
Sudah seminggu Meli masuk kuliah seperti biasa, tidak banyak yang berubah hanya saja ada beberapa orang yang menganggap jika Meli melakukan kesalahan yang menyebabkan dirinya kecelakaan, mereka mempercayai apa yang disiarkan oleh tv.
Meli yang juga sudah diceritakan oleh Rani dengan detail kejadian aslinya pun tidak menggubris setiap pernyataan orang yang menyudutkan dirinya. Meli tahu jika dirinya ingin dicelakai oleh seseorang yang Meli tidak tahu siapa orang itu.
“Mel,”Gia menepuk pundak Meli pelan.
“Oii”jawab Meli seraya tersenyum menatap Gia. “Mana Dony?”tanya Meli yang melihat ke sekitar dan tidak dapat menemukan Dony yang biasanya sudah pulang.
“Dia lagi nyetak makalah Mel”jawab Gia dengan mengemut permen dimulutnya.
“Oooh, rajin juga dia”
“Iyalah kalo ga gitu nanti ngelebihin target kuliah nya”
“Hai Mel”sapa Daniel dengan ramah.
Meli yang memang tidak menyukai Daniel hanya tersenyum tipis dan menarik lengan Gia untuk pergi dari hadapan Daniel. Daniel yang melihat Meli pergi langsung menarik lengan nya.
“Tunggu Mel”
“Apaan sih, gua masih ada urusan”
“Pertunangan kita jadi kan ya?”
“Mungkin bokap lu belum ngasih tau lu ya, gua kasih tau ya papah udah batalin perjodohan kita, sekarang kita itu udah ga ada keterkaitan satu sama lain oke, jadi jangan ganggu gua”ucap Meli kemudian pergi meninggalkan Daniel yang mengusap kasar wajah nya.
“Seriusan Mel, bokap lu udah batalin perjodohan lu sama si Daniel itu?”
Meli mengangguk dan tersenyum senang, “Iya, papah tuh udah berubah semenjak gua kecelakaan Gi”jawab Meli tersenyum mengingat papah nya yang sudah berubah lebih menyayangi dirinya dan Rani seperti dulu.
“Alhamdulillah gue seneng banget dengernya Mel”Gia memeluk Meli senang mendengar hal yang selama ini ia
harapakan untuk sahabatnya.
“Waaah apa niiii, peluk-pelukan, romantis bener roman nya”ucap Dony dari belakang Gia.
“Eh lu, udah disini aja”Meli melepaskan pelukan nya dengan Gia.
“Iya nih gua abis nyelesaiin tugas makalah gua”Dony mengangkat makalah yang habis ia print.
“Bagus lah kalo lu semakin rajin”Meli menepuk pundak Dony pelan.
“Iyalah guaa”ucap Dony dengan bangga nya.
“Yuk lah makan”ajak Gia yang memang sudah menahan lapar sejalk jam terakhir kuliah.
“Ayo siapa takut”jawab Dony yang bersemangat kalau sudah menyangkut soal makanan.
Mereka bertiga kembali bercanda dan berbincang bersama dengan riang seperti tidak ada beban dalam kuliah mereka.
*****
Ray menyiapkan barang-barang nya untuk tugas nya di papua. Ray dan beberapa orang termasuk mas Fad, Sahat dan Rafli ikut bergabung untuk membantu rekan dari beberapa kesatuan lainnya yang sedang
berupaya meredakan konflik di papua.
Ray membawa barang yang memang perlu dan dibutuhkan ia tidak membawa apa yang tidak terlalu ia butuhkan ketika disana. Di Papua, Ray dan anggota lainnya tidak hanya membantu secara fisik namun juga ikut serta dalam memulihkan orang-orang di Papua yang terluka akibat aksi para pemberontak.
Setelah semua dirasa cukup, Ray pun bergegas pergi dan mengunci rumah nya. Ray berjalan dengan membawa ransel dan perlengkapan lainnya dengan kedua tangan nya. Langkah nya terhenti saat melihat mas Fad yang sedang memeluk Sarah dengan erat.
“Kasian mas Fad, mba Sarah”batin Ray menatap kedua nya yang masih berpelukan, Sarah terus mengeluarkan air matanya, tidak ingin mas Fad pergi jauh apalagi di daerah konflik seperti Papua.
“De, mas akan pulang dengan sehat dan secepat mungkin, jadi tolong jangan sedih dan terus berdoa untuk mas ya”ucap mas Fad seraya mengusap mata yang berlinang air mata sedih.
Sarah mengangguk, “Iya mas, mas harus pulang cepet dan selamat ya, aku selalu ada dirumah nunggu mas pulang”Sarah kembali memeluk mas Fad.
Ray bergabung dengan anggota lainnya yang memang masih belum menikah (bujang) . Ray menatap kesekelilingnya, begitu sedih nya tatapan para istri anggota yang telah menikah menatap suami nya yang pergi bertugas dengan menaruhkan nyawanya.
Setelah sekitar 30 menit berlalu, akhirnya Ray dan rombongan lainnya berangkat menggunakan truk dari asrama menuju pangkalan militer angkatan udara. Selama di perjalanan Ray dan anggota lainnya berusaha mencairkan suasana dengan bercanda dan berbincang ria seperti tidak ada hal yang harud di khawatirkan. Tugas seperti ini harusnya sudah menjadi tanggung jawab seorang tentara nasional, mereka harus siap ditugaskan dimanapun dan juga kapanpun.
*****
“Mba,”panggil Rani seraya mengetuk pintu kamar Meli yang sebenarnya tidak ia kunci.
“Masuk Ran, ga dikunci”jawab Meli masih berbaring dikasurnya sepulang kuliah.
“Mba tau ga?”
Meli menggelengkan kepala nya, “Apa?”
“Di perusahaan papah lagi cari relawan”
“Relawan?”Meli mengerutkan dahi nya bingung.
Rani tersenyum senang, “Iya, relawan untuk di Papua mba”.
Mendengar itu Meli pun langsung tersentak dan bangun dari tidurnya, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, “Aku harus ikut”gumam Meli pelan.
“Yaaaah, aku ga bisa ikut dong”Rani duduk di sisi ranjang Meli dengan sedih.
“Lain kali aja kalo kamu libur, pasti bisa ikut kan?”
Rani mengangguk lemas. “Iya mba, tapi aku ga yakin juga sih bakal boleh ikut walaupun libur”.
“Pasti bisa dong Ran, semangat”Meli menyemangati Rani yang terlihat lesu dan sedih karena tidak bisa ikut menjadi relawan di Papua bersama Meli.
Meli dari dulu memang sangat ingin berkunjung ke Papua namun karena kesibukan nya yang makin menjadi setiap harinya, kini ia tengah libur semester jadi ada kesempatan untuk ikut menjadi relawan untuk Papua.
Meli tertarik dengan Papua karena alam dan orang-orang nya yang unik. Meli sangat senang apabila melihat tawa anak-anak Papua yang begitu tulus dan polos nya. Meli bangkit dari duduk nya dan bergegas ke ruang kerja papah nya untuk menawarkan diri menjadi relawan untuk Papua dari perusahaan papah nya.
‘Tok...tok....tok...’ Meli mengetuk pintu ruang kerja papah nya dengan senyum yang tak memudar seari tadi.
“Iya masuk”sahut Kusuma yang masih mengetik sesuatu di komputernya.
“Papah”sapa Meli dengan riang, “Pah, aku ikut ya”
Kusuma menatap bingung Meli, “Ikut kemana?”
__ADS_1
“Itu loh, perusahaan papah kan lagi ngadain relawan untuk Papua kan?”tanya Meli seraya duduk di sofa dekat rak
buku.
Kusuma mengangguk, “Iya, kenapa?”
“Aku mau ikut jadi relawab untuk Papua pah”ucap Meli masih dengan semangatnya
“Kamu kan,”
“Plis pah, aku udah lama banget pengen ke Papua”Meli mengangkupkan kedua tangan nya dna memelas pada Kusuma agar diijinkan ikut menjadi relawan.
Kusuma yang melihat kesungguhan pada Meli pun mengangguk, “Oke, papah akan ijinin kamu tapi kamu juga harus janji”
“Janji apa pah?”
“Kamu harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kamu selama disana”
Meli langsung mengangguk menyanggupi permintaan papah nya. “Siap bos”Meli memberi hormat pada Kusuma yang hanya menggeleng dan tersenyum melihat apa yang dilakukan Meli.
*****
Ray dan anggota lainnya beristirahat terlebih dahulu sebelum besok memulai kegiatan untuk membntu anggota kesatuan lainnya dan para warga desa yang banyak menjadi korban dari keganasan para
pemberontak.
“Mas Fad, sampean mau mandi dulu atau langsung tidur?”tanya Ray pada mas Fad yang masih merapihkan baju nya di lemari yang telah disediakan di dalam kamar. Kamar yang di tempat Ray dan anggota lainnya menyerupai mes atau barak yang ada di asrama.
“Aku mandi dulu lah Ray”jawab mas Fad yang ingin menyegarkan tubuhnya.
“Yaudah, gantian”
“Iyo”
Sementara mas Fad mandi, Ray membuka tasnya dan merapihkan pakaian nya serta segala barang yang ia bawa sebagai penunjang dinas nya. “Bawaan mas Fad banyak juga ya”Ray menoleh ke sisi kanan nya dan melihat apa yang mas Fad bawa.
Setelah mas Fad selesai mandi, Ray pun bergegas untuk bergantian mandi. Selesai mandi, Ray merebahkan tubuhnya di kasur seraya membaca buku novel berbahasa inggris.
“Wiiih, rajin nya”sapa Sahat yang baru selesai mandi masih dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
“Baca novel ko”jawab Ray menunjukan cover buku yang ia baca.
Sahat mengangguk, Sahat memakai semua pakaian nya kemudian duduk di ranjang nya. “Bang Ray, kemarin waktu kita menjenguk Meli, kaya nya Meli tidak mengenal abang”
Ray menoleh sebentar ke arah Sahat kemudian tersenyum, “Terus?”.
“Iya. Bukan nya abang kenal sama si Meli itu?”tanya Sahat yang memang penasaran sejak saat menjenguk Meli.
“Yaah saya juga ga tau hat”jawab Ray yang memang sebenarnya tidak tahu pasti mengapa Meli bisa melupakan nya.
“Itu udah kehendak tuhan kah?”
Ray mengangguk menanggapi pertanyaan Sahat. “Mungkin aja hat, kita ga ada yang tau pasti, sama apa yang akan terjadi kedepannya”Ray menutup bukunya dan meletakkan nya di samping bantal. “Kita bisa ngelewatin hari ini tapi bukan berarti kita bisa tau apa yang akan kita lewati besok”
Sahat dan mas Fad yang mendengar itu langsung mengangguk paham dengan apa yang diucapakan oleh Ray.
“Mau kemana Ray?”tanya mas Fad yang berdiri dari duduk nya.
*****
Meli sudah menyiapkan semua kebutuhan nya selagi ia menjadi relawan di Papua. Meli menghampiri Rani yang duduk terdiam menatap tanaman yang ada di baklon luar. “Ran,”panggil Meli seraya menepuk pelan pundak Rani.
Rani menoleh saat di tepuk pundak nya oleh Meli. “Mba udah mau berangkat ya?”tanya Rani, ada kesedihan dimata nya.
Meli memeluk Rani, “Mba ga akan lama disana, cuma satu minggu aja ko”Meli berusaha menenangkan Rani.
Rani menatap Meli, “Oya mba, ka Dony sama ka Gia jadi ikut?”.
Meli mengangguk dan tersenyum, “Iya jadi, mereka juga antusias banget kaya mba”jawab Meli.
“Alhamdulillah, mba ada yang jagain disana”balas Rani tersenyum lega menatap Meli.
“Ya Allah, kamu khawatir banget ya sama mba”
Rani mengangguk cepat, “Iyalah, aku ga mau mba sakit atau kenapa-kenapa makanya mba harus jaga diri mba sebaik-baik nya ya”Rani menjulurkan jari kelingking nya pada Meli.
Meli menangkupkan kelingking nya ke kelingking Rani,. “Iya, mba akan pulang dengan sehat dan secepat mungkin oke”
Rani mengangguk dan tersenyum senang. “Mba,”panggil Rani.
Meli menoleh, “Kenapa?, oleh-oleh pasti”ujar Meli yang menebak apa yang ingin dikatakan Rani.
Rani menggeleng, “Aku cuma mau oleh-oleh nya mba Mel pulang dengan selamat”ucap Rani tulus.
“Iya Ran, mba kan udah janji sama kamu”Meli kembali memeluk Rani, sebenarnya Meli juga brat meninggalkan Rani yang nantinya pasti akan kesepian namun jika Meli tidak ikut menjadi relawan sekarang kapan lagi ia bisa mendapatkan kesempatan seperti itu.
*****
Keesokan harinya, Meli dan rombongan relawan lainnya tiba di desa yang menjadi salah satu sasaran para pemberontak. Meli sedih ketika melihat banyak rumah warga yang roboh karena aksi dari pemberontak, banyak nya fasilitas umum juga yang dirusak seperti sekolah dan puskesmas kecil.
“Ya Allah, tega banget orang itu sampe kaya gini”gumam Meli melihat ke sekitar desa.
“Oh ya, tempat pengungsian semenara warga ada di sebelah sana, kalian ikutin aja bang Rendy ya”ujar Fian yang
merupakan pemimpin tim relawan Meli seraya menunjuk ke arah kanan dari tempat mereka berada.
Semua relawan mengikuti bang Rendy yangmengetahui dimana lokasi tempat pengungsian warga yang terancam oleh aksi brutal dari para pemberontak yang ada di Papua. Meli merasa lelah karena jarak nya cukup jauh dari desa yang tadi dimasuki nya.
Mata Meli terpaku saat melihat banyak tentara yang ada di lokasi pengungsian tersebut, ada yang sedang memeriksa ibu dan anak-anak, ada yang sedang berbincang ria dengan warga, ada yang mengajarkan anak-anak.
Tidak hanya tentara namun juga ada dokter dan guru di dalam pengungsian tersebut. Kawasan pengungsian itu dijaga ketat oleh keamanan dari TNI-Polri. Meli dan rombongan relawan nya pun di sambut hangat oleh semua orang yang ada di pengungsian. Meli dan robongan nya di antar ke rempat istirahat nya yang berada di dekat pengungsian.
Meli mendadak berhenti berjalan saat melihat Ray yang sedang duduk dengan dua orang anak kecil laki-laki di sebuah tempat duduk di bawah pohon. “Ka Ray”gumam Meli pelan masih memperhatikan Ray dan kedua anak laki-laki itu.
“Aww”ringin Meli ketika dirinya ditabrak oleh anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun.
“Maaf kaka, sa tidak ada sengaja”ucap anak laki-laki itu kemudian pergi menghampiri Ray dibawah pohon.
__ADS_1
Meli yang melihat anak itu pergi langsung tersenyum, senyuman nya memudar saat melihat Ray yang menatap nya. “Aduh, ketauan lagi”batin Meli.
“Kamu ko disini?”tanya Ray yang membuat langkah Meli berhenti ketika ingin pergi.
“O...oh i...itu, i...ikut relawan, iya relawan”jawab Meli yang terbata-bata, ia merasa gugup saat di tanya oleh Ray.
“Oh, jadi relawan toh”Ray berdiri dari duduk nya dan menghampiri Meli yang masih terdiam di tempat nya. “Selalu hati-hati dan waspada disini”Ray mengingatkan Meli.
Meli mengangguk paham dengan peringatan yang diberikan Ray, “I, iya ka, aku pasti hati-hati”.
Ray mengangguk dan kemudian tersenyum seraya berjalan kembali duduk dengan anak-anak yang masih menunggu Ray untuk kembali duduk bersama mereka. Meli memperhatikan Ray yang mengajarkan mereka membuat karya seni lipat dari kertas origami warna-warni.
“Ka Ray, bisa akrab banget sama anak-anak”batin Meli kagum melihat kedekatan Ray dengan anak laki-laki yang
kini sudah bertambah menjadi 7 orang tadinya hanya tiga orang.
Meli tersentak kaget melihat Ray menatap ke arahnya, Meli langsung menatap ke arah lain berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh Ray dan anak-anak itu. namun Ray mengetahui jika sedari tadi Meli memperhatikan dirinya.
“Seneng ketemu kamu lagi Mel, tapi rasa nya makin sesak”batin Ray menatap Meli yang pergi berlalu.
*****
Sore harinya, Meli serta 9 orang wanita termasuk Gia dari rombongan relawan nya dan warga mulai memasak untuk makan malam bersama dengan warga sekitar yang berada di pengungsian.
“Waah, makan enak kita malam ini”ucap mas Fad yang sehabis mengambil air dari saluran air yang berada dekat dengan dapur umum pengungsian.
“Mas Fad”pekik Meli saat melihat mas Fad.
Mas Fad yang merasa namanya disebut pun menoleh ke arah para wanita yang sedang memasak seraya mencari siapa yang menyebut namanya. Meli melambaikan tangan nya, baru mas Fad yang melihat Meli berada di antara para wanita yang memasak langsung menghampirnya.
“Meli, ko disini?”tanya mas Fad seraya menaruh ember cukup besar berisikan air.
“Iya, aku ikut jadi relawan dari kantor papah”jawab Meli tersenyum pada mas Fad.
“Oh, ko bisa samaan sama Ray yang dapet tugas disini ya”mas Fad tersenyum menggoda Meli yang terdiam mengingat saat ia bertemu dengan Ray. “Jangan-jangan kalian itu emang jodoh lagi”ujar mas Fad membuat Meli tersipu.
“Fadli mana airnya, udah ditungguin juga”ujar Dhani teman seletingan mas Fad yang juga ditugaskan di tempat yang sama dengan mas Fad.
“Iya, ini udah diambil ko air nya”mas Fad menunjuk ember berisi air penuh.
“Siapa Fad?”tanya Dhani tersenyum menatap Meli yang sedang memotong wortel.
“Sepupu nya istri ku”jawab mas Fad menunjuk Meli. Meli hanya tersenyum sopan sebagai balasan nya.
“Oh, saya Dhani temen nya Fadli”Dhani mengulurkan tangan nya kemudian dibalas oleh Meli.
“Saya Melisha, biasa dipanggil Meli”
“Air nya udah ditunggu daritadi”ucap Ray yang langsung memecah salaman antara Meli dengan Dhani yang memang sudah cukup lama.
Mas Fad melipir berjalan ke depan untuk menyerahkan air yang dimaksud oleh Ray. “Bang, di panggil sama pak Daniel”Ray menyampaikan inforamasi pada Dhani dengan wajah yang datar.
Meli yang melihat Ray langsung kembali fokus pada kegiatan nya yang sedang memotong wortel. “Dia ko bisa ya datar terus muka nya, ga ada ekspresi nya”batin Meli saat melihat pundak lebar Ray
pergi menjauh.
Sebenarnya Ray sengaja untuk menghampiri mas Fad, ia merasa tidak suka melihat Meli bersalaman cukup lama dengan Dhani yang merupakan teman mas Fad dan juga kaka tingkat nya dulu saat pendidikan.
Setelah semua makanan selesai di masak, Meli, Gia dan Indah bertugas untuk membagikan setiap orang satu porsi makanan beserta minum nya. Gia membagi dua baris di sebelah kanan, Meli membagi dua baris tengah dan Indah membagi makanan dua baris terakhir.
Meli membagikan makanan dengan cara di oper dari satu orang ke orang lainnya. Meli melirik sekilas ke arah Dhani yang memang tepat berada di samping kirinya menatap nya terus menerus tanpa berhenti.
“Maaf pa, ada yang salah sama saya?”tanya Meli yang merasa risih dipandang terus menerus oleh Dhani.
Dhani menggelengkan kepalanya, “Ngga ko, mungkin kesalahan kamu Cuma satu”jawab Dhani seraya tersenyum.
“Apa?”tanya Meli penasaran seraya meraba-raba wajah nya.
“Terlalu manis”jawaban Dhani membuat Meli malu, karena jadi banyak orang yang bersiul dan tertawa mendengar apa yang dikatan Dhani.
“Ma,”ucapan Meli terhenti saat melihat Ray yang tiba-tiba berada di samping nya dan mengambil alih untuk membagikan ke orang-orang yang belum mendapatkan jatah nya.
“Kamu balik lagi aja ke dapur, bantu yang di dapur biar saya yang hendel ini”ucap Ray pada Meli. Ucapan Ray sangat membuat Meli tenang dan kembali ke dapur untuk membantu beberapa orang yang
masih mencuci sebagian peralatan masak.
“Kamu ganggu aja Ray”ucap Dhani merasa kesal dan bingung dengan apa yang dilakukan Ray secara tiba-tiba.
“Iya bang, abis aku ga ada kerjaan, jadi bantuin bagi-in makanan aja lah”jawab Ray masih fokus membagikan jatah untuk orang yang belum mendapatkan jatah makan malam nya.
Ray tidak tahan saat melihat Meli merasa tidak nyaman diperhatikan oleh Dhani terus menurus, Ray bisa mengetahui dari raut wajah dan gerak-gerik Meli yang merasa tidak nyaman. Ray memutuskan untuk mengambil alih tugas Meli saat Dhani berkata bahwa Meli terlalu manis dan banyak orang yang bersorak mendukung apa yang Dhani ucapkan.
Di dapur Meli menyusun beberapa peralatan dapur yang habis di cuci di tempat nya semula dengan hati-hati.
“Untung aja ada ka Ray, coba kalo ngga, gua udah males banget disana”gumam Meli tidak menyadari adanya Ray yang menunggu dibelakang nya.
“Eeh...eeeh”Meli yang terpeleset dan terjatuh hanya menutup matanya tanpa disadari Ray sudah menangkap nya dengan mudah. “Ka Ray”Meli tersenyum saat melihat Ray telah menangkap nya sehingga ia tidak terjatuh.
“Kalian mo pacaran jang disini e”ucap seorang perempuan yang seumuran dengan Rani, “Ini kita orang pu dapur”sambung nya.
Ray langsung menurunkan Meli dengan pelan dan penuh hati-hati. “Maaf Maruna, kita orang tak ada pacaran, tadi dia jatuh dan sa menangkap nya”Ray menjelaskan dengan sedikit campuran bahasa dan logat
Papua.
“Oh gitu kah, kaka Ray?”
Ray mengangguk, “Iya Maruna, benar itu”Ray tersenyum kembali menatap Maruna yang membalas senyuman nya.
“Halo, aku Meli”Meli memperkenalkan dirinya pada Maruna dengan ramah.
“Maruna sa punya nama”jawab Maruna dengan membalas senyuman ramah Meli.
“Oh Maruna, nama yang indah”
“Terima kasih kaka, sa tidak tau nama kaka indah ato tidak”jawaban polos Maruna membuat Meli dan Ray tertawa pelan.
“Ada yang salah e?”
__ADS_1
Ray menggeleng, “Tidak ada, ayo kita kembali makan malam”Ray, Meli dan Maruna kembali ke depan untuk menyantap makan malam milik mereka.
*****