Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 5


__ADS_3

Meli menghembuskan nafas berat nya, Meli


memutuskan kembali ke rumah sakit setelah dari kantor polisi. Meli langsung menuju


ke kamar nya untuk melihat diri nya dan siapa yang menjaga nya selama di rumah


sakit walaupun ia sudah menebaknya.


Langkah nya terhenti tepat di lorong


sebelum kamar tempat dirinya dirawat. Meli melihat Ray, Karin, dan seorang dokter keluar dari ruangan nya. Meli memilih bersembunyi dibalik tembok persimpangan lorong lalu memperhatikan ketiga orang tersebut.


“Dok, keadaan nya sekarang sudah mulai


stabil tapi masih harus selalu dipantau”ucap seorang dokter laki-laki paruh


baya bernama Andi.


Karin yang mendengar ucapan dokter Andi


mengangguk paham, “Baik dok, saya akan memantau keadaan pasien secara berkala


dan teratur”sahut Karin dengan senyum simpel nya.


“Dok, pasien itu kapan bisa sadar?”tanya


Ray yang sesekali melihat kaca panjang kecil yang ada di bagian pintu ruangan


yang dapat terlihat posisi Meli yang terbaring lemah.


“Gak bisa diperkirakan, karena kondisi


saat itu cukup parah...”dokter Andi berhenti sejenak, “Bahkan saya sendiri awal


nya bingung karena biasa nya pasien yang memiliki kondisi sama seperti dia, tidak bisa terselamatkan”sambung dokter Andi seraya menoleh sedikit ke arah belakang nya yang merupakan pintu kamar rawat Meli.


Meli yang masih berada di balik tembok


akhirnya bergegas untuk pergi, karena melihat Dokter Andi, karin dan Ray sedang


berjalan ke arah dirinya berada. Karena tidak ingin terlalu jauh dan lelah akhirnya Meli memutuskan untuk masuk ke ruangan yang bertuliskan ‘R. Ortopedi IV’ , ia duduk dikursi milik dokter ortopedi. Tak lama dari Meli duduk, pintu ruangan dokter ortopedi itu terbuka, Meli yang terkejut langsung mengintip siapa yang datang.


Mata Meli terbelalak kaget saat


mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan tersebut. “Ah, salah tempat nih”ujar Meli seraya mencari tempat untuk bersembunyi dan akhirnya ia memilih kolong meja sebagai tempat persembunyian nya.


“Makasih ya Ray, kamu udah nemenin aku


hari ini”ucap Karin pada Ray yang sedang melihat seisi ruangan Karin.


“Iya, sama-sama”jawabnya singkat


kemudian ia melangkah ke sebuah rak buku yang berada di samping meja kerja


Karin dan tempat dimana Meli bersembunyi.


“Ray, tunggu bentar ya, aku mau ngecek


hasil lab pasien”Karin berucap serya menyodorkan secangkir kopi instan yang ia


buat dengan cepat.


“Oh, oke”Ray kembali melihat buku-buku yang tersususn rapih di rak buku. Ray beralih ke jendela yang berada tepat dibelakang kursi kerja Karin, ia melihat pamandangan dari ruangan karin yang cukup bagus untuk dipandang saat butuh ketenangan.


Meli melihat Ray berdiri di hadapan nya


sedang menyeruput kopi dan menatap keluar jendela langsung keluar dari persembunyian nya dan menghampiri Ray untuk ikut melihat apa yang Ray lihat.


“Astagfirullah, kamu!”ucap Ray kaget


saat mengetahui disebelah nya terdapat Meli yang ia tidak tahu datang dari mana. “Kebiasaan”tambah Ray menatap tajam ke arah Meli.


Meli yang melihat tatapan tajam itu


langsung berpaling melihat pemandangan di luar jendela yang sungguh menakjubkan


menurut Meli. “Woow, view nya serasa di hotel berbintang”gumam Meli kagum


dengan apa yang ia lihat.


“Norak”ucap Ray seraya berlalu pergi


menuju sofa yang berada di depan meja kerja Karin lalu mendudukan bokongnya di


sana.


Meli memajukan sedikit bibirnya tanda


kekesalan akibat ucapan Ray yang menurut Meli manyebalkan. “Mas, jangan lupa ya, aku ini anak konglomerat loh”ucap Meli yang dibalas tawa ringan dari Ray.


“Terus?”


“Ya. Saya gak mungkin norak dong”


Ray hanya menganggukkan kepalanya pelan saat mendengar ucapan Meli yang menurut nya lucu. Ray melihat ekspresi kesal dari raut wajah Meli itu membuat dirinya ingin tertawa, entah mengapa Ray juga bingung dengan dirinya.


“Malah ketawa”Meli menghampiri Ray dan


duduk di sebelah Ray yang sedang menyesap kopinya. “Mas, tadi udah liat saya


kan?”


“Sekarang juga liat”jawab Ray singkat.


Meli menatap tajam ke arah Ray, “Bukan


itu, tadi diruang rawat”.


Ray memutar sedikit badan nya menghadap


Meli, “Iya, saya udah liat”jawab nya dengan ekspresi datar nya.


“Mas, bisa gak sih kalo lagi ngomong itu


yaa, pake ekspresi sedikit aja”protes Meli karena selalu saja Ray berbicara tanpa ekpresi, hal itu membuat Meli sulit untuk mengetahui apa yang sedang di rasakan oleh Ray. “Mas, udah liat dokumen tentang kecelakaan aku?”Meli mengubah topik pembicaraan.


“Belum”ucap Ray dengan senyum lebar yang menampilkan barisan gigi nya yang rapih.


Meli yang melihat itu langsung


mengerutkan keningnya dan tertawa, “Mas ngapain?”tanya Meli yang masih dengan


tawa nya.


Ray memudarkan senyuman nya perlahan dan kembali menatap Meli datar, “Tadi kan kamu yang nyuruh buat berekspresi kalo


ngomong”


Mendengar jawaban Ray tawa Meli makin


bertambah, “Bukan kayak gitu juga maksdunya hahah”tawa Meli berhenti ketika


Karin masuk kembali ke ruangan.


“Dia kalo ketawa riang gini, cantik ya”batin Ray tanpa sadar masih menatap Meli yang sudah berhenti tertawa dengan sebuah senyuman yang tertera jelas di wajahnya.


“Kamu kenapa Ray?”tegur Karin saat


melihat Ray tersenyum seorang diri, karna Karin tidak dapat melihat keberadaan


Meli maka dari itu ia merasa aneh dan menegur Ray.


Ray yang sadar akan kehadiran Karin


langsung bersikap seperti biasa nya. “Ah, gak papa Cuma....itu bagus bunga


nya”jawab Ray menunjuk ke arah vas bunga yang berada di sisi meja Karin dengan


senyum tipisnya.


“Bunga nya atau aku”sahut Meli yang


sadar jika dari tadi Ray memandang nya dengan tersenyum.


Ray yang mendengar ucapan Meli hanya


terdiam tidak berniat untuk menjawab apa pun. Karin meletakan berkas di atas meja yang ada tepat di depan sofa. Meli langsung melihat berkas tersebut karena penasaran, namun tak lama tubuhnya terasa lemas saat membaca nama pasien yang tidak asing baginya.


Meli kembali duduk di sofa dengan hati


yang gelisah setelah membaca berkas milik Karin yang merupakan seorang dokter


ortopedi muda. Ray yang melihat raut wajah Meli mencoba untuk tidak bertanya karena ada Karin di depan nya yang sedang melihat sosial media miliknya.


“Ray, aku sebentar lagi ada pengecekan

__ADS_1


pasien medadak, jadi makan malam nya besok aja gimana?”Karin membuka pertanyaan yang membuat Ray menoleh ke Karin yang berada didepan nya.


“Oh, iya ga papa, besok aja”jawab Ray


dengan senyum tipis nya dan dibalas anggukan kepala oleh Karin.


*****


“Rani”gumam Meli pelan saat melihat sang


adik sedang tertidur seraya menggenggam tangan kiri nya. Meli melangkah mendekati tubuh sang adik dan mencoba untuk menyentuh puncak rambut milik Rani.


Ray yang melihat itu hanya bisa terdiam dan terus memandang Meli kasian. “Ini ade kamu?”tanya Ray mencoba membuka percakapan dengan nada pelan takut mengganggu Rani.


Meli mengangguk, “Iya, ade aku


satu-satu nya”jawab Meli yang kini menitikan air matanya, entah mengapa


perasaan Meli campur aduk saat melihat Rani tidur seperti itu. Ada rasa senang,


sedih dan khawatir namun Meli tidak tahu mengapa ada rasa khawatir yang begitu


tinggi pada Rani.


“Mas, aku boleh minta tolong gak?”Meli


menatap melas Ray.


“Ya boleh, jadi tinggal sisa satu kali


lagi”jawab Ray seraya menunjukkan jari telunjuk nya, “Bantuannya”sambung nya


memperjelas apa yang dimaksud.


meli terdiam berpikir apakah ia perlu


meminta bantuan yang hanya tersisa dua lagi atau ia harus mencari tahu sendiri


tentang berkas pasien yang bertuliskan nama Rani, sang adik tersayang. “Gak,


biar aku yang tanganin sendiri”sambung Meli dan kemudian berlalu pergi


meninggalkan Ray yang masih terdiam hanya melihat Meli melangkah keluar kamar


rawat.


Ray yang sebenarnya penasaran kemudian


memilih mengikuti Meli kemana perginya. Meli masuk dengan menembus pintu


ruangan Karin sedangkan Ray yang melihat itu sontak berhenti terdiam sejenak


lalu memilih untuk tidak masuk ke dalam ruangan Karin dan memilih duduk bangku


tunggu depan ruangan.


Meli mencari berkas yang tadi ia lihat


di meja Karin, semua sisi meja ia telusuri dan akhirnya ia bernafas lega karena


menemukan berkas yang ia cari. Meli membuka lembaran demi lembaran untuk


mengetahui apa isi dari berkas tersebut.


“Rani...”pekik Meli pelan saat selesai


membaca berkas milik Karin yang berisikan hasil pemeriksaan laboraturium mengenai tulang, saraf dan sendi beserta foto rontgen, MRI serta hasil biopsi. Meli


sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari yang ada di berkas itu namun ia merasa bahwa Rani menderita sakit parah karena sampai melakukan biopsi.


Meli memutuskan untuk ke luar ruangan


Karin dengan lemas. Ray yang sedari tadi duduk menunggu Meli langsung berdiri


saat melihat Meli keluar dengan raut wajah yang sedih dan tubuh lemas nya.


“Kenapa?, kamu ngapain di ruangan


Karin?”pertanyaan Ray tidak dijawab oleh Melli yang terus berjalan kembali ke kamar nya. Ray yang melihat Meli memuruskan untuk mengikuti nya dari belakang.


Sesampainya di depan kamar rawat, Meli


langsung masuk menembus pintu masuk sedangkan Ray hampir saja terbentur pintu


karena ingin mengikuti Meli. “Astagfirullah”ucap Ray berhenti tepat hanya beberapa senti dari pintu masuk kamar kemudian membuka pinru itu pelan.


dikejutkan oleh pandangan heran dari beberapa orang yang berada di kamar itu.


“Bapak siapa ya?”tanya Gia sopan.


“Saya. Saya.”ucapan Ray terbata-bata


seraya melirik ke arah Meli yang sedang menatap adiknya. “Saya...oh salah


masuk, maaf...maaf”sambung Ray yang berlalu keluar dari kamar.


Meli yang melihat Ray begitu gugup tanpa


sadar ia tersenyum dan kemudian tidur di sebelah Rani seraya menatap wajah


cantik adiknya.


*****


Jam yang tertempel di dinding


menunjukkan pukul 19.20, Meli yang masih merenung di halaman belakang rumah Ray


seraya melihat indah nya langit hitam yang dihiasi beberapa sinar bintang.


“Sebenernya Rani sakit apa?”tanya Meli


pada dirinya sendiri dengan perasaan sedih dan khawatir.


“Hey”panggil Ray yang baru saja pulang


dari masjid sehabis melaksanakan sholat isya berjamaah.


Meli yang merasa dipanggil hanya menoleh


sebentar dan kembali menatap lima bintang yang tengah bersinar di gelapnya


malam.


“Apa yang kamu lakuin di ruangan


Karin?”tanya Ray yang kini duduk di samping Meli.


“Berkas”jawab Meli singkat tanpa menoleh


pada Ray.


“Berkas apa?”


“Pasien”


Ray menatap bingung Meli, “Ngapain kamu


periksa berkas milik pasien?”Ray yang merasa bingung sekaligus penasaran terus


bertanya membuat Meli menghembuskan nafas nya kasar dan berbalik menghadap Ray.


“Ade aku”ucap Meli berhenti sebentar


menatap wajah Ray yang mengerutkan dahi nya tanda ia bingung dengan apa yang di


ucapkan Meli. “Pasien itu ade aku”jawab Meli yang kemudian kembali menatap


bintang.


“Ade kamu?, ade kamu sakit?, sakit


apa?”tanya Ray beruntun membuat Meli tersenyum tipis dan kembali menatap Ray. “Kenapa?”Ray merasa bingung saat Meli melihat dirinya dengan tersenyum.


“Ga papa, ini pertama kali nya mas banyak tanya”Meli kembali tertawa ringan mengingat Ray memang tidak pernah


banyak bertanya ditambah lagi dengan ekspresi yang ditunjukkan Ray. “Ditambah, mas juga menunjukan ekspresi yang memang seharus nya ditunjukin biar orang tuh paham gitu”sambung Meli.


“Kamu belum jawab loh”Ray mengingatkan


Meli akan pertanyaan nya yang masih kosong belum terjawab.


“Saya ga tau pasti sakit apa, tapi saya


rasa sakit nya cukup serius”jawab Meli yang menundukkan kepala nya sedih, Ray

__ADS_1


yang melihat itu merasa hal aneh dalam dirinya entah mengapa ia juga merasakan


kesedihan padahal ia tidak kenal dengan adik Meli.


“Sabar ya...”Ray mengambil jeda sebelum


akhirnya menyambungnya kembali, “Sakit itu sebagai tanda kalo Allah sayang sama


hambanya”sambung Ray. “Kalo kita sakit, kita pasti bakal inget sama Allah kan?,


kita bakalan terus berbuat baik dan beribadah”


Meli menatap Ray merasa ketenangan


sedikit di ruang hatinya, rasanya tentram saat bersama Ray, Meli bingung dengan


perasaan nya akhir-akhir ini. “Iya, dulu mama juga pernah bilang kayak gitu”timpal Meli dengan senyum tipisnya mengingat masa lalu nya.


“Tau gak?...”pertanyaan Ray yang belum


usai langsung di jawab gelengan kepala dari Meli, sontak hal itu membuat Ray


tersenyum yang sedetik kemudian kembali semula. “Katanya.... kalo kita sakit


itu bisa menghapus dosa kita”lanjut Ray yang di angguki pelan oleh Meli.


‘Kruuuuk”


“Ey, apa tuh”ujar Meli seraya melirik ke


arah perut Ray yang berbunyi. Ray memang belum makan malam karena ada tugas


mendadak dari kompi. Ray menjabat sebagai Komandan Peleton (danton) di asramanya sejak ia lulus dari Akmil. “Belum makan ya?”sambung Meli seraya tertawa


pelan saat melihat anggukan Ray yang terkesan polos. “Waaah, momen langka ini”.


Meli masuk ke dalam rumah dan membuka


kulkas untuk melihat apa ada yang bisa ia masak. Meli anak konglomerat yang


hidup sederhana sedari kecil, karena mama nya yang selalu mengajarkan nya


indahnya hidup sederhana mulai dari makan, style dan gaya hidup. Meli juga


tidak bisa diremehkan dalam hal masak-memasak, dia sudah sering memasak saat ia duduk di kelas lima SD, saat ia baru saja ditinggal oleh mamanya.


Memasak merupakan hal menyenangkan yang dapat menghilangkan stress bagi Meli, entah itu makanan dalam dan luar negeri


ia sudah pernah mencoba memasaknya. “Mas, ini gak ada yang bisa dimasak”ujar Meli seraya menutup kulkas dan berkacak pinggang menatap Ray.


“Yaudah biar saya beli dulu bahan nya”


“Tunggu, aku ikut”Meli mengehentikan Ray


yang melangkah keluar rumah.


Ray dan Meli pergi ke supermarket


terdekat menggunakan motor sportif klasik berwarna hitam milik Ray.


*****


Setibanya di supermarket Ray dan Meli


turun dan langsung memasuki supermarket. Meli yang merasa antusias dan senang berjalan menuju pintu masuk dengan santai tanpa melihat kiri dan kanan nya.


“Awaaas”pekik Ray saat melihat sebuah


mobil yang melaju ke arah Meli berjalan dengan santai. “Huft...”Ray mengembuskan


nafas lega nya saat melihat Meli yang di tembus oleh mobil itu.


Ray langsung bersikap biasa saat melihat


tatapan bingung dan aneh dari orang yang berada di sekitar nya, sedangkan Meli


tertawa melihat Ray yang malu dengan apa yang ia lakukan tadi.


“Mas, inget ya. Aku ini roh, jadi bisa


nembus apa pun, hahaha”ujar Meli masih dengan tawa nya yang belum berhenti. Ray


menatap Meli dengan melirikan bola mata nya ke arah Meli berada tanpa memutar


badan atau kepala nya.


Ray terkadang lupa bahwa Meli itu roh


yang tidak terlihat, namun itu semua terlalu nyata untuk Ray, memandang wajah


Meli dengan jelas, berbicara dengan Meli layaknya manusia pada umumnya. Hal


itulah yang kadang membuat Ray lupa apa yang sebenarnya terjadi.


Di dalam supermarket, Meli melangkah


menuju Hypermart yang diikuti oleh Ray dari belakang nya. “Mas, ambil troli nya”perintah Meli yang langsung dituruti Ray.


Meli melihat semua bahan dan barang yang


ada di Hypermart dan menunjuk apa yang akan dibeli untuk dimasukan kedalam


troli belanja oleh Ray. Langkah Meli terhenti saat melihat sebuah buku diary yang bergambar sebuah binatang bernama alpacca, binatang yang sangat disukai oleh Meli.


“Waaw”Meli berucap kagum seraya


menyentuh buku tersebut.


“Waktu”Ray melihat ke jam tangan nya dan


memberi kode peringatan pada Meli, karena waktu yang terus berjalan dan cacing di dalam perut Ray yang terasa seperti sedang berdemo besar-besaran sudah mulai berontak pada perasaan yang terus menunda untuk segera memberi makan.


“Oh iya”Meli yang tersadar langsung kembali fokus berbelanja.


Meli membeli berbagai macam sayuran,


buah-buahan, susu cair, telur, mie instan dan lain sebagai nya untuk persediaan


dan perlengkapan dapur Ray. Bahkan Meli membeli rak untuk piring, agar sehabis


mencuci piring bisa di simpan di rak itu sampai kering baru diletakan di tempat


nya.


*****


Setelah makan malam dengan nasi goreng


teri buatan Meli, Ray merasa sangat senang dan kenyang tanpa ia sadari ia melupakan satu hal yang harus nya ia kerjakan. Setelah duduk sebentar di depan tv, Ray berdiri dari duduk nya dan mengambil handphone serta laptopnya dari kamar.


Meli yang selesai menyelesaikan urusan


dapur, kemudian ikut duduk di samping Ray yang sedang sibuk dengan kedua alat


elektronik nya. Karena bosan Meli kemudian mengambil remot tv dan menyalakan nya, menonton acara yang bisa menghilangkan kebosanannya.


“Mel..”panggil Ray yang masih fokus pada


layar laptop nya.


Meli menoleh dan mengangkat sedikit


kepala nya sebagai tanda ‘Apa?’ pada Ray. Ray hanya menyuruh Meli mendekat


dengan melemparkan kode kepala yang menunjuk ke layar laptop, karena penasaran Meli langsung medekat dan melihat apa yang ada di layar laptop Ray.


“Ini...”ucap Meli seikit kaget saat


melihat layar laptop yang ternyata foto mobil Meli pada saat kecelakaan, ini


pertama kali nya ia melihat dengan jalas, karena saat diberitakan gambar nya


tidak begitu jelas berbeda dengan apa yang ia lihat saat ini.


“Kayak nya kamu bener, ini disengaja”perkataan Ray membuat Meli menatap Ray. “Posisi mobil kamu berada di


bahu jalan yang memang tempat orang berhenti”sambung Ray yang di angguki oleh


Meli.


“Terus gimana?”tanya Meli penasaran akan


kelanjutan pencarian kebenaran akan kecelakaan nya.


“Nanti, harus di cek secara keseluruhan”jawab Ray yang kembali fokus pada dokumen kecelakaan Meli yang tertera di layar laptop nya begitupun dengan Meli yang ikut memperhatikan setiap hal

__ADS_1


yang ada di dokumen tersebut.


*****


__ADS_2