Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 3


__ADS_3

Sesampainya di tempat tujuan nya, Ray


langsung masuk ke dalam asramanya.


“Ray”panggil Uki teman nya seperguran


bahasa jerman nya. Ray menghampiri Uki yang sedang berkumpuldengan Agus dan Sahat seraya bermain gitar.


“Dari mana bro?”tanya Uki seraya menyeruput kopi nya yang masih sedikit berasap.


“Jakarta”jawab Ray singkat dan diangguki oleh Uki.


“Pacaran ya bang”ujar Sahat dengan aksen


Batak nya. Ray hanya tersenyum seraya merangkul Sahat yang sedang membaca buku.


 “Nggak lah, Cuma ada urusan aja” jawab Ray.


 “Kalo iya juga gak papa kok, mas”sambung Agus dengan cengiran nya.


    Meli yang melihat dari kejauhan merasa


rindu dengan kedua sahabatnya, entah bagaimana kabar mereka sekarang. Meli


terus memperhatikan gerak demi gerak yang dilakukan Ray, ia tidak ingin ketinggalan jejak.


Saat sedang asik ngobrol dan bermusik,


Ray dikagetkan dengan ccengkraman kencang di bahunya. “Loh, mas kok


disini?”tanya Ray ketika melihat siapa yang mencengkram bahunya dengan kuat.


Mas Fad duduk di sebelah Ray kemudian menatap layar handphone nya. “Emang gak


boleh?”mas Fad malah bertanya balik yang hanya mendapat gelengan dari Ray.


Agus mendekat ke arah mas Fad untuk


melihat apa yang sedang ditonton mas Fad dengan begitu fokus. “Nonton apa sih,


mas?”tanya Agus ketika sudah berada di samping mas Fad.


“ini loh, kecelakaan nya anak konglomerat itu”jawab mas Fad menatap Agus sebentar dan kembali menatap layar handphone nya.


“Oh, itu... kasian kali orang itu, masih


muda pula”sambung Sahat dengan antusias.


“Iya, anak jaman sekarang ya, cewe tapi


mabok gitu”ujar Uki yang juga mengikuti berita yang sedang viral belakangan ini.


“Gak cuma mabok, dia juga nyetir, kan


parah banget ya”sambung mas Fad yang kemudian menyodorkan handphone nya kepada Ray, karena ia tahu pasti Ray tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan.


“Opo mas?”tanya Ray seraya menerima


handphone yang disodorkan padanya. “coba kamu liat berita nya, kamu pasti belum


tau toh?”mas Fad kemudian menyeruput kopi milik Ray tanpa ijin, itu sudah menjadi suatu kebiasaan yang sering dilakukan oleh mas Fad.


Ray menyimak setiap berita yang di sampaikan oleh sang reporter, tak berselang lama Ray meletakkan handphone mas


Fad dan menatap lurus dengan ekspresi kaget dan bingung setelah melihat gambar


Meli pada berita tersebut. “Namanya Meli”gumam Ray.


“Iya, Melisha, putri kedua pemilik


perusahaan ternama itu”mas Fad menjawab gumam-man Ray.


Ray yang masih bingung pun kembali tersadar dan pamit untuk kembali ke kamar nya. “Mas, semua, saya mau kembali ke


kamar ya”pamit Ray dan kemudian berlalu ke kamarnya. Mas Fad yang melihat tingkah Ray hanya bisa maklum mungkin karena ia cape sepulang dari Jakarta. Mas Fad kembali berbincang dan bermain musik dengan orang yang tersisa.


*****


    Meli yang melihat Ray pergi langsung


membuntuti Ray secara diam, ia terus mengikuti Ray sampai akahirnya Ray


berhenti di kamar paling pojok lorong, Meli hanya bisa berhenti tepat di balik pohon yang terdapat di sekitar halaman depan kamar.


    Ray merogoh saku celananya dan mengambil kunci yang tak lain tak bukan adalah kunci dari kamar yang ada dihadapan nya. Ia membuka pintu dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya


dan bersiap untuk sholat magrib yang akan segera tiba.


    Meli duduk rerumputan tepat didepan


kamar Ray, ia belum siap untuk masuk ke dalam kamar Ray, ia juga takut akan


mengagetkan Ray karena bisa tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang padahal ia kunci.


    Ray keluar dari kamar nya membawa


perlengkapan mandi nya kemudian berlalu pergi ke tempat mandi yang berada tidak


jauh dari kamar nya. Meli yang mengumpat di balik semak-semak kecil pun akhirnya bangun. “Nah, kesempatan ini, om itu lagii mandi”gumam Meli dan langsung memasuki kamar Ray dengan cara menembus pintu nya.


“Wahh, lumayan bersih ini kamar”ujar


Meli yang setelah melihat kasur yang digunakan oleh Mas Fad dan Ray selama masa belajar bahasa Jerman. Meli tertarik untuk melihat meja di samping kasur Ray,


Meli melihat foto keluarga Ray yang terdiri dari ayah,ibu dan satu kakak perempuan nya.


Meli mengusap kaca foto tersebut dan


tanpa sadar ia berkata. “Keren”Meli mengusap foto Ray, Meli merasa seperti


mengenal Ray tapi entah benar atau salah dirinya tidak tahu pasti. Tak lama pintu terbuka dan Meli kemudian melihat mas Fad yang masuk dengan membawa bungkusan yang cukup besar entah apa isinya. Meli bangun dan berjalan ke arah mas Fad untuk mengetahui apa isi dalam bungkusan tersebut.


“Kuaci?”pekik Meli saat melihat isi


bungkusan yang sudah dibuka oleh mas Fad. Mas Fad kemudian menaruh beberapa kuaci di sebuah toples yang cukup besar.


 “Nahh, bisa buat begadang kan”gumam mas Fad seraya meletakan toples yang berisi kuaci di lemari kecil dekat kasurnya.


“Eee...kripik”pekik Meli saat mas Fad


mengeluarkan beberapa macam aneka kripik, dari bayam, ubi, singkong, mangga,


apel, pisang dan tahu. “Whatt... dia jualan apa gimana”ucap Meli terheran-heran melihat mas Fad mengeluarkan begitu banyak makanan ringan bernama kripik.


“Eee, masih ada lagi?”Meli kembali


memekik saat mas fad mengeluarkan beberapa minuman kaleng seperti bear brand, sprit, coca-cola, adem sari, cincau, tebs, pocari sweat dan larutan.


“Ya ampun ni orang, wahh”gumam Meli


seraya melihat mas Fad yang memasukkan semua makanan dan minuman tersebut ke


dalam lemari es.


    Meli kembali duduk di kasur Ray sambil


memperhatikan apa yang dilakukan oleh mas Fad, ia kadang tertawa melihat tingkah mas Fad yang konyol dan kadang bikin bingung. Meli kembali kaget saat mas Fad mengeluarkan obat-obatan herbal sachet sseperti, satu pack tolak angin, komix


herbal dengan berbagai varian dan warna, antangin, promag, bodrex, beras kencur. “Entrostop anak??”pekik Meli saat mas Fad mengelluarkan barang terakhir. “Wahh, absurd sih ni orang, iya sih untuk jaga-jaga tapi gak kayak gini juga”ujar Meli pada mas Fad yang sedang menyusun obat-obatan nya di sebuah tempat walaupun mas Fad tidak dapat mendengarkan apa yang di ucapkan Meli, jsngankan mendengar mengetahui keberadaan nya saja tidak.


Tak lama kemudian Ray masuk ke dalam


kamar seraya mengusapkan handuk ke rambut nya yang basah. “Waaa”pekik Ray


terperanjat saat melihat Meli duduk di pinggiran kasurnya dengan senyuman


manisnya. “Ngapain kamu disini?”tanya Ray yang mentup pintu dan berjalan beberapa langkah dari tempat nya berdiri sebelumnya.


“Loh, ini kan kamar ku juga Ray”jawab mas


Fad yang dikira nya, Ray bertanya pada dirinya karena memang posisi nya berada


tepat di depan Meli.


“Bukan sampean mas”Ray kemudian menghampiri Meli yang masih terdiam duduk.


“Lah terus sopo toh?”mas Fad yang ikutan


bingung mengikuti pergerakan Ray yang menuju tempat tidur nya.


Ray meletakan handuk nya di pundak mas


Fad, mas Fad hanya melirik sekilas Ray dan kembali melihat ke arah depan nya yang tidak hal yang ia lihat. “Saya tau sekarang”ucap Ray pada Meli yang membuat mas Fad bingung dan ia menyadari sesuatu.


“Oalah”mas Fad pindah posisi berada di belakang Ray.


Meli berdiri dan mendongakkan kepala nya


menatap Ray. “Wah parah keren ya”batin Meli ketika melihat wajah Ray serta rambut basah nya. “Kenapa?”tanya Ray yang bingung melihat Meli menatap nya dan terdiam seraya tersenyum.


“A..om sekarang udah tau kan, kalo saya


ini gak bohong”ujar Meli dan kembali duduk di pinggri kasur Ray. Ray kemudian duduk di pinggir kasur mas Fad yang diikuti oleh mas Fad yang juga duduk tepat di sebelah Ray. “Jadi, om mau kan bantu saya?”Meli kembali meminta bantuan dari Ray, Ray menggelengkan kepalanya.


“Nggak, kecelakaan karna ulah kamu


sendiri”jawab Ray santai.


Meli yang mendengar jawaban Ray merasa


kesal tetapi memang menurut berita ia mengonsumsi alkohol. “Om, saya ini gak


pernah minum alkohol sama sekali seumur hidup saya”Meli membela dirinya, karena


ia merasa tidak bersalah atas apa yang menimpanya.


“Terus, kenapa hasil tes nya membuktikan


kalo ada kandungan alkohol yang cukup tinggi dalam darah kamu?”pertanyaan Ray


membuat Meli terdiam, Meli sendiri tidak tahu kenapa terdapat kadar alkohol


dalam tubuhnya. “Sekarang saya mohon sama kamu untuk pergi dan jangan ganggu


saya lagi, saya punya banyak kerjaan”sarkas Ray yang langsung berlalu pergi diikuti oleh mas Fad yang masih merasakan takut.


*****


“Tadi itu siapa Ray?”tanya mas Fad. Ray


berhenti di taman dan duduk di salah satu bangku yang ada di taman tersebut.


“Itu mas, anak konglomerat yang kecelakaan karna nyetir sambil mabok”Jawab Ray


dengan tenang, mas Fad yang mendengar itu langsung merapatkan duduk nya menjadi


tak ada jarak dengan Ray. “Opo toh mas nempel banget”Ray merasa risih saat mas


Fad duduk sangat dekat dan memegangi lengan nya.


“Tapi Ray, dia kan belum meninggal”. Ray


mengangguk membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh mas Fad.


“Emang mas, dia itu roh nya, jasadnya sih masih di rawat di rumah sakit, koma”Ray menjelaskan apa yang ia pernah dengar dari dari Meli.


“Oh koma, terus kalo titik?”tanya mas


Fad berusaha untuk mencairkan suasana menjelang maghrib yang sedikit creepy buat nya.


“Kalo titik ya mati mas”jawab Ray dengan


tenang sambil terus menatap kesekitar, Ray mencoba memastikan bahwa Meli tidak mengikuti nya dan berharap Meli akan menyerah untuk mengganggu nya.


“Allahu Akbar..... Allahu Akbar” suara


azan berkumandang dengan sangat merdu dan lantang, Ray dan mas Fad langsung bergegas ke masjid untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib berjamaah.


    Meli masih di dalam kamar Ray, ia


bingung harus menyerah atau terus berusaha, satu sisi ia tidak ingin mengganggu


ketenangan orang lain karena dirinya pun begitu tidak suka diganggu namun disisi lain ia butuh bantuan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kecelakaan nya karena Meli merasa kecalakaan nya ini bukan lah keteledoran nya.


*****


    Ray dan mas Fad kembali ke kamar nya


setelah selesai sholat maghrib dan membaca sedikit ayat al-qur’an. Mas Fad membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, karena ia masih takut dengan apa yang sebelumnya terjadi.


Mas Fad masuk ke dalam kamar dan


mendapati kamar kosong dan semua barang masih pada tempatnya. “Alhamdulillah”ucap mas Fad dan duduk di bangku belajar nya.


Ray merapihkan kasurnya. “Astagfirullah”ucap Ray kaget saat ia melihat Meli duduk di lantai bawah kasurnya. “Kamu nagapain masih disini?”tanya Ray kepada Meli yang sedang memandangnya dengan raut wajah yang lesu, terbesit rasa kasihan pada Meli namun langsung ditepis oleh Ray.


“Ya Allah, masih ada ternyata”gumam mas


Fad yang kini sudah berada di kasurnya dengan memeluk sebuah bantal.


    Meli menghembuskan nafas panjang nya dan kemudian berkata. “Saya gak akan pergi sebelum om mau bantu saya”ujar Meli dengan keyakinan dan keteguhan hatinya.


Ray membuang muka nya dan sedetik


kemudian kembali menatap Meli yang juga masih menatap Ray dengan wajah datar.


“Terserah, kalo kamu cape juga pasti ilang sendiri”jawab Ray dengan tenang dan


melanjutkan kegiatan nya yang tertunda.


“Ray, besok ulangan hari pertama ya?”tanya mas Fad masih dengan posisi di atas kasur tetapi kini sedang membaca sebuah buku. Ray yang sedang menulis sesuatu pun menoleh ke arah mas Fad dan mengangguk sebagai jawaban nya.


“Belajar reading mas”Ray memberi


kisi-kisi pada mas Fad.


 Mas Fad kemudian menutup buku nya dan berkata dengan tenang, “Aku udah bisa baca”jawaban mas Ray membuat Ray berhenti menulis dan menoleh kembali ke arah mas Fad yang juga sedang memperhatikan nya.


“Bukan itu mas,


besok itu ualang dengan tema reading, jadi kayak bahasa Inggris itu loh, nanti


ada soal cerita atau bacaan nah nanti ada pertanyaan yang berkaitan sama bacaan


itu”Ray menjelaskanapa yang ia maksud dengan mepelajari reading.


“Aku bercanda loh Ray”ujar mas Fad yang


kemudian menghampiri Ray yang tertawa di tempatnya. “Aku merasa bodoh saat kamu


jelasin itu”mas Fad menepuk pundak Ray pelan.


“Hahaha”Meli tertawa melihat apa yang


terjadi di hadapan nya antara Ray dan mas Fad. Ray yang mendengar Meli tertawa


langsung menoleh ke arah Meli yang melihat meraka seperti melihat acara komedi.


 “Kenapa Ray?”tanya mas Fad penasaran saat Ray menoleh ke kasurnya.


“Mas, sampean diketawain”jawab Ray dan


kembali pada kegiatan yang sempat tertunda.


Mas Fad kemudian berkacak pinggang,“Hey, jangan diketawain dong”setelah berkata seperti itu mas Fad langsung pindah duduk di


sebelah Ray.


 “Hahahaha, kocak dah, gua kira mau marah ternyata gitu doang”ujar Meli sambil tertawa dengan senang nya melihat tingkah kocak mas Fad.


*****


    Adzan subuh telah selesai berkumandang,


Ray dan mas Fad bergegas menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat subuh


berjamaah. Meli yang melihat mereka berlalu juga ingin ikut namun ia urungkan niatnya dan kembali duduk di tempat nya dan memejamkan mata nya.


“Udah lama gak sholat, kangen ya Allah”,“Kapan hamba bisa kembali hidup dan melakukan aktivitas seperti normal kembali”Meli menatap langit seraya berbicara monolog.


    Meli melirik ke arah jam dinding yang


sudah menunjukkan pukul 05.35 menit, Meli beranjak dari duduk nya dan melangkah


ke luar kamar.


 “Astagfirullah”ucap Ray yang kaget melihat


Meli keluar dari pintu tiba-tiba. Meli yang melihat ekspresi kaget Ray tersenyum, Meli melihat ke sekeliling Ray namun ia tidak menemukan keberadaan mas Fad.


“Mau ngapain kamu”Ray melangkah maju


seraya membuka pintu yang secara otomatis Meli pun jadi masuk kembali ke dalam kamar dan terduduk di pinggir kasur mas Fad yang kosong.


“Nggak, Cuma mau cari udara segar


aja”jawab Meli dengan memalingkan pandangan nya ke sekitar kamar. Ray bergegas untuk mengganti pakaian nya.


 “Aaaa...om mau ngapain om”pekik Meli ketika berbalik badan dan menemukan Ray yang sedang membuka baju nya.


    Ray tidak menghiraukan Meli dan


melanjutkan kegiatan nya dengan santai. Meli yang tidak mendapatkan respon hanya memajukan sedikit bibir nya dan berbalik arah untuk menghindari Ray yang sedang mengganti pakaian nya.


“Mau sampai kapan kamu terus


disini?”tanya Ray seraya merapihkan rambutnya di depan kaca yang tidak terlalu


besar di samping meja belajar nya. Meli bangkit dari duduk nya dan bersandar pada lemari jati besar yang berada tepat didepan kasur mas Fad.


“Sampe om mau bantu saya”jawab nya

__ADS_1


seraya melipat kedua tangan nya ke depan dada nya.


“Terserah, kamu gak boleh ngikutin


saya”ujar Ray yang sudah siap dan melangkah menuju pintu kemudian berhenti dan menoleh ke belakang, lalu Meli yang memang berjalan menunuju pintu berencana


untuk melihat dan mengikuti Ray dalam diam.


 “Jangan, awas”Ray memperingati Meli kembali seraya menaikan jari telunjuk nya dan berlalu pergi.


“Jangan, awas”Meli mengikuti omongan dan


gaya Ray yang baru saja ia lihat. “Emang kenapa? Ada aturan nya emang, lagian


gua kan roh jadi bebas”Meli melagkahkan kaki nya keluar kamar dan berjalan mengikuti Ray yang masih bisa terlihat oleh kedua matanya.


*****


“Loh bang, mana Ray? Tumben pagi-pagi


udah disini”sahat yang baru saja tiba menduduki kursi nya dan menyapa mas Fad


yang sibuk dengan bukunya.


 ”Mboh, orang gak saya kantongin”jawab mas Fad santai masih dengan fokus membaca buku nya. Sahat hanya bisa menggeleng


mendengar jawaban mas Fad dan kemudian membuka buku nya.


“Wihhh, rajin nya”ucap Uki yang baru


memasuki ruang kelas seraya membawa buku, roti dan susu kotak. Sahat yang melihat Uki langsung tertawa


“Kau mau belajar atau makan ki?”tanya


Sahat di sela tawa nya. Uki duduk dan tersenyum.


“Perut adalah otak kedua, biar lebih fokus


makanya harus diisi”jawab Uki yang kemudian merobek bungkusan rotinya.


“Oalah, lupa aku”pekik mas Fad yang


tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kelas tanpa pamit sedangkan Uki dan Sahat


hanya saling tatap dan menggelengkan kepalanya.


“Loh, mau kemana mas?”tanya Ray yang


melihat mas Fad berjalan cepat entah ingin kemana.


mas Fad hanya mengangkat telapak tangan nya ke arah Ray dan tersenyum simpe sejenak kemuadian lanjut berjalan.


     Meli yang melihat mas Fad tertawa pelan sambil terus memperhatikan Ray. “Kenapa lagi”gumam Meli dan melanjutkan jalan nya


setelah melihat Ray sudah berjalan.


*****


    Sesampainya di kamar, mas Fad langsung


mengemasi apa yang ia sangat butuhkan, ia memasukkan nya ke dalam tas belanja


kecil yang ia punya.


“Nah, cukup”gumam mas Fad yang merasa sudah cukup dengan apa yang ia masukkan ke dalam tas kemudian ia keluar kamar tak lupa menguncunya dan kembali ke kelas dengan berlari kecil agar cepat sampai.


    Setelah sampai dikelas, mas Fad duduk di


tempat nya kemudian membuka tas dan mengeluarkan sumua barang yang tadi ia


kemas.


“Mas mas”Ray tertawa pelan melihat apa


yang dikeluarkan oleh mas Fad dari tas nya begitu pula dengan semua orang yang


berada di kelas.


“Hey, ada yang belum sarapan?”tanya mas


Fad sambil mengangkat sebuah bungkusan kripik pisang ke atas kepala nya, Ray yang melihat tingkan mas Fad hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Uki yang melihat itu tertawa hingga hampir tersedak susu yang sedang ia minum. Sahat juga hanya tertawa sambil mencoba fokus membaca buku nya.


Meli yang melihat itu pun tertawa pelan


agar tidak ketahuan Ray, Meli duduk di kursi kosong paling belakang dengan tenang dan santai. “Mana ada sarapan pake kripik pisang, hahaha”.


“Udah, Mas terima kasih”ucap beberapa orang menjawab pertannyaan mas Fad. Mas Fad menurunkan kembali tangan nya dan membuka kripik pisang tersebut lalu memakan nya sambil membaca buku nya. Maas Fad menoleh ke Ray yang fokus membaca buku kemudian menyodorkan kripik pisang nya pada Ray.


Ray melirik mas Fad lalu tersenyum


tipis. “Makasih mas, aku udah minum susu kok”ujar Ray masih dengan membaca buku


nya.


 “Astagfirullah, susu nya siapa?”tanya mas Fad seraya memasukkan beberapa kripik ke dalam mulutnya.


Ray melirik mas Fad sejenak. “Mba Sarah”jawab Ray dengan santai, sontak mas Fad menaruh kripik nya di atas meja.


 “Tega kamu, kamu menghianati aku”ucap mas Fad yang sengaja ia buat-buat seperti adegan sinetron.


Ray menutup buku nya dan menoleh mas


Fad. “Opo toh mas, kan bener waktu hari sabtu itu mba Sarah dateng ngasih


makanan sama susu sapi asli, kan?”. Mas Fad yang mendengar ucapan Ray kemudian tersenyum lebar dan kembali makan kripik pisang nya.


“Kirain, aku aja belom pernah”mas Fad


nyengir dan terus melahap kripik pisang nya.


 “Belom apa mas?”tanya Ray iseng, mas Fad


tersenyum.


“Belom nyobain”jawab mas Fad dan dibalas


senyuman Ray. “Susu sapi ya Ray”mas Fad mencoba untuk menjelaskan apa yang ia maksud dan dibalas anggukan dari Ray yang fokus kembali membaca buku.


Tak lama kemudian pak Dedy memasuki ruangan dengan membawa amplop berwarna coklat ssebanyak dua buah dan sebuah kostak bercorak polkadot warna biru. Pak Dedy meletakan semua barang bawaan nya di meja dan mulai menyapa. “Assalamu’alaikum, selamat pagi semua


“wa’alaikumsalam warohmatullah wabarakatuh,


pagi Pak”jawab semua siswa kecuali tiga orang termasuk Sahat yang memang


seorang kristiani. Setelah mendengar jawaban dari seluruh murid, pak Dedy


membuka map coklat yang terletak dimejanya. Ia mengeluarkan lembaran kertas F4, yang tidak lain adalah soal ujian bahasa Jerman pertama.


Meli yang sejak tadi memperhatikan situasi yang ada di dalam kelas hanya terdiam. “Ini kelas apa sih emang?”gumam nya, karena penasaran Meli berdiri dari duduk nya dan melangkah menuju bangku yang diduduki oleh Uki yang memang letak nya berada di barisan kedua dari belakang.


“Waduh, banyak banget lagi bacaan


nya”gumam Uki setelah melihat isi dari kertas yang dibagikan. Meli melihat ke kertas yang berada di meja Uki.


“Woow, bahasa Jerman”pekik Meli dengan


kagum seraya menggelengkan kepalanya sebagai ekspresi kagum, ia dulu sempat


belajar bahasa Jerman namun ditengah-tengah ia belajar ia memutuskan untuk berhenti karena tugas kuliah nya yang semakin banyak setiap harinya.


Meli kemudian berjalan melihat satu


persatu ekspresi dari setiap siswa yang sedang membaca kertas masing-masing dan


ia terkejut saat menatap ke arah Ray yang juga tengah menatap nya dengan


dingin. “Wah, ketaun deh”gumam nya dan berbalik arah untuk kembali duduk di


bangku sebelumnya.


“Oke, sekarang kalian bisa kerjakan


ulangan itu dengan sebaik-baiknya, jangan ngasal”ujar pak Dedy “Fadly”sambung


nya seraya menatap mas Fad yang sedang fokus membaca soal yang tertera di kertas.


Mendengar namanya disebut mas Fad


mendongak menatap pak Dedy yang juga sedang menatapnya dengan senyum miring


nya. “Iya pak, insyaAllah saya pasti bisa”jawab mas Fad dengan semangat seraya mengepalkan kedua tangan nya bukti semangat nya.


“Itu tolong kripik pisang nya di simpan


dulu ya Fad”mendengar ucapan pak Dedy, mas Fad langsung memasukan kantong


kripik kedalam kolong bawah meja dan memberikan cengiran khasnya pada pak Dedy.


“Jangan lupa dibuang Fad”ucap pak Dedy


seraya memainkan handphone nya dan mas Fad hanya mengangguk paham.


“Dari tadi aku terus yang di panggil,


“Kenapa Fad?”tanya pak Dedy saat melihat


mas Fad tiba-tiba tersenyum. Mas Fad yang mendengar itu langsung menghilangkan


senyumnya.


“Tidak pak, saya Cuma semangat”jawab mas


Fad dan kembali fokus pada soal yang diberikan, pak Dedy hanya mengangguk


sekilas dan kembali pada kegiatan nya.


Semua siswa termasuk mas Fad dan Ray


fokus mengerjakan ujian pertama mereka dengan hening dan tenang, walaupu sebenarnya ada beberapa yang gugup dengan ujian pertama tapi hal itu tidak


mengurangi sikap tenang mereka saat menghadapi berbagai situasi.


“Ah, bosen”ucap Meli yang kemudian


bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju meja guru alias meja pak Dedy. Meli


melihat apa yang sedang dilakukan pak Dedy dan mulai tertawa. “Ya ampun, dia


main candy crush dong, hahaha”.


Ray melihat Meli yang sedang tertawa di


samping pak Dedy kemudian bedeham sebagai kode untuk Meli agar tidak melakukan apa pun yang dapat mengganggu. Meli yang melihat ke arah Ray hanya diam dan tersenyum simpul kemudian memperhatikan pak Dedy kembali.


“Eyy, itu loh, masa gak keliatan”ucap


Meli geregatan dengan pak Dedy yang tidak pro dalam permainan tersebut. “Wah, kunci jawaban nih”gumam Meli saat melihat sebuah kertas yang berada di meja pak Dedy.


Meli menghampiri Ray yang tengah


berpikir jawaban yang tepat untuk menjawab soal yang sedang ia kerjakan. Meli menyentuh bahu Ray pelan. “Om,


saya tau loh jawaban nomor tujuh”ujar Meli tersenyum penuh arti pada Ray. Ray hanya melirik sejenak dan kembali fokus berusaha tidak menghiraukan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Meli.


Meli yang kesal kembali ke meja pak Dedy


dan melihat kostak bermotif polkadot berwarna biru, ia menyentuh kostak tersebut dan ingin membuka kostak nya namun tidak jadi karena pak Dedy sudah mengambilnya lebih dulu.


Meli kembali melihat ke arah Ray yang


masih memikirkan jawaban tepat untuk mengisi lembar jawban nya. Meli menghampiri Ray kembali dan duduk di meja kosong yang berada tepat disebelah Ray. “Om, saya beneran tau kunci jawaban nya nih”ujarnya. “Kalo om mau saya bakal kasih, tapi ada syaratnya”.


“Gak usah”jawab Ray dingin, mas Fad yang


berada di sebelah Ray sontak menoleh ke arah Ray dengan bingung dan kemudian


tersadar bahwa Ray sedangdiikuti roh, mas Fad kembali folus mengerjakan soal nya.


“Ish, om ini kenapa sih suruh nolongin


orang aja susah banget”Meli berucap dengan kesal kemudian kembali ke meja guru untuk menghampiri pak Dedy yang kini sedang menulis sesuatu di kertasnya.


“Aihh, SOS sekarang waah, guru gabut nih”Meli kaget saat mengetahui apa yang sedang pak Dedy tulis di lembar kertas tersebut.


Meli kembali duduk di meja pak Dedy yang mengarat tepat pada posisi Ray.


Meli memperhatikan Ray yang serius dan


fokus pada ujian nya. “Nih orang manis sih, tapi parah dingin banget”batin Meli


seraya memandang Ray, kemudian ia menggelengkan kepala nya dan mulai berjalan di kelas melihat setiap orang yang sedang fokus mengerjakan ujian nya.


“Jika sudah selesai bisa di kumpulkan di


meja saya, ya”ujar pak Dedy seraya berjalan keluar kelas.


”Baik, pak”jawab semua siswa yang


sekilas melihat pak Dedy keluar kelas.


Meli yang melihat pak Dedy keluar


langsung menghampiri kursi yang sedari tadi diduduki oleh pak Dedy, Meli mendaratkan bokong nya denga santai saat melihat tatapan tajam dari Ray yang melihat nya.


“Ray, yang nomor tujuh belas itu piye


toh, gak ngerti aku”mas Fad mencolek lengan Ray dengan sedikit ditekan agar terasa oleh sang pemilik lengan, Ray yang sedang menatap tajam Meli kemudian beralih menatap mas Fad yang berada di sampingnya.


“Aku juga belum jawab yang itu mas”jawab


Ray pelan, mendengar itu membuat mas Fad frustasi karena dari sekian banyak soal, nomor tujuh belas yang paling sulit.


“Aduh, terus gimana ini”gumam mas Fad


seraya menjambak sedikit rambut nya yang tidak banyak itu. Ray melihat mas Fad hanya menggelengkan kepala nya.


“Susah ya”ujar Meli yang kini berada di


meja guru memperhatikan semua Ray dan mas Fad yang sedang berdiskusi.


    Ray hanya melirik datar kemudian kembali


fokus pada soal yang masih belum bisa ia jawab. Meli yang melihat sikap Ray mengerucutkan bibirnya sedikit dan kembali


melihat beberapa dokumen yang ada di


meja pak Dedy.


“Wahh, kunci jawaban nih”pekik Meli yang


membuat Ray langsung menatap nya dan beralih ke kertas yang sedang disentuh


oleh Meli.


“Jangan Ray”batin Ray berusaha untuk


tidak termakan oleh pancingan Meli yang sangat menggiurkan untuk nya.


Meli yang melihat Ray lagi-lagi berusaha


untuk tidak menghiraukan nya merasa putus asa dan kesal. “Oke, tunggu aja”gumam


Meli pelan.


“Sial, waktu nya tinggal dua puluh menit


lagi”batin Ray setelah melihat jam tangan nya. Meli yang memang sedari tadi memperhatikan Ray, kini ia melihat ketidak tenangan dalam diri Ray.


“Tujuh belas, dua puluh dua, dua puluh


lima, dua puluh tujuh, tiga...”Meli melihat lembar jawaban Ray yang masih belum terisi dan terhenti karena Ray menghadang nya dengan lengan nya yang besar dan kekar. “Mau ga nih”tawar Meli kembali pantang menyerah pada Ray.


    Ray berpikir keras karena waktu yang


tidak akan cukup jika ia menolak tawaran Meli kemungkinan besar ia tidak akan mengisi semua jawaban yang belum terisi. Meli yang melihat ekspresi Ray hanya tersenyum seraya terus memperhatikan Ray yang berpikir keras akan tawaran Meli.


“Oke, saya bakal bantu kamu tapi cuma tiga kali”ujar Ray menolehkan sedikit kepala nya ke arah Meli yang duduk di meja kosong tepat di samping kanan Ray. Meli yang mendengar itu langsung terperanjat dari tempat duduk nya.


“Tapi, kenapa Cuma tiga kali?”tanya Meli


dengan ekspresi bingung dan senang.


“Ya karna, saya Cuma gak bisa jawab tiga


soal”jawaban Ray membuat Meli yang tadinya sangat senang kini berkurang karena kesempatan nya untuk mendapatkan bantuan Ray menjadi terbatas. “Mau gak?”Ray mengajukan penawaran nya pada meli dengan pelan seperti berbisik.


Meli mengangguk setuju. “Dari pada gak


ditolong sama sekali, udah cape-cape”batin Meli. Kemudian Meli melangkahkan kaki nya kembali ke meja pak Dedy dan menghapal jawaban untuk tiga nomor yang belum terjawab oleh Ray.


“Nomor dua puluh tiga, a, nomor empat


puluh satu, c, nomor empat puluh lima, d”ujar Meli memberikan jawaban yang ia lihat di kertas kunci jawaban yang ada di meja pak Dedy. Ray pun langsung mengisi lembar jawaban nya dengan apa yang disebutkan oleh Meli.


Setelah waktu hampir habis, Ray meletakan kertas soal dan jawaban di meja pak Dedy, Ray bernafas lega karena bisa mengerjakan semua soal walaupun ia harus membayar nya dengan menolong Meli


sebanyak 3 kali.


    Sebenarnya sejak ditinggal oleh pak Dedy


ke luar kelas, banyak siswa yang saling bertanya dan bertukar jawaban persis


saat masih duduk di bangku sekolah hanya saja kali ini lebih tenang dan tersturktur. Mas Fad juga dapat menyelesaikan semua soal nya dengan mendapatkan beberapa jawaban dari Sahat dan Uki yang berada tidak jauh dari tempat nya.


“Udah semua ya”pak Dedy masuk seraya


menenteng sebuah botol minuman dingin yang sudah tinggal setengah.


“Sudah, Pak”jawab semua siswa kompak


sraya memberikan senyuman sumringah dan lega masing-masing.

__ADS_1


“Baik, kalian bisa kembali ke tempat


masing-masing”ucap pak Dedy membereskan semua lembaran yang ada di atas meja nya kemudian memasukan nya kedalam map bewarna coklat. “Ingat, lusa kalian ulangan tema nya writing ya”pak Dedy mengingatkan semua siswa.


“Baik, pak”jawab seluruh siswa kompak.


*****


    Sore hari yang indah, guratan jingga


sudah menghiasi sebagian besar langit yang biru cerah. Meli sedang menikmati senja di lapangan seraya melihat banyak orang yang sedang berolahraga sore termasuk mas Fad dan Ray. Setelah ualangan Ray dan mas Fad pergi ke suatu tempat namun Meli tidak mengikuti nya dan memilih untuk tetap dikamar Ray dan mas Fad.


“Huh huh huh, aku udah lah Ray udah sore


juga ini”ujar mas Fad yang terduduk lemas dengan nafas yang ngos-ngosan sehabis


lari empat putaran lapangan yang cukup luas.


“Yaudah mas, mandi gih nanti


gantian”jawab Ray yang masih asik dengan alat restok nya.


“Kuat banget ya”gumam Meli masih menatap


lurus ke arah Ray yang sedang melakukan restok dengan mudah nya. “Eyy, gua


mikir apa dah”Meli menggelengkan kepala nya untuk menyangkal apa yang ia gumam


kan tadi.


    Jujur saja, Meli tidak pernah pacaran,


dia menjomblo selama dua puluh tahun lamanya dan itu bukanlah sebuah masalah,


ia justru happy dengan ke-jombloan nya. Walaupun begitu bukan berarti ia tidak


tertarik pada pria justru sebaliknya namun karena terdapat sebuah luka batin mengenai hubungan perempuandan laki-laki ia jadi tidak ingin menjalin hubungan.


    Meli mengetahui bahwa papa nya


menghianati sang mama hingga mama nya jadi sering sakit belum lagi saat mengetahui ia memiliki kakak yang berbeda ibu dengan nya, pada saat itu terlalu menyakitkan untuk diingat bagaimana papa nya tidak pernah memberikan kasih sayang nya untuk mama nya dan hanya fokus pada perusahaan yang memang pada saat itu hampir pailit, serta istri kedua nya yang tidak lain adalah Lani, ibu tiri


Meli saat ini.


Meli beranjak dari tempat duduk nya


memutuskan untuk kembali ke kamar Ray dan mas Fad. Ray yang melihat Meli pergi


hanya terdiam memandangnya sampai tak terlihat oleh kedua pasang mata nya.


“Sebenernya apa yang terjadi sama dia,


kalo dirasa dia bukan orang yang nakal ataupun jahat”batin Ray seraya meminum


air mineral yang memang sudah ia siapkan sebelumnya.


    Tak lama kemudian, Ray memutuskan untuk segera mandi karena matahari semakin lama semakin tenggelam itu tandanya


maghrib pun akan segera tiba. Langkah Ray terhenti saat melihat Meli yang sedang bermain air di kecil yang ada pancuran yang tidak terlalu besar namun indah saat dipandang mata.


“Ngapain dia”gumam Ray pelan yang


kemudian melangkah menghampiri Meli yang masih asyik bermain air serta melihat tanaman bungan di sekitarnya.


“Eh, om”Meli kaget melihat Ray sudah berada di samping nya menatap nya tanpa ekpresi dan kata, “Om, ngapain disini?”tanya Meli masih mendongak kan kepala nya untuk dapat mentap wajah manis Ray yang terlampau tinggi.


“Seharusnya saya yang tanya”tukas Ray


sedikit dingin dan Meli langsung mengganti arah pandang nya ke pancuran air yang bergambar kuda. “Oya, umur kamu berapa?”tanya Ray yang langsung membuat


kepala Meli menoleh dan kemudian berdiri dari duduknya.


“Umur saya?”Meli menunjuk diri nya untuk


memastikan.


Ray hanya mengagguk sebagai jawaban, Meli


yang melihat itu kembali memalingkan pandangan nya ke arah kolam yang berada di


bawah pancuran kuda. “Saya umur dua puluh tahun”jawab Meli setelah jeda yang cukup lama.


Ray mengangguk-anggukan kepalanya “Kalo


gitu, jangan panggil saya om”ucap Ray yang kini menatap ke arah Meli yang juga sedang menatap nya.


“Emang kenapa?”tanya Meli polos, Ray yang mendengar itu hanya membuang nafas nya malas.


“Saya dua puluh lima tahun”Ray menjawab


seraya memandangi kolam ikan koi yang berada di bawah pancuran kuda.


“Oh, terus saya panggil nya apa


dong?”pertanyaan Meli mendapatkan tatapan dingin dari Ray. “Sa...saya


gak tau harus panggil apa selain om”ucapan Meli sedikit terbata saat melihat


tatapan salju Ray.


“Mas”


“Hah?”Meli yang kurang jelas mendegar


ucapan Ray.


“Mas, kamu bisa panggil saya mas”sambung


Ray masih menatap para kumpulan ikan yang tengah asyik berenang.


“Mas?”Meli merasa bergidik entah kenapa


saat mengucapkan kata itu untuk panggilan Ray, padahal selama ini ia memanggil


Mahendra, sang kaka dengan sebutan mas dan itu biasa saja tidak ada merinding


dan bergetar di hatinya. “Kenapa harus mas?”


“Karna saya orang jawa jadi lebih nyaman


kalo dipanggil mas”jawab Ray santai


“Ray, gak mandi?, malah merenung”tegur


mas Fad yang sudah rapih menggunakan setelan untuk sholat berjamaah.


“Oh, iya mas”jawab Ray yang kemudian


pergi untuk bergegas membersihkan diri sehabis olahraga.


“Ngapain toh kamu?”tanya mas Fad saat


Ray tiba di hadapan nya


“Gak papa mas, Cuma mau liat ikan”jawab


Ray dengan asal.


“Ikan aja kok diliat”kata mas Fad seraya


melihat ke arah kolam ikan dengan pancuran kuda yang tadi di singgahi Ray.


“Ngeliat apa mas?”Ray bertanya saat melihat


kedua alis milik mas Fad bertaut.


“Itu loh patung kuda”mas Fad menjawab


tanpa mengalihkan pandangan nya dari patung kuda yang mengeluarkan air dari


sisi mulut nya.


“Patung aja kok diliatin”Ray membalas


perkataan mas Fad yang tadi seraya melangkah pergi untuk melakukan kegiatan


yang sedari tadi ia tunda, mas Fad mendengar itu hanya menatap Ray singkat dan kembali menatap patung kuda tersebut.


“Bagus kok patung nya, keren yang


bikin”gumam nya dan kemudian pergi ke kamar nya untuk menunggu waktu maghrib tiba.


*****


    Setelah maghrib, mas Fad dan Ray kembali ke kamarnya. Mas Fad melihat instagram dan ber-chat ria dengan sang kekasih sedangkan Ray hanya membaca buku di atas kasurnya ditemani Meli yang duduk dibawah kasur Ray seraya menagkupkan kedua telapak tangan nya di kedua sisi pipi nya yang lumayan chubby.


“Om”panggil Meli pelan. “Eh, mas maksudnya”ubah Meli saat melihat Ray memandangnya seakan memperingati Meli.


Meli lagi-lagi merasakan desiran di hati nya yang ia sendiri juga bingung kenapa, ia menganggap mungkin ini karena dirinya baru pertama kali memanggil kata 'mas' ke orang lain selain Mahendra dan Evan.


“Ayo, katanya mau bantu saya”sambung


Meli setelah terjeda. Ray melirik Meli sekilas dan kembali membaca buku berbahasa Jerman nya.


“Apa yang harus saya bantu?”tanya Ray


yang masih berfokus pada buku bacaan nya.


“Nggak ada Ray”timpal mas Fad dengan


senyum singkatnya.


“Bukan sampean mas”


“Loh, terus siapa Ray?”wajah mas Fad


menunjukkan kekhawatiran sekaligus takut dan Ray hanya tersenyum simpel.


“Cewe yang kemarin mas”tambah Ray


setelah diam sejenak, mas Fad yang mendengar itu langsung menghampiri Ray di


kasurnya.


“Aih, ganggu aja ”gumam Meli yang


mendapatkan tatapan singkat dari Ray.


“Dia dimana, Ray?”tanya mas Fad


penasaran dengan keberadaan Meli, Ray hanya menunjuk ke belakang mas Fad yang


memang Meli sudah pindah posisi dari samping ke belakang mas Fad.


“Di...di belakang ku Ray”Ray hanya


mengangguk dan tersenyum tipis, Meli yang berada di belakang mas Fad juga hanya tersenyum singkat dan melipat kedua tangan nya didada nya.


“Hahaha”Meli tertawa saat mas Fad


mencoba untuk menyentuh nya manun nihil, tangan besar mas Fad hanya menembus


setiap sisi tubuh yang hendah disentuh mas Fad.


“Mas, ada telpon tuh”ujar Ray yang


melihat notifikasi dari layar handphone mas Fad.


“Oh iya, Sarah iki”timpal mas Fad senang


saat mengetahui siapa yang menelpon nya, mas Fad mengangkat telpon dan berjalan


ke luar kamar.


“Nah gitu kek dari tadi”gumam Meli yang


lagi-lagi mendapatkan tatapan dari Ray.


“Om...eh mas, saya butuh bantuan mas


untuk mencari tausaya sebenernya kenapa bisa kecelakaan”mendengar ucapan Meli, Ray menutup buku nya dan menatap heran Meli.


“Bukan nya udah jelas ya,”ujar Ray melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu sendiri yang penyebab kecelakaan


itu”sambung Ray.


“Nggak, bukan saya”Meli menangkis apa


yang dikatakan oleh Ray dengan penuh keyakinan. “saya gak pernah minum alkohol


dan saya juga....”ucapan nya terhenti entah mengapa ia merasa susah untuk


mengatakan nya.


“Bukan nya aneh saya minum alkohol dan tetap nyetir sendiri, saya waras saya gak mau mati”ujar Meli setelah jeda yang


cukup panjang.


“Terus, masksud kamu ini kecelakaan yang


disengaja?”tanya Ray yang dibalas anggukan dari Meli. “Kalo ini disengaja kenapa keluaga kamu yakin nya kalo itu memang kesalahan kamu?”pertanyaan Ray sukses membuah Meli terdiam karena teringat akan apa yang diucapkan oleh pengacara yang disewa papanya.


“Karna mereka... gak peduli”ucap Meli menundukkan kepalanya dengan sedih. “Gak semua, ade sama mas Hen pasti peduli


sama saya”sambungnya yang sudah menegakkan kepala nya kembali.


“Emang gitu ya keluarga konglomerat”Ray


berbica pelan namun dapat terdengar oleh Meli yang hanya menatap kasur mas Fad


yang kosong.


“Iya, gak enak jadi keluarga konglomerat


yang punya banyak cerita suram nya”sahut Meli masih dengan tatapan kosong nya.


“Oke, sekarang kasih tau saya, gimana


cara saya bisa nolongin kamu”Ray berusaha mencairkan suasana sedih yang sedang


dirasa oleh Meli, sejujurnya entah mengapa ia merasa percaya pada apa yang Meli


katakan. “Terlepas dari bener atau salah”sambung Ray seraya membuka handphone nya untuk mengecek chat yang masuk.


Meli kembali bersemangat saat Ray


mengatakan hal tersebut, ia merasa ada harapan untuk mengungkap kebenaran dari


kecelakaan nya. “Oke, mmm...”Meli berhenti sejenak untuk berpikir cara untuk


memulai perjuangan nya mengetahui penyebab sebenarnya kecelakaan.


“Mas... kan sekarang lagi ujian ya?”Meli


bertanya seraya menatap Ray yang masih mengetikan sesuatu di layar handphone


nya dan kemudian mengangguk pelan. “Kalo gitu kapan mas selesai ujian nya?”.


Ray meletakan handphone nya di meja


nakas kemudian beralih menatap Meli yang sedang menunggu jawaban dari Ray.


“Hari minggu saya wisuda”jawab Ray dengan tenang dan ekspresi yang datar.


“Oke, kalo gitu hari minggu kita ke


kantor polisi, ngecek data yang berkaitan sama kecelakaan saya, gimana?”Meli


memberikan usulan yang terpikir oleh otak nya.


Ray yang mendengar usulan Meli diam


sejenak untuk mencerna dan berpikir. “Kayak nya ga mungkin kita langsung ke


kantor polisi dan minta data tentang kecelakaan kamu”tukas Ray yang kemudian


bangkit dari duduknya berjalan menuju kulkas lalu mengambil sebuah minuman


kaleng.


“Kenapa?”tanya Meli yang bingung. Ray


menatap Meli tanpa ekspresi lalu mencoba membuka minuman kaleng yang ia akan ia


minum.


“Yaa, polisi gak bakal ngasih gitu aja,


saya ini kan bukan keluarga atau kerabat mu”Meli yang mendengar jawaban Ray


hanya bisa menghembuskan nafas kesal nya, Meli bingung hal apa yang harus ia


lakukan untuk memulai penyeledikan.


“Gimana kalo kamu aja yang ke kantor


polisi dan melihat data perkara nya”usulan yang diberikan Ray membuat Meli


tersenyum dan berdiri dari duduk nya menghampiri Ray yang duduk di bangku


belajar mas Fad seraya meminum minuman kaleng nya.


“Nah, iya itu aku kan gak keliatan”ujar


Meli seraya menepuk bahu Ray yang membuat Ray sedikit tersedak dengan minuman nya karena kaget. “Maaf, maaf om.. eh mas”Meli yang melihat tersedak karena


ulahnya spontan ia mengelus punggung lebar Ray seraya meminta maaf.


“Lain kali jangan asal tepok aja”Ray


memperingati Meli dengan tatapan yang cukup tajam yang ia lemparkan pada Meli.

__ADS_1


*****


__ADS_2