Waktu Berharga

Waktu Berharga
Hari Kedua MOS


__ADS_3

"Ge bangun...!!! Kamu gak kesekolah?!!"


"Hmmm... Bentar lagi kak, masih ngantuk." Gege masih menutup mata dan ingin melanjutkan mimpi indahnya.


"Yah ampun Ge... Ini udah jam berapa loh?!! Lihat sekarang sudah jam enam pagi, bukannya kamu harus tiba disekolah jam enam pagi?!!" Gigi mengguncang - guncang tubuh Gege lagi agar segera bangun.


Mendengar Gigi mengucapkan kata jam enam pagi, Gege langsung duduk. Dan melihat ke arah kakaknya.


"Kakak serius udah jam enam pagi?!!" Gege masih tidak percaya dengan omongan kakaknya.


"Noh...Lihat aja sendiri, udah jam berapa itu?!!" Gigi langsung melempar jam weker ke arah adiknya itu.


"Oh tidaaaaak...Aku sudah telat, kakak jahat banget sih. Kok baru bangunin aku sekarang?!!" Gege langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Dasar... Adik kurang ajar, kamunya aja tidur kayak kebo. Susah dibangunin, malah nyalahin aku." Gigi sedikit kesal mendengar ucapan Gege.


Baru saja Gigi ingin keluar kamar, tiba - tiba saja Gege sudah muncul kembali.


"Lah, cepet banget kamu mandinya?!! Kamu gak mandi yah?!!"


"Duh kak...Udah gak sempat lagi mandi, ini udah telat banget. Kalo aku gak datang MOS bisa - bisa nilai aku dikurangi."


"Kek mana pun kamu buru - buru, kamu tuh udah telat. Mobil angkutannya aja udah pergi...Terus kamu kesekolah naiak apa?!!"


"Beneran kak, mobilnya sudah lewat?!!"


"Udah dari tari klakson - klakson didepan, kamunya aja susah banget dibangunin..."


"Terus gimana dong kak, aku berangkat pake apa...?!!" Gege sudah selesai menggunakan seragam MOSnya.


"Coba aja keluar dulu, mana tau ada orang lewat. Nanti mintak tumpangan aja."


"Yah udah, kalau gitu aku berangkat dulu kak." Gege langsung berlari keluar kamar.


"Bun...Gege mau pamit berangkat kesekolah dulu."


"Kamu berangkat naik apa?!!" Jawab bunda Ratna yang baru keluar dari dapur.


"Aku lihat keluar dulu bun, mana tau nanti ada tumpangan." Lalu Gege mencium tangan Bunda dan Abah yang sedang duduk menikmati kopinya.


"Makanya lain kali kalau dibangunin itu langsung bangun..."


"Iya kak... Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..." Semua menjawab secara bersamaan.


"Kasihan Gege bah, kalau gak ada tumpangan dia gimana...?!!"


"Gak usah kawatir bun, biasanya kalau jam sekarang banyak yang ke arah pasar. Jadi Gege bisa numpang. Lagian kalau naik ojek juga jarang lewat bun."


"Iya yah...Semoga aja Gege bisa dapat tumpangan yah bah."


"hmm..." Abah lanjut nenikmati kopi paginya.


Sementara Gege sudah berada dipinggir jalan melihat kendaraan yang lalu lalang. Berharap ada yang menberinya tumpangan.


"Duh gimana ini... Mana udah telat lagi, bisa gawat ini. Kira - kira ada tumpangan gak yah...!!!" Gege bergumam pada dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian, ada seorang guru lewat menggunakan motor dan kebetulan sendirian. Kebetulan tempat beliau mengajar melewati sekolah Gege.


"Buk Aida...!!!" Gege berteriak melambaikan tangan mengehentikan motor guru tersebut yang bernama buk Aida.


Setelah buk Aida menghentikan motornya tepat didepan Gege. "Iya ada apa Ge?!! Kamu mau numpang kesekolah?!!" Buk Aida langsung menawarkan tumpangan melihat Gege yang berdiri menggunakan seragam OSPEK sekolahnya.


"Iya buk, Gege boleh numpang gak buk. Gege telat bangun, jadi mobil angkutannya sudah berangkat."


"Yah udah, yuk naik dibelakang."


"Terima kasih yah buk..."

__ADS_1


"Iya, kok bisa telat bangun sih?!! Memang bunda gak bangunin kamu?!!"


"Udah dibangunin ma kak Gigi buk, memang Gegenya yang salah. Susah dibangunin." Gege merasa malu menceritakan kejadiannya, namuan dia tidak ingin berbohong.


"Hahaha... Dasar kamu ini yah, ini lagi masa MOSkan...?!! Kamu gak takut nanti diberi hukuman karena telat?!!"


"Sebenarnya takut sih buk, namun dari pada gak datang. Nanti malah nilai kita dikurangi, mending terima hukuman aja buk." Gege sudah pasrah dengan hukuman yang akan diterimanya nanti.


"Yah...Itu bagus, berarti kamu orang yang bertanggung jawab. Kalau kamu dihukum terima saja, karena itu sudah menjadi aturannya kan. Hukumannya gak bakalan parah - parah amat. Yang penting, kamunya siap."


"Iya buk, makasih yah buk."


"Iya...Kita sudah sampai...Kayaknya bukan kamu aja deh yang telat. Tuh lihat, ada yang banyak telat."


"Bersyukur juga sih buk, berarti ada teman. Hehehehe..." Gege tertawa kecil untuk menutupi kecemasannya.


"Sekali lagi terima kasih yah buk dan hati - hati dijalan."


"Ok... Ibuk pergi yah..."


"Yah buk..."


Setelah itu Gege langsung berlari ke arah pintu gerbang sekolah. Didepan gerbang sudah ada beberapa senior menunggu. Hal tersebut membuat Gege makin was - was.


"Permisi kak, saya boleh masuk gak?!!" Gege berusaha untuk tetap tenang ketika sidah berhadapan langsung dengan seniornya.


"Ini lagi... Kamu perempuan kok bisa telat?!!"


"Maaf kak, tadi saya ketinggalan mobil angkutan. Dekat rumah saya ojek jarang lewat. Untungnya tadi ada tumpangan, sehingga saya bisa sampai kesekolah kak."


"Alasan saja kamu, tau seperti itu kenapa bangunnya gak lebih cepat?!!"


"Maaf kak, lain kali saya tidak ulangi lagi..."


"Memang harus begitu, memangnya kamu mau ulangi lagi...?!!"


"Gak kak, jadi saya sudah boleh masuk kak?!!"


"Serius kak 50x...?!!"


"Kamu mau ngebantah...?!!" Salah satu senior langsung bertanya pada Gege dengan nada tinggi. Gege sangat kaget melihat seniornya marah dan langsung menatap tajam ke arahnya.


"Gak kak, saya gak berani." Gege hanya menjawab lesuh dengan wajah menunduk.


"Kalau kamu gak mau skorjam, kamu bisa jalan jongkok sampai kedalam barisan."


Gege langaung melihat ke arah dalam, dia sedang berpikir. "Dari pada Skorjam 50x, masih mending jalan jongkok sampai kebarisan. Toh jaraknya juga gak terlalu jauh, tapi teman - teman bakalan ketawain aku. Bisa malu dong akunya, tapi tetap saja. Kalau skorjam sama - sama malu." Gege bergumam sendiri dalam pikirannya.


"Hei... Malah melamun, cepetan...!!! Kamu mau diusir pulang?!!"


"Gak kak, aku akan jalan jongkok ke barisan." Gege memutuskan untuk jalan jongkok saja.


"Yah sudah, cepat jalan jongkok sana..."


Gege langsung mengambil posisi dan berjalan jongkok ke arah barisan. Gege merasa benar - benar sangat malu. Atas apa yang dilakukannya, apalagi diteriaki lagi oleh para seniornya.


"Hei...Angkat kedua tangannya di atas kepala."


Gege kaget, "Demi apaaa... Kedua tangan d atas kepala...?!! Yah ampun... ini benar - benar sangat memalukan." Lagi - lagi Gege bergumam dalam hatinya. Dia menundukkan kepala dan menutup matanya menahan rasa malu.


Semua murid melihat kearah Gege, mendengar teriakan dari para senior. Sungguh hari ini adalah hari yang sangat memalukan bagi Gege. Harga dirinya jatuh, rasanya dia ingin lari saja keluar gerbang sekolah dan pulang kerumahnya.


Pengumuman dilapanganpun berakhir, semua murid diminta untuk meminta tanda tangan kepada para senior dan Ketua Osis serta anggota - anggotanya. Diwajibkan meminta tanda tangan dari Osis dan jajarannya, nama serta jabatannya. Sedangkan tanda tangan senior, minimal 100 tanda tangan, nama serta kelasnya.


Bagi yang tidak mendapatkan tanda tangan, maka akan diberi sangsi atau hukuman dari Ketua Osis. Sehingga semua murid baru pada berdesakan meminta tanda tangan kepada para senior dan Osis.


Sangat sulit meminta tanda tangan kepada Osis dan Anggota - anggotanya. Karena mereka pasti akan memberikan tantangan, ataupun hal lainnya yang membuat nyali para junior kepicut. Bahkan mereka tidak akan sungkan - sungkan untuk mengerjainya. Bagi Senior laki - laki, mereka akan menggoda junior perempuan. Apalagi jika sang junior terlihat cantik dan malu - malu.


"Permisi kak, boleh minta tanda tangannya gak?!!" Gege memberanikan diri meminta tanda tangan langsung kepada ketua Osisnya.

__ADS_1


"Sini bukunya." Mendengar hal tersebut Gege langsung semangat. Dan memberikan buku yang sudah digaris ke arah ketua Osis.


"Loh...Kok belum ada tanda tangan senior lainnya?!!"


"Nanti setelah tanda tangan kakak, saya akan lanjut meminta tanda tangan yang lain kak."


"Gak bisa, kamu harus minta tanda tangan yang lain dulu. Nanti kalau ini sudah penuh, baru balik lagi kesaya." Ketua Osis tersebut langsung membuat angka didalam buku Gege, hingga 100 nomor.


"Yah...Kan tinggal di tanda tangan langsung aja kak. Ayolah kak...!!!" Gege mencoba untuk memelas.


"Hmmm...Atau kamu mau menerima tantangan dari saya?!!"


Mendengar hal tersebut Gege langsung mengambil bukunya. "Ya udah deh kak, tapi kakak janji ya... Setelah ini terisi penuh, kakak langsung tanda tangan."


"No problem..."


Gege pun pergi meninggalkan ketua Osis dan melanjutkan aksinya bersama dengan temannya Yani.


"Permisi kak, boleh minta tanda tangannya gak kak?!!" Sekarang Gege menemui senior perempuan terlebih dahulu.


Belum juga kakak senior tersebut menjawab. Tidak jauh dari tempat Gege berdiri, datang beberapa rombongan senior laki - laki dan menghampiri Gege.


"Sama kakak gak mintak dek?!!" Salah satu dari mereka menggoda Gege.


"Tentu saja kak, jika kakak berkenan... kami pasti akan sangat senang." Gege berusaha bicara sebaik dan setenang mungkin.


"Udah... Jangan jaili mereka, sini dek bukunya. Biar kakak tanda tangan."


Gegepun mengulurkan buku ke arah senior perempuan tersebut. Dan beberapa senior perempuan disana langsung memberi tanda tangan mereka. Selagi yang lain tanda tangan, salah satu senior perempuan bertanya pada Gege.


"Nama kamu siapa?!!"


"Nama aku Gege kak."


"Yang satu lagi..." Senior tersebut menunjuk Yani yang berada disebelah Gege.


"Yani kak." Yani cukup gugup, apalagi dikelilingi oleh para senior laki - laki.


"Gege... Nama kamu keren juga, sama kayak orangnya." Semua tertawa ketika salah senior laki - laki mulai menggoda Gege lagi.


Gege hanya diam, dia tidak menjawab apalagi menanggapi ocehan senior tersebut.


"Sini abang tanda tangan, tapi boleh ya minta nomor Hp kamu?!!"


"Maaf kak, saya tidak punya Hp. Apalagi nomornya." Gege berusaha untuk mencairkan suasana yang mulai membuatnya risih.


"Masa sih gak ada Hp?!! Atau kamu gak mau ngasih yah?!!"


"Hei...Nanti kamu dimarahi sama Arga. Karena kamu udah gangguin pacarnya." Senior laki - laki yang lain ikut menimpali.


"Arga...?!! Jadi kamu pacar Arga?!!" Senior tersebut masih tidak percaya dan ingin memastikan langsung kepada Gege.


Lagi - lagi Gege hanya diam, dia berencana untuk mengambil bukunya kembali. Namun ditahan oleh senior tersebut.


"Kenapa, kok gak mau jawab...?!! Beneran pacarnya Arga yah?!!" Tiba - tiba saja senior tersebut langsung memanggil Arga yang kebetulan jalan ingin melewati mereka.


"Hei Arga, ini beneran pacar kamu?!!" Senior tersebut langsung menunjuk Gege, sedangkan Gege hanya menunduk malu.


"Kalian ngapain sih, cepat kasih tanda tangan. Jangan usilin anak orang." Bukannya menjawab, Arga malah mengalihkan topik pembicaraan.


Yang lain hanya tertawa, apalagi ketika melihat wajah Gege yang sudah merah menahan malu.


Akhirnya beberapa senior disana langsung memberi tanda tangan kepada Gege dan Yani, termasuk Arga.


Gege sangat bersyukur, karena mereka tidak melanjutkan pertanyaan tersebut dan mau memberikan tanda tangan untuk Gege.


Apakah Arga benar - benar kekasih Gege?!!


Jangan lupa Like, komen dan subcribe yah bestiii...!!!

__ADS_1


Tunggu kisah selanjutnya tentang Arga dan Gege, apakah mereka memiliki hubungan atau tidak... See you... 😘😘😘


__ADS_2