Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 7


__ADS_3

Matahari telah terbenam di awan sore, kini Meli, Ray dan Karin sedang berada di sebuah restoran untuk makan malam bersama, sebanarnya hanya makan malam berdua antara Ray dan Karin namun Meli tidak ingin meninggalkan Ray berdua dengan orang lain.


Ray dan Karin yang memang lapar langsung memesan makanan dan minuman yang ada dalam daftar menu restoran.


“Ini aja enak pasti”usul Meli pada Ray yang bingung memilih makanan sambil menunjuk salah satu menu di buku.


Ray menatap Meli dengan tajam seakan menyuruh Meli untuk jangan mengacaukan makan malam nya dengan Karin. Meli yang melihat tatapan itu hanya kembali terdiam


seraya melihat ke sekeliling restoran yang mengusung tema alam.


Tak lama setelah beberapa menit memesan makanan dan minuman, akhirnya pelayan membawa nampan yang berisikan semua pesanan yang di pesan oleh Ray dan Karin


lalu meletakkan nya di atas meja makan dengan hati-hati.


“Woow”Meli yang kagum saat melihat makanan yang disajikan. “Sangat menggoda”gumam nya seraya mengecap mulut nya yang seakan ingin mengluarkan air liur nya.


Ray yang melihat Meli hanya tersenyum namun ia juga bingung begitu mudah nya ia


beralih dari yang tadinya sangat sedih menjadi ceria seperti biasa nya. “Aneh,


secepet itu dia balik lagi”batin Ray yang sesekali menatap Meli diam-diam.


“Mas, aku mau ya, yang itu”ujar Meli seraya menunjuk ke piring besar berisikan udang


rica-rica yang terlihaat pedas dan menggiurkan.


Ray hanya terdiam tanpa menjawab Meli. Meli yang tidak mendapat jawaban langsung memajukan beberapa senti bibir nya yang kecil membuat Ray tertawa ringan


“Kamu kenapa ray?”tanya Karin yang kaget saat Ray tertawa seraya menatap Ray bingung.


“Oh..nggak ini loh lucu ya gambar piring nya”Ray menunjuk ke arah piring bergambarkan dua ekor ikan koi yang memang terlihat cantik.


“Eh, gambar ?”Karin melanjutkan kegiatan nya yang tertunda masih dengan kebingungan yang ada dalam pikiran nya.


*****


Sesampainya di depan rumah Meli turun dari motor Ray sedangkan Ray memutarkan arah motor nya. Meli yang melihat itu menatap Ray bingung. “Mas mau kemana lagi?”.


“Ada urusan di kompi, kamu masuk aja”jawab Ray seraya menyerahkan kantong kresek bewarna putih pada Meli yang kemudian kembali pergi. Meli memasuki rumah setelah melihat Ray pergi.


“Apaan nih”gumam Meli yang penasaran apa isi di dalam kantong plastik putih yang


diberikan oleh Ray barusan. Meli duduk di sofa depan tv kemudian membuka


bungkusan plastik itu lalu senyum manis Meli mengembang sempurna saat


mengerahui apa yang ada di dalam kantong plas tik tersebut.


“Aaaa...udang rica-rica”seru Meli senang. “Ya ampun mas Ray, kok makin romantis aja sih”gumam Meli seraya menatap foto Ray yang cukup besar terpajang di dekat televisi.


Meli langsung melahab semua udang rica-rica tersebut tanpa sisa. Meli sangat suka dengan udang apalagi dengan bumbu manis dan pedas seperti rica-rica yang dibeli oleh Ray, itu sangat menambah nafsu makannya, tidak heran Meli menghabiskan


saatu piring nasi dan seporsi udang rica-rica.


Jam menunjukkan pukul 21.30, namun belum ada tanda-tanda Ray pulang. Meli yang terus membuka matanya menonton acara tv selagi menunggu Ray pulang kini mulai mengantuk, sudah lebih dari dua jam ia menunggu Ray.


“Lama banget ya mas R...”ucapan Meli terhenti saat mendengar suara motor di depan rumah sontak Meli langsung menghampiri ruang tamu. “Oh, empat hari lagi Rani ulang tahun”pekik Meli saat ia melihat kalender yang berada di meja ruang tamu.


“Assalamu’alaikum”ucap Ray seraya membuka pintu dan menutup nya kembali setelah berada di dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam”jawab Meli yang masih fokus pada kalender berukuran kecil di meja ruang tamu Ray, Ray yang melihat itu pun kemudian menghampiri Meli.


“Kamu kenapa belum istirahat?”tanya Ray yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Meli.


Meli menatap Ray, “Mas saya mau minta tolong lagi, boleh kan?”tanya Meli.


“Apa?”


Sebelum bicara Meli menghembuskan nafas nya agar lebih leluasa. “Jadi, empat hari lagi tepatnya tanggal tiga november. Rani ulang tahun”ujar Meli menjelaskan


sedangkan Ray hanya menyimak. “Mas Hendra lagi di luar negeri, Dony juga


lagi di semarang, Gia juga ada banyak tugas buaat penilaian kelompok, Aku. Lagi beda alam sama Rani”


“Jadi?”


“Ya. Aku mau mas Ray ada buat Rani di saat ulang tahun nya. Oh iya besok dia juga mau


ambil rapot sekolah mas, kamu yang ambil ya”


Ray yang bingung pun mengerutkan alisnya sebagai bentuk ekspresi. Meli yang melihat


itu pun terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara. “Papa lagi di luar negeri,


terus. Mama Lani juga lagi liburan dan pastinya dia gak akan peduli sama Rani”Meli menjawab kebingungan Ray.


“Selama ini siapa yang ambil rapot nya?”


Meli menunjuk dirinya sendiri sebagai jawaban. “Kadang juga mas Hendra atau bi Tinah, tapi bi Tinah juga lagi dikampung ngurusin anak nya yang sakit”.


Ray berpikir sejenak seraya membuka layar handphone nya dan mengecek jadwal harian nya. “Oke, besok bisa, saya gak ada kegiatan “jawab Ray dengan anggukan nya.


Meli yang mendengar itu pun langsung tersenyum bahagia dan sangat bersyukur karena ia bertemua dengan Ray. “Makasih ya mas”ucap Meli tulus masih dengan senyum manis nya.


“Manis”gumam Ray pelan namun masih bisa di dengar dengan samar oleh Meli.


“Apa mas?”tanya Meli karena mendengar Ray menggumam pelan dan samar.


Ray yang tersadar langsung menggelengkan kepala nya beberapa kali, “Gapapa, berarti kesempatan bantuan nya udah abis ya”ujar Ray mengubah topik.


Meli mengangguk yakin, “Iya, yang penting aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sama


kecelakaan yang aku alami, terus aku tenang karena Rani gak kesepian. Itu


udah lebih dari cukup”.

__ADS_1


Ray menatap Meli dengan sedikit terbesit kekaguman pada Meli yang ternyata lebih


tangguh dari apa yang ia bayangkan. Ray selama ini salah menganggap jika Meli


adalah anak konglomerat yang manja, gak bisa apa-apa namun pada kenyataan nya


Meli bahkan jauh lebih baik dari apa yang ia bayangkan.


“Yaudah istirahat”suruh Ray yang dijawab oleh anggukan kepala Meli.


*****


Pagi hari yang cerah, Meli yang sedang bergelut dengan aktiitas dapurnya terhenti


saat melihat Ray yang baru terbangun dari tidur nya dengan wajah bantal nya yang membuat Melli tertawa ringan melihat nya.


“Aaa. Kiyowo”gumam Meli seraya memotong bawang merah untuk bumbu masakannya. “Aw....aw”pekik Meli


yang tanpa sadar ia hampir mengiris jari nya karena memperhatikan Ray dengan wajah bantal nya yang lucu.


“Kenapa?”tanya Ray yang langsung menghampiri Meli di dapur dengan raut wajah nya yang khawatir.


Meli yang melihat Ray khawatir seperti itu pun kembali tersenyum menatap Ray.


“Gapapa ko”jawab Meli santai.


“Apanya yang gapapa”Ray langsung mengambil jari Meli yang berdarah dan langsung menghisap nya.


Meli membuka mulutnya kaget melihat apa yang dilakukan oleh Ray, kemudian ia


tersenyum saat Ray selesai menghisap darah nya ia langsung membuka keran dan


mencuci jari Meli.


“Perih ya?”tanya Ray yang menoleh ke Meli masih dengan wajah yang khawatir, Meli


menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.


“Lain kali hati-hati, fokus makanya, ngeliatin apa sih?”


Meli yang mendengar pertanyaan Ray hanya terdiam tidak menjawab.  “Ngeliat mas lah”batin nya dengan senyuman


yang kembali terukir di bibir nya. Ray yang terus melihat Mel tersenyum pun


heran.


“Kamu ini kenapa sih senyam-senyum aja dari tadi”Ray menatap Meli dengan heran.


“Ah. Gapapa, tuh liat udara nya seger udah gitu matahari nya bersinar dengan cantik”jawa Meli seraya melihat keluar rumah melalui jendela yang ada di dapur, “Makanya aku jadi good mood hehehe”sambung Meli dengan terkekeh pelan.


Ray menggelengkan kepala nya beberapa kali, “Dasar”timpal nya dan berlalu pergi


untuk mandi.


“Huft....aaa ko sweet banget sih ya Allah, ciptaan mu bener-bener ah”kata Meli monolog.


Pagi itu terasa sangat cerah bagi Meli ataupun Ray. Baik Meli ataupun Ray merasa


bahagia entah apa yang membuat hati mereka berdua bahagia, apa karena sarapan bersama? Atau karena ada seseorang yang berada disisi mereka yang selama ini terasa kosong.


*****


Setelah memarkirkan motor nya Ray dan Meli bergegas memasuki sekolah bercat pastel dengan tergesa-gesa karena pengambilan rapot akan segera tiba. Sebenarnya tidak hanya rapot pasal nya hari ini Rani akan lulus dari SMP, Meli lupa bahwa Rani akan wisuda hari ini, ia baru teringat saat akan pergi tadi, jadi mereka telat karena Ray harus mengganti pakaian kasual yang tadinya ia pakai untuk mengambil rapot Rani namun saat mengetahui bahwa hari ini adalah wisuda Ray mengganti baju nya menjadi formal dan membeli satu buket bunga lili berwarna pink


kesukaan Rani.


“Ayo cepet mas”Meli yang berlari lebih dulu dari Ray pun menyemangati Ray yang


terengah-engah dengan nafas nya.


“Mana sih gedung nya?”tanya Ray seraya berhenti sejenak untuk melihat ke sekeliling sekolah yang terasa cukup sepi.


“itu”Meli menunjuk sebuah gedung besar yang berada di depan mereka, di dalam sana sudah banyak sekali orang tua murid serta murid yang akan wisuda.


Ray dan Meli memasuki ruangan tersebut lalu mencari keberadaan Rani. Ruangan yang sangat besar membuat Meli dan Ray menjadi kesulitan menemukan Rani di antara banyak nya orang yang ada di aula sekolah.


Rani yang duduk bersama dua orang teman dekat nya hanya terdiam seraya melhat siswa dan siswi yang dipanggil untuk mendapat rapot dan ucpaan selamat dari para guru yang ada di atas panggung aula.


Rani menatap beberapa teman nya yang bercanda ria dengan mama dan papa nya serta kerabat keluarga yang menghadiri acara tersebut. Rani mengepalkan kedua tangannya dan masih terus menatap ke arah depannya seraya mengembangkan senyum tipis nya untuk mengelabuhi semua orang yang ada bahwa ia sedang bahagia namun hati nya tidak dapat berbohong, ia merasa ingin pulang ke rumah sakit dan meluapkan semua kesedihan yang ia tahan sedari tadi.


“Orang tua kamu mana Ran?”tanya Siska teman yang duduk di sebelah kanan Rani.


Rani menatap sekilas Siska sebelum menjawab, “Oh, lagi ada urusan di luar negeri”jawab Rani dengan senyum getir nya.


“Terus kamu sendiri dong wisuda nya, kan mba kamu lagi sakit di rumah sakit”timpal


Messy yang duduk di samping Siska. Rani mengangguk pelan dan kemudian tersenyum tipis sebagai jawaban nya.


“Maaf telat. Kamu udah di wisuda belum?”tanya Ray yang langsung duduk di sebelah kiri Rani yang kosong.


Rani menatap heran Ray, “Om siapa ya?”tanya Rani pelan. Ray menatap sekilas Rani dan tersenyum.


“Saya wali kamu”jawab Ray santai seraya membuka tutup botol minuman yang tersaji di atas meja.


“Hah? wali?”


Ray yang sedang meneguk air mineral itu pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Meli yang berada di tengah-tengah antara Ray dan Rani hanya tersenyum melihat Rani


yang semakin tumbuh besar yang kini akan menjadi seorang siswi SMA.


“Om....”


“Tenang....saya bukan orang jahat, saya ini sebenernya temen kuliah Meli, sekelas”uacpan Ray membuat mata Meli terbelalak kaget karena Ray akan mengaku sebagi teman kuliah nya.


“Bener?”tanya Rani memastikan apa yang diucapkan Ray adalah kebenaran.

__ADS_1


“Iya, dia pernah bilang kalo misalnya dia gak bisa ada buat adik nya, dia minta


tolong saya yang tangani itu semua”jawab Ray menjelaskan dengan kebohongan yang


membuat Meli tertawa ringan dengan akting yang ditampilkan oleh Ray.


“Keren”ucap Meli seraya memberikan kedua jari jempol nya untuk Ray, Ray yang melihat itu hanya tersenyum seraya menunjukkan satu jempol nya beberapa detik pada Meli.


Sampai tiba waktu nya untuk wisuda siswa dan siswi kelas Rani. Rani yang gugup


menunggu nama nya dipanggil oleh wali kelas nya hanya memainkan jari nya untuk


menghilangkan kegugupan nya.


“Ran, itu siapa?”tanya Siska yang baru saja kembali dari toilet bersama dengan Messy.


“Oh ini,”ucapan Rani terpotong oleh Ray. “Saya wali nya Rani”jawab Ray dengan


senyum manis nya yang membuat Siska dan Messy ikut tersenyum sopan.


“Akhirnya kamu gak sendiri wisuda nya”ucap Messy pada Rani yang tersenyum senang.


“Oh iya, Rani, ini bunga ucapan selamat atas wisuda nya”Ray menyerahkan buket


bunga liliy pada Rani.


Rani yang melihat buket bunga kesukaan nya langsung menerima dan mencium aroma yang dikeluarkan oleh bunga liliy dengan senyuman bahagia nya. “Waa...wangi....cantik”puji Rani pada bunga liliy yang memang indah. “Makasih ya Om”ucapan Rani membuat senyuman Ray memudar.


“Jangan panggil om, panggil mas aja”ujar Ray yang membuat Rani menoleh menatap bingung Ray.


“Mas?”


“Iya, saya belum setua itu kok”Ray tersenyum sedangkan Rani mengalihkan pandangan nya, Rani merasa panggilan mas terlalu canggung untuk orang yang baru saja ia kenal.


“Gimana kalo aku panggil ‘ka’ ?”tanya Rani dengan senyuman riang nya.


“Oh, yaudah gapapa panggil ka aja”sambung Ray kemudian setelah melihat tatapan tajam dari Meli yang entah kenapa membuat Ray sedikit takut apabila Meli marah.


“Oke ka”


“Maharani Ayu Sastrawirdjoyo”panggil pak Aris, wali kelas Rani dari atas panggung.


Mendengar nama nya dipanggil Rani langsung berdiri dan berjalan ke depan


panggung diikuti oleh Ray yang memang menemani Rani sebagai wali nya.


“Selamat ya, kamu ranking satu dan menjadi siswi lulusan terbaik, bapak bangga sama kamu Rani”ucap pak Aris seraya menyerahkan buku rapot dan mengalungkan mendali yang


berlogo sekolah nya.


“Terima kasih pak atas semua ilmu dan kebaikan bapak sama saya selama ini”balas Rani dengan senyuman tulus. Ray yang mendengar itu hanya tersenyum dan menepuk pelan bahu Rani.


Setelah bersalaman dengan semua guru yang ada diatas panggung Ray dan Meli pun turun dengan senang dan bahagia. Saat hendak kembali ke tempat duduk nya Rani merasa sakit di sekitar lengan dan panggul nya, Rani berhenti sebentar dan memegang lengan kiri serta panggul nya yang terasa sakit.


Ray yang melihat itu langsung menuntun Rani secara pelan ke tempat duduk yang dekat dari panggung. “Duduk”perintah Ray yang menyordorkan bangku pada Rani.


“Rani kenapa?”tanya Meli yang baru saja kembali dari menjelajah aula sekolah Rani. Ray hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.


“Yeayyy. Selamat Raniii”ucap mas Fad, Sahat dan Rafli yang merupakan teman Ray di asrama. Ray sengaja mengajak mas Fad karena mas Fad juga tau kalo Ray berhubungan dengan Meli yang tak kasat mata namun Ray tidak tahu jika mas Fad mengajak Sahat dan juga Rafli.


Mas Fad, Sahat dan Rafli memberikan buket bunga yang beragam ada mawar merah, aster kuning dan matahari. Rani menerima semua buket bunga yang diberikan dengan bingung namun tetap tersnyum.


“Aw..”pekik Rani saat memegang salah satu buket bunga dengan tangan kiri nya. Ray yang melihat itu pun langsung mengambil alih buket bunga dan menaruh nya di atas meja.


“Kalian...”


Belum selesai Rani berbicara mas Fad langsung menjawab, “Kita ini teman nya Ray”jawab nya dengan


tersenyum riang.


“Oh, makasih udah dateng”ucap Rani dengan bahagia walaupun menahan sedikit sakit di lengan dan panggulnya.


“Congratulation....congratulation”mas


Fad, Sahat dan Rafli memberikan ucapan dengan nada yang entah mengapa bisa


terpikirkan. Rani yang melihat mereka bertiga tertawa bahagia, Rani sempat


merasa bahwa hari ini adalah yang terpahit dalam hidup nya karena ia melewati


hari bahagia nya seorang diri tanpa orang yang dikasihi dan mengasihi nya.


“Satu lagi, ini”Sahat memberikan coklat bermerek silverqueen dua buah.


“Ada lagi”Rafli memberikan kotak kue yang berisikan kue dengan banyak hiasan strawberry dan coklat yang sangat menggoda siapa pun yang melihatnya.


“Satu lagi”mas Fad memberikan satu pack permen berbentuk kaki dengan merek hot hot pop. Melihat apa yang diberikan mas Fad Rani tertawa namun sedikit tertahan karena ia takut


tidak sopan.


“Kok permen mas?”Ray yang bingung pun bertanya.


“Gini. Kue sekali makan langsung abis. Coklat juga sekali makan bisa langsung abis, tapi kalo ini bakalan lama abis nya”jawab mas Fad seraya menunjuk permen yang ada di salah satu tangan nya.


Mereka yang mendengar jawaban mas Fad hanya menggelengkan kepala dan kemudian tertawa bersama termasuk Rani yang terus memijat bagian lengan nya yang masih terasa sakit walaupun sudah mendingan.


“Makasih semua nya”ucap Rani dengan senyum cerah dan bahagia yang terpancar dari wajah cantik Rani.


“Iya, sama-sama, setiap orang behak untuk bahagia”jawab mas Fad yang memang paling tua di antara kawan-kawan nya.


Meli yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum melihat keakraban dari Ray dan kawannya beserta Rani yang terus tersenyum bahagia terus bersyukur kepada sang pencipta yang telah menakdirkan nya bertemu Ray.


Pada akhirnya Rani dan Ray beserta kawan nya bersenang-senang di acara wisuda Rani. Mereka mengambil foto Rani dan teman-teman nya, Rani juga berfoto dengan Ray dan kawan-kawan.


Meli yang tidak terlihat oleh siapa pun kecuali Ray juga ikut tepat di samping

__ADS_1


depan Rani yang tersenyum bahagia saat difoto.


*****


__ADS_2