seneng kamu sehat dan bisa sekolah SMA yang dari dulu kamu idamkan”Meli tersenyum bahagia menatap Rani yang terdiam.
“Aku ga sehat mba”batin Rani menundukkan kepala nya.
Kusuma yang melihat Rani menunduk pun langsung mengelus pundak Rani lembut, Kusuma tahu jika Rani mengidap kanker tulang yang sudah menyebar ke jaringan tubuh lainnya. Kusuma berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada di sisi anak-anak nya.
“Permisi”dokter dan suster memasuki kamar rawat Meli dan kemudian mengecek keadaan Meli dengan intens.
“Bagaimana dok?”
“Saudari Meli sudah sadar dari koma nya, keadaan bagian dalam nya juga sudah normal kembali, ini adalah suatu keajaiban yang diberikan tuhan untuk anak bapak”
Kusuma yang mendengar itu hanya tersenyum dengan menganggukan kepalanya mengerti apa yang diucapakan
oleh dokter itu.
“Dari kebanyakan kasus serupa dengan saudari Meli, belum pernah ada yang secepat ini sadarnya bahkan
ada juga yang tidak selamat, apalagi waktu itu tubuh Meli sempat terkena racun, yang dosisi cukup tinggi, tapi karna ada laporan cepat makanya dapat ditangani dengan baik”.
“Awas kamu Lani, ga akan saya biarin kamu lolos”batin Kusuma yang sudah semakin geram dengan apa yang sudah Lani lakukan pada anak-anak tercintanya.
“Pak, selamat ya, bapak harus menjaga saudari Meli lebih ketat lagi jangan sampe kejadian racun itu terulang kembali”pesan Dokter.
“Iya dok, saya akan perketat penjagaan Meli”
“Meli, harus banyak istirahat dan makan ya”ucap dokter pada Meli sraya tersenyum.
“Iya dok, saya akan segera pulih secepatnya”balas Meli dengan senyum manis nya.
“Kalo gitu saya permisi”dokter dan suster pun keluar kamar rawat Meli.
Meli hanya mengangguk dan tersenyum. “Yaudah Ran, kamu berangkat udah jam berapa ini”Meli mengingatkan Rani yang masih berdiri di sebelah ranjang nya.
Rani melihat jam tangan nya, “Astagfirullah, mba...Pah, aku berangkat ya, assalamu’alaikum”Rani
menyalami tangan Kusuma dan Meli kemudian bergegas pergi.
Kusuma dan Meli saling pandang melihat Rani yang bersemangat untuk sekolah. Setelah Rani pergi, Kusuma
menggantikan Rani untuk membasuh tangan kiri dan wajah Meli dengan air yang sudah menjadi dingin.
“Apa papah udah berubah?”batin Meli yang terus bingung dengan perhatian yang diberikan Kusuma padahal selama ini Kusuma jarang sekali memperhatikan dirinya semenjak sepeninggalan mamahnya. Walaupun bingung namun Meli tetap bersyukur akhirnya Kusuma sadar dan kembali menyayangi dan memprioritaskan keluarga nya seperti dulu.
*****
“Mel, Meli,”Ray mencari Meli ke sekitar rumah dari setelah sholat subuh hingga kini matahari sudah naik ke tempatnya.
“Mas Ray”panggil Rafli dari motor nya, Ray hanya menengok dengan tatapan bertanya. “Lagi nyari apa mas?”
“Ah ini. Apa, itu, apa”Ray bingung ingin menjawab pertanyaan Rafli.
“Mas, nanti siang saya, mas Fad, bang Sahat mau nengok Meli, mas Mau ikut ga?”pertanyaan Rafli membuat Ray terdiam sejenak kemudian bangun dari duduk nya dan mengangguk cepat.
“Iya saya ikut, jam berapa nanti?”
“Jam sepuluhan lah mas”
“Oke, jam sepuluhan oke..oke”Ray mengacungkan jempol nya pada Rafli dan masuk kedalam rumah.
“Kenapa ya mas Ray, ko aneh gitu”gumam Rafli pelan kemudian kembali menjalankan motornya ke barak tempat tinggal nya.
__ADS_1
******
“Permisi”Ray membuka pintu dengan perlahan kemudian memasuki kamar rawat Meli.
“Oh, maaf, siapa ya?”tanya Meli dengan sopan.
Ray dan yang lainnya sontak terkejut melihat Meli yang sudah terbangun dari koma nya.
“Kamu,”Ray melangkah mendekat ke ranjang Meli, Meli yang bingung pun hanya bisa diam di tempat tidur seraya memegang pinggiran ranjangnya.
“Maaf pak, apa kita kenal?”
Ray menatap Meli bingung, mengapa Meli tidak mengenalinya, Ray berusaha bersikap normal dan tersenyum. “Oh, kaya nya kita salah kamar”Ray menoleh pada yang lain, mereka juga sedikit canggung berada di kamar Meli.
“Ngga, kita ga salah kamar”ucap mas Fad yang kemudian mendekat ke ranjang Meli. “Halo Mel, aku ini Fadli, tunangan Sarah, sepupu kamu”.
“Ooh, mas itu mas Fad, tunangan nya mba Sarah?”Meli yang teringat saat Sarah sering bercerita tentang mas Fad calon suami Sarah yang ingin sekali Meli temui secara langsung.
Mas Fad mengangguk cepat, “Iya, aku mas Fad”
“Aku Melisha, panggil aja Meli”Meli memperkenal dirinya dengan perasaan lega saat mengetahui bahawa rombongan laki-laki itu bukan lah orang yang salah masuk kamar.
“Meli gimana kabar nya?, Sahat?”
“Sehat mas, Sahat itu aku”Sahat membenarkan ucapan mas Fad yang sebenarnya sengaja untuk mencairkan
suasanya.
Meli tersenyum mendengar pelesetan kata mas Fad. “Mereka?”Meli memandang Rafli, Ray, dan Sahat dengan bingung.
“Ini Sahat, ini Rafli dan ini. Ray, Rayan”mas Fad menunjuk satu per satu yang namanya disebutkan.
Meli mengangguk dan tersenyum hangat pada Sahat, Rafli dan Ray secara bergantian. Ketika semua orang membalas senyuman Meli, Ray hanya terdiam menatap Meli tanpa ekspresi. Dalam hati Ray, ia merasa sedih sekaligus bahagia melihat Meli yang sudah tersadar dari koma nya namun apa yang dikatan mas Fad terbukti nyata.
Meli tidak mengingat dirinya padahal semalam Ray menjaga Meli dalam tidurnya sampai Ray tertidur juga berdampingan dengan Meli, sekarang Ray dan Meli menjadi orang asing yang tidak saling mengenal.
“Pak Ray”Meli memanggil Ray untuk menyadarkan Ray dari lamunan dan tatapan kosong nya. “Bapak ga papa?”
Ray mengangguk pelan, “Iya saya ga papa, jangan panggil saya pak”.
“Mmm. Kalo ka?, ka Ray?”pertanyaan Meli membuat hati Ray kembali sedih, bukan sebuatan ‘ka’ yang dia inginkan melainkan sebutan ‘mas’ seperti biasanya.
Namun Ray mengangguk menyetujui panggilan dari Meli yang terasa aneh bagi dirinya, Ray tidak ingin memberitahu yang sebenarnya karena takut keadaan Meli akan menjadi buruk.
“Mas Fad, kapan pernikahan mas sama mba Sarah?”
“InsyaAllah sih, tiga belas hari lagi Mel, kamu dateng ya”
“Iya mas, insyaAllah kalo aku udah sehat aku pasti bakal dateng”Meli tersenyum menatap mas Fad kemudian beralih menatap Ray yang sedang duduk terdiam.
“Kaya ga asing ya, kaya udah sering gua liat”batin Meli saat memandang Ray.
*****
“Gimana?”tanya Kusuma pada Guntur
“Sudah beres pak, kemungkinan setelah ibu Lani tiba di bandara akan langsung di tangkap sesuai dengan prosedur yang berlaku”jawab Guntur dengan tersenyum.
“Secepatnya Lani harus mendapatkan balasan nya”
“Pak, saya juga menyertakan beberpa berkas yang menyatakan penyelewengan dana untuk panti asuhan di depan dalam laporan”
“Bagus, saya sangat mengapresiasi kamu, karna inisiatif kamu”Kusuma berdiri dari duduk nya kemudiian menghampiri Guntur yang masih duduk.
“Gun, pokoknya saya mengandalkan kamu untuk masalah ini, saya ingin lebih memperhatikan keluarga saya”
Guntur tersenyum, “Baik pak, saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan bapak”
“Terima kasih Gun”Kusuma menepuk pelan pundak Guntur seraya tersenyum. Kusuma bersyukur masih ada Guntur yang bisa ia andalkan, dari dulu memang Guntur lah yang selalu setia dalam suka dan duka yang dihadapi Kusuma bahkan saat hampir bangkrut Guntur tetap bekerja dengan Kusuma walaupun tidak di gaji.
__ADS_1
******