
Meli menghembuskan nafas berat nya, Meli
memutuskan kembali ke rumah sakit setelah dari kantor polisi. Meli langsung menuju
ke kamar nya untuk melihat diri nya dan siapa yang menjaga nya selama di rumah
sakit walaupun ia sudah menebaknya.
Langkah nya terhenti tepat di lorong
sebelum kamar tempat dirinya dirawat. Meli melihat Ray, Karin, dan seorang dokter keluar dari ruangan nya. Meli memilih bersembunyi dibalik tembok persimpangan lorong lalu memperhatikan ketiga orang tersebut.
“Dok, keadaan nya sekarang sudah mulai
stabil tapi masih harus selalu dipantau”ucap seorang dokter laki-laki paruh
baya bernama Andi.
Karin yang mendengar ucapan dokter Andi
mengangguk paham, “Baik dok, saya akan memantau keadaan pasien secara berkala
dan teratur”sahut Karin dengan senyum simpel nya.
“Dok, pasien itu kapan bisa sadar?”tanya
Ray yang sesekali melihat kaca panjang kecil yang ada di bagian pintu ruangan
yang dapat terlihat posisi Meli yang terbaring lemah.
“Gak bisa diperkirakan, karena kondisi
saat itu cukup parah...”dokter Andi berhenti sejenak, “Bahkan saya sendiri awal
nya bingung karena biasa nya pasien yang memiliki kondisi sama seperti dia, tidak bisa terselamatkan”sambung dokter Andi seraya menoleh sedikit ke arah belakang nya yang merupakan pintu kamar rawat Meli.
Meli yang masih berada di balik tembok
akhirnya bergegas untuk pergi, karena melihat Dokter Andi, karin dan Ray sedang
berjalan ke arah dirinya berada. Karena tidak ingin terlalu jauh dan lelah akhirnya Meli memutuskan untuk masuk ke ruangan yang bertuliskan ‘R. Ortopedi IV’ , ia duduk dikursi milik dokter ortopedi. Tak lama dari Meli duduk, pintu ruangan dokter ortopedi itu terbuka, Meli yang terkejut langsung mengintip siapa yang datang.
Mata Meli terbelalak kaget saat
mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan tersebut. “Ah, salah tempat nih”ujar Meli seraya mencari tempat untuk bersembunyi dan akhirnya ia memilih kolong meja sebagai tempat persembunyian nya.
“Makasih ya Ray, kamu udah nemenin aku
hari ini”ucap Karin pada Ray yang sedang melihat seisi ruangan Karin.
“Iya, sama-sama”jawabnya singkat
kemudian ia melangkah ke sebuah rak buku yang berada di samping meja kerja
Karin dan tempat dimana Meli bersembunyi.
“Ray, tunggu bentar ya, aku mau ngecek
hasil lab pasien”Karin berucap serya menyodorkan secangkir kopi instan yang ia
buat dengan cepat.
“Oh, oke”Ray kembali melihat buku-buku yang tersususn rapih di rak buku. Ray beralih ke jendela yang berada tepat dibelakang kursi kerja Karin, ia melihat pamandangan dari ruangan karin yang cukup bagus untuk dipandang saat butuh ketenangan.
Meli melihat Ray berdiri di hadapan nya
sedang menyeruput kopi dan menatap keluar jendela langsung keluar dari persembunyian nya dan menghampiri Ray untuk ikut melihat apa yang Ray lihat.
“Astagfirullah, kamu!”ucap Ray kaget
saat mengetahui disebelah nya terdapat Meli yang ia tidak tahu datang dari mana. “Kebiasaan”tambah Ray menatap tajam ke arah Meli.
Meli yang melihat tatapan tajam itu
langsung berpaling melihat pemandangan di luar jendela yang sungguh menakjubkan
menurut Meli. “Woow, view nya serasa di hotel berbintang”gumam Meli kagum
dengan apa yang ia lihat.
“Norak”ucap Ray seraya berlalu pergi
menuju sofa yang berada di depan meja kerja Karin lalu mendudukan bokongnya di
sana.
Meli memajukan sedikit bibirnya tanda
kekesalan akibat ucapan Ray yang menurut Meli manyebalkan. “Mas, jangan lupa ya, aku ini anak konglomerat loh”ucap Meli yang dibalas tawa ringan dari Ray.
“Terus?”
“Ya. Saya gak mungkin norak dong”
Ray hanya menganggukkan kepalanya pelan saat mendengar ucapan Meli yang menurut nya lucu. Ray melihat ekspresi kesal dari raut wajah Meli itu membuat dirinya ingin tertawa, entah mengapa Ray juga bingung dengan dirinya.
“Malah ketawa”Meli menghampiri Ray dan
duduk di sebelah Ray yang sedang menyesap kopinya. “Mas, tadi udah liat saya
kan?”
“Sekarang juga liat”jawab Ray singkat.
Meli menatap tajam ke arah Ray, “Bukan
itu, tadi diruang rawat”.
Ray memutar sedikit badan nya menghadap
Meli, “Iya, saya udah liat”jawab nya dengan ekspresi datar nya.
“Mas, bisa gak sih kalo lagi ngomong itu
yaa, pake ekspresi sedikit aja”protes Meli karena selalu saja Ray berbicara tanpa ekpresi, hal itu membuat Meli sulit untuk mengetahui apa yang sedang di rasakan oleh Ray. “Mas, udah liat dokumen tentang kecelakaan aku?”Meli mengubah topik pembicaraan.
“Belum”ucap Ray dengan senyum lebar yang menampilkan barisan gigi nya yang rapih.
Meli yang melihat itu langsung
mengerutkan keningnya dan tertawa, “Mas ngapain?”tanya Meli yang masih dengan
tawa nya.
Ray memudarkan senyuman nya perlahan dan kembali menatap Meli datar, “Tadi kan kamu yang nyuruh buat berekspresi kalo
ngomong”
Mendengar jawaban Ray tawa Meli makin
bertambah, “Bukan kayak gitu juga maksdunya hahah”tawa Meli berhenti ketika
Karin masuk kembali ke ruangan.
“Dia kalo ketawa riang gini, cantik ya”batin Ray tanpa sadar masih menatap Meli yang sudah berhenti tertawa dengan sebuah senyuman yang tertera jelas di wajahnya.
“Kamu kenapa Ray?”tegur Karin saat
melihat Ray tersenyum seorang diri, karna Karin tidak dapat melihat keberadaan
Meli maka dari itu ia merasa aneh dan menegur Ray.
Ray yang sadar akan kehadiran Karin
langsung bersikap seperti biasa nya. “Ah, gak papa Cuma....itu bagus bunga
nya”jawab Ray menunjuk ke arah vas bunga yang berada di sisi meja Karin dengan
senyum tipisnya.
“Bunga nya atau aku”sahut Meli yang
sadar jika dari tadi Ray memandang nya dengan tersenyum.
Ray yang mendengar ucapan Meli hanya
terdiam tidak berniat untuk menjawab apa pun. Karin meletakan berkas di atas meja yang ada tepat di depan sofa. Meli langsung melihat berkas tersebut karena penasaran, namun tak lama tubuhnya terasa lemas saat membaca nama pasien yang tidak asing baginya.
Meli kembali duduk di sofa dengan hati
yang gelisah setelah membaca berkas milik Karin yang merupakan seorang dokter
ortopedi muda. Ray yang melihat raut wajah Meli mencoba untuk tidak bertanya karena ada Karin di depan nya yang sedang melihat sosial media miliknya.
“Ray, aku sebentar lagi ada pengecekan
__ADS_1
pasien medadak, jadi makan malam nya besok aja gimana?”Karin membuka pertanyaan yang membuat Ray menoleh ke Karin yang berada didepan nya.
“Oh, iya ga papa, besok aja”jawab Ray
dengan senyum tipis nya dan dibalas anggukan kepala oleh Karin.
*****
“Rani”gumam Meli pelan saat melihat sang
adik sedang tertidur seraya menggenggam tangan kiri nya. Meli melangkah mendekati tubuh sang adik dan mencoba untuk menyentuh puncak rambut milik Rani.
Ray yang melihat itu hanya bisa terdiam dan terus memandang Meli kasian. “Ini ade kamu?”tanya Ray mencoba membuka percakapan dengan nada pelan takut mengganggu Rani.
Meli mengangguk, “Iya, ade aku
satu-satu nya”jawab Meli yang kini menitikan air matanya, entah mengapa
perasaan Meli campur aduk saat melihat Rani tidur seperti itu. Ada rasa senang,
sedih dan khawatir namun Meli tidak tahu mengapa ada rasa khawatir yang begitu
tinggi pada Rani.
“Mas, aku boleh minta tolong gak?”Meli
menatap melas Ray.
“Ya boleh, jadi tinggal sisa satu kali
lagi”jawab Ray seraya menunjukkan jari telunjuk nya, “Bantuannya”sambung nya
memperjelas apa yang dimaksud.
meli terdiam berpikir apakah ia perlu
meminta bantuan yang hanya tersisa dua lagi atau ia harus mencari tahu sendiri
tentang berkas pasien yang bertuliskan nama Rani, sang adik tersayang. “Gak,
biar aku yang tanganin sendiri”sambung Meli dan kemudian berlalu pergi
meninggalkan Ray yang masih terdiam hanya melihat Meli melangkah keluar kamar
rawat.
Ray yang sebenarnya penasaran kemudian
memilih mengikuti Meli kemana perginya. Meli masuk dengan menembus pintu
ruangan Karin sedangkan Ray yang melihat itu sontak berhenti terdiam sejenak
lalu memilih untuk tidak masuk ke dalam ruangan Karin dan memilih duduk bangku
tunggu depan ruangan.
Meli mencari berkas yang tadi ia lihat
di meja Karin, semua sisi meja ia telusuri dan akhirnya ia bernafas lega karena
menemukan berkas yang ia cari. Meli membuka lembaran demi lembaran untuk
mengetahui apa isi dari berkas tersebut.
“Rani...”pekik Meli pelan saat selesai
membaca berkas milik Karin yang berisikan hasil pemeriksaan laboraturium mengenai tulang, saraf dan sendi beserta foto rontgen, MRI serta hasil biopsi. Meli
sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari yang ada di berkas itu namun ia merasa bahwa Rani menderita sakit parah karena sampai melakukan biopsi.
Meli memutuskan untuk ke luar ruangan
Karin dengan lemas. Ray yang sedari tadi duduk menunggu Meli langsung berdiri
saat melihat Meli keluar dengan raut wajah yang sedih dan tubuh lemas nya.
“Kenapa?, kamu ngapain di ruangan
Karin?”pertanyaan Ray tidak dijawab oleh Melli yang terus berjalan kembali ke kamar nya. Ray yang melihat Meli memuruskan untuk mengikuti nya dari belakang.
Sesampainya di depan kamar rawat, Meli
langsung masuk menembus pintu masuk sedangkan Ray hampir saja terbentur pintu
karena ingin mengikuti Meli. “Astagfirullah”ucap Ray berhenti tepat hanya beberapa senti dari pintu masuk kamar kemudian membuka pinru itu pelan.
dikejutkan oleh pandangan heran dari beberapa orang yang berada di kamar itu.
“Bapak siapa ya?”tanya Gia sopan.
“Saya. Saya.”ucapan Ray terbata-bata
seraya melirik ke arah Meli yang sedang menatap adiknya. “Saya...oh salah
masuk, maaf...maaf”sambung Ray yang berlalu keluar dari kamar.
Meli yang melihat Ray begitu gugup tanpa
sadar ia tersenyum dan kemudian tidur di sebelah Rani seraya menatap wajah
cantik adiknya.
*****
Jam yang tertempel di dinding
menunjukkan pukul 19.20, Meli yang masih merenung di halaman belakang rumah Ray
seraya melihat indah nya langit hitam yang dihiasi beberapa sinar bintang.
“Sebenernya Rani sakit apa?”tanya Meli
pada dirinya sendiri dengan perasaan sedih dan khawatir.
“Hey”panggil Ray yang baru saja pulang
dari masjid sehabis melaksanakan sholat isya berjamaah.
Meli yang merasa dipanggil hanya menoleh
sebentar dan kembali menatap lima bintang yang tengah bersinar di gelapnya
malam.
“Apa yang kamu lakuin di ruangan
Karin?”tanya Ray yang kini duduk di samping Meli.
“Berkas”jawab Meli singkat tanpa menoleh
pada Ray.
“Berkas apa?”
“Pasien”
Ray menatap bingung Meli, “Ngapain kamu
periksa berkas milik pasien?”Ray yang merasa bingung sekaligus penasaran terus
bertanya membuat Meli menghembuskan nafas nya kasar dan berbalik menghadap Ray.
“Ade aku”ucap Meli berhenti sebentar
menatap wajah Ray yang mengerutkan dahi nya tanda ia bingung dengan apa yang di
ucapkan Meli. “Pasien itu ade aku”jawab Meli yang kemudian kembali menatap
bintang.
“Ade kamu?, ade kamu sakit?, sakit
apa?”tanya Ray beruntun membuat Meli tersenyum tipis dan kembali menatap Ray. “Kenapa?”Ray merasa bingung saat Meli melihat dirinya dengan tersenyum.
“Ga papa, ini pertama kali nya mas banyak tanya”Meli kembali tertawa ringan mengingat Ray memang tidak pernah
banyak bertanya ditambah lagi dengan ekspresi yang ditunjukkan Ray. “Ditambah, mas juga menunjukan ekspresi yang memang seharus nya ditunjukin biar orang tuh paham gitu”sambung Meli.
“Kamu belum jawab loh”Ray mengingatkan
Meli akan pertanyaan nya yang masih kosong belum terjawab.
“Saya ga tau pasti sakit apa, tapi saya
rasa sakit nya cukup serius”jawab Meli yang menundukkan kepala nya sedih, Ray
__ADS_1
yang melihat itu merasa hal aneh dalam dirinya entah mengapa ia juga merasakan
kesedihan padahal ia tidak kenal dengan adik Meli.
“Sabar ya...”Ray mengambil jeda sebelum
akhirnya menyambungnya kembali, “Sakit itu sebagai tanda kalo Allah sayang sama
hambanya”sambung Ray. “Kalo kita sakit, kita pasti bakal inget sama Allah kan?,
kita bakalan terus berbuat baik dan beribadah”
Meli menatap Ray merasa ketenangan
sedikit di ruang hatinya, rasanya tentram saat bersama Ray, Meli bingung dengan
perasaan nya akhir-akhir ini. “Iya, dulu mama juga pernah bilang kayak gitu”timpal Meli dengan senyum tipisnya mengingat masa lalu nya.
“Tau gak?...”pertanyaan Ray yang belum
usai langsung di jawab gelengan kepala dari Meli, sontak hal itu membuat Ray
tersenyum yang sedetik kemudian kembali semula. “Katanya.... kalo kita sakit
itu bisa menghapus dosa kita”lanjut Ray yang di angguki pelan oleh Meli.
‘Kruuuuk”
“Ey, apa tuh”ujar Meli seraya melirik ke
arah perut Ray yang berbunyi. Ray memang belum makan malam karena ada tugas
mendadak dari kompi. Ray menjabat sebagai Komandan Peleton (danton) di asramanya sejak ia lulus dari Akmil. “Belum makan ya?”sambung Meli seraya tertawa
pelan saat melihat anggukan Ray yang terkesan polos. “Waaah, momen langka ini”.
Meli masuk ke dalam rumah dan membuka
kulkas untuk melihat apa ada yang bisa ia masak. Meli anak konglomerat yang
hidup sederhana sedari kecil, karena mama nya yang selalu mengajarkan nya
indahnya hidup sederhana mulai dari makan, style dan gaya hidup. Meli juga
tidak bisa diremehkan dalam hal masak-memasak, dia sudah sering memasak saat ia duduk di kelas lima SD, saat ia baru saja ditinggal oleh mamanya.
Memasak merupakan hal menyenangkan yang dapat menghilangkan stress bagi Meli, entah itu makanan dalam dan luar negeri
ia sudah pernah mencoba memasaknya. “Mas, ini gak ada yang bisa dimasak”ujar Meli seraya menutup kulkas dan berkacak pinggang menatap Ray.
“Yaudah biar saya beli dulu bahan nya”
“Tunggu, aku ikut”Meli mengehentikan Ray
yang melangkah keluar rumah.
Ray dan Meli pergi ke supermarket
terdekat menggunakan motor sportif klasik berwarna hitam milik Ray.
*****
Setibanya di supermarket Ray dan Meli
turun dan langsung memasuki supermarket. Meli yang merasa antusias dan senang berjalan menuju pintu masuk dengan santai tanpa melihat kiri dan kanan nya.
“Awaaas”pekik Ray saat melihat sebuah
mobil yang melaju ke arah Meli berjalan dengan santai. “Huft...”Ray mengembuskan
nafas lega nya saat melihat Meli yang di tembus oleh mobil itu.
Ray langsung bersikap biasa saat melihat
tatapan bingung dan aneh dari orang yang berada di sekitar nya, sedangkan Meli
tertawa melihat Ray yang malu dengan apa yang ia lakukan tadi.
“Mas, inget ya. Aku ini roh, jadi bisa
nembus apa pun, hahaha”ujar Meli masih dengan tawa nya yang belum berhenti. Ray
menatap Meli dengan melirikan bola mata nya ke arah Meli berada tanpa memutar
badan atau kepala nya.
Ray terkadang lupa bahwa Meli itu roh
yang tidak terlihat, namun itu semua terlalu nyata untuk Ray, memandang wajah
Meli dengan jelas, berbicara dengan Meli layaknya manusia pada umumnya. Hal
itulah yang kadang membuat Ray lupa apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam supermarket, Meli melangkah
menuju Hypermart yang diikuti oleh Ray dari belakang nya. “Mas, ambil troli nya”perintah Meli yang langsung dituruti Ray.
Meli melihat semua bahan dan barang yang
ada di Hypermart dan menunjuk apa yang akan dibeli untuk dimasukan kedalam
troli belanja oleh Ray. Langkah Meli terhenti saat melihat sebuah buku diary yang bergambar sebuah binatang bernama alpacca, binatang yang sangat disukai oleh Meli.
“Waaw”Meli berucap kagum seraya
menyentuh buku tersebut.
“Waktu”Ray melihat ke jam tangan nya dan
memberi kode peringatan pada Meli, karena waktu yang terus berjalan dan cacing di dalam perut Ray yang terasa seperti sedang berdemo besar-besaran sudah mulai berontak pada perasaan yang terus menunda untuk segera memberi makan.
“Oh iya”Meli yang tersadar langsung kembali fokus berbelanja.
Meli membeli berbagai macam sayuran,
buah-buahan, susu cair, telur, mie instan dan lain sebagai nya untuk persediaan
dan perlengkapan dapur Ray. Bahkan Meli membeli rak untuk piring, agar sehabis
mencuci piring bisa di simpan di rak itu sampai kering baru diletakan di tempat
nya.
*****
Setelah makan malam dengan nasi goreng
teri buatan Meli, Ray merasa sangat senang dan kenyang tanpa ia sadari ia melupakan satu hal yang harus nya ia kerjakan. Setelah duduk sebentar di depan tv, Ray berdiri dari duduk nya dan mengambil handphone serta laptopnya dari kamar.
Meli yang selesai menyelesaikan urusan
dapur, kemudian ikut duduk di samping Ray yang sedang sibuk dengan kedua alat
elektronik nya. Karena bosan Meli kemudian mengambil remot tv dan menyalakan nya, menonton acara yang bisa menghilangkan kebosanannya.
“Mel..”panggil Ray yang masih fokus pada
layar laptop nya.
Meli menoleh dan mengangkat sedikit
kepala nya sebagai tanda ‘Apa?’ pada Ray. Ray hanya menyuruh Meli mendekat
dengan melemparkan kode kepala yang menunjuk ke layar laptop, karena penasaran Meli langsung medekat dan melihat apa yang ada di layar laptop Ray.
“Ini...”ucap Meli seikit kaget saat
melihat layar laptop yang ternyata foto mobil Meli pada saat kecelakaan, ini
pertama kali nya ia melihat dengan jalas, karena saat diberitakan gambar nya
tidak begitu jelas berbeda dengan apa yang ia lihat saat ini.
“Kayak nya kamu bener, ini disengaja”perkataan Ray membuat Meli menatap Ray. “Posisi mobil kamu berada di
bahu jalan yang memang tempat orang berhenti”sambung Ray yang di angguki oleh
Meli.
“Terus gimana?”tanya Meli penasaran akan
kelanjutan pencarian kebenaran akan kecelakaan nya.
“Nanti, harus di cek secara keseluruhan”jawab Ray yang kembali fokus pada dokumen kecelakaan Meli yang tertera di layar laptop nya begitupun dengan Meli yang ikut memperhatikan setiap hal
__ADS_1
yang ada di dokumen tersebut.
*****