Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 11


__ADS_3

Tiga hari berlalu dengan cepat, Ray selalu menjenguk Meli disaat jadwal kerjanya kosong. Ray senang karena kondisi Meli sudah stabil dan mulai normal, namun sisi lain ia masih merasa sedih karena roh Meli tidak pernah hadir.


Ia merindukan saat-saat bersama dengan Meli. Ray memegang tangan Meli dengan lembut, mengelusnya dengan perasaan, “Apa iya dia bakal lupa sama aku?”batin Ray menatap Meli sendu.


“Loh mas, kapan dateng”tegur Rafli dan Rani yang baru memasuki kamar rawat Meli.


Ray yang melihat Rafli dan Rani sontak langsung melepaskan genggaman tangan nya pada Meli. “Ah, baru ko, baru aja”.


Rani dan Rafli mengangguk paham, “Mas ini ada banyak makanan, makanin aja”ujar Rafli menunjuk meja yang dipenuhi makanan ringan, buah, dan makanan berat.


Ray melihat ke arah yang ditunjuk oleh Rafli sekilas kemudian menganggukan kepalanya, “Iya Fli, nanti kalo mau saya makan”jawab Ray dengan tersenyum. “Ohya, kalian darimana?”.


“Oh, kita abis,”Rafli bingung ingin menjawab pertanyaan Meli, karena Rani meminta untuk merahasiakan penyakitnya. “Abis jalan-jalan bentar mas”.


Ray menatap Rani dan Rafli secara bergantian kemudian mengangguk paham. “Tapi lain kali jangan sampe Meli ditinggal sendirian”.


“Iya ka, tadi aku udah suruh ka Rafli buat jaga mba, eh tapi malah nyusul maksa buat ikut”jawaban Rani membuaat Rafli membuka mata nya dan melirik Rani yang terlihat santai seraya membuka salah satu camilan. Sedangkan Ray berkacak pinggang dan menatap Rafli.


“Maaf mas, saya Cuma penasaran aja ko”Rafli membela dirinya.


“Oke, lain kali, Meli ga boleh sendiri”


Rafli menegakkan badannya, “Siap boss”ucap nya seraya hormat pada Ray. “Oh iya, saya ada kegiatan hari ini, jadi saya ijin pulang Dan”.


“Kegiatan apa?”


“Kerja bakti kompi Dan eh kerja bakti sosial, tugas kampus”Rafli berusaha bersikap biasa saja,ia sempat khawatir karna salah ngomong.


“Oke, pulang nanti kalo kegiatan kosong bisa balik ke sini lagi kan?”


“Siap, bisa bos, kan saya jomblo”Rafli melirik Rani sekilas dan kemudian pamit untuk pulang ke asrama melaksanakan kegiatan kerja bakti.


“Dia baik ko Ran”ucapan Ray membuat Rani mengtrutkan kedua alisnya.


“Iya sih emang”


“Jomblo lagi”tambah Ray dengan senyum.


Rani yang mendengar itu tersenyum tipis, “Terus?”.


“Ya. Siapa tau kan, jodoh ”


“Apa sih ka, aku baru mau masuk SMA loh”Rani tersipu malu saat Ray seperti menjodohkan nya dengan Rafli.


*****


Mas Fad yang berjalan santai di koridor rumah sakit untuk menjenguk Meli dan Rani tiba-tiba terhenti langkah nya saat melihat kekasihnya, Sarah. “Loh kok, dia disini?”mas Fad mengikuti Sarah diam-diam.


“Loh, ruang dokter ortopedi?”mas Fad membaca tulisan yang tertera di depan sebuah ruangan. “Sarah sakit apa, kenapa dia ga pernah ngomong toh”gumam mas Fad khawatir dengan kondisi sang kekasih.


Mas Fad mengintip Sarah yang memasuki ruangan tersebut dari jendela, sebenarnya jendela tersebut ditutupi oleh gorden namun masih ada celah untuk melihat ke dalam. “Aduh, ga kedengeran apa-apa”mas Fad mencoba menempelkan kuping nya di sela-sela jendela.


“Mas?”tegur Sarah yang baru keluar ruangan. “Mas ngapain?”tanya Sarah saat melihat mas Fad yang membelakangi nya.


“Ngintip”jawab mas Fad dengan santai, “Eh, ngga maks,”ucapan mas Fad terhenti saat menoleh ke belakang dan melihat Sarah yang berdiri melipat kedua tangan nya di depan dadanya.


“Eh, de”mas Fad yang ketauan langsung berpura-pura sedang mencari sesuatu di jendela.


“Udah mas jangan pura-pura”Sarah yang mengetahui gelagat pura-pura mas Fad langsung menarik lenagannya. “Mas ngapain disini?”.


“Kamu sendiri ngapain kesini?”


“Aku mau kasih kado ini sama sepupu aku”jawab Sarah seraya melepaskan genggaman tangan nya pada lengan


mas Fad.


“Oooh, sepupu kamu sakit?”tanya mas Fad seraya tersenyum manis pada Sarah.


Sarah menganggukan kepalannya pelan, “Yang sakit itu mba nya, dan ini kado untuk adiknya yang selalu ada menemani mba nya yang masih terbaring lemah”jawab Sarah dengan perasaan sedih mengingat kedua sepupunya yang malang.


“Orang tua nya?”tanya mas Fad yang penasaran kenapa tidak ada orang tua nya di saat anaknya sakit.


“Ah, papah nya tuh super sibuk sama bisnis nya, kalo mama tiri nya, jahat lah pokoknya”jawaab Sarah menahan emosi.


Sarah berhenti di depan kamar rawat Meli, “Ini ruangan nya”Sarah menunjuk ke pintu kamar yang tidak asing lagi bagi mas Fad.


“Ini?, sepupu kamu dirawat di kamar itu?”


Sarah yang mendengar pertanyaan mas Fad hanya mengangguk kemudian membuka pintu kamar. “Asalamu’alaikum”ucapnya saat melangkah masuk ke dalam kamar.


Mas Fad yang ingin memastikan apa yang dia pikirkan pun melangkah kedepan pintu, mengintip siapa yang dirawat di dalam kamar tersebu. “Aduh, bener lagi, ini kamar Meli”gumam mas Fad setelah melihat ke dalam ruangan.


“Mas, ayo masuk aja”ajak Sarah yang sudah duduk di sofa ruangan.


“I..iya bentar”


“Loh, Ray?”pekik Sarah kaget saat melihat Ray yang keluar dari kamar mandi.


“Mba Sarah kenal sama ka Ray?”tanya Rani.


“Kenal, Ray ini sepupunya tunangan mba Ran”


“Halo semua”sapa mas Fad yang memutuskan untuk masuk kedalam setelah menatap Ray.


“Eh mas”Ray menghampiri mas Fad memeluknya. “Ko ada mba Sarah?”tanya Ray saat berpelukan dengan mas Fad hanya tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.


“Halo ka Fad”sapa Rani setelah Ray dan mas Fad selesai berpelukan.


“Loh, Ran kamu kenal mas Fad?”tanya mba Sarah bingung, pasalnya pada saat tunangan Sarah, Rani dan Meli tidak bisa hadir jadi mereka belum mengetahui seperti apa wajah calon suami mba Sarah. Rani dan Meli hanya tau jika calon suami Sarah seorang tentara.


“Kenal, tunggu, mas Fad itu tunangan mba?”tanya Rani menatap mas Fad dan Sarah bergantian.

__ADS_1


Sarah yang mendengar pertanyaan Rani pun menganggukan kepalanya, “Iya, dia calon suami mba”.


“Berarti, mas Fad tentara dong”


Sarah menganggukan kepalanya kembali sedangkan mas Fad hannya tersenyum kikuk pada Rani.


“Terus, ka Ray?”pertanyaan Rani membuat Ray tersentak kaget.


“Sama, Ray juga tentara, orang satu batalyon”jawab Sarah yang diangguki oleh mas Fad.


Ray menyenggol tangan mas Fad dengan sikunya, “Piye iki mas?”tanya Ray dengan panik takut Rani akan marah jika mengetahui selama ini mereka bohong dengan mengaku teman kuliah Meli.


“Ka, berarti kalian bohong ya sama aku”ucapan Rani membuat Sarah semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Aku mau kalian jelasin yang sebenarnya, kenapa kalian bisa kenal mba Meli”.


Ray menatap mas Fad yang juga menatap ke arah nya seraya mengangkat bahunnya, mas Fad bingung dan tidak tahu harus bagaimana mulai bercerita dengan Rani. Ray mencoba mengatur nafasnya.


“Saya bakal ceritain semua nya, sejujur-jujurnya”ucap Ray yang kemudian duduk di kursi dengan ranjang Meli.


Ray menceritakan pertemuan nya dengan Meli saat dirumah sakit sampai saat terakhir Meli berusaha dihilangkan nyawanya oleh seseorang. Rani dan Sarah yang mendengar cerita Ray sempat tidak percaya namun karena Ray memberikan clue tentang Meli yang hanya orang terdekat saja yang mengetahui itu.


“Besok, saya bawa bukti salinan rekaman nya”ucap Ray mengakhiri pembicaraan.


“Jadi, selama ini mba Mel selalu ada sama aku”gumam Rani pelan kemudian menatap sendu tubuh Meli yang masih terbaring koma.


“Iya, makanya dia nyuruh saya buat selalu ada saat kamu membutuhkan”jawab Ray.


“Ini emang sedikit ga masuk akal sih, kayak di film-film, tapi. Mungkin bener apa yang kamu alami Ray”mba Sarah mencoba untuk menerima cerita yang di sampaikan oleh Ray.


*****


“Ray”panggil Karin dari depan ruangan nya saat hendak pulang.


“Oh, Karin”


“Kamu, ngapain ke rumah sakit?, kamu sakit?”tanya Karin dengan perasaan yang khawatir akan kesehatan Ray.


Ray menggeleng pelan, “Ngga, aku Cuma abis jenguk temen aja”elak Ray seraya tersenyum tipis.


“Ooh, kirain kamu sakit”


“Ngga ko, alhamdulillah sehat”Ray tersenyum lebar untuk memastikan tidak ada yang terjadi padanya.


“Oke, ohya, kemarin gimana makanan nya?, enak?”tanya Karin penasaran dengan apa yang Ray rasakan saat memakan masakannya.


Ray mengangguk, “Ya, enak ko enak”jawab nya cepat. “Tapi masih enak masakan Meli”batin Ray sedih. Dirinya sangat merindukan kehadiran Meli. “Ohya, saya pamit nya ada urusan lagi soalnya”.


Karin mengangguk, “Iya, hati-hati ya Ray, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup”.


*****


“Jadi, orang itu suruhan Lani?”tanya Ray pada seorang pria paruh baya yang duduk di sebrang nya.


Pria itu mengangguk kemudian menyesap kopi nya. “Dari hasil pencarian sih gitu, emang kenapa Ray?, kenapa tiba-tiba nyeledikin kasus gini”.


“Kenapa?”tanya pria itu penasaran.


“Ga papa om, cuma orang yang jadi target nya tuh, bisa dibilang sebagai pengubah kehidupan saya”jawab


Ray yang masih menatap kopi di dalam cangkirnya.


“Ooh, korban nya orang yang kamu cinta?”.


Ray sontak menatap pria itu, “Mungkin”jawab nya dengan pelan.


“Baguslah Ray, kamu emang udah seharusnya move on sama yang lama”


Ray tersenyum singkat, “Om Farid. Lani itu siapa ya?”tanya Ray yang tidak mengetahui siapa Lani dan apa hubungan nya dengan Meli.


Om Farid meletakan cangkir kopinya setelah meminum beberapa seruput. “Istri kedua Sastrawirdjoyo”.


“Sastrawirdjoyo?”


Om Farid mengangguk, “Konglomerat, yang punya SW Group”jawab om Farid.


Ray terdiam, “Jadi, orang yang mau ngebunuh Meli itu, mama tirinya”batin Ray. “Ya Allah, kasian banget Meli sama Rani”sambungnya.


“Om, tolong bantu saya kumpulin bukti kejahatan Lani, bisakan?”


Om Farid terdiam sebentar kemudian tersenyum, “Oke, bisa diatur”.


Ray yang mendengar itu langsung mengembangkan senyumnya senang, “Makasih om, pantes om bisa bangun


kantor detective swasta paling top di Indonesia”.


“Bisa aja kamu”om Farid tersenyum senang karena pujian yang Ray berikan.


****


“Ran, ini saya bawa buah”ucap Rafli dengan buah-buahan yang ia bawa di tangan kanannya.


Rani yang masih kesal karena ia dibohongi oleh Ray dan kawan-kawan jika mereka adalah teman kuliah Meli. “Taro aja disitu”jawab Rani dengan tak acuh.


Rafli yang melihat sikap tidak biasa Rani langsung mendekatinya dan bertanya, “Kamu kenapa?, sakit?”tanya Rafli yang memang khawatir jika Rani benar-benar sakit.


Rani menggeleng dan beralih memainkan handphone nya, dia membuka instagram untuk melihat postingan orang-orang yang ia follow. “Ka Rafli ini masih kuliah kan?”tanya Rani melirik sekilas pada Rafli yang tengan mengupas apel untuk Rani.


“Y....ya, saya kuliah kan temen nya mas Ray”jawab Rafli yang memang belum tahu jika Ray dan mas Fad sudah bercerita semua nya, cerita sesungguhnya.


“Oh, bukan tentara ya”


Rafli merlirik Rani bingung dengan sikap Rani yang tidak seperti biasanya. “Sa. Saya”

__ADS_1


“Jujur aja, aku udah tau semua nya ko”


“Apa?”


“Aku udah tau semuanya, ka Rafli, ka Ray, mas Fad dan bang Sahat tentara kan?”


“Aww”pekik Rafli saat jarinya keiris pisau saat memotong apel, karena dia tidak fokus pada apa yang dilakukan nya.


“Ka...”Rani yang melihat darah keluar dari jari Rafli pun langsung panik dan menuntun Rafli ke westafel kamar mandi untuk mencuci darah pada jari Rafli.


Rafli yang melihat betapa paniknya Rani hanya tersenyum, ada rasa senang saat melihat Rani panik dengan dirinya. “Saya ga papa ko”ucap Rafli dengan terus menatap Rani yang panik membersihkan darah di jari nya.


“Apanya yang ga papa, ini tuh harus cepet diobatin, ayo”.


Setelah bersih darah dijari Rafli, kini Rani mengajak Rafli untuk duduk di sofa kemudian ia mengambil kotak P3K untuk mengobati jari Rafli yang masih mengeluarkan sedikit darah, mungkin karena teriris cukup dalam.


“Aaaw”pekik Rafli saat Rani mengoleskan betadin di jarinya yang luka.


“Tahan, perih sebentar doang ko”Rani berusaha mengolesi betadine dengan lembut agar Rafli tidak kesakitan. “Udah deh”.


“Makasih ya”ucap Rafli dengan tulus dan tersenyum.


Rani ikut tersenyum saat melihat Rafli terseyum padanya, “Iya, sama-sama”jawab Rani seraya membereskan semua bekas mengobati Rafli.


“Udah ga marah?”pertanyaan Rafli membuat senyum yang mengembang di wajah Rani memudar.


“Masihlah, siapa sih yang suka dibohongin”


“Yaa, saya dan mas-mas yang lainnya kan ga ada tujuan buruk”ucap Rafli merasa bersalah pada Rani. “Lagian kalo kita ngomong apa adanya, emang kamu bakal cepet percaya?”


Rani menggeleng dan kembali duduk di sofa dekat dengan Rafli. “Engga sih”.


“Makanya kita ngelakuin ini semua Cuma bertujuan membantu aja ko, maaf ya”ucap Rafli dengan lembut.


Rani yang mendengar perkataan lembut dari Rafli pun tersenyum simpul, “Ada syaratnya kalo mau dimaafin”


“Apa syaratnya?”


“Beliin tiga puluh es krim”


“Hah, tiga puluh eskrim?”


Rani mengangguk dengan pasti, “Kenapa?, ga mau?”.


“Ngga, mau mau, tapi apa ga kebanyakan?”tanya Rafli yang hanya di balas senyuman oleh Ranii,


Tanpa berbicara lagi Rafli pun membeli 30 es krim untuk mendapatkan maaf dari Rani.


*****


Ray setelah bertemu dengan om Farid memutuskan untuk kembali pulang. Dia harus menyiapkan persiapan esok hari, karena ada latihan berkuda dengan Denkavkud (Datasemen kaveleri berkuda). Ditengah perjalanan Ray berhenti untuk membeli martabak telor.


Sesampainya dirumah, ia bergegas mandi setelah itu ia menyiapkan segala keperluan esok. Ray terbelalak kaget saat mendapati martabak telor yang ia beli tinggal tersisa 4 potong lagi. “Loh, ko tinggal segini, perasaan aku nyentuh aja ngga”gumam Ray menatap martabak bingung.


“Maaf ya, abis baunya enak banget, jadi aku makan deh”


Ray menoleh ke belakang nya dan betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang selama ini ia rindukan. Ya, Meli berdiri tepat di belakang Ray dengan senyumannya yang cantik nan manis itu. “Kamu”pekik Ray pelan kemudian langsung mendekap tubuh Meli dengan erat.


“Ooo, mas kenapa?”tanya Meli yang bingung dengan pelukan Ray secara tiba-tiba.


“Kamu tau ga?, saya kira kamu udah bakal muncul kaya gini lagi”Ray melepaskan pelukannya berpindah memegang kadua bahu Meli.


Meli yang melihat itu langsung tersenyum, ia merasa sangat senang jika Ray meluapkan semua perasaannya selama ia tak ada di sisi nya. “Sekarang aku balik lagi”ucap Meli tersenyum senang.


Ray mengangguk, “Kamu selama ini kemana aja?”tanya Ray yang memang penasaran kenapa Meli tidak muncul


sekian lama.


Meli menggeleng pelan, “Aku. Rasanya cuma kaya tidur dan mimpi aja gitu”jawab Meli seraya duduk di sofa diikuti Ray.


“Terus?”


“Yaaa, terus aku bangun kaya gini lagi”ucap Meli seraya mengambil satu potong martabak telor. “Boleh ya?”


Ray mengangguk, “Iya, makan semuanya”


“Serius?”Ray hanya mengangguk sebagai jawaban nya. “Mas lagi nyiapin apa?”


“Ngga, ini untuk kegiatan besok”jawab Ray yang kembali menyeterika pakaian dinas nya.


“Ooh, emang ada kegiatan apa besok?”


“Latihan berkuda”


“Wooow, latihan berkuda?, wah pasti seru ini”seru Meli senang. “Aaa”Meli menyuapi sepotong martabak telor pada Ray.


Ray menatap Meli sebentar kemudian membuka mulutnya, menerima suapan Meli dengan senang hati.


“Aku ikut ya besok”


“Jangan, ganggu nanti”


“Ish, nggak loh, aku cuma mau liat mas berkuda aja”.


Ray menganggukan kepalanya kemudian tersenyum, “Kalo gitu ada sayratnya”


“Apa sayaratnya?”tanya Meli yang memang antusias.


“Masak buat saya, sekarang”jawab Ray dengan tersenyum miring menantang Meli. Meli yang mendengar itu pun tanpa berkata lagi langsung bergegas melaksanakan syarat termudah dari Ray untuknya.


Ray yang melihat Meli begitu antusias hanya bisa tersenyum, jujur saja sebenarnya ia juga kaget mengapa saat melihat Meli tubuhnya langsung bergerak mendekap Meli dengan erat, ada rasa senang, takut, rindu yang bercampur. Untuk saat ini Ray kembali bahagia walaupun ia tahu kebahagian setiap orang pasti ada batasnya sebelum berganti menjadi kesedihan.

__ADS_1


Sama seperti hujan yang deras berhenti menjadi cerah dan disaat cerah berganti menjadi mendung dan akhirnya hujan. Seperti itulah kehidupan, tidak ada yang akan baik-baik saja, tidak ada yang tidak lelah dan tidak ada yang terus menerus sedih. Semua sudah ada waktu nya, jika belum waktu nya, ingin berusaha bagaimanapun ya, tidak akan terwujud begitu juga sebaliknya bahkan jika tidak berusaha maka akan terwujud ketika sudah waktunya.


*****


__ADS_2