
“Apa itu?”tanya Meli yang melihat map bewarna hijau di tangan kanan Ray.
“Ini berkas”jawabnya tenang kemudian masuk ke dalam kamar dan menyimpan berkas itu di lemarin nya. “Kamu ga masak, udah mau jam makan malam ini”.
Meli bangun dari duduknya, “Liat ke meja makan, udah ada isinya atau belum”Meli kembali duduk dan menulis di buku diary pemberian Ray.
Ray mengecek meja makan dan ternyata sudah tersaji berbagai macam lauk, nasi putih, dan beberapa macam gorengan. “Waaah, pengertian juga ternyata”gumam Ray pelan.
“Janganambil makanannya sebelum cuci tangan ya mas”Meli seakan tau jika Ray ingin mengambil bakwan jagung, mendengar itu Ray langsung mengurungkan niatnya untuk langsung mengambil bakwan jagung sebelum ia mencuci tangannya.
Saatnya makan malam tiba, Ray dan Meli sudah duduk di bangku nya masing-masing, “Oke, selamat makan”ucap Meli yang mulai menyendok nasi dan beberapa lauk nya.
“Baca doa”Ray mengingatkan Meli yang belum membaca doa sebelum makan.
“Oh iya, lupa”
“Ini apa?”Ray bertanya dengan menunjuk ikan yang berada di hadapannya.
“Itu, bandeng bumbu rujak”jawab Meli yang melahab kembali makanannya.
“Hah, ikan?”
“Iyalah, emang ada nama hewan bandeng selain ikan?”
Ray menggeleng, “Kapan kamu beli ikan?”
“ga tau, orang ada bungkusan isinya bandeng di kulkas”
“Oh, pasti itu yang kemaren dikasih mba Sarah”
“Mba Sarah?, kayak nama sepupu aku”
“Emang”jawab Ray melanjutkan makannya.
“Hm?”
“Iya, jadi, tunangannya mas Fad itu ya sepupu kamu, mba Sarah”jelas Ray.
“Oh, masa sih”
“Iya Meliii”
“Oya, mas ko ga pake bandeng nya enak loh”Meli menyodorkan piring berisi bandeng bumbu rujak buatannya.
Ray langsung menggeleng seketika menolak memakan pindang rujak yang rasanya pedas manis seger. “Ngga,
aku ga suka ikan”jawab Ray.
“Kenapa ga suka, enak tau, ikan itu banyak vitamin dan gizi yang baik loh untuk tubuh, cobain deh sedikit aja”Meli mengambil sepotong kecil ikan bandeng dan menaruh di piring Ray.
“Ngga mau, amis”
“Cobain dulu baru komen”Meli berusaha membuat Ray memakan ikan bendeng nya. “Ayo, enak tau aku aja suka ko”
“Yaa itu kan kamu, lagian kenapa suka ikan sih?”tanya Ray yang menghindar memakan ikan bandeng.
“Yaa karna ikan itu sehat, lebih sehat dari ayam dan daging tau”jawab Meli masih terus melahab makanannya
yang tersisa. “Buat nya juga butuh perjuangan”.
Ray yang melihat Meli sedikit merengut pun langsung memakan ikan bandeng dengan kedua mata yang tertutup.
Meli yang melihat Ray pun tersenyum senang, “Gimana?, enakkan?”tanya Meli yang antusias mendengar respon Ray.
Ray membuka matanya dan tersenyum menatap Meli, “Enak ternyata”.
“Kan bener, enak”Meli senang mendengar apa yang dikatakan Meli.
“Saya tambah lagi ya”
“Huuuu, tadi aja ga mau hahaha, yaudah habisin ya”Meli tertawa pelan melihat tingkah Ray yang terkadang seperti anak kecil.
*****
Meli dan Ray memlih untuk duduk bersantai di hamalan samping rumah Ray dengan secangkir teh hangat. Ray yang menatap awan malam dihiasi oleh banyaknya bintang yang bertabur serta bulan sabit yang indah.
“Mas,”panggil Meli, Ray langsung menoleh menatap Meli dengan tatapan yang bertanya. “Hari ini papah pulang, dan dia langsung jenguk aku di rumah sakit dia,?”ucapan Meli terputus saat Ray memegang lengannya.
“Papah kamu udah pulang?”tanya Ray dengan bersemangat.
Meli mengangguk pelan dan bingung melihat Ray yang bersemangat mendengar papah nya pulang. “Kamukenapa semangat banget gitu mas?”tanya Meli penasaran.
Ray menggeleng, “Ngga, aku cuma seneng berarti papah kamu masih peduli dan sayang sama kamu”elak Ray. Ray bersemangat karena akhirnya waktu yang ia tunggu tiba dengan cepat tanpa ia duga.
“Oooh, papah keliatan nya sedih dan nyesel udah nelantarin aku sama Rani mas”
“Iyalah pasti, dia nelantarin kamu sama Rani yang padahal kalian itu berharga”
“Aku?, berharga?”tanya Meli seraya meunjuk ke arah dirinya sendiri.
Ray mengangguk, “Iya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini semua nya berharga tanpa terkecuali”.
Meli tersenyum masih memandang Ray yang tersenyum, “Mas, kaya nya kamu harus banyak senyum deh”
Ray menoleh dan menatap Meli bingung, “Kenapa emang nya?”.
“Kalo kamu banyak senyum aura kamu tuh positif banget, dan. Tambah manis”
Jawaban Meli membuat Ray tersipu, “Ngga ah biasa aja”.
“Cieee salting ya”ucap Meli melihat Ray yang pura-pura membenarkan posisi tanaman anggrek yang sebenarnya sudah rapih dan tersusun. “Ciee salting, seneng ya aku bilang manis?”Meli menyikut lengan Ray.
‘Drrtt...drrrtt’handphone milik Ray bergetar, dengan cepat ia langsung menjawab telpon yang ternyata dari Karin.
“Iya rin?”
“......”
“Oh iya, saya hampir lupa, yaudah saya siap-siap dulu ya”
“......”
“Iya, kamu juga hati-hati loh nyetirnya”
“......”
“wa’alaikumsalam”
“Siapa?”tanya Meli setelah Ray menutup telpon nya.
“Karin”jawab Ray singkat.
“Karin?, dokter Karin?”
__ADS_1
Ray hanya menganggukan kepalanya kemudian bergegas masuk kedalam rumah untuk berganti pakaian, ia dan Karin ada janji untuk menonton bioskop bersama di mall yang berada tidak jauh dari asrama Ray.
“Kalian mau pergi?”tanya Meli dengan sedikit rasa sedih dan kecewa.
Ray mengangguk, “Iya, nonton bioskop”Ray sengaja memberi tahu Meli, ia ingin melihat reaksi Meli saat tau dirinya akan menoton film bersama Karin.
“Oooh, nonton bioskop, seru dong”ucap Meli berusaha biasa saja.
“Iyalah seru, genre nya sih romance gitu”Ray tertawa pelan saat melihat meli memajukan bibirnya.
“Aku mau ikut”ucap Meli seraya bangun dari duduk nya. “Bukan nya aku mau ikut kalian ya, aku Cuma bosen aja dirumah terus”Meli berusaha bersikap biasa walaupun sebenarnya dalam hatinya sedang dibakar api cemburu.
“Gimana ya”Ray berpura-pura menimang permintaan dari Meli, padahal dirinya senang jika Meli ikut nonton bersama.
“Ga boleh?, yaudah”ujar Meli yang sudah kesal dan cemburu pada Ray, ditambah sikap Ray yang seperti tidak
ingin diganggu olehnya.
“Boleh”ucap Ray menahan tangan Meli yang ingin pergi dari rumah Ray.
Meli menghentikan langkahnya dan menatap Ray kamudian tersenyum, “Yess”Meli senang dirinya diperbolehkan ikut dengan Ray dan Karin menonton film.
*****
“Pah,”Rani berusaha membangunkan Kusuma yang tertidur di samping tubuh Meli.
Kusuma yang mendengar namanya dipanggil pun terbangun secara perlahan. “Kenapa Ran?”tanya Kusuma seraya mengucek matanya pelan.
“Pah, papah kan belum makan malem, ini aku beliin nasi goreng spesial buat papah”Rani memberikan bungkusan yang berisi nasi goreng spesial pada Kusuma.
“Makasih ya Ran, kamu sendiri udah makan?”Kusuma menerima bungkusan yang diberikan oleh Rani seraya tersenyum.
Rani mengangguk beberapa kali, “Udah tadi bareng ka Raf,”ucapan nya terhenti saat tersadar ingin menyebut nama Rafli di hadapan Kusuma.
Kusuma yang tadinya hendak menyendokan nasi goreng pun terhenti, “Apa?, Raf siapa Ran?”.
Rani menggelengkan kepala dengan cepat, “Ngga pah, aku udah makan tadi bareng mba Sarah sebelum pamit pulang”elak Rani, sebenarnya memang benar Rani makan malam dengan mas Fad dan juga mba Sarah serta Rafli yang ikut pula dalam makan malam bersama itu.
“Oooh, kirain anak yang waktu itu”
“Bu, bukan pah, bukan”.
“Ran, kamu juga harus jaga kesehatan, jangan sampe kamu sakit, kamu harus sehat biar terus bisa dampingin papah untuk menjadi seorang papah yang membanggakan”
Ucapan Kusuma membuat hati Rani terenyuh mendengarnya, Rani baru pertama kali mendengar ucapan yang
seperti keinginan seorang ayah, ayah yang perhatian agar anak nya menjaga kesehatannya, ayah yang menyayangi keluarga. Perkataan Kusuma membuat Rani menahan tangis nya.
“I, iya pah, Rani juga sehat-sehat aja ko sekarang”ucap Rani tersenyum tulus pada Kusuma yang melahab habis nasi goreng yang ia belikan.
“Pah, kenapa ga pulang bareng mama Lani?”pertanyaan Rani membuat Kusuma berhenti melipat bungkusan nasi goreng yang sudah ludes.
“Rani ga perlu tau saya dan Lani ada masalah”batin Kusuma saat terdiam, “Mmm. Mama lagi ada keperluan
lagi di singapur, makanya ga ikut papah pulang dan jenguk Meli”.
Rani mengangguk paham dengan apa yang Kusuma sampaikan, “Pah, kenapa waktu mba Meli kecelakaan, papah menyewa pengacara yang bahkan tidak membela mba Meli sama sekali,”ucap Rani.
Kusuma mengerutkan kedua alisnya, “Maksudnya?”tanya Kusuma yang tidak mengerti dengan apa yang baru saja Rani ucapkan.
“Papah sewa orang buat menetupi semua apa yang sebenernya terjadi sama mba Meli kan?”
“Ran, papah aja baru tau kalo Meli kecelakaan itu dua hari yang lalu sebelum akhirnya papah putusin untuk meninggalkan semua urusan papah dan pulang untuk melihat kondisi Meli dan kamu”jawaban yang diberikan Kusuma membuat Rani kaget terdiam, Rani tidak tahu jika selama ini Kusuma tidak mengetahui kecelakaan Meli padahal Lani mengetahui semuanya dan Lani pula yang menyewa pengacara atas perintah Kusuma.
Kusuma mengangguk pelan, “Iya Ran, papah juga percaya sama Meli, dia itu ga mungkin minum alkohol dan mabuk kaya gitu”Kusuma setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Rani, “Kamu tenang aja, papah akan menyuruh anak buah papah untuk mengetahui apa penyebab Meli kecelakaan sebenarnya”sambung Kusuma seraya menepuk pelan bahu Rani sementara Rani hanya mengangguk mengerti.
*****
“Huh bohong, katanya mau nonton film romantis, tau nya nonton film horor”gumam Meli kesal dengan Ray yang membohonginya.
“Kamu bisa diem ga, film mau mulai ini”ujar Ray menatap tajam ke arah Meli yang duduk di sebelah kanan pojok bioskop, kebutulan saat itu bioskop tidak ramai dan banyak pula bangku yang masih kosong. Sedangkan Karin duduk di sebelah kiri Ray, kini Ray diapit oleh dua wanita.
“Iya ish”Meli menepuk pelan kedua paha nya mempersiapkan dirinya untuk menonton film horor.
Saat film sedang diputar, ada banyak adegan yang membuat beberapa penonton tegang dan ketakutan namun tidak pada Ray yang terlihat tenang menikmati setiap adegan yang menegangkan. Meli yang ketakutan langsung memegang lengan Ray mencengkramnya sekuat tenaga untuk mengurangi ketakutannya.
“Aw”pekik Ray saat Meli mencubit paha nya.
Karin menoleh dengan heran, “Kamu kenapa Ray?”tanya Karin seraya melihat apa yang terjadi.
“Ngga tadi. Kaya ada semut gigit paha saya”jawab Ray ngawur.
Meli yang mendengar jawaban Ray pun tertawa, “Hahaha, semut, aku semut dong berarti”.
Ray hanya menoleh sebentar pada Meli dan kemudian kembali fokus pada layar film. Karin juga fokus memperhatikan film kembali setelah beberapa kali menatap Ray dalam diam. Sedangkan Meli yang penasaran dengan ending cerita film itu pun terus menyaksikan nya walaupun kadang bersandar pada Ray ketika takut saat hantunya muncul.
“Aaa”Meli memeluk setengah tubuh Ray dengan cengkraman kuat di lengan Ray. Hal itu dilakukan Meli setiap kali ia takut saat menonton film.
Ray tersenyum setiap kali melihat Meli yang ketakutan dan mengembuskan nafas pasrah saat Meli mencengkram lengan nya dengan kuat.
*****
Sesampainya di rumah, Ray langsung merebahkan dirinya di atas sofa sementara Meli berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air. Tenggorokan Meli terasa kering setelah berteriak saat menonton film horor di bioskop tadi.
“Mas, kamu sama dokter Karin deket ya?”tanya Meli yang penasaran dengan hubungan Ray dan Karin. Tak dapat dipungkiri ada perasaan tidak suka saat Ray jalan atau bersenang-senang bersama wanita lain.
Ray tebangun dari rebahan nya, “Dibilang deket ga juga sih, tapi kita berdua emang udah dijodohin”jawab Ray dengan santai seraya membuka bungkus es krim yang dibeli saat pulang dari nonton bioskop.
“Dijodohin?”Meli membulatkan matanya kaget kemudian menghampiri Ray yang asik memakan es krim nya. “Mas dijodohin sama dokter Karin?”
Ray hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah es krim nya abis ia langsung membuang sampah pada tempat nya di dapur kemudian kembali duduk menatap Meli yang fokus menulis diary. “Tapi kita berdua ga saling suka ataupun cinta”ucap Ray menyalakan tv untuk menonton tim bola kesukaan nya.
Meli sontak langsung menatap Ray, “Kalo ga saling cinta, ko mau dijodohin”.
“Yaa, namanya juga usaha, kan dicoba dulu untuk buka hati satu sama la...”ucapan Ray dipotong oleh Meli.
“Ngga”sanggah Meli cepat, “Kalo emang ga ada rasa ya ga usah dilanjut lah, emang mas ga ada cewe lain yang disuka?”
Ray menatap Meli bingung kemudian tersenyum, “Kan cinta bisa dateng kapan aja seiring waktu, jadi saya sama Karin mungkin bisa saling cin....”
“Hoaaam, ngantuk tidur ah, udah tidur tidur”Meli mengambil remot yang ada ditangan Ray lalu mematikan tv kemudian menarik lengan Ray agar bangun dari tidur nya.
“Kamu kenapa sih?”tanya Ray yang bingung dengan sikap Meli.
Meli menggeleng, “Ga papa, kan besok pagi mas ada kegiatan kan?”
Ray menggeleng, “Ngga, besok saya libur”
“Yaudah, tapi tetep harus tidur kan, udah malem, tuh udah jam sebelas lebih”ucap Meli menunjuk ke arah jam dinding.
Ray akhirnya beranjak dari sofa dan masuk ke kamar nya untuk tidur sesuai perintah Meli. Sedangkan Meli ia tidak tidur melainkan menulis diary nya. Meli mengambil salah satu buku yang ada di meja tv dengan perlahan.
__ADS_1
“Apa ini?”gumam Meli seraya membuka buku yang sedang ia pegang. “Oooh, album foto toh”pekik Meli sedikit kencang, Meli membekap mulutnya yang memekik cukup kencang.
“Wooo, mas Ray”gumam Meli saat melihat foto Ray saat masih menjadi taruna di akademi militer. “Ganteng ya, keren”Meli menatap takjub foto Ray dengan seragam taruna yang digunakan saat sedang pesiar.
“Ini siapa?”Meli menatap bingung foto wanita cantik berhijab yang bersama dengan Ray.
Meli tidak ingin ambil pusing, ia menganggap jika wanita itu mungkin teman Ray atau saudara Ray. meli
mengambil satu foto Ray kemudian ia tempelkan di buku diary nya.
*****
“Selamat pagi pah”ucap Rani yang sudah rapih dengan seragam SMA nya.
“Pagi sayang, Rani kamu berangkat dianter sama pa Imam kan?”tanya Kusuma yang sedang memotong apel untuk sarapan Rani sebelum berangkat sekolah.
Rani menggeleng, “Ngga pah, aku bareng temen aku”jawab Rani seraya tersenyum riang.
“Oooh, oya kemaren siapa yang bantu daftarin kamu ke sekolah?”pertanyaan Kusuma membuat Rani berhenti menali sepatu nya dan terdiam.
“Ada pah, temen Rani”jawab Rani berbohong, Rani takut jika papah nya akan marah jika ia bilang kalau Rafli lah yang membantunya mendaftar sekolah.
“Oh, sampaikan terima kasih papah sama keluarga temen kamu ya, nanti kamu mampir ke toko kue dulu ya, buat beli kue untuk keluarga temen kamu yang udah bantu kamu daftar sekolah”
Rani mengangguk paham, “Iya pah, nanti pulang sekolah aku mampir ke toko kue”.
Rani menyalami tangan Kusuma dan kemudian pergi ke sekolah. Rafli yang sudah menunggu Rani untuk
mengantar nya ke sekolah pun langsung memansangkan helm pada Rani dan kemudian berangkat menuju sekolah Rani.
Sementara Kusuma sedang menyantap bubur sebagai sarapan nya. Ia sesekali mengetik di laptop yang dibawa nya.
“Permisi pak”ucap Guntur memasuki ruang rawat Meli.
“Iya gun?”
“Pak, saya punya kabar penting untuk bapak”
Kusuma menghentikan makannya dan fokus pada apa yang ingin disampaikan Guntur.
“Rani. Menderita kanker tulang, dan sudah menyebar ke hati dan paru-paru nya pak”perkataan Guntur membuat Kusuma lemas dalam duduk nya.
“Pak, bapak gapapa?”tanya Guntur yang khawatir melihat Kusuma yang syok dengan kabar yang ia beritahukan.
“Ga mungkin, Gun. Rani sehat ko dia juga sekolah tadi”Kusuma tidak mempercayai apa yang di beritahukan Guntur.
Guntur mengeluarkan handphone nya dan menunjukkan foto saat Rani ditemani Rafli menjalani proses kemoterapi serta dokumen yang menyatakan jika Rani mengidap kanker tulang.
Melihat bukti yang ditunjukan Guntur semakin membuat Kusuma lemas, “Saya harus apa agar Rani bisa sembuh Gun?”tanya Kusuma sedih, ia tidak menyangka jika putri bungsunya akan mengidap penyakit mematikan seperti kanker.
“Dari yang saya tau, kanker tulang yang di derita Rani itu sudah menyebar ke paru-paru dan hati sehingga susah untuk disembuhkan secara total”jawab Guntur.
“Lakukan apa pun untuk menyembuhkan Rani, dia masih sangat muda Gun”ujar Kusuma yang tidak tega melihat Rani menderita karena kanker yang diderita nya.
Guntur mengangguk menyanggupi apa yang diperintahkan Kusuma, “Baik pak, saya akan cari tau adakah alternatif untuk penyembuhan Rani”ujar Guntur meyakinkan Kusuma.
*****
Meli mencuci semua peralatan bekas ia memasak seraya bersenandung kecil. Ray yang baru terbangun langsung menghampiri meja makan dan duduk di bangku dengan mata yang masih mengantuk.
“Mandi dulu baru makan”ucap Meli yang melihat sekilas ke arah Ray.
“Nanti aja, makan dulu”jawab Ray dengan malas dan mengantuk.
“Mandi dulu mas, biar enak makan nya”
“Iyaaa”Ray kemudian bangun dari duduk nya dan langusng memasuki kamar mandi tanpa membawa handuk dan perlengkapannya.
“Handuk nya, baju dan celana nya jangan lupa”Meli mengingatkan Ray, Ray pun keluar kamar mandi lalumengambil handuk serta baju dan celana nya kemudian kembali memasuki kamar mandi.
“Dasar”Meli menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ray. “Udah mandinya?”Meli bertanya seraya menyiapkan piring untuk Ray dan dirinya.
Ray menganggukan kepala nya seraya mengusap rambutnya yang basah sehabis keramas. “Kamar mandi bersih
banget, wangi lagi”ucap Ray seraya tersenyum mengingat kondisi kamar mandi yang terlalu nyaman untuk sebuah kamar mandi.
“Yaiyalah, kamu harus bersihin kamar mandi seminggu dua kali, biar bersih dan wangi kamar mandinya”.
“Iya, insyaAllah kalo ga lupa”jawab Ray yang sedang menyendokkan nasi ke piring nya.
“Ga bisa gitu, harus ga boleh lupa, haram”
Ray menatap Meli dengan senyum nya kemudian kembali pada kegiatan nya untuk menyantap sarapan yang enak dan bergizi buatan Meli.
*****
Setelah sampai di rumah sakit, Ray pun langsung bergegas menemui Kusuma yang berada di kamar rawat Meli. Di perjalanan dia juga memperhatikan sekitar, ia takut jika ada yang melihat nya bersama dengan Kusuma, terutama Karin pasti akan menjadi panjang cerita nya.
“Permisi”Ray memasuki kamar rawat Meli dengan sopan.
“Iya?”jawab Kusuma yang sedang menonton tv di sofa kamar rawat Meli.
“Permisi om, saya Ray, saya mau ngasih ini”ucap Ray menunjukan map bewarna hijau pada Kusuma yang terlihat
bingung menatap Ray.
“Apa itu? dan kamu siapa?”
“Saya Ray, saya temen nya Meli di kampus om, saya mendengar bahwa kecelakaan Meli ini di sengaja makanya saya mencoba mencari tahu kebenaran nya”
“Terus kamu menemukan kebenaran nya?”
Ray mengangguk, “Ini pa”Ray menyerahkan map hijau pada Kusuma.
Kusuma menerima map hijau itu dan kemudian membuka untuk mengetahui apa saja file yang berada didalamnya. “I. Ini”.
“Iya pa, itu semua telah direncanakan oleh ibu Lani”
“Kurang ajar ular satu itu”
“Maaf pa, saya cuma mau memberikan itu saja, semoga bapa bisa membuat ibu Lani mendapatkan hukumannya”ucap Ray sebelum pamit pulang pada Kusuma.
“Tunggu, kamu ko bisa dapetin bukti ini semua?”
“Iya pa, saya punya om yang kerja nya membuka jasa detective swasta”jawab Ray seraya tersenyum sopan.
Kusuma mengangguk, “Terima kasih sekali nak Ray, ini sangat berarti untuk keluarga saya”ucap Kusuma tulus.
“Iya pa sama-sama, saya juga ingin keadilan dan nama Meli dibersihkan kembali”.
Tak lama dari itu Ray pun pamit pulang, karena ia hanya bilang akan pergi sebentar pada Meli yang pasti sedang bosan menunggu nya di rumah.
__ADS_1
*****