Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 9


__ADS_3

“Hmmm, wangi banget kue nya”Ray yang sudah bersiap dengan pakaian kasual nya melangkah menghampiri Meli yang masih menyiapkan beberapa hiasan kue ulang tahun Rani.


“Iya dong, lebih enak dari bolu pandan”Meli menyindir bolu pandan buatan Tia yang sebenarnya rasanya tidak seburuk itu.


Ray tertawa pelan mendengar ucapan Meli yang menyindir kue bolu. “Belum tentu, kan belum dicobain”bals Ray sengaja menggoda Meli.


Meli menatap tajam ke arah Ray, “Yaudah cobain tuh yang dipiring kecil”ujar Meli menunjuk piring kecil dengan ornamen bunga mawar merah yang berisikan dua kue pastry.


“Wahh. Kue sus”ucap Ray setelah melihat kue dengan ukuran sedang dengan krim yang di apit oeh dua kue kering.


Meli menatap Ray tersenyum tipis, “Itu choux pastry”


“Iya kue sus kan”


“Choux pastry”Meli yang kekeh pada jawaban nya.


“Kue sus”ray yang juga tetap mempertahankan jawaban nya.


“C-h-o-u-x, choux pastry”Meli mengeja setiap huruf choux.


“Yaudah sama aja kali, kamu anggap ini coux pastri, saya anggap ini kue sus”ujar Ray yang ingin mengakhiri perdebatan antara kue sus dan choux pastry, yang sebenarnya keduanya artinya sama, kue sus hanyalah nama lain untuk sebutan choux pastry.


Meli yang juga tidak ingin memperpanjang perdebatan pun hanya mengangguk dan kembali fokus pada kegiatan nya menghias kue ulang tahun Rani. “Nanti, pokoknya harus buat Rani terseyum bahagia lagi ya”.


“Hmm”Ray hanya berdeham singkat seraya memainkan handphone nya.


Setelah memasukan kue ke dalam kulkas untuk sementara waktu, Meli pun membuat masakan kesukaan Rani yang nanti juga akan dibawa oleh Ray ke rumah sakit untuk merayakan ulanag tahun Rani yang ke 15 tahun.


“Assalamu’alaikum”ucap mas Fad dengan pakaian kasual rapih dan sebuah barang yang dibungkus koran memasuki rumah Ray, memang pintu depan rumah Ray dibiarkan terbuka karena masih pagi agar udara segar masuk ke dalam rumah nya.


“Wa’alaikumsalam, dah siap mas?”Ray melangkah menuju mas Fad yang duduk di sofa. “Loh mas, apa ini?”tanya Ray saat melihat bungkusan koran yang dibawa oleh mas Fad.


Mas Fad tersenyum singkat seraya menunjuk ke bungkusan koran yang ia bawa. “Kado”jawab mas Fad singkat namun jelas.


“Kado?, buat siapa?”


“Piye toh Ray, katanya Rani ulang tahun, masa gak dikasih kado”.


Ray yang tersadar karena belum membelikan kado untuk Rani pun terbangun dan melangkah menujubdapur. “Mel, Rani lagi perlu apa ya?”tanya Ray dengan raut wajah antara bingung dan panik.


“Mmm. Apa ya?..”Meli berhenti mengaduk masakan yang sedang ia masak untuk berpikir. “Oh gimana kalo tas sekolah aja, dia kan mau masuk SMA”saran Meli seraya tersenyum menatap Ray.


Ray tersenyum mendengar ide yang cukup bagus dari Meli. “Oke tas sekolah”Ray kemudian pergi meninggalkan dapur untuk membeli kado.


“Ray!”panggil mas Fad yang terbangun dari duduk nya. “Itu yang masak, Meli?”tanya mas Fad dengan suara pelan berbisisk dan hanya diangguki oleh Ray. “Kamu mau kemana?”tanya mas Fad saat melihat Ray mengambil dompet dan kunci motor nya.


“Mau beli kado mas”jawab Ray yang melangkah pergi.


Mas Fad yang melihat Ray pergi pun mengikuti nya. “Tunggu, ikut aku Ray”mas Fad langsung menaiki motor persis dibelakang Ray.


“Biasa aja mas, gak usah gini”Ray membuka kedua tangan mas Fad yang memeluk tubuhnya.


“Loh, kan biar ga jatoh Ray”


“Ya ga gitu juga lah”.


Setelah perdebatan kecil akhirnya Ray pun menghidupkan mesin motor kemudian pergi menuju tempat yang dituju.


*****


Di rumah sakit, Ray dan kawan-kawan pun langsung menghampiri kamar rawat Meli yang berada di lantai tiga tanpa sepengetahuan Rani. Sesampainya di depan pintu kamar, Ray dan kawan-kawan tidak langsung masuk.


“Mas, sini sini”Ray menyuruh mas Fad yang berdiri tepat di depan pintu untuk beralih duduk dibangku yang ada di depan kamar. “Kita siapin dulu”Ray mengambil alih kotak kue yang dibawa Sahat.


“Apa?”tanya Rafli yang bingung dengan uluran tangan Ray pada dirinya.


“Lilin”


“Loh, mas ga nyuruh saya buat beli lilin loh”jawab Rafli dengan sedikit panik di raut wajah nya.


“Eyy. Lama banget sih kalian”timpal Meli yang muncul di samping Sahat yanag masih memegang kedua kado, miliknya dan milik Ray. Meli memang masuk terlebih dulu untuk memastikan keadaan di kamar.


Ray yang melihat Meli sempat kaget sebentar, “Ini loh lilin nya ga ada”ujar Ray yang menatap Meli.


Sahat yang melihat Ray berbicara ke arah nya pun menunjuk dirinya untuk memastikan apakah Ray benar bicara dengannya. Ray menggelengkan kepala saat Sahat menunjuk dirinya.


“Oke, sebentar”mas Fad langsung


berlalu pergi untuk mencari lilin untuk untuk memeriahkan ulang tahun Rani.


Selang beberapa menit, mas Fad kembali dengan membawa satu buah lilin putih besar yang biasa dipakai jika sedang mati lampu dan sebungkus kembang api kecil. “Nih”mas Fad menyerahkan semua barang yang ia bawa pada Ray.


“Ini,”belum habis Ray bicara mas Fad yang sudah tahu apa yang akan dikatan Ray pun langsung menganggukan kepala nya dengan cepat.


“Sini sini”mas Fad mengambil alih kue yang ada di pangkuan Ray.


“Tunggu mas. Kalo pake lilin itu nanti kue nya gak bisa dimakan dong, bahaya kan”sanggah Rafli saat mas Fad hendak menaruh lilin putih di atas kue.


“Iya juga sih, terus gimana?”tanya mas Fad bingung.


“Gini aja”Sahat mengambil alih lilin di tangan mas Fad dan melapisi nya dengan plastik beningyang ia temukan di dalam tas makanan, kemudian ia menancapkan lilin yang sudah dilapisi oleh plastik ke kue ulang tahun.


“Nah, cerdas ini”puji Ray seraya bertepuk tangan dengan pelan. Meli yang melihat itu juga langsung tersenyum dan memberikan kedua jari jempol nya untuk apa yang dilakukan Sahat. Begitu pula dengan mas Fad dan Rafli yang tersenyum karena terkesan dengan apa yang Sahat lakukan.


“Biasa aja itu”ucap Sahat merendah diri seraya tersenyum dengan tangan yang menggaruk kepala nya yang sebenarnya tidak gatal.


“Terus, ini buat apa?”tanya Ray mengangkat sebungkus kembang api yang ada di tangan kanan nya.


“Sini”mas Fad mengambil alih kembang api kemudian membuka dan melapisi ujung kembang api dengan


potongan plastik lalu menancapkan beberapa kembang api di atas kue seperti


lilin putih. “Nanti pas dinyalain jadi nya bagus menarik”sambung mas Fad seraya


tersenyum bangga dengan apa yang baru ia lakukan.


Ray, sahat dan Rafli hanya mengangguk mengerti dengan apa yang di ucapkan mas Fad. Setelah persiapan selesai Meli kembali masuk ke kamar untuk mematikan lampu sedangkan Ray dan kawan-kawan menunggu aba-aba dari Meli.


Mereka menunggu aba-aba seraya menyalakan lilin dan kembang api yang ada di atas kue. “Selamat ulang tahun...kami ucapkan..”mereka memasuki kamar saat Meli mematikan lampu. Rani yang sedang membuka handphone nya untuk menyalakan senter pun kaget melihat Ray


dan kawan-kawan masuk seraya membawa kue dengan kembang api cantik yang menyala di atas nya.


“Ka Ray,”ucap Rani


saat melihat wajah Ray setelah lampu dinyalakan. Rani yang terharu kemudian duduk dan menutup wajah nya yang mulai di basahi oleh air mata.


“Loh loh, ko nangis”mas Fad langsung meniup semua api yang ada di atas kue.


“Rani,”panggil Ray setelah menyerahkan kue ke tangan Sahat. “Kenapa?”tanya nya seraya menepuk pelan pundak Rani yang bergetar akibat tangisan nya.


“A...aku, aku Cuma terharu aja, aku kira ulang tahun aku kali ini bakal kesepian tanpa mba Mel dan mas Hen”ujar Rani seraya menghapus sisa air mata yang menempel di pipi nya.


“Rani...kita kan sekarang disini nemenin kamu, jadi jangan sedih, hari ini kita harusnya seneng”timpal Rafli yang merasa kasihan dengan Rani yang selalu menemani Meli setiap hari seorang diri dari pagi hingga pagi lagi.


“Iya ka”jawab Rani tersenyum menatap Rafli yang kemudian bergantian menatap Ray, mas Fad dan Sahat.


“Sekarang ayo kita potong kue nya”ajak Sahat untuk membuat suasana baru. Ray dan yang lain pun mengangguk antusias.


“Bagus deh pake kembang api”perkataan Rani membuat mas Fad sang pemilik ide pun langsung berdeham untuk menunjukan bahwa dia lah si pemilik ide kembang api.


“Dia yang punya ide buat pasang kembang api”Ray yang mengetahui kode dari mas Fad pun langsung menunjuk mas Fad.


“Oh, bagus loh ka, keren, makasih ya”Rani tersenyum menatap mas Fad yang membalas senyuman Rani dengan senyuman yang lebar sehingga menunjukan deretan gigi nya. “Oh iya,


kalian ko bisa tahu kalo saya hari ini ulang tahun?”tanya Rani dengan


penasaran.


Rafli dan Sahat menatap Ray yang tengah bertatapan dengan mas Fad. “Mmmm...jadi dulu Meli pernah cerita sama saya tentang tanggal ulang tahun kamu”jawab Ray yang mengarang cerita, Meli yang mendengar itu pun mengangguk pelan seraya memberikan jari jempol nya untuk Ray.


Mereka bersenang-senang dengan bercerita dengan Rani, bermain game, memakan masakan yang dibuat oleh Meli dengan suka cita. Rani terlihat sangat bahagia mendapatkan kado dari Ray dan kawan-kawan. Meli yang melihat itu juga ikut bersenang-senang dan bahagia walaupun keberadaan nya tidak diketahui oleh semua orang kecuali Ray.


*****


Meli memutuskan untuk menghirup udara segar di luar ruangan namun langkah nya terhenti saar melihat seseorang mengenakan pakaian hitam ditambah topi sewarna dengan pakaian nya. Meli mengikuti seseorang itu lalu ia terhenti di depan pintu kamar rawat nya.


Seseorang itu mengintip sebentar dari kaca yang ada di sisi pintu masuk. “Ngapain dia ngintip?”gumam Meli yang terus memperhatikan orang dengan pakaian hitam itu.


Tak lama sebuah panggilan masuk dari handphone orang itu, ia langsung menjawab panggilan tersebut seraya berjalan, Meli yang masih penasaran pun terus mengikuti langkah orang itu.


“Iya. Ada banyak orang di ruangan nya bos”jawab orang tersebut dengan pelan.

__ADS_1


“.......”


“Iya bos nanti malem, gua bakal balik lagi ke sini dan mengirim tu cewe ke akhirat”jawab orang itu masih dengan nada suara yang pelan. Meli yang mendengar itu pun langsung merasa lemas di sekujur tubuh nya.


“Siapa yang mau dia bunuh?”tanya nya pada dirinya sendiri dengan posisi terduduk dilantai.


“Rani”gumam nya pelan kemudian kembali ke kamar nya untuk berbica dengan Ray


tentang apa yang ia temui tadi.


*****


“Siapa yang mau dibunuh?”tanya Ray dengan nada pelan karena takut ketahuan oleh yang lain. Meli yang tidak tahu jawaban pastinya pun terduduk di closet yang tertutup seraya menggelengkan kepala nya.


“Apa mungkin dia mau bunuh kamu?”ucapan Ray membuat Meli semakin khawatir. “Gini aja, biar Sahat sama Rafli disini seharian nemenin Rani dan ngejagain kamu, atau nanti aku yang nyusun rencana biar ketahuan siapa orang yang punya niat jelek sama kamu dan Rani”.


Meli yang mendengarkan perkataan Ray pun langsung mengangguk setuju tanpa bantahan apa pun, kali ini ia menyerahkan sepenuhnya kepada Ray, seseorang yang sangat ia percayai.


“Lama banget”ucap mas Fad saat melihat Ray keluar dari kamar mandi setelah hampir dua puluh menit berlalu.


“Iya, ada masalah tadi”jawab Ray tersenyum canggung. “Mas, Hat, Fli, ikut bentar”Ray menyuruh mereka untuk mengikuti nya keluar kamar sebentar karena ada hal yang perlu di bicarakan.


Ray membicarakan


rencana yang tadi di susun oleh nya dan Meli untuk mengetahui siapa orang yang


akan berbuat buruk pada dri Meli dan adiknya. “Bisa kan?”tanya Ray pada ketiga


teman nya yang saling menatap satu sama lain.


“Kalo saya tidak bisa seharian bang, karena sore nanti saya ada janji sama teman ku yang baru datang dari Medan”jawab Sahat.


“Oke, kamu bisa dateng pas malem nya, bisa kan?”


“Ya. Semoga saja bang”ucapan Sahat membuat mas Fad dan Rafli menatap ke arah nya. “eh tidak,siap saya siap kalo malam bang”sambung Sahat setelah menatap tatapan yang mengintimidasi dirinya.


“Oke, makasih ya semua”ucapan Ray mendapatkan anggukan dan senyuman dari ketiga kawan nya.


*****


“Mas mau kemana sih?”tanya


Meli yang mengikuti Ray untuk mengambil motor nya di tempat parkiran dengan


terburu-buru.


“jemput Tia”jawab Ray singkat.


“Mau nagapain?”Meli sudah mulai naik pitam ketika Ray menyebutkan nama Tia.


“Saya kan udah janji buat nganterin dia ke aquarium”jawab Ray seraya mengenakan helm nya. “Mau ngapain?”tanya Ray ketika Meli menaiki motor nya.


“Mau ikutlah, aku juga belum pernah ke aquarium”jawab Meli yang duduk di jok belakang Ray.


“Kalo kamu ikut, nanti Tia mau duduk dimana?”


Mendegar itu Meli mendecak kesal, kemudian beralih ke bagian depan motor. “Dah, bisa kan Tia naik motor nya”.


Ray yang melihat tingkah Meli pun tertawa pelan seraya menggelengkan kepala nya beberapa kali. “Kamu bener-bener ya”ucap Ray yang kemudian menyalakan mesin motor nya. Sebenarnya Ray juga tidak ingin hanya pergi berdua dengan Tia, kalau saja Tia bukan anak dari orang yang telah baik pada nya dia kemungkinan besar akan menolak ajakanbTia.


Setelah sampai di depan gerbang asrama, Ray berhenti dan menunggu Tia yang sedang berjalan menuju depan asrama. Meli yang juga menunggu kedatangan Tia dengan suasana yang cukup buruk.


“Gapaplah yang penting kan mas Ray gak berduan sama tuh anak”batin Meli seraya menangkupkan wajah nya di kedua telapak tangan nya karena terlalu lama menggu Tia yang tak kunjung datang.


“Maaf lama ya kak”ucap Tia yang datang dengan pakaian bewarna pink, celana nya bewarna hitam serta sepatu yang bewarna senada dengan celana.


Meli yang melihat itu tertawa pelan, “Salah style nih kayak nya”gumam Meli masih dengan tawa nya. Menurut Meli outfit yang digunakan oleh Tia kurang pas atau cocok dengan Tia.


“Oya, helm nya?”tanya Tia saat hendak menaiki motor Ray.


Ray menepuk dahinya, “Aduh saya lupa bawa helm dua”.


“Yaudah aku ambil dulu ya”usul Tia.


Meli menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan apa yang diucapkan Tia. “Mas daripada tambah lama, mending pinjem helm satpam aja, tuh”saran Meli menunjuk helm yang ada di pos provos.


“Oh iya”Ray menghentikan langkah Tia dan meghampiri pos provos untuk meminjam helm.


“Iya, biar gak tambah lama”jawab Ray tersenyum singkat kemudian menaiki motornya kembali.


“Tapi..”ucapan Tia terhenti saat Ray memberikan kode untuk cepat naik, tanpa lama Tia pun menuruti Ray.


*****


“Kamu gapapa?”tanya Rafli khawatir melihat Rani yang terus meringis sakit di bagian lengan nya.


Rani tersenyum kemudian menganggukan kepala, “Iya, aku gapapa”jawab nya seraya memijat pelan bahu nya untuk meredakan nyeri seperti biasa nya.


“Kalo kamu kenapa-napa bilang aja ya”


“Iya, makasih ka”Rani menganggukan kepala nya dan tersenyum tulus pada Rafli yang duduk dihadapannya.


‘Tok...tok’ suara pintu diketuk oleh Karin, kemudian ia memasuki ruangan seraya tersenyum ramah pada Rani dan Rafli. “Permisi”.


“Iya dok”jawab Rani membalas senyuman Karin.


“Oh, ada tamu”ucap Karin saat melihat Rafli, Rafli yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apapun.


“Iya, ka Rafli ini temen nya ka Meli di kampus”jawab Rani menjelaskan pada Karin yang duduk di bangku yang berada di samping ranjang Meli.


“Rani. Mulai besok kamu udah harus kemoterapi ya”


Rani mengangguk pelan dan kemudian tersenyum, “Iya dok”.


“Kamu tenang aja, kita manusia ga ada yang bisa menentukan umur manusian lainnya, Cuma Allah yang tau”Karin memberikan semangat pada Rani supaya tetap semangat menjalankan proses pengobatan nya.


“Iya dok, aku pasti semangat”balas Rani dengan ceria.


“Dia sakit apa?”batin Rafli saat mendengar percakapan Rani dan Karin.


“Yaudah kalo gitu, besok jangan lupa ya, jam sepuluh pagi”


Rani menganggukan kepala, “Oke dok”jawabnya dengan riang serta tersenyum.


“Semangat”Karin memberikan semangat pada Rani.


“Semangat”balas Rani masih dengan senyum cerah nya.


Setelah Karin keluar dari kamar, Rani kembali merajut syal sedang ia buat untuk Meli. Rafli yang penasaran tidak langsung bertanya ia hanya menatap Rani dengan tatapan yang sendu.


“Rani, kamu kenapa?”tanya Rafli panik saat melihat Meli yang secara tiba-tiba sesak nafas. Rani hanya menunjuk ke arah meja di samping ranjang Meli. Rafli langsung melihat meja yang dimaksud dan menemukan bungkusan yang berisakn obat-obatan tanpa bertanya lagi ia pun langsung mengambil bungkusan obat dan memberikan nya pada Rani yang masih berusaha mengatur nafasnya.


“Alhamdulillah, makasih ka”ucap Rani setelah sesak nafasnya mulai mereda


Rafli mengangguk sebagai jawaban. “Gimana sekarang? Udah mendingan?”tanya Rafli dengan raut


wajah yang cemas melihat kondisi Rani yang terkulai lemas di atas sofa.


“Alhamdulillah, sekarang udah mendingan ka”jawab Rani seraya menutup mata nya untuk menenangkan dirinya. Rani sudah sejak lama merasakan hal yang mengganggu seperti sesak


nafas, mati rasa/kebas pada lengan namun kini terasa sakit serta nyeri di area sekitar lengan dan panggul nya.


Hampir setiap malam dirinya berkeringat banyak padahal dia tidak melakukan kegiatan apapun yang mampu menghasilkan keringar, dia juga sering sekali terkena demam yang terkadang cukup tinggi. Serta berat badan nya yang semakin lama semakin turun walaupun ia sudah memakan banyak makanan.


Namun, Rani tidak pernah bercerita pada siapa pun karena ia takut akan merepotkan orang lain. Dia memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan semenjak dia jadi sering sesak nafas secara tiba-tiba. Dia juga takut jika ia bercerita pada kedua kakak nya,


kakaknya jadi tidak fokus untuk bekerja dan kuliah, Rani tidak ingin membuat orang tersayang nya menjadi terbebani oleh keadaan nya. Sebisa mungkin Rani


menguatkan diri nya sendiri untuk berjuan melawan penyakit yang di derita nya


tanpa orang lain harus khawatir.


*****


“Katanya mau ngerjain tugas, mana daritadi Cuma keliling aja gak nyatet apa-apa”gumam Meli yang berjalan di belakang Ray dan Tia.


Ray menoleh ke belakangnya dan menatap Meli sebentar kemudian berbalik seraya mengembangkan senyumannya.


“Kenapa ka?”tanya Tia yang melihat Ray tersenyum.


Ray menunjuk ke aquarium yang terdapat seekor ikan pari sedang berenang di dalam aquarium. “Lucu pari nya”.

__ADS_1


Tia mengangguk setuju mendengar elakan dari Ray. “Iya ya, wooow itu juga lucu ya”Tia menunjuk ke arah ubur-ubur yang berenang di sekeliling ikan pari.


Meli yang melihat ke dalam aquarium pun senyuman nya mengembang. “Woow, indah banget”Meli memandang aquarium tanpa memudarkan senyuman nya. Ray kembali tersenyum singkat saat melihat Meli di samping nya yang terlihat bahagia melihat pemandangan di dalam aquarium yang memang indah dan memanjakan mata siapa pun yang melihat nya.


“Ka, kita kesana yu”ajak Tia menunjuk arah depan nya pada Ray. Ray hanya mengangguk menyetujui ajakan Tia.


“Ishh, lagi seru disini juga”Meli yang kesal pun menghentakan kaki nya pelan kemudian mengikuti mereka tetap dari belakang.


Setelah puas mengelilingi sekitar aquarium, mereka memutuskan untuk mengakhiri perjalannya dengan makan bersama di sebuah restoran di dekat aquarium. Meli hanya bisa diam dan mengikuti Ray.


“Ah males gua nih, mereka makan, pasti gua ngeliatin doang ini”batin Meli seraya bergantian menatap Ray dan Tia.


Karena malas terus diam dan tidak berbuat apa-apa akhirnya Meli memutuskan untuk berjalan menyusuri sekitar restoran, melihat setiap orang yang sedangbmakan dengan pacar, keluarga dan teman.


“Gia. Dony”pekik Meli saat melihat Gia dan Dony yang sedang menyantap makanan di restoran tersebut.


“Coba kalo ada Meli ya Don”ucap Gia dengan sedih.


“Iya, dia kan pengen ngeliat aquarium gede ini”balas Dony seraya memasukan satu buah kue berukuran sedang ke dalam mulutnya.


“Gua disini guys, sama kalian”timpal Meli seraya tersenyum menatap kedua teman baik nya.


“Lu makan nya biasa aja kenapa”


“Lah emang ngapa makan gua”


“Kayak orang rakus lo”


Meli yang melihat kedua teman nya seperti biasa, ada aja yang mereka ributkan, “kaga berubah ya lu pada”gumam Meli dengan tawa nya. “Eh, tapi kalo diliat-liat kalian cocok juga sih jadi couple”Meli menangkup wajah dengan kedua telapak tangan nya.


“Eh Gi, lu masih deket sama si Roni?”tanya Dony yang membuat Meli tersenyum menatap Dony.


“Wah bener sih ini”gumam Meli yang memperhatikan Dony serta Gia dengan tersenyum.


“Emang kenapa?”


“Yaaa gapapa Cuma nanyabaja, tapi katanya dia anak nya kasar”


“Gapapa yang penting ama gue kan kaga”


“Gi. Kita kan ga tau kedepan nya, lagian juga lu baru kenal seminggu lebih tiga hari ama dia, jadi mana tau lu sifat asli nya gimana”


“Dih, lu ngitungin berapa hari gua kenal sama Roni, Don?”pekik Gia yang langsung menaruh sendoknya tidak jadi memasukan ke dalam mulut nya yang sudah terbuka.


Mendengar itu Dony langsung menagambil es jeruk nya dan meminumnya sampai habis tak tersisa. “Nggak, Cuma...”


“Cuma apa?”


“Ah, udah ga usah dibahaslah males gua, udah lanjut makan aja kita”Dony berusaha menghentikan pembicaraan nya dengan Gia yang membuat dirinya gugup. Gia yang mendengar itu sebenarnya kesal namun ia tetap melanjutkan makan nya sampai habis.


“Eyyy, kayak nya bener dugaan gua, lu pasti suka kan sama Gia?”Meli menatap intens Dony yang kembali memakan roti bakar coklat keju nya dengan perlahan.


“Ehemmm”dehaman Ray membuat Meli, Gia dan Dony menoleh ke arah nya yang berdiri di samping Gia seraya menatap kebawah, tempat Meli berada.


“Kenapa ya?”tanya Gia yang menyangka bahwa Ray ada perlu dengan nya.


“Oh nggak tadi saya ngejatuhin barang saya di sekitar sini jadi mau saya cari, permisi ya”jawab Ray yang langsung berjongkok berpura-pura mencari barang yang tidak pernah ia jatuhkan di sana.


“Ayo pulang”bisik Ray saat berhadapan dengan Meli yang masih melihat nya tanpa ekspresi.


“Oh, udah selesai kencan nya”


Ray melirik ke arah Meli dengan tatapan tajam, sedangkan Dony yang berada di hadapan Ray juga ikut menatap arah yang ditatap oleh Ray.


“Ga ada disini ternyata, mungkin udah ilang kali”ucap Ray seraya berdiri dari duduk nya dan berlalu pergi, Meli yang melihat Ray pergi pun langsung mengikuti Ray. “Bye guys, take care”ucap Meli sebelum menyusul Ray yang semakin jauh.


*****


Jam yang tertempel di dinding kamar rawat Meli menunjukkan pukul 22.40, Rani yang saat itu sudah tertidur setelah di kompres oleh Rafli karena suhu tubuh Rani yang semakin memanas sejak sesak nafas sore tadi. Meli duduk menunggui Rani yang tertidur pulas seraya mengusap pelan rambut halus milik Rani dengan penuh kasih sayang.


“Besok kita balik lagi ya”ujar Rafli pada Sahat yang baru saja keluar dari kamar rawat Meli dengan tenang.


“Iya lah bro, kasian Rani sendirian jagain Meli”sahut Sahat yang memainkan ponsel nya, mengirimkan pesan teks pada Ray yang masih bersembunyi di dalam kamar mandi.


Ray dan mas Fad bersembunyi dengan tenang di dalam kamar mandi seraya mengawasi kondisi ruangan dari ipad yang sudah tersambung dengan kamera. Ray dan mas Fad sebelumnya sudahmemasang kamera tersembunyi di tempat yang sekira nya untuk melihat siapa orang


yang ingin berbuat jahat pada Meli dan Rani.


    Tak lama setelah Sahat


dan Rafli berlalu pergi, seorang pria dengan pakaian serba hitam dengan topi


warna senada dengan pakaiannya memasuki kamar rawat Meli. Setelah di dalam kamar, pria itu melepaskan topi nya dan berpura-pura sebagai orang yang


menjenguk Meli.


Pria itu duduk di samping ranjang Meli seraya memegang tangan Meli, Meli yang melihat itu langsung menghampiri pria itu dan memperhatikan wajah nya kemudian ia


menggelengkan kepala nya pelan. “aku ga kenal sama orang ini, siapa dia?”tanya


nya pada dirinya sendiri.


Tak lama dari itu, pria tersebut mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi sebuah cairan bening lalu di suntikan pada pergelangan tangan Meli, Meli yang melihat itu pun langsung menuju kamar mandi untuk memberitahu Ray dan mas Fad.


“Mas itu...”


“Iya, tadi saya udah


suruh Sahat sama Rafli buat panggil dokter, sebentar lagi pasti dia dateng”ujar Ray saat melihat Meli ketakutan dan tubuhnya bergetar.


“Kamu kenapa?”bisik Ray seraya menangkup tubuh Meli yang tiba-tiba terkulai lemas. Mas Fad yang melihat


Ray seperti menahan tubuh seseorang hanya terdiam mengerti.


“Ga tau mas, aku susah buat nafas dan, lemes”jawab Meli yang berada di jangkauan kedua lengan besar Ray.


“Ray, dia udah pergi”mas Fad memberi tahu apa yang ia lihat di ipad.


“Rani?”tanya Meli dengan pelan karena lemah tubuh nya.


“Rani mas?”


“Dia ga ngapa-ngapain Rani Ray, Cuma Meli aja”


“Sahat sama Rafli ko belum dateng?”tanya Ray yang semakin khawatir saat melihat tubuh Meli yang semakin lama semakin pudar. “Mel...Meli”pekik Ray yang khawatir saat menatap tangan nya yang kosong tanpa Meli di dekapan nya.


“Kenapa Ray?”tanya mas Fad yang juga khawatir dengan Ray yang terlihat pucat dan memandang tangan nya dengan kosong.


“Meli mas. Dia tiba-tiba hilang”jawab Ray lemas. Tak menunggu lagi Ray langsung keluar kamar mandi dan menghampiri Meli yang terbaring di ranjang nya namun tubuh nya kejang-kejang.


“Permisi”ucap dokter Andi yang tiba-tiba masuk kamar dengan di dampingi seorang suster dan Rafli serta Sahat yang mengikuti di belakang.


“Kenapa lama?”tanya Ray dengan emosi dan khawatir.


“Maaf bang, tadi kita sempet nunggu dokter nya periksa lab dulu”jawab Sahat yang merasa bersalah pada Ray. Ray tidak membalas apa pun dan tetap menunggu dokter yang menangani Meli dengan cemas dan berharap Meli masih dapat di selamatkan.


“Ya Allah, lindungilah Meli, semoga dia masih bisa merasakan hidup normal kembali”batin Ray memohon perlingungan dari Allah untuk Meli.


Ray semakin khawatir saat suster yang berlari keluar kamar untuk mengambil barang yang disuruh oleh dokter. “Dok, bagaimana keadaan nya, dia baik-baik aja kan dok?”tanya Ray yang sangat cemas dengan keadaan Meli.


“Dosis racun nya cukup tinggi, sampai mengganggu sistem pernafasan dan sel saraf pada otak nya”ucap dokter seraya mengelap keringat yang ada di dahi dengan punggung tangannya. “Saya akan mencoba untuk memberikan penolongan dengan tindakan gawat darurat dan operasi, kalian harus banyak doa”sambung dokter Andi.


Ray yang merasa tubuhnya ikut lemas mendengar penjelasan dokter pun memilih duduk di sofa dekat Rani yang terbangun dari tidur nya.


“Kenapa ini ka?”tanya Rani yang baru terbangun dari tidurnya seraya mengucek pelan matanya.


“Mmm...”Rafli bingung ingin menjawab bagaimana.


“Mba Meli kenapa dok?, apa yang terjadi?”tanya Rani yang menghapiri ranjang Meli dengan cemas.


“Saudari Meli. Terdapat racun di dalam tubuh nya”jawaban dokter Andi sukses membuat Rani terduduk lemas di lantai dengan tangan yang masih menggenggam jari-jari Meli.


“Rani!”pekik Rafli yang langsung menolong Rani, berusaha membantu Rani bangung dari duduk nya dilantai.


“Semua sudah siap dok, ini”seorang suster menyerahkan sebuah alat pada dokter Andi dan langsung di pergunakan dokter Andi untuk menolong Meli.


Setelah pertolongan itu, Meli di bawa keruang operasi untuk dilakukan pembersihan racun yang masih berada di dalam tubuhnya. Ray yang memang cemas dengan Meli langsung mengikuti dokter ke ruang operasi, ia menunggu selama 2 jam operasi di bangku tunggu yang tersedia di depan ruang operasi.


“Sabar Ray, semoga Allah melindungi Meli”mas Fad berusaha menenangkan Ray yang terlihat kalut selama menunggu Meli keluar dengan selamat dari ruang operasi.


*****

__ADS_1


__ADS_2