
Setelah sampai di depan rumah Ray, Meli mengetuk pintu rumah Ray beberapa kali seraya mengucapkan salam. Setelah menunggu lama namun tidak ada yang membukakan pintu nya karena Meli merasa jika Ray tidak berada di rumah akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah mas Fad yang berada di gang sebelah nya.
“Assalamu’alaikum”ucap Meli seraya mengetuk pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam, Meli”jawab mba Sarah dan langsung memeluk Meli. “Ada apa?, tumben main kesini?”tanya Sarah mengajak masuk Meli ke dalam rumah nya.
“Ngga mba, aku sebenernya mau ke rumah mas Ray tapi kaya nya ga ada orang”jawab Meli.
“Sejak kapan kamu manggil Ray pake embel-embel mas?”Sarah bingung mendengar Meli menyebut Ray dengan kata ‘mas’.
“Aku udah inget semua nya mba”
“Hah?”
“Selama aku koma, aku inget semua kejadian nya”Meli tersenyum menatap sarah yang masih bingung.
“Jadi, kamu udah inget semua nya Mel?”
Meli mengangguk sebagai jawaban nya. “Makanya aku mau ke rumah mas Ray, untuk coba cari buku harian aku”
Sarah mengangguk paham, “Tapi Ray nya lagi di Bantul Mel”
“Bantul?, ngapain?”tanya Meli yang penasaran.
“Iya, kata nya dia mau mempersiapkan pernikahan nya”ucap Sarah dan langsung menutup mulutnya. “Mel, kalo kamu mau ke rumah nya buat cari itu buku, aku mintain kunci rumah nya di Rafli ya, bentar”Sarah beranjak dari duduk nya dan menelpon Rafli.
Tak lama kemudian Rafli datang, “Assalamu’alaikum”ucapnya saat di halaman depan rumah mas Fad.
“Wa’alaikumsalam”jawab Sarah dan Meli bersama, mereka keluar rumah untuk menemui Rafli.
“Mba Meli”sapa Rafli ramah.
Meli tersenyum ramah pada Rafli. Sarah mengambil kunci yang si sodorkan oleh Rafli kemudian memberikan nya kepada Meli. Meli menerima kunci itu dan mengangguk. “Tapi aku ga bisa sendirian”ucap Meli.
“Yaudah, Rafli anterin Meli ya”. “gapapa kan Mel?”
Meli mengangguk sebagai jawaban nya. “Ayo Raf”ajak Meli.
Sesampainya di depan pintu rumah Ray, Rafli pun membuka pintu nya kemudian masuk ke dalam rumah Ray yang rapih dan kosong. Meli berjalan pelan, ia mengingat mimpinya yang sama persis seperti apa yang ia lihat secara nyata di rumah Ray.
Meli terhenti sebentar di ruang tengah, ia melihat tv, kamar Ray dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Meli melanjutkan berjalan ke dapur dan melihat tidak ada perubahan di dapur yang sering ia gunakan membuat berbagai jenis makanan dan minuman untuk Ray.
Ia merasa sangat familiar dengan rumah Ray. Meli kembali ke ruang tengah dan membuka laci yang ada pada meja tv Ray. Meli tersenyum senang melihat buku diary nya yang masih ada di tempat saat
terakhir ia meletakan nya.
“Raf, ayo kita keluar, aku udah nemu barang nya”jawab Meli senang. “Makasih ya Raf”ucap Meli pada Rafli yang ikut senang dengan penemuan buku diary nya.
“Mba, keadaan Rani gimana sekarang?”tanya Rafli yang terlihat cemas.
Meli tersenyum, “Kalo penasaran, dateng lah kerumah jenguk, kasih semangat”.
Rafli tersenyum senang, “Saya boleh main ke rumah?”
“Iyalah boleh, kemarin aja papah udah terima kamu kan”
Rafli mengangguk pelan dan tersenyum senang pada Meli, Meli pun membalas senyuman Rafli dengan tertawa pelan. Meli memutuskan untuk kembali pulang setelah berpamitan dengan sarah.
*****
Meli tersenyum saat melihat salah satu halaman yang terdapat foto Ray tertempel disana. “Mas Ray ganteng banget ya”gumam Meli tersenyum menatap foto Ray yang menggunakan seragam taruna nya.
“Cieeee, witwiuuu”Dony duduk di pinggir kasur disusul Gia yang duduk di samping Dony.
“Lu pada kapan dateng nya?”Meli kaget sekaligus bingung melihat Dony dan Gia yang tiba-tiba muncul.
“Barusan”jawab Gia yang mengambil alih buku diary Meli. Meli langsung mengambil kembali bukunya dan menutup nya.
“Ciee, foto siapa itu, kaya ka Ray ya”
“Siapa?, ga ada ko”jawab Meli.
“Cie Meli pipinya merah”Dony menggoda Meli dengan menunjuk Meli.
“Apaan sih ngga ya”
Meli memutuskan untuk tidak menyeritakan saat-saat dirinya koma. Karena Meli merasa walaupun mereka bersahabat namun ada beberapa hal yang tidak harus selalu diceritakan pada sahabat itu.
*****
Meli datang ke rumah Ray kembali setelah beberapa minggu dari ia mengambil buku diary nya. Meli melihat rumah Ray sepi tidak ada tanda-tanda ada orang didalam nya. Meli kembali memutuskan ke rumah Sarah.
__ADS_1
“Mba”panggil Meli pada Sarah yang sedang menanam tanaman hias di depan rumah.
“Eh Meli, pasti mau nemuin Ray ya?”
Meli mengangguk, “Iya mba, tapi kaya nya rumah nya sepi”.
“Iya Mel, emang sepi dia sama mas Fad kebagian tugas di luar kota selama satu minggu”ujar Sarah yang masih menanam tanaman nya.
Meli menghembuskan nafasnya sedikit kesal, karena sebenarnya ia sangat ingin bertemu dengan Ray.
“Udah kangen banget ya?”
Meli tersenyum malu, ia tidak bisa berbohong pada Sarah yang sudah mengenalnya sejak Meli masih bayi. Setiap kali Meli berbohong pasti Sarah tau.
“Tapi Mel, Ray kan mau menikah”ucapan Sarah berhasil membuat senyuman di wajah Meli terhapus seketika.
“Iya ya mba, aku lupa”ucap Meli duduk di bangku depan rumah Sarah dengan lemas. Hatinya kemballi terasa sesak saat mengingat jika Ray akan segera menikah.
Meli terdiam sejenak di rumah Sarah seraya mengobrol mengenai keadaan Rani yang terlihat sehat namun sebenarnya kanker nya semakin menjalar kemana-mana.
*****
Meli sudah berusaha melupakan Ray dan menyerah pada cinta nya karena ia tidak ingin merusak kebahagian Ray dan Karin yang akan terukir hari ini. Hari ini merupakan hari pernihakan Ray dan Karin namun Meli sengaja tidak hadir karena ia merasa tidak ingin kembali berharap pada Ray saat melihat nya nanti.
“Selamat ya mas”gumam Meli memainkan tanaman yang ada di dekat jendela kamar nya.
“Mba,”panggil Rani yang masuk kamar Meli dengan kursi roda nya, melihat Rani Meli langsung membantu nya. “Mba sedih ya?”tanya Rani.
“Yaa, kalo mba bilang ngga, itu artinya mba munafik”jawab Meli yang menatap ke luar jendela kamar nya.
“Mba, kalo emang jodoh ga akan kemana, pasti akan bersatu”
“Iya, mba ga berjodoh sama mas Ray”Meli sedih mengingat Meli yang menikah dengan wanita lain.
“Mba, itu semua belum tentu loh, kita ga ada yang tau yang nama nya jodoh”ucap Rani membuat lega hati Meli walaupun hanya sedikit.
Meli kembali menatap luar jendela yang terasa menenangkan hatinya, Meli berusaha untuk terus menjalani hidup seperti air yang mengalir mengikuti alur yang sudah di tentukan sang pencipta.
*****
Juni, 2022
Meli yang sudah bersiap untuk pergi makan malam dengan keluarga dan juga sahabat nya di hari ulang tahun nya yang ke-21. Meli menggunakan dress panjang bewarna biru muda sangat pas dan cantik di tubuh Meli.
Namun pada akhirnya Kusuma dan juga Meli mengijinkan Rani berjalan. Mereka berusaha keras untuk membuat Rani bahagia dibalik kecemasan yang selalu menghampiri mereka.
Sesampainya di restoran yang sudah dipesan oleh Kusuma, mereka memasuki dengan perlahan, Meli merasa detak jangtung nya yang berdegub kencang entah mengapa. Meli melangkahkan kaki nya seraya terus mengatur nafas nya menenangkan hati nya yang merasa nerveous.
“Santai Mel”ucap Hendra menepuk pelan bahu Meli.
Meli mengangguk dan tersenyum kemudian masuk kembali ke dalam restoran bersama keluarga nya.
“Duaaarr”suara yang memekikan telinga yang mendengarnya, Meli kaget hingga terjongkok, ia masih takut dengar suara ledakan karena kejadian sewaktu di Papua.
“Mel, itu bukan apa-apa ko, Clcuma yang buat kalo ulang tahun itu”ucap Gia membantu Mel iberdiri dari jongkok nya.
Meli berdiri dan berjalan menuju meja yang terletak tepat di depan nya. “Haah”Meli terkejut melihat seseorang yang
tiba-tiba berdiri dari bawah meja makan dengan wajah yang ditutupi dengan bunga aster dan baby breath.
Meli menautkan kedua alis nya, menatap bingung seseorang yang diapit oleh mas Fad dan Rafli. “Siapa?”tanya Meli bingung mencoba melihat wajah orang itu dari samping kanan namun langusung dihalangi oleh Rafli begitu pula saat hendak melihat dari sisi kiri mas Fad yang menghalangi.
“Siapa sih pah?”tanya Meli yang beralih menatap Kusuma yang hanya tersenyum melihat Meli kebingungan. “Ran, kamu tau dia siapa?”kini Meli bertanya pada Rani yang juga hanya mengangkat bahu nya dengan
senyuman.
Karena kesal tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Meli merampas buket bunga yang digunakan untuk menutupi wajah orang itu. Meli membekap mulutnya yang terbuka lebar saat mengetahui siapa orang yang berada di hadapan nya.
“Mas Ray!”pekik Meli tak percaya melihat Ray berdiri dengan senyuman manisnya di hadapan dirinya. “Mas ngapain kesini, mas kan udah nikah”ucapan Meli mendapatkan tertawaan dari keluarga, sahabat dan orang yang hadir di acara makan malam ulang tahun nya.
“Ko ketawa sih mas?”Meli bingung melihat Ray yang juga tertawa.
“Selamat malam”ucap Karin yang baru datang dengan seorang pria yang digandeng nya.
“Haah, dokter Karin ko gandengan sama itu”ujar Meli kaget melihat apa yang terjadi di hadapan nya. “Ini kenapa sih, jelasin dong”Meli menuntut penjelasan dari orang-orang.
“Saya bakal jelasin semua nya setelah kamu jawab pertanyaan saya”Ray berjalan mendekati Meli.
“Apa?”tanya Meli menatap Ray bingung.
“Kamu janji harus jawab jujur”
__ADS_1
Meli terdiam sebentar kemudian mengangguk, “Oke, ayo apa pertanyaan nya”ucap Meli yang sudah siap menjawab
pertanyaan dari Ray.
“Kamu kangen ga sama saya?”
Pertanyaan pertama dari Ray membuat Meli terdiam, ia bingung ingin menjawab apa dan ia malu dengan orang banyak yang hadir di sana. Setelah berdiam sekitar 2 menit akhirnya Meli mengangguk kemudian sorak dan tepuk tangan terdengar dari para tamu.
“Kamu suka gak sama saya?”
Meli kembali mengangguk.
“Kamu sayang ga sama saya?”
Meli kembali menganggukan kepala nya.
“Kamu cinta ga sama saya?”
Meli kembali menganggukan kepalan nya yang masih tertunduk malu.
“Kamu mau ga jadi ibu persit?”
Meli yang sangat ingin mengakhiri dengan cepat pun menganggukan kepalanya kembali agar cepat selesai. Sorak gembira dan tepuk tangan menghiasi seisi restoran.
Ray berjalan maju di hadapan Meli kemudian memasangkan cincin yang baru ia keluarkan dari kotak nya pada jari manis sebelah kiri Meli.
“Apaan nih?”Meli menarik tangan nya dengan bingung.
“Tadi katanya mau jadi ibu persit”ucap Ray.
“Ibu persit?, club bola itu ya?”
Ray tertawa mendengar ucapan Meli yang polos. Semua orang pun tertawa mendengar itu termasuk Kusuma,Hendra dan keluarga Ray. Meli semakin bingung dengan keadaan.
“Itu mah persita tangerang Mel”sahut mas Fad yang kembali tertawa setelah berbicara.
“Mel, persit itu artinya persatuan istri tentara”jawab Ray disela tawa nya.
“Siapa yang istri tentara?”
“Kamu, gini, kamu mau ga nikah sama saya?”
“Mau”jawab Meli dengan polos seraya mengangguk.
“Yaudah itu artinya kamu bakal jadi Ibu persit”
“Oooh, yang kaya mba Sarah itu ya”
“Iya Mel”sahut Sarah tersenyum senang.
“Tapi, dokter Karin”Meli menatap Karin yang tersenyum melihat Ray melamar Meli.
“Mel, aku sama Ray ga jadi nikah, aku berjodoh nya sama mantan aku”ucap Karin menatap mantan pacar nya yang kini telah menjadi suami nya.
“Hah, ko bisa?”
“Ya bisa lah Mel, namanya juga jodoh, kita aja bisa”sahut Dony yang mengangkat tangan nya menggenggam tangan Gia.
“Wahhh, lu ga ngasih tau gua ya”Meli menunjuk Dony dan Dony hanya tertawa pelan bersama Gia.
“Mel, jadi gimana ini lamaran saya, kamu terima ga?”tanya Ray yang sudah lelah berjongkok dihadapan Meli.
“Oh iya maaf mas, bangun”Meli memegang bahu Ray kemudian membantu nya berdiri dari jongkok.
“Gimana?”tanya Ray yang sudah penasaran sejak tadi.
“Terima”
“Terima”
Semua orang yang hadir menyoraki Meli agar menerima lamaran Ray. Meli tersenyum melihat wajah penasaran dan gugup Ray.
“Aku mau jadi istri kamu dan ibu persit mas”jawab Meli seraya menganggukan kepalanya.
Ray yang mendengar itu pun langsung senang tak karuan, Ray memeluk Meli dengan erat seakan enggan melepaskan nya walau sebentar saja. Ray melepaskan pelukan nya dan langsugn memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Meli yang sempat tertunda.
“Gantian”ucap Ray memberikan telapak tangan nya pada Meli.
Meli tertawa pelan melihat ekspresi yang jarang sekali ia liat dari wajah Ray. Meli mengambil satu cincin yang ada di dalam kotak lalu memasangkan nya di jari manis tangan kiri Ray. Ray dan Meli saling menatap dan tersenyum bahagia akhinya cinta mereka bisa kembali bersama.
__ADS_1
*****