Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 16


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Ray hanya duduk diam di sofa sambil menatap langit-langit rumah nya dengan hati yang kembali terasa hampa.


“Assalamu’alaikum”ucap mas Fad seraya membuka pintu dan berlalu masuk ke dalam rumah Ray.


“Wa’alaikumsalam mas”jawab Ray dengan lemas.


“Aku tau gimana perasaan kamu Ray, emang sulit, tapi percaya kalo emang kamu sama Meli berjodoh kalian pasti akan bersatu”ujar mas Fad menyemangati Ray seraya menepuk pelan pundak gagah Ray.


Ray tersenyum tipis, “Iya mas, tapi rasa nya, beda banget aku jadi ga semangat dan kesepian”.


“Yaudah aku pindah kesini aja, nanti pas udah nikah baru pindah lagi ke rumah ku, gimana?”


Ray tertawa pelan mendengar saran mas Fad, “Ga mau mas, aku mending sendiri aja”.


“Loh, katanya kamu kesepian”


“Iya, tapi daripada serumah sama mas mending sendiri mas”Ray berlalu menuju dapur untuk mengambil minuman.


Langkah Ray terhenti saat melihat dapur dan wetafel, biasanya Meli sibuk menyiapkan makanan-makanan lezat di dapur itu namun kini dapur itu akan sangat jarang untuk disentuh. Ray mengambil dua kaleng minuman dari kulkas dan kembali ke ruang tv.


“Semangaaat”ucap mas Fad dengan antusias.


“Iya semangat”ucapan Ray berbeda dengan respon tubuhnya yang lemas.


“Eyy, kamu perwira muda loh Ray, harus semangat”


“Perwira juga tetep manusia mas”ucap Ray seraya meminum minuman nya.


“Iya juga sih, aku juga manusia”


“Loh, sampean manusia toh mas”


Mendengar ucapan Ray, mas Fad menatap tajam ke arah Ray, “Maksudnya?”.


“Yaa, tak kira kamu itu,”


“Opo?”


“Ga jadi”Ray tertawa pelan melihat ekspresi yang dikeluarkan mas Fad di wajah nya.


*****


“Assalamu’alaikum”ucap Rani memasuki kamar rawat Meli dengan tersenyum senang,


“Wa’alaikumsalam, wiiih anak SMA udah pulang, sore juga ya pulang nya”sahut Meli tersenyum menyambut Rani pulang.


“Mba lagi ngapain?”Rani meletakan tasnya di atas sofa kemudian beralih ke ranjang Meli untuk melihat apa yang sedang dilakukan Meli.


“Ga ngapa-ngapain cuma main hp aja, abis sepi banget disini”jawab Meli melirik sekilas ke arah Rani yang mengupas satu buah jeruk.


“Tadi ada tamu ya?”tanya Rani mengamati banyak buah-buahan serta kue yang ada di atas meja depan sofa dan meja nakas samping ranjang Meli.


Meli mengangguk pelan, “Iya tadi tunangan nya mba Sarah, mas Fad dan temen-temen nya dateng”.


“Uhuk uhuk”Rani yang sedang memakan jeruk pun terbatuk karena kaget mendengar jawaban Meli.


Meli menepuk pelan pundak Rani, “Kenapa bisa keselek sih”Meli mengambilkan Rani air yang berada di beja sebelah nya.


“Ga papa mba, emang aku nya aja yang ga ati-ati”sahut Rani setelah batuk nya reda.


“Lain kali hati-hati dong, bahaya tau”


Rani hanya mengangguk sebagai respon untuk perkataan Meli, Rani menatap Meli terdiam, “Apa yang dibilang mas Fad soal mba Meli bakal hilang ingatan pas sadar bener ya?”batin Rani bingung sekaligus penasaran, namun ia tidak menanyakan pada Meli apakah dia mengenal Ray atau tidak.


“De, Ran, Rani”Meli memanggil Rani yang terdiam menatap kasur nya dengan jeruk yang masih ia pegang di tangan kanan nya.


“E..eh iya mba”Rani yang tersadar dari lamunan nya langsung tersenyum canggung menatap Meli yang bingung dengan tingkah Rani.


“Kamu kenapa sih, jangan melamun dong”


“I...iya mba aku cuma lagi mikir tugas yang tadi dikasih pa guru aja ko”Rani menjawab dengan bohong.


“Oh, kalo susah nanti mba bantu,”ucapan Meli terhenti saat melihat dua orang sahabatnya masuk kedalam kamar rawatnya dengan wajah yang gembira seraya membawa buah-buahan dan snack ringan kesukaan Meli.


“Ya ampun Mel, gua seneng banget lu udah sadar”Gia langsung memeluk Meli setelah menaruh buah-buahan di meja depan sofa.


“Iya gua juga bersyukur banget bisa balik lagi sadar”jawab Meli yang membalas pelukan Gia dengan tersenyum bahagia.


“Woii, nih gua bawain jajanan kesukaan lo semua”Dony menaruh plastik berisikan snack di samping tubuh Meli.


Meli terseyum saat melihat plastik yang Dony bawakan, “Makasih yan Don”ucap Meli dengan tersenyum.


“Iya sama-sama, gua bersyukur banget sih lo bisa balik sadar dan sehat kaya gini”Dony tersenyum melihat kondisi Meli yang kian membaik. “Ciee Rani, udah anak SMA aja nih”Dony beralih pada Rani yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan senang.


“Iya dong, masa mau SMP terus”jawab Rani tertawa pelan diikuti Meli dan Gia yang juga ikut tertawa pelan.


Meli serta Rani pun mengobrol ria dengan dengan Dony dan Gia yang sudah lama tidak berkunjung karna kesibukan tugas kuliah yang semakin hari semakin menumpuk. Dan Meli memahami itu semua.


*****


Desember, 2021


Tepat pada tanggal 12 Desember 2021, mas Fad dan Sarah melangsungkan akad nikah dan juga resepsi yang akan digelar di aula dalam sebuah gedung. Dalam proses akad nikah hanya dihadiri oleh keluarga dekat dari kedua mempelai.


Meli memakai kebaya brokat bewarna pastel yang memang sewarna dengan semua keluarga Sarah  termasuk Rani, dengan bawahan kain batik bewarna coklat dan hitam. Meli menyanggul rendah rambutnya lalu dihiasi oelh beberapa mutaiara dan jepitan untuk menambah keindahan pada rambutnya.


“Hai Meli”sapa Dion teman Meli saat SMA, Dion juga orang pertama yang menyatakan suka pada Meli, namun waktu itu Meli hanya ingin berteman dengan Dion. Sebenarnya dulu Meli juga menyukai Dion karena kecerdasan dan kebaikan sikap Dion namun Meli masih tetap pada pendirian nya untuk tidak menjalin hubungan untuk beberapa waktu.


“Oh, Dion”pekik Meli kaget mendapati Dion yang berada di belakang nya mengenakan baju batik


“Apa kabar Mel?”tanya Dion tersenym.


Meli membalas senyuman Dion yang sudah lama tidak ia lihat.


“Alhamdulillah baik Dion, lu sendiri?”


Dion tersenyum, “Gue juga alhamdulillah baik, gue denger lo habis kecelakaan ya?”.

__ADS_1


“Iya, tapi sekarang udah sembuh total ko”


“Alhamdulillah, gue turut seneng denger nya Mel, ohya kuliah kan?”


Meli mengangguk, “Iya, lo juga kan?”


Dion mengangguk kemudian tersenyum, “Iya gue juga kuliah”


“Cuman sempet kejeda kuliah gua karna gua kecelakaan jadi yaa, banyak tugas yang harus dikerjain sih tapi untung nya ada Dony sama Gia yang siap membantu”.


“Mas. Mas Ray”Rafli menyikut lengan Ray dengan sedikit keras.


“E...eh i...iya, apa?, kenapa?”tanya Ray saat tersadar lengan nya di senggol oleh Rafli.


“Mas yang kenapa, bengong gitu”


“Oh saya?, ngga saya cuma liatin para tamu aja”elak Ray yang sebenarnya sedang menatap Meli dan Dion berbicara ria di sebrang nya.


“Oh, itu toh”ucap Rafli saat melihat Meli dan Dion berbincang.


“”Apa?”


Rafli menggelengkan kepala nya, “Aku kesana ya mas, jangan kebanyakan ngelamun lah ga baik, nanti kesambet”Rafli menepuk pundak Ray kemudian pergi menghampiri Rani yang sedang duduk bermain handphone nya.


“Wiih serius amat main hp nya”sapa Rafli yang duduk di bangku sebelah Rani.


“Eh, ka Rafli”sahut Rani menatap Rafli. “Ka Rafli ternyata ganteng juga ya pake batik gini”batin Rani menatap Rafli


terpesona akan ketampanan Rafli yang berbalut kemeja batik bewarna coklat tua.


“Udah jangan terpesona gitu lah”ujar Rafli melirik Rani dengan tersenyum.


“Apaan sih ngga ko, orang aku liat ke sana tuh”Rani mengelak dengan menunjuk ke arah samping Rafli.


“Eyyy, jangan bohong ah, saya tau kalo saya ini ganteng apalagi pake baju batik gini”ucap Rafli dengan bangga, Rani yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalan nya dan tersenyum kemudian kembali memainkan hanphone nya.


*****


Setelah akad nikah selesai terlaksana, kini mas Fad dan Sarah sudah menaiki pelaminan setelah melewati beberapa upacara adat jawa. Meli memilih untuk duduk sebentar di kursi yang disiapkan untuk para tamu walaupun hanya beberapa baris saja.


“Berarti sekarang aku manggil kamu mas ya Ray?”tanya Karin yang berada di samping Meli. Karin menggunakan baju kebaya bewarna pink dengan rok kain batik coklat serta hijab bewarna senada dengan kebaya nya.


Meli melirik ke samping kanannya dan melihat Ray yang juga duduk di sebelah Karin. “Ka Ray?, ko tambah ganteng dan berkarisma gitu sih pake baju batik”batin Meli yang memperhatikan Ray.


“Iya, kamu panggil aku mas, lagian emang masih tua-an aku kan”jawab Ray yang msih fokus pandangnya kedepan melihat mas Fad dan Sarah yang menyalami para tamu undangan.


“Iya sih tapi kan kamu cuma tua empat bulan dari aku”Karin meletakan minumannya di bawah kursi.


“Iya tetep duluan aku yang lahir”Ray memandang Karin seraya tersenyum.


Meli yang melihat Ray melirik ke arah Karin langsung membalikan badan nya ke arah samping kiri nya, ia takut jika Ray mengetahui dirinya terpesona oleh Ray.


Ray menaruh bekas minuman nya di bawah kursi seraya melirik ke arah Meli yang masih menatap ke samping kirinya. Ray tersenyum melihat punggung milik Meli, ia ingin menatap Meli seperti dulu, ia ingin berbincang dengan Meli, ia ingin kembali memakan masakan Meli dan masih banyak hal yang ingin Ray lakukan bersama Meli.


“Mas Ray”pangil Karin seraya menepuk pundak Ray yang cukup lama menundukkan badannya untuk menaruh


“Eh, i...iya Rin”Ray kembali menegakan badan nya dan menatap Karin.


“Ngga, kamu lama banget naro bekas minuman nya”


“Oh iya tadi ada serangga di bawah”elak Ray dengan tersenyum kikuk.


   


Meli menyentuh dada nya, ia merasakan degupan kencang di jantung nya saat Karin memanggil Ray dengan sebutan ‘mas’, Meli merasa seperti dejavu ia seperti pernah menggil Ray dengan sebutan ‘mas’ namun ia tidak yakin dengan apa yang di pikirkan.


“Mba Mel”panggil Rani yang membawa dua buah minuman segar.


“Iya Ran”sahut Meli yang kembali tersenyum menatap Rani kemudian mengambil satu minuman segar untuk dirinya.


“Makasih ya”ucap Meli.


“Oke”sahut Rani yang melirik sekilas ke samping Meli. “Dokter Karin?”pekik Rani saat melihat Karin yang duduk di


sebelah Meli.


Meli yang mendengar pekikan Rani pun bingung, bagaimana bisa Rani kenal dengan Karin. “Dokter?”gumam Meli pelan kemudian menatap Karin seraya tersenyum canggung.


“Rani, kamu juga disini?”Karin berdiri menghampiri Rani dan duduk di sebelah Rani meninggalkan Ray yang masih duduk seraya menatap Karin dan Rani.


“Iya dok, mempelai wanita nya itu sepupu aku”jawab Rani dengan ceria.


“Oh gitu, kalo mas Ray itu sepupu mempelai pria”Karin menoleh ke arah Ray yang masih menatap mereka dengan tenang.


“Oh iya aku udah tau sih dok kalo ka Ray itu sepupunya mas Fad”jawabRani tersenyum. “Oya dok, ini mba aku, mba Meli”Rani memperkenalkan Meli yang duduk di sebelahnya.


“Oh iya kamu kan Meli, alhamdulillah kamu udah pulih total sekarang, seneng rasanya negliat kamu udah sehat lagi”ucap Karin tersenyum senang melihat Meli yang sudah pulih dari koma nya.


Meli tersenyum kemudian menatap Karin, “iya dok, alhamdulillah aku udah sembuh total dan boleh berkegiatan lagi kaya biasanya”jawab Meli masih dengan senyum manis nya.


“Alhamdulillah”batin Ray menatap Meli yang tersenyum pada Karin, tanpa disadarinya Ray pun tersenyum menatap Meli.


“Syukur alhamdulillah Meli, semoga kamu sehat selalu ya”ujar Karin tulus pada Meli.


Meli mengangguk pelan dan tersenyum, “Aamiin, makasih dok”.


Karin duduk di sebelah Rani dan berbicara dengan Rani mengenai beberapa hal termasuk tentang kanker tulang yang di derita nya. Karin dan Rani berbica dengan pelan agar tidak di dengar oleh orang lain


termasuk Meli.


Meli menoleh ke samping kanan nya kemudian dia dan Ray bertatapan mata cukup lama, ada rasa aneh yang menyelimuti hati Meli, Meli merasa ingin sekali memleuk tubuh Ray yang kekar entah kenapa ada perasaan seperti itu saat menatap mata Ray yang terasa tidak asing baginya.


“Baik, para hadirin diharapkan berkumpul sejenak, karena kedua mempelai akan melakukan lempar bunga”ucap pembawa acara yang membuyarkan saling pandang antara Meli dan Ray.


Rani menggandeng tangan Meli untuk mengajaknya barisan paling depan agar mendapatkan buket bunga yanag akan dilempar oleh mas Fad dan Sarah dari atas panggung. Meli dan Rani bersiap berdiri memperhatikan buket bunga yang di pegang oleh kedua mempelai.


Setelah dirasa telah kumpul semua para tamu, kemudian mas Fad dan Sarah sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk melempar buket bunga nya kepada para tamu yang berkumpul di depan panggung.

__ADS_1


“Satu, dua, tiga”mas Fad dan Sarah langsung melemparkan buket bunga dengan badan yang berbalik membelakangi para tamu.


Meli berhasil menangkap buket bunga namun ada tangan besar yang juga menangkap nya, lebih tepat nya menangkap tangan Meli yang sudah memegang buket bunga sedetik lebih dulu dari tangan itu.


“Ka Ray”gumam Meli pelan saat mengetahui siapa pemilk tangan besar yang memegang tangan nya.


Ray menatap Meli dengan debaran di hati nya yang kencang, tidak hanya Ray yang merasakan itu, Meli pun merasakan hal yang sama jantung nya berdegup kencang seperti saat bertatapan dengan Ray di


kursi tadi.


Tak lama kemudian, Ray melepaskan tangan nya dari tangan Meli, “Maaf”Ray berlalu pergi untuk mengurangi kecepatan jantung nya yang semakin menjadi-jadi.


Karin hanya menatap Ray tanpa menyusulnya, ia ingin menikmati acara ini, sebenarnya Karin tidak merasakan


apapun saat tangan Ray memegang tangan dan bertatapan dengan Meli. Meli masih memegang buket bunga di tangannya dengan tersenyum ke arah mas Fad dan Sarah yang menatap  Meli dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Meli melambaikan tangannya yang memegang buket bunga.


Mas Fad yang melihat itu langsung tersenyum dan mengacungkan jempol nya pada Meli begitu juga dengan Sarah yang tersenyum senang mengetahui Meli yang dapat menangkap buket bunga itu ditambah tadi bersamaan dengan Ray, hal itu membuat mas Fad dan Sarah senang.


*****


Seminggu  telah berlalu dari kejadian di acara resepsi pernikahan mas Fad dan Sarah, Ray sudah mulai seperti biasa, melakukan aktivitas seperti biasanya. Dia pergi ke kompi menghadiri acara yang di adakan oleh asrama nya.


Ray kembali normal seperti biasanya. “Mas, kita minggu depan ditugaskan untuk membantu rekan yang ada di papua”ucap Ray pada mas Fad yang sedang meminum kopi nya.


“Iya Ray, baru nikah udah tugas jauh aja"


“Yaa, itu kan udah resiko mas, kita sebagai ksatria negara emang harus siap di mana pun dan kapanpun”


“Iya sih, tapi kan kasian istriku tercinta”


“Mulai dah”


“Ray, kamu nanti malem kan mau tunangan, bukan nya siap-siap”mas Fad berdiri dari duduk nya berjalan ke arah Ray yang duduk di meja yang berada di lapangan tenis


.


“Nanti lah mas, masih nanti malem ko”jawab Ray santai. Nanti malam dia dan Karin akan bertunangan, Ray sudah menyetujui acara pertunangan yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua mereka.


“Ray, apa kamu ga masalah tunangan sama Karin?, kenapa ga kamu kejar dulu Meli”ucapan mas Fad Membuat Ray terdiam kembali mengingat Meli yang sangat ia rindukan.


“Entah mas, tapi aku bakal coba untuk membuka hati untuk Karin”jawb Ray tersenyum tipis.


“Ray, yang namanya hati itu ga bisa dipaksain kalo dipaksain nanti yang ada malah soek, sama kaya baju atau celana, kalo dipaksa di badan yang ga pas kan pasti soek toh?”


Ray mengangguk, “Iya sih mas, tapi mas kan tau sendiri Ibu pengen aku juga cepet nikah”ray menundukan kepala nya.


Mas Fad menyentuh pundak Ray dengan palan mencoba menyemangati Ray. mas Fad tahu betul bagaimana perasaan Ray pada Meli, semenjak tidak ada Meli di samping Ray, Ray seperti kembali ke dirinya sama seperti saat kehilangan Vina, kekasih Ray yang meninggal.


Ray menjadi pendiam, dingin, tidak ada ekspresi dari wajah nya kadang hanya senyum tipis yang terukir. Ray menjadi sering sakit terutama sakit pada pencernaan karna makan nya yang tidak teratur dan juga pola makan yang salah.


Mas Fad merasa iba pada Ray namun tidak ada yang bisa dilakukan mas Fad selain mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kebahagian adik sepupunya.


*****


Ray menenangkan hati nya nya yang gugup karena akan melangsungkan pertunangan dengan Karin. Karin yang berpakaian kebaya berwarna merah dengan hijab senada datang menghampiri Ray.


“Mas Ray”Karin duduk di bangku tepat di samping kanan Ray. “Kamu ga terpaksa tunangan sama aku?”


Ray menatap Karin dengan datar, “InsyaAllah ngga Karin, saya juga yakin saya pasti bisa membuka hati saya untuk kamu”


Karin tersenyum menatap Ray yang begitu yakin dengan kemampuan nya untuk membuka hatinya. “Aku yang ga yakin mas”batin Karin menatap Ray sedih.


“Ray, Karin ayo merapat acara udah mau mulai nih”ajak Dito sepupu Karin.


“Iya sebenta”sahut Karin kemudian bangun dari duduk nya begitu pula Ray bangun dari duduk nya dan berjalan memasuki taman untuk acara pertunangan.


“Mas, kata kamu Ray itu cinta dan sayang sama Meli, ko sekarang mau ngelamar Karin?”tanya sarah berbisik pada mas Fad.


Mas Fad menggeleng, “Aku juga ga tau, yaa ,Allah udah mengatur semua nya, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Ray dan Meli”jawab mas Fad masih terus memperhatikan Ray yang berbicara.


“Iya sih mas, yang namanya jodoh kematian dan rejeki itu kan udah di atur, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berharap kepada Allah”


Mas Fad mencubit hidung Sarah pelan, “Pinter banget siiin, istri nya siapa?”.


“Istri nya orang rese”


“Aku dong, emang aku rese?”


“Banget mas, udah rese absurd pula hahah”Sarah tertawa pelan meledek mas Fad. Mas Fad hanya tersenyum melihat Sarah.


“Ray, mama harap kamu bisa menjadi imam yang baik dan menjadi panutan untuk Karin dan anak-anak kalian nanti”ucap Farah, mama dari Karin.


“Iya ma, insyaAllah Ray akan berusaha untuk menjadi imam rumah tangga yang baik”jawab Ray tersenyum.


“Papa juga akan terus mendukung kamu Ray, kamu udah papa anggap sebagai anak papa sendiri”ucap Rudi, ayah dari Karin.


“Iya pa, makasih atas dukungan nya dan udah memperlakukan Ray selama ini seperti anak papa”ucap Ray tulus menatap Rudi.


Rudi adalah ssahabat dari ayah nya Ray, begitu pula dengan Farah yang bersahabat dengan Ibu nya Ray. Sejak ayah Ray meninggal, Rudi sering kali memberikan dukungan dan perlakuan layaknya seorang ayah bagi Ray.


Ray dan Rudi sering sekali berpergian menggunakan motor, dia dan ayah nya juga sering melakukan berpergian


menggunakan motor, berkemah, menaiki gunung jika Ray libur. Rudi selalu mensuport apa saja keputusan yang Ray buat, bahkan Rudi akan tetap mendukung Ray walaupun dia tidak jadi menikah dengan Karin.


“Mas, makasih ya untuk hari ini, kamu istirahat sampai dirumah jangan begadang”ucap Karin denagan senyumnya.


Ray menatap Karin terdiam, Ray bukanlah melihat Karin yang berada di depan nya ia melihat Meli yang berdiri dihadapan nya seraya tersenyum. Ray tersenyum menatap Meli yang sebenarnya Karin.


“Mas”Karin menyentuh lengan atas tangan Ray dan kemudian Ray tersadar, senyuman nya memudar setelah melihat Karin lah yang ada didepan nya.


“Karin, saya pamit pulang ya”pamit Ray pada Karin yang masih bingung dengan sikap Ray yang sedikit aneh menurut Karin.


Karin mengangguk dan tersenyum, “Iya mas, langsung istirahat ya, hati-hati dijalan”jawab Karin yang diangguki oleh Ray dengan senyum tipis nya.


Setelah semua acara selesai Ray dan keluarga nya pun kembali ke rumah untuk beristirahat. Ray mengantarkan Ibunya sampai ke rumah Riska. “Bu, aku pamit pulang ya”pamit Ray menciium tangan  Ibunya kemudian berlalu pergi menggunakan motor yang memang ditinggal Ray di rumah Riska.


ray menghentikan motornya dan menatap rumah besar yang berada di blok yang berssebelahan dengan blok dimana Riska tinggal. Ray menatap setiap arsitektur bangunan nya, ia membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalankan oleh Meli di rumah bak intana itu. “Meli”gumam Ray pelan masih menatap rumah besar milik keluarga Sastrawirdjoyo. Tak lama Ray pun kembali menjalankan motornya dan kembali pulang ke asrama.

__ADS_1


*****


__ADS_2