Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 6


__ADS_3

“Hoaaaam...”Meli menguap dan menggeliat


terbangun dari tidur nya di atas sofa yang empuk dan nyaman. “Tunggu. Perasaan


semalem tidurnya di lantai”sambung Meli heran mengapa ia bisa terbangun di


atas sofa.


“Apa..”Meli membayangkan Ray yang


menggotongnya dan meletakkan nya di atas sofa seraya tersenyum. “Oya, kemana


mas Ray?”Meli bangun dan mencari Ray di setiap sisi rumah namun ia tidak menemukan siapa-siapa.


“Ow, roti bakar”pekik Meli seraya menghampiri meja dapur yang terdapat sebuah piring berisikan roti bakar dengan selai coklat dan gelas berisikan susu. “Waaah, kok. Kayak so sweet gitu sih”ucap Meli tersenyum senang dan kemudian menyantap sarapan nya dengan lehap.


Setelah menghabiskan sarapan nya, ia


berjalan ke depan rumah untuk melihat cuaca pagi yang indah. “Wooo”ucap Meli


ketika melihat banyak orang yang sedang lari pagi bersama.


Tangan Meli melambai ke arah sosok yang


sangat familiar. Ray yang melihat lamabaian tangan Meli hanya melihat nya kemudian fokus pada lari pagi nya. Meli yang melihat itu sedikit kecewa namun ia tersenyum kembali mengingat selembar roti panggang dan susu.


Tanpa Meli ketahui saat melihat nya


melambaikan tangan nya, Ray mungkin bersikap seolah seperti tidak ada apa-apa


namun tidak bisa dipungkiri jika ia senang disapa seperti itu oleh Meli, ia menundukan kepalanya dan tersenyum tipis.


“Kamu kenapa Ray?”tanya mas Fad yang


berada di samping Ray.


Ray menggelengkan kepala nya dan menatap mas Fad dengan tersenyum, mas Fad yang melihat itu heran dan ikut tersenyum juga.


Setelah selesai mengelilingi asrama


bersama dengan semua anggota dari semua kompi, Ray dan yang lainnya


beristirahat di lapangan upacara. Ray meluruskan kaki nya dan meminum air yang


dibagikan oleh seorang anggota.


“Huuuuh, capek”ucap mas Fad yang duduk


di samping Ray dengan masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“Padahal cuma joging loh mas”sahut Ray


dengan tersenyum.


“Sek..sek, kamu kenapa toh Ray?”mas


Fad dibuat bingung lagi oleh senyuman yang tercetak di bibir Ray.


Ray menatap bingung mas Fad, “Emang


kenapa sih mas, ada yang salah?”Ray yang merasa dirinya baik-baik saja malah


bertanya balik pada mas Fad.


Mas Fad menoleh ke arah Ray,


“Ya. Gapapa sih, kamu kayak yang dulu”sambung mas Fad seraya mengupas kulit pisang yang ada di tangan nya.


Ray menatap tajam mas Fad ketika melihat


mas Fad ingin mengupas kulit pisang yang digunakan untuk membungkus lemper


ayam. “Mas...kok ada lemper?”tanya Ray masih dengan tatapan tajam nya yang


membuat mas Fad langsung berdiri.


“Oh, iya sebentar”ucap mas Fad menatap


ke salah seorang seolah-olah orang itu memanggil dirinya yang padahal tidak ada


yang memanggil nya, itu hanya alasan untuk menghindar dari Ray.


Ray yang melihat itu tertawa dan mengamati mas Fad yang berkumpul di salah satu gerombolan yang ada di lapangan. “Dasar”.


*****


“Assalamu’alaikum”ucap Ray seraya


membuka pintu dan masuk ke dalam rumah nya.


“Wa’alaikumsalam”jawab Meli dengan


celemek yang masih menempel pada dirinya seraya tersenyum manis pada Ray yang baru memasuki rumah beberapa langkah.


“Kamu ngapain?”tanya Ray yang terus


melangkah menuju kamar nya untuk mengambil pakaian dan bersiap mandi.


“Masak”jawab Meli singkat dan kembali ke


dapur untuk menyajikan lauk pauk yang sudah ia buat saat Ray sedang lari pagi


tadi.


Ray yang sedang mengambil pakaian


langsung bergegas ke dapur dan melihat semua makanan yang tersaji di meja makan


dengan rapih dan menggoda. “Kamu....masak ini semua?”tanya nya seraya menarik kursi dan duduk.


“Eyy, mandi dulu lah”ujar Meli melarang


Ray yang hendak menyendok kan secentong nasi ke piring nya.


“Ntar aja, makan dulu”Ray menolak apa


yang di perintah oleh Meli.


Meli berkacak pinggang dan menatap Ray


dengan wajah kesal.”Biar bersih, mandi”Meli kekeh menyuruh Ray mandi terlebih


dahulu sebelum makan sarapan nya. Ray pun langsung berdiri dari duduk nya dan


melanjutkan aktivitas nya untuk membersihkan diri setelah lari pagi.


Meli memasak sarapan simpel sebenarnya


seperti, tumis buncis, tempe goreng dan telor ceplok balado. Itu yang biasa nya


ia masak untuk kakak dan adik nya jika bi Tinah sedang cuti. Rani sangat menyukai telor ceplok balado yang dibuat oleh Meli terasa pedas dan manis.


Selang beberapa menit Ray keluar dari


kamar mandi dengan menggunakan celana loreng, dan kaos yang serupa pula. Meli


memperhatikan Ray terus menerus seraya mengagumi ketampanan Ray yang semakin


hari semakin berbahaya menurut Meli.


Ray duduk ditempat nya seraya menciduk


nasi dan lauk pauk ke dalam piring nya. “Udah bisa makan?”tanya Ray yang membuat Meli tertawa ringan.


“Makanlah”


Ray menyantap makanan yang dimasak oleh Meli dengan lahap, Meli yang memang sudah sarapan hanya menatap Ray seraya


tersenyum yang terus mengembang. “Oya, makasih ya sarapan nya”ucap Meli di


tengah ia menatap Ray dan teringat akan sarapan yang ditinggalkan Ray sebelum


lari pagi.


Ray hanya mengangguk seraya menoleh


sebentar ke arah Meli lalu melanjutkan makan nya kembali. Setelah semua isi


piring nya habis tanpa sisa, Ray menaruh piring dan gelas kotor di tempat cuci


piring kemudian mencuci semua peralatan masak dan piring kotor yang menumpuk di


westafel.


Meli yang lupa mencuci peralatan masak


pun langsung menghampiri Ray, “Mas, aku aja, lupa tadi gak dicuci sekalian”ucap Meli mengambil spons dari tangan Ray.


Ray mengambil kembali spons di tangan


Meli, “Gak, udah saya aja, lagian kamu juga kan udah masak”jawaban Ray membuat


kedua sudut bibir Meli terangkat, Ray melihat meli tersenyum hanya menatap


sebentar kemudian melanjutkan kegiatan mencuci semua peralatan.


Tok...Tok...,


“Assalamu’alaikum”seseorang mengetuk pintu dan mengucap salam di depan rumah


Ray, Ray yang mendengar itu langsung mematikan keran air dan melihat ke depan


rumah nya untuk mengetahui siapa tamu yang datang.


“Wa’alaikumsalam warohmatullah, eh


Tia”jawab Ray seraya menyapa seorang wanita bernama Tia dan berseragam sekolah menengah atas.


Meli yang juga ikut kedepan rumah


tersenyum saat melihat Tia datang dengan membawa sebuah rantang berwarna hijau


tua. “Siapa?”tanya Meli seraya menyikut pelan lengan Ray, Ray yang merasakan


sikutan tangan Meli hanya menoleh sebentar dan kembali fokus pada Tia.


“Ka, ini tadi aku belajar masak sama


mama, terus katanya suruh kasih ini ke kaka”ucap Tia dengan senyum malu-malu,


Meli yang awalnya tersenyum langsung menurunkan kedua sudut bibir nya dan


menatap Tia secara menyeluruh dari atas hingga bawah.


“Makasih ya Tia, nanti pasti kaka makan”jawab Ray dengan senyuman lebar nan manis.


Meli yang melihat itu sontak menatap Ray


dengan kedua bola mata yang membesar serta berdecih pelan antara kaget dan


tidak senang. “Wah, dia bisa senyum selebar itu sama perempuan”batin Meli


kemudian melipat kedua tangan nya di depan dada nya tetap memperhatikan Ray dan Tia.


“Ka, emmm. Aku mau minta tolong sama kaka, boleh?”tanya Tia masih dengan senyum nya yang membuat Meli muak. Entah mengapa perasaan Meli saat itu sangat tidak suka dengan Tia dan juga rasa kesal pada Ray yang tersenyum manis dan lebar pada Tia.


“Boleh, emang apa?”jawab Ray melirik ke


arah Meli yang menatap Tia tak suka.


“Mmm....aku mau ke aquarium yang di Jakarta”Tia berhenti sebentar, “Tapi papa sama mama gak bisa nemenin, aku ada tugas”sambung Tia.


“Tugas apaan ke aquarium, perasaan gua


dulu kaga ada tuh tugas yang disuruh ke aquarium”gumam Meli dengan tatapan dingin masih dengan tangan yang terlipat di depan dada. "Mau nyortir ikan apah. Anak sekolah apa nelayan"sambung Meli.


“Oh, kapan emang”jawab Ray setelah


mendengar gumaman Meli.


“Mmm, sabtu ini sih, bisa gak


kak?”tanya Tia yang menaruh harapan pada Ray yang tengah berpikir sejenak.

__ADS_1


“Mmmm. Bisa sih, gak ada kegiatan juga kayak nya”jawaban yang diberikan Ray membuat Meli terbelalak dan menganga tidak percaya Ray menyetujui permintaan Tia dengan mudah nya.


Tia yang mendengar jawaban dari Ray


tidak dapat menahan senyum nya dan berterima kasih pada Ray seraya menyentuh tangan Ray yang kosong. “Makasih ya ka”ucap nya dengan senang.


Meli yang melihat itu semakin kesal dan


ia memilih masuk ke dalam rumah untuk menenagkan dirinya. “Waaaah....gila sih


anak jaman sekarang”ujar Meli yang kini duduk di sofa ruang tengah dengan


perasaan yang kesal ia masih sedikit memperhatikan Ray yang masih berbincang


dengan Tia dan tak lama Tia pun pergi.


“Dari tadi kek pergi nya”gumam Meli yang


melihat Tia berlalu pergi.


Ray memasuki rumah dengan tersenyum,


bukan karena Tia melainkan karena sikap Meli yang aneh namun lucu buat Ray.


Meli yang melihat Ray memasuki rumah dengan tersenyum semakin kesal sekaligus


bad mood dengan Ray.


“Oya, kita gak bisa ke lokasi kamu


kecelakaan sekarang ya”ucapan Ray membuat Meli sontak berdiri dari duduk nya.


“Kenapa?”tanya Meli kesal.


“Ada kunjungan KASAD soalnya”jawab Ray


melanjutkan mencuci piring yang sempat tertunda.


“Terus, bisa nya kapan?”


“Ya.nanti kalo udah selesai kunjungan”


“Lama gak kunjungan nya?”tanya Meli


seraya berjalan menghampiri Ray.


“Mungkin sekitar dua atau tiga jam lah”jawab Ray yang tengah menyusun piring terakhir ke rak untuk menyimpan piring yang sudah dicuci dengan bersih.


“Lumayan sih itu mah”Meli memilih duduk


kembali di sofa dengan membuka sebuah majalah yang ada di atas meja tv.


“Mau ikut?”tawar Ray seraya memasukkan


salah satu lengan tangan nya ke dalam lubang baju dinas loreng nya.


Meli hanya melirik sekilas dan kembali


membaca majalah, karena ia masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi.


“Penasaran sih tapi males lah, kesel”batin Meli seraya menatap diam-diam Ray


yang tengah bersiap.


“Yaudah, tunggu di rumah aja”ucap Ray


yang tengah memakai sepatu hitam nya.


Setelah selesai memakai sepatu nya, Ray


langsung keluar rumah dan menutup pintu rumah nya. Meli yang masih duduk di


sofa dengan perang batin yang ia hadapi, Meli sebenarnya penasaran dengan


kunjungan yang dimaksud Ray namun ia juga masih kesal dengan Ray.


*****


Setelah cukup lama bergulat dengan batin


nya, akhirnya Meli memutuskan untuk mengikuti Ray. Meli duduk di kursi tepat


dekat dengan pohon yang cukup besar dan kuat. Ia memperhatikan Ray yang berada


di tengah lapangan dengan banyak orang dengan memakai seragam sama dengan Ray.


“Mana sih, lama”gumam Meli seraya


menagkup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.


Setelah sekitar setengah jam berlalu,


akhirnya yang ditunggu oleh semua orang termasuk Meli tiba, semua orang


berkumpul membuat barisan sejajar memanjang begitu pula dengan Meli yang ikut berbaris walaupun tidak terilhat.


Seorang laki-laki dengan gagah nya turun


dari sebuah mobil kemudian diikuti oleh seorang wanita yang sudah bisa dipastikan itu adalah pasangan si laki-laki gagah itu. Meli yang melihat itu tersenyum. “Aaa...romantis”gumam nya saat melihat laki-laki gagah menggenggam tangan si wanita turun perlahan dari mobil.


Saat tiba di depan asrama komandan


batalyon (danyon) beserta istri menghampiri para tamu dengan memberi hormat


kemudian bersalaman. Setelah itu seorang anak laki-laki dan perempuan yang menggunakan seragam tentara menghampiri kemudian memberikan bunga untuk tamu yang merupakan seorang KASAD (Kepala Sataf Angkatan Darat).


Meli yang melihat itu tidak berhenti


tersenyum, ia merasa senang dengan apa yang dilakukan semua orang upaya


menyambut kedatangan tamu terhormat. Para tamu di pimpin danyon memasuki asramadiikuti dengan nyanyian selamat datang dari semua orang yang berbaris dengan semangat dan penuh suka cita.


Dilapangan sudah tersedia dua tank yang


sedang menjalankan aksinya yaitu berputar-putar di sekitar lapangan. “Waaah”decak Meli kagum saat melihat dua tank itu berputar-putar layaknya sebuah mainan.


“Kata nya gak mau ikut”ujar Ray yang


tiba-tiba berdiri di samping nya dengan tatapan lurus memandang kadua tank


“Kan pikiran bisa berubah”jawab Meli


menoleh sebentar ke arah Ray dan kembali fokus menyaksikan aksi demi aksi yang


ditampilkan.


Ray tersenyum saat melihat Meli sangat


menikmati acara yang sedang terjadi. “Dasar”batin Ray masih dengan senyum nya.


“Kenapa bang?”tanya Sahat yang entah


dari mana ia tiba-tiba berada di samping Ray.


Ray menoleh kaget ke arah Sahat, “Nggak,


cuma agak pegel aja ini kepala”elak Ray seraya merenggangkan kepala nya ke kiri


dan kanan, Sahat hanya mengangguk paham.


*****


Ray dan Meli turun dari motor nya


setelah berhenti tepan di depan sebuah rumah tingkat ssatu yang minimalis. Meli


yang penasaran memasuki pagar yang terkunci, setelah mengetahui situasi rumah


Meli yang hendak kembali menghampiri Ray yang berada di luar tertahan saat


melihat seorang wanita yang tidak asing bagi nya.


Meli menghampiri wanita itu seraya


memanggil nya, “Anna?”.


Mendengar namanya dipanggil, Anna pun


menoleh dan melihat Meli yang berada tepat di hadapan nya. “Loh lo. Ngapain


disini?”tanya Anna yang sontak berdiri dari duduk nya.


“Lu sendiri?”


“Ini...rumah gue”jawab nya seraya


memandang rumah yang berada di belakang nya sebentar.


“Ohh, ini. Rumah lu”


“Iya, lu sendiri ngapain disini?”tanya


Anna yang penasaran akan kehadiran Meli di rumah orang tua nya.


“Di bagian luar. Di tiang itu ada


cctv, kan?”tanya Meli seraya menduduk kan diri di bangku tepat didepan Anna.


Anna yang mendengar itu mengangguk


sebagai jawaban nya, “Iya. Emang kenapa?, oh lo kecelakaan di sekitar sini?”.


Meli mengangguk pelan, “Iya, di


persimpangan sana”Meli menunjuk ke arah tempat ia kecelakaan yang memang


berjarak dekat dengan rumah Anna.


“Ada sih, tapi udah lama rusak”jawab


Anna


Meli menghembuskan nafas nya dengan


kecewa. Anna yang melihat Meli kecewa langusng berpikir apakah ada jalan lain yang bisa membantu Meli.


“Oh iya, mobil kaka gue kadang suka


diparkir di depan rumah,”


“Mobil kaka lu ada kamera dashboard


nya?”tanya Meli yang memotong omongan Anna.


Anna mengangguk pasti dengan kedua sudut bibir yang terangkat. “Iya ada”..


Meli yang mendengar itu langsung senang


bukan main. “Alhamdulillah, kalo gitu gua mau liat rekaman kamera nya boleh?”


“Boleh aja, tapi kaka gue kan lagi di


jogja, lusa baru pulang”jawab Anna dengan perasaan sedikit tidak enak.


“Oh, gitu. Yaudah gua bakal balik ke


sini lagi lusa”ucap Meli dengan gembira pada Anna yang hanya mengangguk dan


tersenyum.


Meli kembali ke luar untuk


memberitahukan hal gembira kepada Ray. “Mas.....”panggil Meli saat melihat Ray


yang sedang memainkan handphone seraya duduk di atas motor nya.


“Gimana”Ray mennyimpan handphone nya


kemudian beralih menatap Meli yang terlihat gembira.


“Mobil yang ada di foto kemarin itu


ternyata punya kaka nya Anna...”ucapan Meli terhenti sebentar seraya duduk pula

__ADS_1


di samping Ray yang penasaran dengan kelanjutan cerita Meli. “Tapi...kaka nya


lagi di Jogja, baru pulang lusa, gapapa kan kalo lusa kita kesini lagi?”sambung


Meli.


Ray yang mendengar pernyataan itu dari


Meli menganggukan kepala nya, “Oke, lusa kita kesini lagi”jawaban Ray membuat


senyuman Meli mengembang dengan sangat cantik.


*****


Setelah mengunjungi lokasi kejadian


kecelakaan, Ray dan Meli pergi ke rumah sakit karena Ray ada janji dengan Karin


sedangkan Meli ingin melihat keadaan Rani yang kini ia tahu jika Rani sedang sakit.


“Mas. Aku minta bantuan lagi deh”ucap


Meli setibanya di depan rumah sakit great.


Ray menatap Meli, “Apa?”.


“Saya mau mas tanyain soal keadaan Rani,


dia sakit apa ?, parah nggak?, gimana caranya Rani sembuh?”ujar Meli membuat Ray ikut merasakan khawatir dan sedih dengan apa yang menimpa Meli dan Rani.


Ray mengangguk setuju dengan permintaan Meli. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke tempat tujuan masing-masing.


*****


“Ray, kamu gapapa kan nungguin aku


selesai?”pertanyaan yang membuat Karin tidak enak karena menyuruh Ray menunggu berjam-jam di rumah sakit.


Ray menganggukan kepala nya seraya


tersenyum pada Karin. “Eh iya rin, mmm,”ucapan Ray terhenti karena dirinya


bingung harus berucap bagaimana pada Karin.


Karin menatap bingung Ray, “Kenapa


Ray?”tanya Karin penasaran dengan kelanjutan ucapan Ray yang terhenti.


Ray menggelengkan kepala nya dengan


cepat, “Ah, gapapa gapapa”.


Karin tertawa tipis dan kembali fokus


pada pekerjaan nya, sedangkan Ray menatap ke berkas yang ada di samping laptop Karin. Ray yang penasaran pun menghampiri Karin yang masih fokus mengetik di laptop nya.


“Ini berkas apa rin?”tanya Ray seraya


mengambil berkas milik Rani, adik Meli.


“Oh, itu berkas salah satu pasien”jawab


Karin.


“Aduh bukan itu”batin Ray. “Oh, sakit


apa emang?”Ray berusaha mendapatkan apa yang diminta oleh Meli.


“Dari hasil pemeriksaan dia.”ucapan


Karin terhenti sejenak, “Dia kena kanker tulang, sarkoma ewing”sambung Karin.


“Jadi dia sakit kanker tulang dan


sarkoma ewing”gumam Ray seraya meletakkan kembali berkas Rani di meja Karin.


Karin tertawa ringan saat mendengar


gumaman Ray, “sarkoma ewing itu jenis dari kanker tulang, Ray”.


Ray yang mendengar ucapan Karin langsung mengekerutkan alis nya tanda ia bingung. Karin yang melihat ekspresi Ray


kembali tertawa ringan.


“Jadi, sarkoma ewing itu salah satu dari


jenis kanker tulang.Sarkoma ewing, tumor ganas yang muncul di tulang ataupun


jaringan lunak di area sekita tulang”jelas Karinn.


Ray yang sudah paham hanya menganggukan kepala nya. “Terus apa dia bisa sembuh rin?”tanya Ray.


“Kondisi Rani ini ada pada stadium yang


nama nya sarkoma ewing metastasis”jawaban Karin membuat Ray menundukan kepalanya.


“Apa lagi itu”batin Ray yang kemudian


kembali menatap Karin.


“Tumor Rani, udah menyebar kebagian


organ lain seperti, hati dan paru-paru. Jadi untuk proses penyembuhan nya akan sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama”Karin menjelaskan kembali apa yang tidak dimengerti oleh Ray. “Kalupun


bisa, pasti akan kambuh dan menyebabkan tumbuh nya kanker lain”sambung Karin.


Ray yang mendengar itu rasanya sedih


dengan apa yang di derita Rani. “Jadi. Bakal sulit buat sembuh ya rin”.


Karin yang mendengar itu hanya


mengangguk. “Kamu kenal sama Rani?”tanya Karin yang memang penasaran karena Ray yang pendiam menjadi banyak bertanya tentang orang lain.


“Ah, nggak Cuma penasaran aja”elak Ray


dan diangguki oleh Karin paham.


*****


Meli keluar kamar rawat nya dengan lesu,


ia ingin bersama Rani seperti dulu, bermain bersama, bersenang-senang bersama,


Meli rindu dengan semua nya namun apa daya ia tidak bisa berbuat apa-apa selain


menunggu untuk hidup kembali.


“Ikut saya”ajak Ray pada Meli yang


sedang duduk di depan kamar rawat nya.


Meli yang mendengar itu langusng


mengikuti Ray dari belakang ke arah rooftop. “Kenapa mas?”tanya Meli bingung.


Ray tidak menjawab pertanyaan Meli dan


hanya terus berjalan. Sesampainya di rooftop Ray danMeli duduk di sebuah bangku yang ada di pojok taman.


Ray menatap Meli, “Mel, Rani....”ucapan


Ray terhenti, ia bingung akan bicara bagaimana, ia takut Meli akan tambah sedih


namun ia harus tetap memberi tahukan yang sebenarnya.


Meli yang sangat penasaran langsung


memperhatikan Ray untuk mendengar kelanjutan dari ucapan Ray yang mendadak


terhenti.


“Rani...”


“Sakit apa Rani? ”


“Kanker tulang, jenis sarkoma


ewing”jawab Ray dengan sekali tarikan nafas untuk menghindari kegugupan nya.


Meli yang mendengar itu melepaskan


tatapan nya yang semula menatap Ray kini ia tertunduk dengan wajahnya yang


tertahan kedua telapak tangan nya. Meli terisak dalam tankupan kedua telapak


tangan nya.


“Mel...”panggil Ray pelan seraya


mengelus lembut pundak Meli yang bergetar akibat menangis.


“Mas....apa Rani bisa sembuh?”tanya Meli


dengan harapan besar pada kedua bola matanya yang membuat Ray tidak tega untuk memberitahu Meli jika akan sulit untuk Rani sembuh.


“Mas, jawab”


“Mmm...”Ray hanya bergumam tanpa


menjawab pertanyaan yang dilontarkan Meli.


“Apa Rani gak bisa sembuh?”


Ray menggelengkan kepala nya cepat,


“Nggak. Bukan nya gak bisa sembuh tapi...”.


“Tapi apa?”


“Bakal sulit karna tumor nya udah nyebar


ke organ hati dan paru-paru”jawab Ray yang pasrah.


Meli yang mendengar itu kembali


menundukkan kepala nya dan mengeluarkan air matanya dengan begitu deras nya. “Aku. Aku gak tau kalo Rani menderita selama ini, emang dia kadang suka ngeluh tangan, kaki nya yang tiba-tiba sakit dan dada nya yang terkadang susah untuk bernafas,itu...hiks...hiks”Meli benar-benar merasa bersalah pada Rani, semenjak ia masuk kuliah ia jarang sekali memperhatikan Rani.


Di rumah Rani hanya ditemani oleh bi Tinah tanpa ada nya kasih sayang dari papa, Meli, dan kaka nya. Kalau Lani, memang tidak pernah peduli dengan kehidupan Meli, Hendra dan Rani yang ia pikirkan hanyalah anaknya.


“Meli, semua ini bukan salah


kamu, ini semua udah kehendak Allah”Ray berusaha menenangkan Meli yang masih


terisak sedih.


Meli menggelengkan kepala nya, “Ini juga


salah aku, kalo aku lebih perhatian sama Rani pasti. Gak akan separah itu sakit nya”.


“Mel....saya yakin Allah punya rencana


nya sendiri untuk membuat hambanya bahagia”


“Mana ada mas. Orang sakit yang


bahagia”


“Ada, karena sakit itu tanda Allah


sayang sama hambanya, jadi kalo ada yang sakit harus bersyukur karena Allah


ternyata sayang”sahut Ray yang masih mengelus lembut bahu Meli. “Yang perlu


kamu lakukan sekarang hanyalah berdoa sama Allah, minta pertolongan sama


Allah”.


Meli yang mendengar nasihat Ray


merasakan ketenangan dalam hatinya, “Iya. Pasti berdoa sama Allah untuk kesembuhan Rani”ucap Meli bertekad kuat.


Ray menghapuskan sisa air mata yang ada pipi chuby Meli dengan lembut, Meli yang mengetahui itu terkaget dan menatap Ray yang tersenyum lebar melebihi apa yang ia tampilkan pada Tia pagi tadi. Sontak Meli pun tersenyum menatap Ray yang masih dengan senyum nya. Senyuman Ray yang lebar dan lembut membuat hati Meli semakin tenang

__ADS_1


*****


__ADS_2