Waiting For Life

Waiting For Life
CHAPTER 19


__ADS_3

Meli di obati oleh dokter yang bertugas di sana. Begitupun dengan Ray yang di obati luka di pinggang sebelah kiri yang terkena tembakan dari para pemberontak yang mengincar Meli. Ray menahan setiap kesakitan saat dirinya dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan nya di kota karena para tim medis tidak bisa mengeluarkan peluru dalam tubuh Ray tanpa alat yang lengkap.


Liben tertidur dengan tenang setelah diobati, di bagian kepala nya terdapat memar biru akibat benturan yang


dilakukan para pemberontak pada dirinya. Ayah dan ibu Liben yang berada di sisi Liben membuat nya tenang dalam tidur.


“Ka Ray”ucap Meli ketika selesai diobati oleh dokter yang ada. Meli bangun dari tidur nya dan mencoba mencari Ray yang tidak ia temukan di dalam ruangan itu.


“Mel, jangan terlalu dipaksa dulu, lu tuh masih lemah”Gia memegang lengan Meli dan menuntun nya kembali duduk di sebuah ranjang.


“Tapi. Ka Ray”Meli masih khawatir dengan keadaan Ray. “Gi, kaya nya ka Ray juga terluka deh”ucapan Meli diangguki oleh Gia. “Hah?, bener ka Ray terluka?”


Gia mengangguk, “Iya, tapi lu tenang aja udah tangani sama yang ahli, oke”Gia berusaha menenanngkan Meli seraya mengelus pelan pundak Meli.


Meli yang mencoba tenang namun tidak bisa, ia terus kepikiran dengan keadaan Ray yang terlukan karena menolong dirinya. Meli berdiri dari duduk nya dan keluar kamar mengikuti segerombolan orang yang membawa sesuatu.


“Ada apa sih?”batin Meli penasaran melihat apa yang sedang di bawa oleh banyak orang. Mata Meli terbelalak kaget melihat Sahat yang sudah berlumuran darah di sekujur tubuh nya, mata Sahat yang tertutup membuat Meli sedih melihatnya.


“Pak, kenapa bang Sahat?”tanya Meli yang sudah berlinangan air mata, sejak Sahat sering menjenguk nya di rumah sakit, Meli menjadikan Sahat sebagai salah satu teman nya.


“Tertembak saat menolong sandra”jawab seorang pria tinggi yang mengangkat tubuh Sahat.


Tubuh Meli lemas sampai ia tidak dapat berdiri dengan kuat, Meli terduduk menatap tubuh Sahat yang terbaring tak


berdaya. “Tapi, bang Sahat masih hidup kan?”tanya Meli berharap mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Pria tadi menggelengkan kepala nya seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Meli yang melihat itu langsung menggelengkan kepala nya tak percaya, Meli menghampiri tubuh Sahat yang terbaring dan mencoba menyadarkan Sahat. “Bang, bang Sahat, bangun bang”Meli menangis hebat saat melihat Sahat yang tak kunjung bangun saat ia menggoyangkan pundak Sahat.


“Mel, Meli”mas Fad mencoba mengangkat Meli berdiri dan menjauh dari jasad Sahat yang akan dibersihkan.


“Mas Fad, bang Sahat...hiks”Meli tak kuasa menahan tangis yang menyesakkan dada nya. Mas Fad mencoba menenangkan Meli seraya mengelus pelan pundak Meli.


Mas Fad yang merupakan teman yang sudah dianggap seperti abang bagi Sahat pun tak bisa menahan air mata nya, ia menangis dengan perasaan yang belum siap untuk kehilangan salah satu adik


terbaik nya.


Ray yang baru saja tiba dari rumah sakit pun langsung menepis semua gerombolan orang yang melihat jasad Sahat. Setiba nya di depan tubuh Sahat yang terbaring lemah, Ray langsung terjatuh dan memeluk jasad Sahat. Tangisan Ray pecah sepecah-pecah nya, air mata nya terus mengalir seraya memandang Sahat.


“Hat, saya juga bahagia bisa kenal kamu, kamu adalah pahlawan sejati”ucap Ray mengelus lengan Sahat yang dipenuhi darah. “Saya bangga sama kamu”bisik Ray di kuping Sahat dengan air mata yang terus


mengalir tanpa henti.


Rafli dan mas Fad pun menghampiri Ray dan memeluk Ray seraya menatap tubuh sahabat mereka yang sudah tidak bisa lagi berbincang, bercanda bersama. Mereka bertiga menangis habat di depan tubuh


Sahat.


Meli yang sudah bisa mengatur kesedihan nya langsung menghampiri Ray, Rafli dan mas Fad yang masih tersedu-sedu. Meli mengelus pundak mereka secara bergantian. “Bang Sahat lagi berangkat ke surga, jangan nangis terlalu lama”ucapan Meli membuat ketiga pria itu berhenti menangis dan berdiri mundur beberapa langkah dari tubuh Sahat.


Meli tersentak kaget saat Ray memeluk dirinya dengan erat. Meli membalas pelukan Ray seraya mengelus pinggang Ray.Tubuh Ray terlalu tinggi jika dibandingkan oleh Meli. Setelah mulai tenang Ray pun melepaskan pelukan nya pada Meli, “Maaf”ucap Ray sebelum pergi meninggalkan Meli yang masih terpaku di tempat.


*****


Ray duduk di bebatuan yang ada di bukit, ia masih merasa sedih dengan kepergian Sahat yang sudah ia anggap sebagai keluarga nya sendiri. Ray memandang pemandangan dengan perasaan nya yang kalut.


“Ka,”panggil Meli yang duduk di sebelah Ray seraya tersenyum. “Aku tau kaka pasti ngerasa kehilangan banget, aku juga gitu, tapi aku ingat kata-kata almarhumah mamah, yang selalu bilang sama aku,”Meli menjeda sebentar ucapan nya. “Kalo ada perpisahan di setiap pertemuan, ada kematian setiap ada kehidupan, ada kebahagiaan setiap ada duka, kita sebagai manusia ga bisa mengelak dari takdir yang udah ditentukan Allah, bahkan jauh sebelum kita terlahir di dunia”ucapan Meli membuat Ray terpaku memandang Meli.


“Ka Ray ga boleh sedih lama-lama, sekarang yang kita harus lakuin ya mendoakan bang Sahat”Meli menepuk pndak Ray pelan dan tersenyum. “Kita antar bang Sahat ke tempat peristirahatan terakhirnya”.


Ray bangung dari duduk nya dan menghembuskan nafas berat yang ia tahan sedari tadi. “Iya, saya harus mengantar pahlawan, untuk istirahat di tempat peristirahatan yang istimewa”ucap Ray tersenyum memandang ke depan nya yang merupakan lembah.


Meli tersenyum melihat Ray yang sudah bisa mengendalikan kesedihannya. “Ka Ray pasti deket banget sama bang Sahat”.


Ray tersenyum menatap Meli, “Yaa, bisa dibilang gitu, dulu dia sering buat masalah pas pendidikan”Ray mengingat saat-saat dulu pendidikan bersama dengan Sahat yang sering kali membuat masalah.


“Oh ya, apa?”


“Dia pernah bolos ga ikut lari pagi, kalo waktu pendidikan itu kan satu orang yang berbuat kesalahan semua rekan nya


yang kena hukum, jadi saya sempat kesel sama dia”Ray tertawa pelan mengingat kejadian waktu itu.


“Tapi dia terus berusaha mendekati saya, dia bilang saat bersama saya dia kaya punya abang dan dia seneng ngobrol, cerita sama saya”sambung Ray masih tersenyum.


“Seru ya”


“Banget, walaupun masa muda saya ga merasakan seperti yang lainnya, tapi saya cukup bahagia saat di Akmil bersama rekan-rekan yang solid”


“Yaudah yu, kita turun kan mau nganter pahlawan istirahat”ajak Meli.


“Aaaa”pekik Meli saat dirinya terpelesat namun langsung tahan oleh Ray yang sigap. Meli menatap mata Ray yang hanya berjarak beberapa centi dari dirinya. Ray pun menatap mata indah milik Meli.


“Maaf ka”ucap Meli yang melepaskan diri dari pelukan Ray saat menolong nya yang tergelincir.


“Bukan nya seharus nya kamu bilang nya makasih ya”


Meli menepuk pelan dahi nya dan kembali menatap Ray dengan senyum, “Oh iya, makasih ya ka udah ditolongin”

__ADS_1


“Sama-sama”Ray menggelengkan kepala nya seraya tersenyum menatap Meli yang menuruni bukit dengan hati-hati takut terpeleset seperti tadi.


*****


Jenazah Sahat akan langsung dipulangkan ke Sumatra Utara dengan upacara yang akan di gelar disana. Sore hari nya Ray terdiam lemas duduk di sebuah bangku dari kayu yang berada di depan salah satu tenda.


Meli menghampiri Ray dan duduk di sebelah nya. “Ka, kerumah sakit lagi aja yu”ajak Meli seraya tersenyum membujuk Ray agar mau di rawat intensif di rumah sakit untuk memulihkan luka akibat tembakan dari pemberontak tadi. Luka yang di alami Ray memang tidak parah jadi masih bisa diobati tanpa harus di rawat namun saran dokter agar di rawat beberapa hari agar Ray cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa.


Ray menggelengkan kepala nya, “Kalo saya balik ke rumah sakit dan dirawat, terus besok saya ga bisa nganter Sahat dong”jawab Ray.


Meli menghembuskan nafasnya, “Ka, tapi luka kaka itu perlu di rawat, kaka juga harus dapet infus”ujar Meli memandang sedih Ray. “Maaf ya ka”ucapan Meli membuat bingung Ray.


“Buat apa?”


“Karna, karna kaka nolong saya jadi kaya gini”air mata Meli mengalir begitu saja walaupun sudah ditahan.


Ray mengusap pelan air mata yang menetes di pipi chuby Meli dengan lembut. “Kamu ga salah Mel”


“Tapi,”


“Saya yang mau ngelindungi kamu”perkataan Ray membuat Meli menatap wajah Ray semakin dalam detak jantungnya semakin berdetak lebih kencang dari biasa nya. “Udah tugas saya”.


Meli memalingkan wajah nya ke arah rerumputan yang ada di sekitar tempat mereka duduk. “Saya berutang budi sama bang Sahat dan ka Ray apa kuncoro dan lainnya”ucap Meli kemudian pergi meninggalkan Ray yang masih duduk menatap kepergian Meli.


“Mel, walaupun saya mati karna ngelindungin kamu, saya ikhlas lahir batin”gumam Ray pelan masih menatap Meli yang lama-lama menjauh. “Saya ga mau kehilangan orang yang saya cintai kedua kali nya”sambung Ray, raut wajah nya datar namun hati nya ini bergejolak, Ray ingin memperjuangkan cinta nya namun ia sudah melamar Karin yang artinya ia sudah berjanji pada kedua orang tua Karin dan ibunya.


*****


Keesokan harinya, pukul 07.00 semua anggota dari kesatuan Ray berkumpul. Sudah ramai anggota TNI dan brimob serta warga desa yang berkumpul mengrumuni peti jenazah Sahat yang akan di bawa ke Sumatra Utara denga pesawat milik TNI.


Ray yang masih lemah berdiri untuk menggotong peti tersebut bersama mas Fad, Rafli dan Kuncoro. Mereka memasukan peti ke dalam ambulans. Mas Fad, Rafli dan Ray ikut masuk ke dalam ambulans untuk mengantar Sahat ke bandara.


Sedangakan 7 orang lainnya yang juga akan ikut terbang ke Sumatra Utara pun menaiki sebuah mobil losbak menuju bandara. Meli dan Gia yang memang di jadwalkan untuk pulang kembali ke Jakarta pun ikut ke bandara yang sama dengan tujuan rombongan yang mengantar Sahat.


Setibanya di bandara, Meli dan Gia melihat peti Sahat di masukan ke dalam bagasi pesawat, kemudian Ray dan rekan nya masuk ke dalam pesawat. Namun Ray kembali keluar pesawat setelah mendapatkan izin.


Ray berlari kearah Meli yang terdiam dan bingung melihat arah berlari Ray. “Mel, ini dari Sahat, kenang-kenangan untuk kamu”Ray menyerahkan sebuah gantungan yang terukir nama nya.


Meli menerima gantungan itu dengan senyum getir, “Untuk aku?”.


Ray mengangguk, ‘Iya, satu lagi buat Rani”.


Air mata Meli turun mengalir, Meli masih melihat dua gantungan kunci yang diberikan oleh Sahat sebagai kenang-kenanganya.


“Jaga diri kamu baik-baik, kamu harus selalu sehat dan bahagia”ujar Ray yang tersenyum menatap Meli sendu.


Ray mengangguk dan berjalan pelan kembali menuju pesawat. Di pertengahan saat hendak menaiki pesawat, langkah Ray terhenti ia sontak menoleh ke belakang nya dan mendapati Meli yang menahan lengan nya dengan mata sendu berlinang air mata.


“Apa kita bisa ketemu lagi?”pertanyaan Meli membuat Ray terdiam, ia bingung ingin menjawab apa.


“Kalo Allah mengijinkan pasti kita bakal ketemu lagi Mel”jawab Ray dengan senyuman untuk meyakinkan Meli.


Meli masih menatap Ray dengan sendu, ia merasa tidak ingin berpisah dari Ray. Meli menganggukan kepala nya, “Maaf ka”Meli pergi meninggalkan Ray yang masih dalam posisi menatap nya pergi.


Gia yang melihat Meli pergi begitu saja langsung mengejar nya. “Mel”Gia mencoba menenangkan Meli yang menangis sejadi-jadi nya di dalam bandara seraya duduk di dekat kaca yang bisa melihat pesawat lepas landas.


“Mas, ayo masuk”ucap Karin yang memang ikut dengan Ray untuk mengantar Sahat. Karin melihat semua yang terjadi saat Ray dan Meli terlihat saling mengucapkan perpisahan. Dalam hati Karin merasa jika Ray sebenarnya memiliki perasaan yang lebih pada Meli. Terlihat dari saat Ray bicara dnegan Meli yang penuh dengan senyuman dan lebih ekspresif dibanding dengan orang lain termasuk dirinya.


Namun Karin juga tak bisa membohongi hati nya, tidak ada rasa cemburu yang berarti saat melihat Ray dan Meli justru Karin merasa seperti sudah menghalangi dua insan itu bersatu. Perasaan Karin masih sepenuh nya milik Denis, mantannya.


Setelah Ray masuk ke dalam pesawat, pesawat pun langsung lepas landas dengan sempurna. Meli melihat kepergian Ray dari tempat nya berdiri masih dengan perasaan sedih yang menyelimutinya. Meli takut jika nanti tidak bertemu lagi dengan Ray. Meli mempunyai prisip tidak akan pernah menganggu seorang laki-laki yang sudah menikah.


Saat mengetahui Ray akan menikah dengan Karin, perasaan nya meledak campur aduk, sedih iya, takut iya. Namun Meli akan terus mencoba untuk melupakan hal-hal yang membuat dirinya menjadi lemah dan sedih.


Meli berjalan kemudian duduk di ruang tunggu pesawat. Gia menghampiri Meli dan menepuk bahu Meli pelan.


“Ngapain?”tanya Gia.


Meli bingung mendengar pertanyaan Gia, “Loh, bukan nya kita mau balik ke Jakarta”ucap Meli dengan polos nya.


Gia tertawa pelan mendengar jawab Meli, “Iya, tapi kita kan dijemput sam pesawat pribadi keluarga lu”jawaban Gia membuat Meli menepuk dahi nya kemudian berdiri dan pergi ke tempat dimana pesawat pribadi nya itu berada.


*****


Sesampainya dirumah, Meli langsung mencari Rani kedalam kamar nya, namun ia tidak melihat Rani di dalam nya, Meli keluar menuju dapur dan ruangan lainnya namun hasilnya nihil ia tidak menemukan Rani.


“Bi, Rani sama papah mana ya?, ko sepi gini”tanya Meli pada Bi Sumi yang sedang mengelap meja dapur.


Bi Sumi terdiam sebentar, “Non, sebenernya,”jawaban bi Sumi terhenti. “Non Rani drop masuk rumah sakit dari tiga hari yang lalu”sambung bi Sumi.


Meli yang mendengar itu kaget dan lemas hingga terduduk di kursi bar di depan dapur. “Drop?”pekik Meli tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan bi Sumi.


“Iya non”


Tanpa berpikir panjang, Meli langsung mendatangi rumah sakit tempat Rani di rawat dengan perasaan cemas dan sedih.Dia sudah kehilangan teman nya dan kini tidak ingin kehilangan adik satu-satu

__ADS_1


nya.


*****


“Mas Hendra”pekik Meli saat melihat Hendra yang duduk dengan gelisah di depan kamar rawat.


“Meli”mas Hendra langsung memeluk Meli dengan erat nya. “Kamu udah sehat, ya Allah, terima kasih”Hendra sangat bersyukur bisa melihat Meli dalam keadaan sehat.


“Mas, gimana Rani?”tanya Meli cemas.


“Rani,”ucapan Hendra terpotong.


“Rani alhamdulillah sehat ko, itu dia lagi makan apel”Guntur menunjuk ke dalam kamar rawat Rani. Memang benar Rani sedang memakan buah apel.


"Rani, ”Meli langsung masuk ke dalam kamar rawat Rani.


Meli memeluk Rani dengan erat ia menangis lagi setelah berhenti cukup lama. “Ya Allah Ran, kamu sakit apa sih?”tanya Meli melepaskan pelukan nya pada Rani.


“Cuma biasa ko ka, tipes”jawab Rani berbohong, Rani masih belum ingin mengatakan yang sebenarnya pada Meli karna takut Meli menjadi cemas yang berlebihan.


“Yaudah mba bakal temenin kamu terus”Meli duduk di kursi samping ranjang Rani.


“Hendra”Kusuma berjalan cepat menghampiri Hendra yang masih terduduk di depan kamar rawat Rani.


“Gimana keadaan Rani?”


“Dia semakin drop pah tadi, kata dokter,”Hendra menahan omongan nya karna merasa berat untuk mengatakan nya.


“Apa Hen?”tanya Kusuma yang sudah penasaran dengan kondisi Rani.


“Kata dokter, penyakit Rani udah semakin menjalar sampai ke otak pah”jawab Handra kemudian menutup wajah nya yang mulai basah dengan air mata.


“Astagfirullah”Kusuma duduk di samping Hendra keget denga apa yang di sampaikan Hendra.


“Kita cuma bisa berdoa pah”Hendra merangkul Kusuma yang juga menangis di samping nya.


*****


“Huh...huh...”Meli terbangun dengan nafas yang terengah-engah.


“Mba kenapa?, mimpi buruk?”tanya Rani yang sedang meminum susu.


Meli menggeleng, “Ngga Cuma mimpi aneh aja”jawab Meli berbohong. Meli bangun dari tidur nya dan melaksanakan sholat subuh.


Meli melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk, setelah nya ia berdoa untuk keselamatan Rani dan keluarganya tak lupa menyelipkan doa untuk Ray agar selalu sehat dan bahagia. Setelah sholat ia melipat mukena dan sajadah nya kemudian menaruh nya di sofa.


“Jadi, pria itu bener-bener ka Ray”batin Meli menatap layar tv.


“Mba, mba Meli”Rani menyadarkan Meli dari lamunan nya.


“Kenapa?, kamu butuh sesuatu Ran?”tanya Meli yang tersadar dari lamunan nya.


Rani menggeleng, “Mba kenapa bengong?”tanya Rani menatap bingung Meli.


“Ga papa ko Ran”ucap Meli meyakin kan Rani.


Meli keluar kamar rawat Rani untuk mencari makanan yang diinginkan. Saat meli hendak menaiki lift ia melihat


Hendra sedang menelpon seseorang di sudut ruangan. “Mas Hendra"gumam Meli pelan kemudian menghampiri Hendra ingin memberi kejutan .


“Iya pah, kata dokter, kanker yang di derita Rani udah parah, udah nyebar organ lainnya”ucap Hendra yang sedang


menelpon Kusuma.


Meli yang awal nya tersenyum jahil pun terdiam mendengar perbincangan Hendra dan Kusuma di telpon. Meli duduk di kursi yang ada di samping nya, menunggu Hendra selesai menelpon.


“Jelasin mas, kanker apa yang di derita Rani, separah apa kanker nya, sejak kapan Rani menderita kanker”ucap Meli membuat Hendra kaget melihat Meli yang duduk di kursi sampingnya.


Hendra duduk di samping Meli dan menjelaskan semua nya perlahan pada Meli, Hendra menyuruhh Meli untuk bersikap biasa saja saat berhadapan dengan Rani. Meli hanya mengangguk saat di suruh seperti itu oleh Hendra. Meli menangis saat mendengar cerita dan penjelasan dari Hendra mengenai penyakit yang di derita adik nya.


“Kita harus tetep berdoa dan berikan semangat penuh sama Rani, jangan sampe Rani ngeliat kita sedih”ucap Hendra yang hanya di angguki oleh Meli masih dengan tangisan nya. Kemudian Hendra merangkul Meli mencoba menenangkan nya.


*****


Januari, 2022


Rani pulang dari rumah sakit, setiap aktivitas nya harus menggunakan kursi Roda karena tubuh nya yang sangat lemah. Rani sangat senang saat mengetahui dirinya dapat kembali lagi ke rumah yang ia rindukan.


“Rani, kamu harus inget kata dokter, banyak istirahat dan makan”Meli mengingatkan Rani yang hanya mengangguk dan tersenyum lemah.


“Ran, mba mau pergi dulu sebentar, kamu dirumah sama bi Sumi dan mas Hendra ya”pamit Meli seraya berjongkok memegang tangan Rani.


Rani mengangguk palan, “Iya mba, hati-hati ya”balas Rani tersenyum lebar.


“Mas jagain loh, awas ya”ucap Meli pada mas Hendra yang hanya mengangguk dan tersenyum pelan menatap Meli.

__ADS_1


Meli pergi meninggalkan rumah nya, ia ingin berkunjung ke rumah Ray yang berada di Asrama Yonkav 1, Cijantung. Tidak terlalu jauh dari rumah Meli. Meli mengendarakan mobil nya dengan hati-hati, ia masih sedikit trauma dengan kecelakaan yang dialami nya beberapa bulan lalu.


*****


__ADS_2